
Senyuman Alina terlihat mengikuti Altha dan Aliya yang berjalan menuju apartemen Dimas, bekali-kali dihubungi Dimas tidak menjawab.
Langkah Altha dan Al berhenti, suara Alina menabrak terdengar.
"Pakai mata kak Alin."
"Bagaimana menggunakan mata tidak melihat aku yang ribet menutupi wajah ini?" Alin berjalan lebih dulu, meminta Al dan Altha menemui Dimas dan dia menunggu di luar.
Aliya menahan tangan suaminya untuk menunggu sebentar, Dimas biasanya jika sudah lembur selalu bangun siang.
"Sayang kita datang ke sini sengaja membangunkan dia." Alt langsung membuka pintu dan masuk tanpa dipersilahkan.
Suasana sepi, dan tidak ada siapapun di ruang tamu, dapur dan sekitarnya. Aliya langsung melangkah mendekati kamar.
Di dalam kamar terdengar suara aneh, tatapan Aliya langsung tajam melihat suaminya yang sudah merinding.
"Apa yang kak Dimas lakukan!" Al memeluk lengan suaminya.
"Sebaiknya kita pergi, waktunya tidak tepat." Altha merangkul Al untuk pergi.
Pintu kamar terbuka, Dimas langsung tertawa melihat ekspresi Altha dan Aliya yang kaget mendengar suara di kamar sedang berhubungan intim.
"Kalian sudah menikah, kenapa masih canggung? aku hanya bercanda." Dimas menepuk pundak Altha langsung duduk di ruang tamu.
"Sialan, aku pikir kamu membawa wanita." Altha melayangkan pukulan ke pundak sahabatnya.
Suara Dimas tertawa terdengar, dia tidak mungkin mengubah prinsipnya soal wanita. Hanya ada satu wanita yang masuk apartemen dia Anggun.
"Di mana kak Anggun?"
"Mandi." Dimas menatap Aliya yang kaget.
Bibir Aliya langsung monyong, tidak menyukai candaan Dimas jika bersangkutan dengan Anggun.
Ucapan Dimas ada benarnya, Anggun keluar dengan rambutnya yang masih basah dan langsung duduk di samping Aliya.
"Kak Anggun tidur satu kamar?"
"Tidak, Dimas baru pulang pagi ini." Anggun tersenyum meminta Aliya membuang pikiran buruknya.
Al datang karena mengkhawatirkan kondisi Anggun yang belum sepenuhnya pulih, tapi melihatnya bersama Dimas seharusnya Al mengerti.
Kening Dimas berkerut melihat Alina juga muncul, tidak tahu dari arah mana Alin muncul dia secara tiba-tiba sudah ada di dalam apartemen.
Altha meminta Dimas mendengarkannya bicara, tapi konsentrasi Dimas tertuju pada Alin yang berkeliling melihat isi rumahnya.
__ADS_1
"Dimas, kamu mendengar aku tidak?" Alt menaikan nada bicaranya membuat Alina menatap ke arah mereka.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tatapan Dimas tajam melihat Alina.
Seharusnya Alin bersembunyi, bukan berkeliaran. Altha meminta Dimas tidak terlalu keras, Alin tidak menyakiti jika tidak disakiti lebih dulu.
"Apa tujuan kamu datang Alt?"
Altha membicarakan soal dirinya ingin mengambil cuti menikah, Dimas langsung melongo.
Dalam satu tahun sudah berapa kali Alt meminta cuti, sudah seperti kantor milik pribadi yang bisa sesuka hatinya.
Alt sudah mendapatkan izin dari atasannya, tujuan pesta hanya untuk meresmikan saja jika Aliya istri sahnya, tapi sebelum itu terjadi Altha akan menghidupkan nama Alina.
Anggun mengerutkan keningnya, keinginan Altha cukup sulit. Aliya harus bersih identitasnya, tidak bisa sembarangan.
"Aku mengkhawatirkan Aliya jika nama Alina dihidupkan, kamu mendapatkan kemudahan menikahi Aliya karena dia korban satu-satunya yang tersisa, tapi jika sampai terungkap kakak kandungnya yang melakukan lebih berbahaya Altha."
Al melihat suaminya, Altha tahu persis soal hukum tapi akan tetap melakukan apa yang sudah direncanakan.
