
Sudah dua minggu Diana dirawat, kondisinya sudah pulih total. Dokter sudah mengizinkan Diana untuk pulang.
Ketiga bayi juga sudah keluar dari tabung inkubator, berat badan sudah bertambah. Kendala Diana yang membuatnya sedih saat ASI yang tidak mencukupi.
Apalagi putrinya yang sangat kuat menyusu, bahkan Salsa membantunya dengan susu formula.
"Hai Isel, kenapa kamu rewel? lapar lagi." Gemal mengendong Putri cantiknya.
"Lapar lagi dia Gem." Mam Jes menyentuh bibir, mulut Isel langsung terbuka mencari susunya.
Ketukan pintu terdengar, suara tangisan juga terdengar saat Kakek Ken dan Nenek datang setelah mengetahui jika generasi keenam ada tiga.
"Tega sekali kamu Calvin tidak memberikan kabar Diana hamil, saat tahu sudah lahir." Tangisan Nenek terdengar memukul Putranya yang langsung menghindar.
Gemal menyerahkan satu Putranya kepada Neneknya, dan satunya kepada Kakeknya yang tertawa bahagia.
Gemal dan Diana meminta maaf karena tidak memberitahu langsung, sejak awal kehamilan kondisi Diana tidak baik. Kehamilannya berbahaya.
Takut mengecewakan dan membuat orang tua kepikiran, lalu jatuh sakit. Calvin dan Gemal sepakat untuk tidak mengatakan apapun.
"Maafkan Gemal Nenek." Pelukan Gemal lembut ke arah neneknya.
"Keluarga kita menjadi orang paling bahagia saat ini, memiliki satu penerus saja sungguh luar biasa. Apalagi mendapatkan tiga putra." Nenek mencium bayi mungil dalam pelukannya.
Suara tangisan bayi yang ada dalam pelukan Diana terdengar, tangisannya sangat besar membuat Diana tertawa.
"Sayang anak gadis Mama, aku cewek Oma bukan cowok." Di memeluk anaknya sambil tersenyum.
"Ya Allah, maafkan Oma yang tidak tahu." Nenek melihat ke arah Diana, menatap bayi cantik yang mengeluarkan kembali susunya.
Tangan Gemal mengusap mulut kecil Putrinya, menenangkan agar minun susu lagi.
Kakek Ken tersenyum melihat bayi perempuan pertama dalam keluarga Leondra, baby cantik yang memiliki pipi berisi.
Memiliki dua lelaki dan satu wanita sebagai penerus membuat kakek Ken lega, bisa melihat langsung generasi keenam yang meneruskan keluarga Leondra.
"Siapa namanya Gem?" Kakek Ken mengusap wajah bayi dalam gendongannya.
__ADS_1
Gemal belum memastikan namanya, karena sengaja menunggu kedatangan Kakek Neneknya. Meskipun Gemal dan Diana sudah memiliki usulan nama.
"Nama yang kita dapatkan Gheondra Aldirgan Leondra, Ghiandra Altara Leondra, Ghiselin Alina Leondra. Kita masih menunggu persetujuan untuk namanya Kek." Gemal menunjuk anak pertamanya, dan anak kedua.
"Bagus namanya, artinya apa Gem." Nenek menyerahkan bayi laki-laki kepada Mam Jes, langsung menggendong bayi perempuan.
Sebenarnya tidak ada arti atas nama anak-anaknya, Gemal hanya mengambil nama keluarga. Di belakang nama ada Leondra sebagai penerus keluarga, sedangkan nama tengah untuk anak laki-lakinya gabungan nama Dirgantara.
Alasan di depan ada Al, karena nama Putrinya ada Alina yang mengambil alih nama lama Diana agar tetap hidup.
"Awalnya nama bayi perempuan dadakan, karena kita tidak tahu ada anak cewek."
"Namanya aku bagus Pa, Ghiselin." Mam Jes menatap bayi perempuan yang sudah tidur.
"Sebenarnya namanya Gisella, karena Diana bersyukur bertemu gadis cantik yang langsung tahu jika bayinya ada perempuan, langsung memberikan nama Gisella, tapi ada perdebatan antara Atika dan Adriana." Di menjelaskan jika Tika inginnya memanggil Isel, bukan hanya Sel.
Demi menjaga hubungan baik Tika dan Shin, akhirnya namanya Ghisella. Andriana protes ingin belakang ada Lin, maka Gemal memberikan nama Ghiselin dengan panggilan Isel.
