
Sepanjang perjalanan ke bandara, pertengkaran tidak ada akhirnya. Diana terus mengomel membuat Gemal dan Genta kebingungan.
"Makan dulu, baru bicara. Ini perempuan jorok sekali." Gemal menggelengkan kepalanya.
"Kenapa marah-marah terus?" Di melayangkan pukulan.
"Kamu selalu memancing emosiku Di, kamu yang sebenarnya ada masalah apa?" tangan Gemal mengusap pelan kepala istrinya.
Wajah Gemal terlihat kesal, keluar dari mobil Diana berjalan secara langsung meminta Gemal yang membawakan tasnya.
"Astaghfirullah Al azim, apa susahnya membawa tas sendiri?" Gemal meremas tas Diana, langsung membawanya.
Melihat kerusuhan Gemal, kepala Genta hanya bisa geleng-geleng. Membantu tuan mudanya membawa koper, juga banyak hal yang Diana masukkan ke dalam koper.
"Diana, pesawatnya sebelah sini." Cepat Gemal berlari, menarik tangan istrinya yang salah masuk jalur penerbangan.
Dalam pesawat Gemal melotot, menatap istrinya yang masih tidak diam. Sibuk mengoceh sambil makan-makanan.
"Aku peringatkan kamu Genta, jangan menikah muda. Demi apapun jika ingin gila, maka menikahlah." Tangan Gemal memijit pelipisnya, sedikit tenang karena Diana sudah terlelap tidur.
Mata Gemal terpejam, beristirahat sejenak dan langsung mendengar suara istrinya yang tertawa cekikikan.
Tatapan mata Gemal langsung sinis, Diana tertawa berbicara dengan pilot yang tidak sengaja lewat.
Genta sudah berusaha menghentikan agar tuanya bisa beristirahat sejenak, terlihat sekali dari wajah Gemal yang lelah.
"Nona muda kecilkan suara, duduk diam. Lebih baik tidur." Genta bicara sangat pelan.
senyuman Diana terlihat, langsung menutup mulutnya agar diam dan membiarkan suaminya beristirahat.
"Genta, kak Di duduk di samping kamu, ya?" Diana menoleh ke arah Genta yang menggelengkan kepalanya.
"Jangan Nona, Tuan Muda bisa marah. Sebaiknya Nona duduk diam." Genta masih bicara pelan dan berusaha untuk bersikap sopan.
Bibir Diana monyong, meminta pramugari membawahkan makanan. Gemal yang tidak tidur hanya diam, jika dia bicara Diana akan membuat masalah lebih besar lagi.
Sudah kenyang makan, Diana mengusap wajah Gemal, memakaikan lipstik ke bibirnya dan pipinya berbentuk love.
"Lucu sekali." Diana tertawa kecil, mencium pipi lembut.
"Kamu kenapa Di? beberapa hari ini aku perhatikan sangat aneh. Ini kekanakan." Gemal mengambil tisu basah, langsung membersihkan pipinya juga bibirnya.
"Diana hanya bercanda." Di meminta maaf, dan tidak akan menganggu lagi.
__ADS_1
"Bercanda kamu bilang, bercanda ada tempat dan waktunya. Kamu aneh dan membuat aku binggung. Di mana Diana yang dewasa dan berpikir mengunakan logika? aku tidak suka Di." Bicara Gemal sangat pelan, tapi penekanan kata-kata menembus dada Diana.
"Aku sudah minta maaf, lebih baik Di duduk bersama Genta." Di langsung pindah tempat duduk.
"Terserah." Gemal yang sudah habis kesabaran memilih membiarkan.
Tatapan Genta melihat Diana yang pindah duduk, meksipun pertengkaran Tuan mudanya pelan, Genta bisa mendengarnya.
Diana akhirnya duduk diam, mengunakan earphone dengan volume musik yang sangat besar.
Selama perjalanan di pesawat, Genta tidak bisa duduk tenang, sesekali melihat Diana yang menangis tanpa alasan, dan tidak lama memegang perutnya yang berbunyi lapar.
Sikap Diana yang suka makan, tidak dibuat-buat. Genta mendengar langsung, dan melihat Diana menahan dirinya.
Pelan-pelan Genta duduk di pinggir Gemal yang hanya memejamkan matanya, tetapi tidak tidur.
"Kak Gem, sebaiknya meminta maaf lebih dulu. Kasian, Nona perutnya bunyi terus menahan lapar, dan selalu menangis." Genta meminta Gemal pindah tempat duduk, dan melihat keadaan Diana.
