
Persiapan keberangkatan Arjuna hitungan jam, Aliya tidak bisa tidur. Mengeluarkan baju Arjuna dari dalam lemari, memasukkan ke dalam koper.
Sesekali air mata Aliya menetes, memasukkan pakaian dan beberapa buku Arjuna agar rapi dibawa ke mobil.
Juna yang sudah tidur terbangun, melihat punggung Maminya yang merapikan kamar sambil menangis.
Mata Juna terpejam, memeluk erat guling menahan air matanya. Hal yang paling berat Juna tinggalkan hanya Maminya.
Mendengar suara tangisan Al semakin menyayat hati, Juna langsung bangun dan duduk melihat Maminya memasukkan foto keluarga.
"Mami, masih ingat tidak apa yang pernah Juna katakan saat pertama kali kita bertemu?" Juna meminta Maminya duduk.
Al menganggukkan kepalanya, Al tahu Juna tidak bisa menerima dirinya, karena menjadi orang ketiga dalam kebahagiaan keluarganya.
Bahkan Juna selalu menatap layaknya musuh, memastikan Aliya akan segera keluar dari dalam rumahnya.
"Maafkan ucapan Juna di masa lalu Mi, saat itu Juna hanya sedang melakukan pertahanan." Tangan Juna menggenggam tangan Maminya.
"Mami tahu Juna, sejak awal Mami tahu siapa anak Mami. Kamu sudah menjadi anak terbaik, sehingga Mami masih terus khawatir." Al menangis sesenggukan, memeluk putranya yang juga langsung menangis.
Al hanya bisa mengandalkan Juna untuk bisa menjadi ibu yang baik, meskipun hubungan Aliya dan Atika baik, masih sulit bagi Al mengatur Tika, jika tanpa Juna.
"Mami jangan khawatirkan Juna, kepergian Juna untuk belajar dan hanya beberapa tahun sampai kuliah Juna selesai, dan saat libur Juna pulang. Mami jangan khawatir soal makan Juna, karena selama ini Juna yang masak, bukan Mami." Juna tertawa kecil mengejek Maminya yang masih saja menangis.
Aliya hanya bisa menganggukkan kepalanya, saat Altha betugas biasanya Juna yang selalu menemani ke manapun Aliya pergi, bahkan keduanya seperti berteman.
Melihat putranya harus menuntut ilmu di negara yang jauh, tanpa pengawasan. Al masih belum bisa rela, karena setiap harinya selalu bertemu.
"Sudah jangan menangis terus, Juna juga berat pergi, jika kamu menangis." Altha mengusap air mata istrinya.
"Besok terakhir kita tinggal bersama, besoknya lagi. Pagi-pagi tidak ada Juna, kita hanya sarapan berlima." Al memeluk erat pinggang Altha, menangis semakin kuat.
"Aliya sayang, Juna masih bisa melakukan panggilan setiap hari. Waktu akan terus berlalu sayang, nanti Juna akan menikah, begitupun Tika. Ria dan Juan juga akan kuliah ke luar negeri." Alt meminta istrinya tidak membesarkan kepergian Juna.
Al langsung menepis tangan Altha, rencana Alt menikahkan Juna dan Tika saat usia keduanya masih muda membuat Al marah, ditambah lagi twins yang harus kuliah di luar.
__ADS_1
Aliya langsung melangkah keluar kamar, tidak terima ucapan suaminya. Juna geleng-geleng melihat Papinya yang masih saja selalu salah ucap.
"Kenapa sekarang marah? salah ucapan aku di mana?"
"Salah Papi tidak paham, jika Mami sedih dan banyak mengeluh dengarkan saja, tidak harus membicarakan apa yang terjadi kedepannya. Mami juga tahu jangan diperjelas lagi." Juna langsung mendorong Papinya keluar kamar untuk membujuk Maminya.
Juna menutup pintu kamarnya, melihat tiga koper sudah disiapkan. Juna membuka satu koper yang berisikan baju, ada foto keluarga juga Aliya bawakan.
Tatapan Juna fokus ke foto adik kecilnya Amora yang juga ikut bersamanya, ada Mamanya juga yang foto sudah Aliya simpan dibalik baju Juna.
Air mata Juna langsung menetes, memeluk foto Mamanya. Alasan Juna sangat mencintai Aliya, karena tidak membuat dirinya melupakan siapa ibu kandungnya.