"Nama mereka perdebatannya cukup panjang, padahal sejak awal melihat bayi perempuan Gemal langsung mengatakan namanya Ghiselin, Panggilannya Selin." Diana tersenyum jika mengingat pembuatan nama.
Dimas dan keluarganya datang, langsung menyapa Kakek dan Nenek yang masih ngambek tidak dikabari.
"Siapa panggilnya untuk Gheondra dan Ghiandra? Dean."
Sesaat Dean diam mendengar pertanyaan Gemal, memikirkan panggilan yang bagus untuk dua bayi laki-laki.
"Gheondra panggilannya kak Gheon, sedangkan untuk Ghiandra panggilannya Ian. Keluarga kita dipanggil tidak sesuai nama kecuali Dean." Senyuman Dean terlihat.
"Juan juga, kita sama."
"Sama dari mana? kamu Adjuanda, panggilan Juan. Dasar aneh." Dean menatap sinis, Juan hanya tersenyum kecil melihat.
Suara pintu terbuka secara tiba-tiba, Ria muncul langsung lompat-lompat ingin mencium Isel. Tangan Juan menarik rambut adiknya, melarangnya menyentuh Isel yang masih sensitif apalagi Ria bau keringat.
Tatapan Ria sinis melihat kakaknya, Ria melihat Kakek Ken yang berbicara dengan Gheon. Ria langsung naik kursi melihat Gheon hanya diam menatap.
"Kakek Ken sudah gila? seluruh orang dalam keluarga kita gila. Bicara dengan bayi yang belum bisa bicara. Halo anak tampan, halo cantik, baru bangun ya? lapar tidak, sini gendong. Sudahlah, Ria pulang saja." Tatapan Ria sinis, langsung ingin pergi.
__ADS_1
Gemal langsung menggendong Ria, memeluknya gemes karena kelucuan Ria yang sangat posesif.
"Ria mau memeluk siapa?" senyuman Gemal terlihat membawanya mendekati Ian yang sudah ada di ranjang.
Tangan Ria menyentuh hidung Ian, langsung menciumnya, menyentuh pipi Isel langsung menciumnya, tapi menolak mencium Gheon yang masih dalam gendongan.
Kakek Ken langsung tertawa, melepaskan Gheon langsung memeluk Andriana yang cemburuan. Baginya dirinya yang harus diutamakan.
"Kakek kangen Ria, sini gendong kakek."
Senyuman Ria terlihat, langsung memeluk Kakek Ken meminta oleh-oleh. Nenek langsung panik, menatap suaminya yang garuk-garuk kepala.
"Kakek ke sini tidak membawa oleh-oleh? satu saja tidak ada? permen pun tidak ada?" Ria menepuk jidatnya.
"Maafkan Kakek Ria." Wajah Kakek Ken terlihat menyesal, apalagi ekspresi Ria yang terlihat sedih juga kecewa.
"Seharusnya kakek membawa oleh-oleh, banyak cucu di sini." Bibir Ria monyong.
"Maaf sekali, kakek hanya punya satu permen dari pesawat. Ria mau tidak?"
Wajah Ria langsung lemas, tetapi tetap menerima permen. Ria memecahkan permen membuat semua orang binggung, setelah pecah batu dibuka. Ria membagi satu permen, untuk Kakak-kakaknya.
Senyuman Kakek Ken terlihat, terharu melihat kebaikan Ria. Meskipun selalu membuat heboh, dia tetap memikirkan beberapa saudaranya.
"Cukup, karena Gheondra, Ghiandra dan Ghiselin masih kecil tidak bisa makan dikasih ke Ria, Yendri dan Devan juga masih kecil punya mereka untuk Ria. Kak Tika, kak Juan, sama Dean satu-satu. Ria yang paling banyak." Senyuman Ria terlihat, langsung memakan pecahan permen atas bagian dirinya.
Mam Jes dan Anggun mengusap dada, Ria pintar dan licik. Agar dirinya mendapatkan bagian banyak, maka menghitung yang kecil-kecil.
"Ini punya kak Juan, dan kamu Dean. Buka mulut makan ini. Kakek Ken sama Nenek pelit sekali hanya membawa satu permen." Mulut Ria masih saja menyindir meksipun dirinya mendapatkan bagian lebih banyak.
"Kamu pintar sekali Ria." Nenek mengusap kepala Ria.
"Dia bukan pintar Nek, tapi licik." Juan menghela nafasnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1