Senyuman Alina terlihat, langsung duduk dan bergabung dengan semua orang. Altha bisa mengubur soal Alina yang psikopat, Alina akan hidup dengan nama baru.
Semuanya menatap tajam Alina, tidak ada yang mengerti apa yang Alin bicarakan dia langsung memotong rambutnya menjadi pendek dan menatap wajah di kaca.
"Aku akan hidup menjadi dia."
"Tidak ada yang harus diubah dari identitas Diana, dan aku akan melakukan operasi. Alina mati Diana hidup." Alin dengan santainya menatap wajahnya untuk terakhir kali.
Anggun menarik baju Alina, dia tidak tahu jika anak kecil yang dia bicara putri Dimas. Tatapan Dimas juga sudah dingin.
"Daddy, are you okay?" Alin tertawa melihat Dimas yang mengerutkan keningnya.
Alina tahu jika putri Dimas menghilang belasan tahun yang lalu, meskipun Dimas tahu dia bukan darah dagingnya, tapi rela menikahi wanita yang menduakan demi anak kecil yang dia bawa.
Namun akhirnya Dimas juga dicampakkan, dan anaknya menghilang. Sekarang anak itu mungkin seumuran dengan Alina, dan Dimas tidak punya pilihan selain memberikan identitas Diana.
"Kamu mengenal Diana?" Dimas menatap tajam.
Perasaan Dimas tidak mungkin salah, Alina sudah cukup jauh melangkahi dunia kejahatan. Dia pasti pernah melihat wajah Diana.
Altha meminta semuanya diam, tidak perduli Alina ingin menjadi apa paling penting pesta pernikahannya lebih dulu.
Anggun tersenyum lucu melihat Altha yang terburu-buru, langsung melihat daftar yang Aliya dan Altha inginkan.
Dimas memijit pelipisnya melihat keributan soal gaun, kemunculan Karan dan Dika juga terlihat membawa Tika yang baru pulang sekolah dan membawa makanan.
__ADS_1
Apartemen Dimas ramai, semuanya sibuk membahas soal pesta. Alina dan Aliya berkali-kali bertengkar karena sibuk membahas warna baju.
"Aliya yang menikah bukan kak Alin!"
"Aku tahu yang terbaik." Alin menarik album baju yang harus dipilih.
"Sudah cukup, kita gunakan saja wedding organizer. Mereka yang mengurus semuanya kita terima jadi." Anggun menatap tajam si kembar yang masih bertengkar.
"Kenapa tidak dari tadi?" Alin langsung melangkah pergi.
"Kenapa tidak bicara dari tadi kak Anggun?" Aliya langsung memeluk Altha.
Di dalam kamarnya Dimas sedang melihat foto Diana, Tika juga ikut melihat dan bisa mengerti kesedihan Dimas.
"Siapa dia Uncle?"
"Putri Uncle." Dimas tersenyum melihat Tika yang mengangguk.
Dimas mengatakan kesedihan soal kehilangan Diana, tapi dia akan merelakan dan mencoba membuka lembaran baru.
Tika setuju, menyemangati Dimas agar tidak pantang menyerah.
"Uncle bisa buat Dede lagi, Mami sama Papi juga ingin membuat Dede." Tika mengunyah makanannya sambil tersenyum melihat Dimas.
Anggun mencium Tika, mengandeng tangannya untuk bersiap makan siang.
"Tika sudah siap punya adik lagi?"
Kepala tidak mengangguk, mendekati Dimas dan membisikkan sesuatu. Sebenarnya dia tidak setuju menjadi kakak, tapi dia juga salah karena lahir lebih dulu.
"Kamu tahu cara membuatnya?" Dimas melihat Tika yang seperti punya rencana.
Anggun memukul punggung Dimas, Tika meminta keduanya mendekat. Dia sudah menyiapkan rencana untuk membuat Dede yang sesuai keinginan.
"Tika membuat mereka tidak semudah itu sayang, harus mengandung selama sembilan bulan." Anggun tersenyum gemes.
"Em, Tika tidak tahu. Tika pikir langsung buat jadi."
"Dia bukan adonan Tika." Dimas tersenyum melihat kelucuan Tika yang polos.
"Aunty sama Uncle kapan membuatnya?"
Dimas dan Anggun langsung kaget, Tika tidak tahu jika membuat anak untuk pasangan yang sudah menikah.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara