ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SAKIT SEKALI


__ADS_3

Sudah tiga hari perasaan Aliya gelisah, Altha belum juga kembali. Dimas juga tidak bisa dihubungi, keduanya menghilang tanpa kabar.


Kegelisahan Al disadari oleh Juna, putra sulungnya sudah biasa jika Papinya tidak pulang.


Tiga hari waktu yang sangat singkat bagi Papinya, biasanya berminggu-minggu baru muncul setelah melakukan penangkapan.


"Mami jangan khawatir, juga jangan menunggu penuh beban tidak ada gunanya. Mulailah terbiasa untuk tidak melihat Papi pulang tepat waktu." Juna melangkah pergi meninggalkan Maminya yang hanya diam saja.


Jika Altha pergi tanpa ada rasa marah, mungkin Aliya santai saja. Masalahnya Altha pergi dalam keadaan emosi juga dalam masalah, perasaannya yang buruk sangat berbahaya.


Sudah larut malam, anak-anak sudah tidur Al masih bermain game di ponselnya sambil menunggu Alt pulang.


Pintu terbuka Altha melihat Aliya masih menunggunya, Alt melewati begitu saja langsung melewati begitu saja.


Sikap Altha berubah dingin seperti awal, dia tidak menganggap Aliya ada di sisinya. Hanya status istri tanpa hubungan apapun.


"Ayang." Al mengejar Altha ke kamar, setelah melihat Alt tidak menghampirinya.


Baju Altha kotor, bahkan banyak bekas darah. Langsung membukanya dan meletakkan begitu saja.


Wajah Alt sangat dingin, tidak merasakan sakit sama sekali karena hatinya jauh lebih sakit dari apa yang tubuh rasakan.


Aliya masuk dan kaget melihat punggung Altha yang masih ada bekas darah, bahkan ada luka pukul.


"Ayang, kenapa bisa terluka?" Al langsung berlari mendekat, menarik tangan Alt untuk duduk.


Tidak ada suara yang keluar, Al bertanya bekali-kali tidak ada jawaban sama sekali. Sikap Altha langsung berubah dingin melebihi saat pertama mereka menikah.


"Ayang, Al sedang bicara. Ada masalah apa?" tatapan Al tajam, melihat wajah Altha yang sangat dingin.


"Keluar."


Al mengerutkan keningnya, menyentuh wajah suaminya, tapi langsung ditepis kuat membuat Aliya terjatuh dari tempat duduknya.


"Salah Aliya apa?" Al langsung berdiri, menaikkan nada bicaranya melihat perubahan Altha.

__ADS_1


"Keluar! jangan pernah masuk lagi ke kamar ini. Ingat batasan kamu, keluar sekarang jangan muncul dihadapan aku." Altha membuka pintu, tidak melihat wajah Aliya sedikitpun memintanya untuk segera pergi.


Aliya binggung apa penyebab Altha marah, tidak ada hal buruk yang dia lakukan. Sungguh aneh secara tiba-tiba marah dan meminta batasan antara mereka.


"Kamu kenapa? Al akan pergi setelah kamu memberikan jawaban."


Altha menarik tangan Aliya, mendorongnya keluar sampai terduduk di lantai. Tatapan Altha tajam meminta Aliya mengakhiri dramanya.


Dia tidak akan pernah mengikuti permainan bodoh yang Aliya lakukan, tidak perduli apapun Al tidak akan mempertahankan Aliya lama di rumahnya.


"Jaga sikap kamu sampai aku menemukan bukti dan melempar kamu keluar dari rumah ini, dan satu hal lagi berhentilah berpura-pura baik jadilah diri kamu sendiri." Alt menutup pintu kuat, membuat jantung berdegup.


Al menatap tajam pintu yang tertutup, langsung berdiri menggenggam kuat tangannya sendiri menatap penuh amarah.


"Cari saja buktinya, kamu yang akan tersakiti bukan aku." Al langsung melangkah pergi meninggalkan rumah.


Di kamar Alt duduk di depan komputer, membuka isi memori yang pernah dia ambil dari Aliya.


Melihat isinya soal Amora, rekaman dua tahun yang lalu saat pertama kali Al mengantikan tim lain untuk melakukan pengejaran terhadap Hariz.


Citra meminum sesuatu yang sudah ada obat di dalamnya, di ruangan bukan hanya Hariz dia juga mendapatkan tamu putranya sendiri.


Pertengkaran Roby dan Hariz disaksikan oleh Citra, Hariz ingin Roby memimpin perusahaan, bukan menjadi guru yang gajinya tidak seberapa.


Saat tahu jika ayahnya pengedar narkoba, Roby tidak akan pernah menerima apapun yang berurusan dengan ayahnya.


Hariz melangkah pergi meninggalkan Roby dan Citra hanya berdua, keduanya dalam pengaruh obat dan tidak menyadari apapun.


Roby yang sedang dalam keadaan marah, emosinya sedang sulit dikontrol karena pertengkaran dengan orang tuanya, ditambah lagi kepergian ibunya, juga pernikahan dengan istri muda membuat hatinya hancur.


Hubungan yang tidak diharapkan oleh Citra dan Roby yang menjadikan hubungan satu malam, menitipkan benih.


Hubungan yang terlarang dijadikan senjata untuk mengendalikan Citra, sedangkan Roby tidak ingat apapun.


Pukulan kuat di kepalanya yang dilakukan oleh bawahan Hariz membuatnya melupakan apa yang terjadi, dan melupakan Citra begitu saja.

__ADS_1


Semuanya Citra tanggung sendiri, beban sangat besar mengkhianati lelaki yang dicintainya dan mengandung bayi yang bukan darah daging suaminya.


Suasana hati Citra bertahun-tahun berantakan, dengan perceraian mungkin akan mengakhiri perasaan bersalahnya.


Altha pria yang baik tidak mungkin bisa membenci Amora, putrinya Mora akan aman jika ada di tangan Altha.


Kecelakaan besar terjadi, Roby mengalami kecelakaan dan Citra yang ada di sisinya. Selama Altha tidak ada, Citra jarang di rumah karena menjaga Roby.


Mora sejak bayi Roby yang menggendongnya, meskipun tidak mengetahui jika Citra juga ada di sisinya.


Air mata Altha menetes, meletakan kepalanya di atas meja menangis menyentuh dadanya.


Demi rasa cinta dan sayangnya, Altha siap kehilangan apapun, tapi Citra demi perusahaan rela berkorban bahkan merusak rumah tangga mereka.


"Semuanya terjadi berawal dari aku, apa hak aku bertahan?" Alt memejamkan matanya, membiarkan rekaman video masih terdengar.


Bahkan kejahatan yang Hariz lakukan ada di sana, lokasi tempat gudang penyimpanan juga sudah terdaftar dengan rapi, bukan hanya satu tapi penuh.


Kemungkinan sekarang sudah berpidah semua, Alt hanya diam saja tidak mempedulikan apapun yang ada di hadapannya.


Bukan hanya Altha, Roby juga melihat rekaman yang sama. Dia membuka flashdisk yang Aliya tinggalkan menjadi jawaban untuk penentu hubungannya dengan Citra.


Aliya memberikan jawaban tindakan apa yang harus Roby lakukan, Al tahu jika Citra bukan wanita jahat, dia yang paling tersakiti dibandingkan Altha dan Roby.


Salah satu dari keduanya harus melindungi dia demi menembus rasa sakit di masa lalu, Roby memiliki banyak hutang kepada Citra yang sudah banyak berkorban.


Semuanya berawal dari pengejaran Altha, ditambah Citra yang tidak ingin kehilangan perusahaan, juga kesalahan Roby yang tidak bisa kontrol emosi sampai semuanya menjadi menjadi berantakan.


Hariz harus bertanggung jawab atas sakitnya tiga orang yang diserang secara bersamaan, Al hanya membantu mengungkapkan semuanya, tapi tidak bisa mengobati luka setiap orang yang tersakiti.


Al melangkah masuk, melihat rekaman video berputar sendiri sedangkan Altha sudah tertidur di kursi sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Sakit ya Ayang, pasti sakit sekali. Sabar ya, ini bukan salah kamu tapi harus menanggung sakitnya sebuah permainan. Dunia ini sangat keras Altha, kamu tahu itu." Al mengusap kepala suaminya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2