ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SEBUAH SURAT


__ADS_3

Debaran jantung Aliya masih tidak enak, Altha langsung khawatir dan langsung berlari untuk menjemput Al yang merasa dadanya tidak nyaman.


"Apa yang aku takutkan? perasaan ini tidak enak." Al memejamkan matanya memilih untuk tidur.


Altha dan Dimas pergi bersama, karena merasakan khawatir, tatapan Dimas bisa melihat betapa khawatirnya Altha.


"Sabar Alt, kamu pantau saja terus." Dimas ikutan cemas melihat ekspresi Altha.


Sesampainya di lokasi Altha dan Dimas langsung membuka paksa pintu mobil, melihat Aliya yang sudah tidak ada bunyinya.


"Aliya ... kamu benar-benar jantungan." Alt mengusap wajah Al yang tersenyum.


Kepala Aliya menggeleng, dia hanya mengantuk dan terlalu banyak pikiran. Jantungnya sudah aman dan bisa berdetak dengan normal.


Dimas langsung memukul pintu mobil, kesal melihat tingkah Al yang kekanakan, mereka memiliki banyak pekerjaan sedangkan Al masih bisa bermain-main.


Altha mengizinkan Dimas pergi lebih dulu, Alt akan menyusul bersama Al untuk menjemput anak-anak terlebih dahulu.


"Hati-hati kak Dimas, jangan sering marah-marah nanti cepat tua, padahal memang sudah tua." Suara Aliya tertawa mengejek Dimas membuat Altha tersenyum, sedangkan Dimas melotot kesal.


Altha meminta Aliya pindah duduk, dia yang akan menyetir mobil. Langsung putar arah membuat Aliya kebingungan.


"Ke mana Ayang?"


"Kamu dari mengecek lokasi kecelakaan orang tuaku, aku juga ingin melihat sebentar." Senyuman Altha terlihat, langsung menjalankan mobilnya.


Aliya mengerutkan keningnya, melihat Altha yang melihat ke arah luar jendela mobil.


"Al, saat kejadian aku tidak melihat Mama dan Papa, aku jatuh pingsan juga melupakan sekilas kejadian." Alt menceritakan jika ingatannya mulai kembali sekitar lima tahun yang lalu dan terus Altha sembunyikan sambil menyelidiki secara diam-diam meksipun semuanya terlambat.


Aliya menganggukkan kepalanya, dia juga tidak tahu jika Altha kehilangan sebagian ingatan karena dia tidak kuat menerima kebenaran.


Apa dan siapa ataupun bagaimana proses kepergian kedua orangtuanya Altha tidak tahu menahu, dia hanya bisa melihat dua gundukan tanah.


Hanya satu kali kedipan mata, dunia bahagia Altha bersama kedua orangtuanya langsung hancur.


"Takdir sungguh luar biasa merebut secara bersamaan, aku mengerti sekali perasaan kamu Al karena kita ada diposisi yang sama." Alt tersenyum menjalankan kembali mobilnya.


Al menyatukan jari-jemarinya, mencium tangan suaminya menyemangati. Altha tidak sendiri lagi, karena ada Aliya yang akan menemaninya.


Senyuman keduanya terlihat langsung menuju sekolah Tika yang mungkin sudah pulang dan sedang menunggu jemputan.

__ADS_1


"Ayang, boleh Aliya bertanya sesuatu?"


"Silahkan Al."


"Di mana kedua orangtua Citra?" Al menatap wajah Altha yang secara dadakan terkejut.


Kepala Altha menggeleng, dia tidak tahu pasti soal kedua orang tua Citra. Lima tahun setelah kepergian orang tua Altha, ibu dan ayah Citra bercerai.


Ibu Citra pergi bersama pria lain, sedangkan Ayahnya berkali-kali ingin bunuh diri dan lenyap seketika tanpa kabar berita.


Citra juga tidak tahu di mana kedua orangtuanya, apa mereka masih hidup ataupun sudah meninggal tidak ada yang tahu.


Sebelum mereka menikah, Citra tinggal bersama neneknya dan setelah menikah dengan Altha memutuskan untuk hidup mandiri.


"Memangnya Citra tidak tertarik mencari orangtuanya?" tatapan Aliya tajam, menggelengkan kepalanya.


Altha menggeleng, dia sudah menawarkan niat baik kepada Citra untuk mencari keberadaan kedua orangtuanya. Citra menolak dan sudah menganggapnya mati.