Ada surat kecil yang Al tinggalkan, meminta Juna mengunjungi Mamanya sebelum pergi. Sudah bertahun-tahun Citra di penjara, tapi sekalipun Juna dan Tika tidak pernah mengunjunginya.
"Mami, kenapa hati Mami begitu baik? di mana Juna bisa menemukan wanita sebaik mami." Juna mengusap air matanya, memasukkan foto mamanya.
***
Mobil Gemal tiba di pemakaman, Diana keluar bersama Juna sambil membawa bunga. Gemal juga keluar bersama Hendrik untuk menjenguk makam ibunya.
"Mora pasti bangga mempunyai kakak sebaik kamu Jun."
"Terima kasih kak Di sudah menemani Juna."
Di tempat yang sedikit berjauhan, Hendrik menangis sesenggukan memeluk nisan ibunya. Memohon ampun atas segala dosanya, sementara waktu Hendrik akan pergi ke negara luar dan memulai kehidupan dari nol.
Tangan Gemal mengusap punggung kakaknya untuk menguatkan, karena Gemal tahu sedihnya hidup tanpa orang tua.
Selesai berziarah, Juna, Diana, Gemal dan Hendrik pergi ke kantor polisi untuk membesuk Citra.
Gemal mengatasnamakan dirinya, meminta izin agar dipertemukan meksipun Citra menolak untuk bertemu.
"Juna, apapun yang kamu lihat soal kondisi Mama, jangan melemah. Berada dipenjara tidak mudah, jangan menangis apalagi kamu kecewa dengan masa lalu." Diana menakup wajah Arjuna.
Senyuman Juna terlihat, jika Maminya sudah memberikan izin, berarti Aliya sudah yakin jika Juna sudah mampu menerima kenyataan mamanya.
__ADS_1
"Ayo kita masuk Juna." Gemal merangkul Juna, melangkah masuk ke ruangan tahanan.
Diana hanya menunggu di luar bersama Hendrik, Di masih mengkhawatirkan Juna meksipun ada Gemal bersamanya.
Dari kejauhan Juna sudah bisa melihat punggung Mamanya yang kurus, rambut panjang Mamanya sudah tipis.
"Mama." Juna memanggil Citra.
Mendengar suara Arjuna, Citra langsung terjatuh dari kursi. Melihat wajah putranya yang sudah besar setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Senyuman Juna terlihat, duduk dengan santainya. Air mata Citra menetes, langsung duduk di depan putranya yang sudah remaja.
Citra tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali, mulutnya terasa pahit. Hanya air mata yang bisa Citra tunjukkan.
"Apa kabar Ma? maafkan Juna yang baru bisa datang sekarang. Juna bahagia bisa melihat Mama lagi, jaga kesehatan Ma." Arjuna mengangkat tangannya ingin menyentuh wajah Mamanya yang terlihat sangat tua, padahal usianya belum terlalu tua.
Juna menceritakan jika dia baru pulang dari ziarah ke makam Mora, menceritakan kondisi Tika yang sudah mengerti belanja barang branded, dan memiliki banyak teman.
Tika sangat cerewet, aktif dan ceria. Dia juga siswa yang pintar meskipun sangat nakal. Bekali-kali Tika pindah sekolah, hanya karena selalu bertengkar.
"Ma, mungkin Juna akan datang lagi setelah sepuluh tahun. Malam ini Juna akan berangkat ke luar negeri untuk lanjut pendidikan di sana, Juna mendapatkan beasiswa. Kecerdasan Juna mirip Mama, selama Juna pergi jaga kesehatan." Senyuman Juna terlihat, meminta Mamanya terus mendoakannya agar menjadi orang yang berhasil.
"Arjuna, putraku. Jaga diri ya sayang, kamu harus menunjukkan kepada Mami dan Papi jika bisa membanggakan." Citra menangis sambil tersenyum.
Arjuna menganggukkan kepalanya, dia ingin sekali berlama-lama berbicara, tetapi ada peraturan yang membatasi. Setidaknya Juna senang bisa pergi setelah melihat Mamanya.
"Juna pergi ya Ma."
"Arjuna, siapa yang mengizinkan kamu ke sini?"
"Mami Aliya, Juna hanya boleh bergerak atas izin Mami. Karena apa yang sudah Mami sediakan, itu yang terbaik untuk Juna." Senyuman Juna terlihat langsung melangkah pergi.
Citra tersenyum, mengucapkan syukur kepada Aliya yang mempertemukannya dengan putranya yang semakin tampan, juga dewasa.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira