ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERTEMU


__ADS_3

Tubuh Genta dibawa masuk ke dalam Mansion, Rindi berjalan di depan sambil berlari kecil kesenangan seakan menemukan mainan baru.


Dari lantai atas, Melly menatap dengan mata tajam melihat pria yang seharusnya Rindi singkirkan tetapi dibawa ke Mansion.


Genta bukan orang sembarang, dia masih dijaga ketat oleh keluarga Leondra dan menjadi tanggung jawab Calvin untuk mengawasinya.


"Rindi, apa yang kamu lakukan? dia sangat berbahaya." Suara teriakan Melly terdengar, langkah kakinya juga menuruni tangga.


Teguran Melly tidak dihiraukan, bagi Rindi Genta suaminya yang akan selalu menemaninya selamanya. Tidak ada yang bisa menghalangi keinginan Rindi, dia tetap pada pendiriannya yang menginginkan Genta.


Kepala Melly menggeleng, menjelaskan jika Genta bukan pria sembarangan masih ada sangkut pautnya dengan keluarga Leondra.


"Aku tidak peduli siapa dia karena aku menginginkannya," ucap Rindi penuh keyakinan.


"Ini tidak sesimpel itu, dia bahkan mengetahui jika kamu membunuh di hotel. Kita berencana menangkap dia Rin, lalu menyingkirkan. Kamu jangan menyimpang dari rencana." Bentakan Melly terdengar, meminta pengawal membawa Genta ke markas.


Suara teriakan Rindi terdengar, langsung mengamuk menjatuhkan seluruh barang yang terlihat. Pukulan kuat menghantam pengawal yang tidak mengizinkan Rindi menyentuh Genta.


"Rindi kendalikan diri kamu, dia hidup tidak untuk kamu miliki!" tamparan kuat Melly mendarat ke wajah sampai mulut Rindi mengeluarkan darah.


"Aku akan membunuh kamu Melly, berani kamu menyakiti aku."


Genta yang masih tergeletak di lantai ditarik secara paksa ke ruangan khusus dan dikunci di sana. Melly meminta beberapa Dokter menghentikan Rindi yang mulai terobsesi lagi.


Mata Genta terbuka, mengusap wajahnya yang ada bekas ciuman, wajah Genta sampai merah karena digosok kuat.


"Sialan, kenapa juga mencium aku?"


Genta berjalan ke sekeliling ruangan, tidak ada apapun yang bisa Genta gunakan karena ruangan kosong.


Suara Rindi berteriak masih terdengar, Melly memberikan perintah untuk membawa Rindi ke tempat lain agar bisa menghindari Genta.


Melly tidak ingin obsesi Rindi terhadap Genta akan menjadi masalah untuknya juga seluruh anggota yang berada di bawahnya.


"Jadi kalian bersembunyi di sini," Genta mengepal tangannya, mengambil sesuatu yang terselip di di jaketnya.


Genta berusaha membuka jendela untuk keluar dari ruangan kosong, dan dirinya tidak bisa diam saja menunggu kematian.


Jendela berhasil terbuka, Genta mengamati sekitar langsung lompat keluar mencari ruangan kontrol. Mansion milik Melly sangat besar dan Genta kebingungan menemukan posisi yang benar.


Suara beberapa orang sedang bicara terdengar, Genta langsung melangkah masuk dengan gerakan cepat menjatuhkan lawannya. Belum sempat penjaga lain bergerak Genta sudah melumpuhkannya lebih dulu.

__ADS_1


"Di mana ruangan kontrol?" langkah kaki Genta terus maju, mencekik pria yang berbadan besar.


Sebuah pisau kecil berada di perut, Genta memaksa menunjukkan lokasi ruangan kontrol untuk mengendalikan seluruh CCTV.


"Sebaiknya kamu bicara jika tidak ingin mati konyol."


"Baiklah, ikut saya."


Genta berhasil masuk ke ruangan kontrol, mencari posisi keberadaan Melly dan Rindi yang masih bertengkar di ruangan lain. Genta memantau sekitar memperhatikan keamanan yang tidak terlalu ketat.


"Ponsel,"


"Tolong lepaskan saya, jika Nona Melly tahu kita semua mati." Penjaga menyerahkan ponselnya.


Genta tidak peduli akhirnya yang akan terjadi, baginya bisa menangkap Melly dan Rindi jauh lebih penting. Genta menghubungi timnya, meminta persiapan.


Satu-persatu penjaga berjatuhan, Genta meletakkan ponselnya melihat dua orang sedang melumpuhkan lawan. Alarm keamanan berbunyi.


Genta melihat seluruh rekaman CCTV, dugaannya salah jika keamanan mansion yang terlihat sepi tetapi ada banyak orang yang keluar saat alarm berbunyi.


"Ada berapa banyak pengawal di sini?"


Seluruh CCTV Genta matikan agar Melly tidak mengetahui keberadaannya, cepat Genta berlari keluar untuk melihat dua orang yang sedang menyerang.


Dugaan Tika salah, ternyata Melly cukup cerdas memperlihatkan keamanan yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya menjadi kumpulan para penjahat.


"Lin, dua banding ratusan. Anjir, salah sasaran." Shin menepuk jidatnya langsung mengambil posisi.


"Sudah aku peringatkan, ini akan menegangkan."


Shin menendang Tika sampai tersungkur, sejak kapan Tika memperingati Shin jika lawannya ratusan penjahat. Jika Shin tahu pasti ada persiapan.


Tika memprediksi Mansion dalam keadaan sepi dan aman, tetapi kenyataannya dua kali lipat dari markas. Bertarung secara langsung hanya akan membuat patah tulang belulang.


"Berhentilah mengomel, aku bukan paranormal yang bisa memprediksi apa yang terjadi di lapangan." Tika balik menendang Shin.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan? aku tidak mau patah tulang!" teriakan Shin menggema membuat semakin ramai.


"Bunuh mereka berdua!" suara perintah terdengar, Tika bisa mengenali suara membuat darahnya naik mengepal erat ingin melihat wajah Melly secara langsung.


"Selamatkan diri kamu sendiri." Tika melihat ke arah Shin yang bertolak pinggang karena kesal.

__ADS_1


Puluhan orang langsung maju, Tika dan Shin juga langsung maju menyerang. Lawan keduanya kuat dan sulit di taklukan, tetapi kemampuan bela diri Tika dan Shin bekali-kali lipat dibandingkan saat keduanya masih remaja.


Genta melihat pertarungan, langsung ikut bergabung menjatuhkan puluhan orang tanpa habis, bahkan hampir ratusan pria menyerang.


"Kak,"


Genta langsung memeluk Shin, mengusap kepala Adiknya yang datang untuk bertarung. Genta melihat ke arah Tika yang masih bertarung secara membabi-buta.


Tangan Tika langsung ditarik, Genta melemparkan peledak. Ketiganya berlari menjauh dari ledakan.


"Ke mana kita?" Tika menggenggam tangan Genta berlari bersama.


"Masuk ke dalam." Genta maju menyerang beberapa orang yang mengejar.


Shin melihat Kakaknya bertarung sendirian langsung keluar membantu. Genta tersenyum melihat kemampuan bela diri Shin yang cukup hebat, dia bukan hanya pintar masak, tapi ahli bela diri.


"Di mana Tika?" Genta melihat sekeliling hanya tersisa topi Tika sedangkan pemiliknya sudah menghilang.


Shin sama terkejut melihat Tika yang menghilang, Shin berlari membuka segala ruangan mencari keberadaan Tika.


"Apa yang kamu lakukan Tik?" Shin melangkah ke arah balkon, melihat Tika yang mengarahkan senjata ke mobil yang melarikan diri.


Tembakan Tika tepat sasaran, Genta yang melihatnya juga cemas karena Tika bisa menembak jarak jauh.


Melly dan Rindi berhasil keluar dari mobil sebelum meledak, tatapan Melly tajam melihat ke arah Tika yang mengarahkan senjata di kepalanya.


Senyuman jahat Tika terlihat, Melly tidak takut sama sekali sekalipun senjata sudah diarahkan kepadanya. Melly menantang Tika untuk melepaskan tembakannya.


Sebelum Melly menyelesaikan ucapannya, tembakan sudah mendarat di pundak Melly. Tika memberikan peringatan untuk semua pengawal melangkah mundur jika tidak Tika akan menembak kepala Rindi.


Kedua tangan Melly terangkat, diikuti oleh yang lainnya bertekuk lutut di bawa kakinya meminta maaf atas kejadian masa lalu.


"Membunuh bukan hal yang sulit, tetapi hukuman untuk orang jahat seperti kamu hidup dalam kematian." Mata Tika menatap tajam mengalahkan tajamnya mata elang.


"Kalian belum menang!" Melly melambaikan tangannya saat seluruh bangunan runtuh.


Shin langsung terjatuh, Tika hampi jatuh dari balkon jika Genta tidak menahannya. Kedua tangan Genta memeluk Tika untuk berlindung sedangkan Shin menyelamatkan dirinya sendiri.


.***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2