Alt tidak bisa memaksa, dan membiarkan semuanya berjalan sesuai alur yang sudah ditentukan.


Sejujurnya Aliya ingin sekali mengatakan jika ayah dan ibu Citra saksi kematian orang tua Altha dan Aliya, hanya mereka yang tersisa dari kejadian lima belas tahun yang lalu.


Mobil tiba di sekolahnya, Aliya akan mengundur waktu untuk mengatakan yang sebenarnya. Setelah tahu kebenaran Aliya baru akan mengatakan kepada Altha.


"Bagaimana sekolahnya?'


"Membuat pusing, Tika tidak bisa berkonsentrasi." Suara tawa Tika terdengar, dia hanya bercanda, dan mengatakan jika sekolah sangat menyenangkan.


"Mami jemput Tika bersama supir? tumben sekali." Tika langsung membuka pintu dan masuk.


Atika kaget saat tahu jika ada Papinya juga datang menjemput, antara kaget dan juga bahagia karena bisa melihat keduanya.


"Bagaimana sekolah kamu sayang?" Alt mencium kening putrinya.


"Menyenangkan, karena banyak cowok ganteng." Atika tertawa melihat wajah kaget Papinya.


Altha mengerutkan keningnya, menasehati Tika jika sekolah untuk belajar, bukan memandang pria tampan.


"Mami yang mengajari Tika untuk cuci mata menggunakan pria tampan, soalnya Tika sering mengantuk." Mata Tika berkedip.


Aliya menggeleng melihat Altha yang menatapnya tajam, Al tersenyum manis. Dia hanya menasehati Tika jika mengantuk lihatlah yang segar-segar, atau cuci matanya.

__ADS_1


"Tika salah pengertian Papi." Al memeluk lengan suaminya meyakinkan.


"Mami juga sering mengantuk Pi, terus melihat satpam depan rumah yang tampan itu." Tika tertawa kuat, Altha langsung melihat Aliya yang menggeleng.


Tatapan mata Altha tajam, langsung menjalankan mobil. Atika sepanjang jalan tertawa menggoda Papinya yang kesal.


Aliya meminta Tika berhenti, bisa tidak dapat jatah malam, jika Altha ngambek lagi. Rencana nikmat Aliya saat malam bisa gagal karena perdebatan satpam tampan di depan rumah.


"Papi juga tampan, demi apapun Aliya tidak mungkin berpaling. Cinta mami hanya untuk papi." Al mencium pipi suaminya yang masih diam saja.


"Tika hanya bercanda papi, tapi semuanya benar." Atika menutup mulutnya melihat Maminya melotot.


"Diam Tika, tidak boleh seperti itu. Mami yang bisa tidur di luar ulah kamu." Al ingin menjambak rambut Tika.


Kemarahan Aliya tidak membuatnya takut sama sekali, tapi bertambah tertawa dan sangat menyukai Aliya yang marah-marah.


"Tika, Mami sedang marah ya." Al berteriak.


Tatapan mata Al langsung tajam, Tika melangkah ke tempat duduk Al dan memeluknya.


Tangan Altha mengusap kepala putrinya, melihat Atika tidur dalam pelukan Al yang juga memeluknya erat.


Seadanya dulu Aliya bisa tumbuh seperti Tika penuh canda dan tawa, pasti sangat bahagia. Memiliki Ayah dan ibu yang selalu ada di sisinya.


"Terus bahagia Tika, mami akan selalu membuat kamu aman dan penuh canda tawa." Al mencium kening putrinya.


Altha tersenyum melihat anak istrinya yang sangat dekat, sampai di rumah Altha langsung menggendong Tika membawanya ke kamarnya.


Aliya hanya menunggu dari luar kamar, melihat Altha yang sangat lembut kepada putrinya. Seandainya ada Mora mungkin Altha akan lebih bahagia, tapi ada baik juga Mora tidak bersama, karena akan menimbulkan luka yang Citra perbuat.


"Kamu sudah makan siang belum?" Alt merangkul Aliya untuk meninggalkan kamar Tika.


"Belum, Ayang sudah makan belum?" Al tersenyum melihat suaminya.


Altha menggeleng, langsung ke dapur untuk melihat makan siang mereka yang sudah Helen siapkan.


"Kak Al, ada seseorang mengirimkan surat dan berpesan untuk kak Al segera menemui dia, tidak melewati panggilan." Elen menutup mulutnya saat melihat Altha juga bersama Al.


Mata Aliya melotot, melihat Altha yang mengerutkan keningnya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2