Gemal langsung berdiri, pindah duduk ke tempat Genta. Melihat istrinya yang menekan perutnya.
"Permisi, bisa saya meminta makanan." Gemal tersenyum setelah mendapatkan makanannya.
"Sayang, ayo makan dulu." Tangan Gemal mengusap pelan kepala, meletakkan makanan di sampingnya.
"Maafkan aku Di, aku salah." Tangan Gemal menggenggam jari jemari, langsung menciumnya berkali-kali.
Cukup lama Gemal berusaha untuk membujuk, memarahi hanya beberapa detik, tapi ngambeknya berjam-jam.
Sampai pesawat mendarat Diana masih menahan lapar, bahkan menarik tas yang memiliki harga fantastis sembarangan.
Pramugari yang melihatnya terlihat sedih, tas bermerek Diana lecet karena ditarik sesuka hatinya.
Gemal tidak berani menegur, hanya bisa membiarkan. Menggandeng tangan istrinya yang masih marah dan menolak untuk bicara.
"Sayang, aku bantu membawa tasnya." Gemal langsung ingin mengambil tas, tapi sudah lebih dulu di lempar sampai isinya berhamburan.
Suara nafas Gemal naik turun, langsung mengambil tas dan memasukkan isinya kembali ke dalam tas. Suara tangisan Diana sudah terdengar, tidak perduli dengan orang-orang yang melihatnya.
Cepat Genta membantu Gemal, memasukkan isi tas yang penuh makanan. Senyuman Gemal terlihat, berusaha menahan tawa, karena isi tas branded hanya penuh makanan sisa.
"Mana koper Diana? lapar." Di mengusap air matanya, mengusap perutnya yang sudah perih.
Genta menyerahkan koper, dan melihat Diana membongkar koper yang penuh makanan. Tangan Gemal menutup wajahnya, tidak habis pikir perjalanan jauh hanya membawa makanan.
__ADS_1
"Ini oleh-oleh ya sayang?"
"Bukan, ini semua punya Diana. Tidak boleh ada yang minta." Di menutup kopernya, langsung membuka makanannya.
Hampir satu jam Gemal menemani Diana makan di bandara, Genta yang menunggu rasanya ingin menangis.
"Sudah belum Di, kita pulang ke rumah sekarang." Tangan Gemal sudah mengusap dadanya, masih terus menahan diri.
"Belum, di mana koper satunya?" Di membuka koper lainnya, dan mengambil makanan yang ditutupi dengan baju.
Gemal menarik tangan Diana untuk menghadap dirinya, meminta penjelasan dengan perubahan sikap secara tiba-tiba, dan membuat Gemal binggung.
"Di, kamu baik-baik saja?"
"Iya, Diana hanya melakukan apa yang membuat bahagia." Di memonyongkan bibirnya.
Di menyadari jika dirinya berubah, tapi hatinya bahagia melakukan hal aneh. Dan jika di marah, hatinya sakit dan tidak ingin melakukan apapun.
"Coba di lawan sayang, jika sakit kita ke dokter, tapi jika kamu begini kita harus berobat ke mana?" Gemal mengusap rambut istrinya yang berantakan.
"Kak Gem, ingin memasukkan Diana ke rumah sakit jiwa?"
"Astaghfirullah Al azim, tidak mungkin. Sebaiknya kita pulang, agar kamu bisa beristirahat." Gemal meminta Diana, naik ke punggungnya dan tidak perlu berjalan.
Senyuman Diana terlihat, menolak digendong Gemal, tetapi ingin digendong oleh Genta.
Mendengar permintaan Diana, Genta langsung menggendong banyak tas, menarik koper untuk mencari mobil, tidak ingin mengabulkan keinginan Di.
Senyuman Gemal terlihat, tapi di dalam hatinya sudah teriak histeris ingin menelan Diana hidup-hidup yang memancing emosinya.
Mata Diana terpejam, tidur di dalam pelukan Gemal yang juga kelelahan karena meladeni keinginan istrinya.
Gemal langsung menghubungi Anggun, menceritakan perubahan sikap Diana. Meminta bantuan mertuanya yang mungkin bisa menasehati Diana.
"Sayang, kita tidur di rumah Mommy."
Sesampainya di kediaman keluarga, Anggun sudah menunggu dan tersenyum melihat Gemal yang menggendong istrinya yang masih tidur.
"Apa yang terjadi Gem?"
"Mommy lihat saja nanti, Gemal binggung."
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira