ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MALAM


__ADS_3

Suara ketukan tidak dihiraukan sama sekali, tangan Shin mencengkram kuat seprai merasakan tangan suaminya menyentuh tubuhnya. Shin bahkan kesulitan mengeluarkan suara, bibirnya sampai perih merasa Juna menyentuh bibirnya. Perlahan Shin membalas ciuman suaminya yang lembut, tapi membuat perih.


Wajah Shin terlihat binggung, dia tidak menyadari kapan bajunya terlepas. Bahkan sudah bisa melihat tubuh Juna yang tidak menggunakan busana.


"Ay, Shin malu." Mata Shin sesekali terpejam, merasakan tidak nyaman terbuka dihadapan Juna.


"Shin, boleh aku tahu artinya Ay?"


Senyuman Shin terlihat malu-malu, tidak percaya jika Juna selama ini masih tidak peka dan menyadari jika Ay biasanya digunakan oleh sepasang kekasih, bisa juga digunakan suami-istri yang berarti sayang.


"Ay itu berarti sayang?"


"Iya, tapi kemungkinan yang lain menanggapinya Shin bercanda, bukan serius memanggil sayang." Wajah Shin memerah menahan malu.


"Kamu memanggil Kak jika di depan banyak orang, panggilan Ay hanya khusus jika kita berdua." Tangan Juna menekan hidung Shin yang sudah lama liciknya.


Juna yang bodoh tidak menyadari maksud dari ucapan Shin yang sudah memberikan kode.


"Aku berpikir wanita mandiri juga secantik kamu tidak mungkin tertarik dengan lelaki sedingin, Ay." Tangan Juna menyentuh perut Shin yang sudah tidak tertutup lagi, hanya selimut yang masih menutupi tubuh keduanya.


"Shin juga berpikir, lelaki sedingin dan sempurna seperti Ay, tidak mungkin tertarik dengan wanita gila seperti Shin." Tangan Shin menahan pergerakan suaminya yang ingin menyentuh dadanya.


Tanpa bisa dihentikan, Shin hanya bisa diam merasakan Juna sudah ada di atasnya bahkan tanpa menggunakan sehelai benang.


Mata Shin terpejam, suara yang sama seperti film kesukaan Rindi keluar dari mulut Shin. Juna yang sudah tidak bisa menahan dirinya terlihat liar, tidak mendengarkan ucapan Shin yang meminta berhenti.


"Astaga Arjuna, aku pikir kamu lelaki cuek, dingin, pemarah terutama sangat polos. Ternyata Shin salah besar, kamu lelaki yang lebih, romantis, tapi sedikit liar jika sudah lepas kendali." Kedua tangan Shin menjambak rambut suaminya meminta sedikit lembut.


"Terima kasih pujiannya, mungkin akan ada sedikit rasa sakit, tapi nikmati saja. Sepengetahuan aku itu hanya sementara, akan ada rasa perih juga mungkin. Maafkan jika sedikit membuat tidak nyaman karena aku tidak akan berhenti." Juna mendaratkan ciuman lembut dikening Shin, mendekati telinga membacakan sesuatu.


Jantung Shin berdegup kencang, tubuh Shin sudah tidak bisa digerakkan lagi. Tubuhnya terkunci hanya bisa mengeluarkan suara yang membuat Juna semakin menyukainya.


Shin mengigit bibirnya, cengkraman semakin kuat di seprai. Kepala Shin menggeleng, menutup mulut agar tidak meringis kesakitan.

__ADS_1


Keberanian Shin langsung hilang meminta suaminya berhenti, Shin bukan hanya merasakan perih, tapi rasa sakit yang menyobek kulitnya.


Mata Shin terpejam menahan air matanya, tidak juga mengeluarkan keluhan atas rasa sakit yang hanya terjadi satu kali. Shin memiliki kemampuan bela diri yang tinggi, tidak pernah merasakan sakit karena cendera. Berbeda jauh saat berhubungan dengan suaminya, Shin ingin menangis histeria, memukuli Juna bahkan membantingnya karena sudah menyebabkan rasa sakit yang tidak ada tandingannya.


"Ayang udah belum? kenapa di film Rindi mengatakan enak? tapi ini sakit, perih, rasanya itunya luka." Shin menarik buang napas.


Juna hanya memberikan senyuman kecil, membiarkan istrinya nyaman. Posisi berbalik, tubuh Shin pindah ke atas, Juna memeluk lembut mengusap punggung.


Suara Shin terdengar, Juna menarik tangannya yang ingin menutup mulut. Juna suka mendengar suara Shin yang indah.


Pelukan keduanya erat, tubuh Shin terkulai dalam pelukan Juna. Keringat juga mengalir di keningnya.


"Kenapa tidak meringis mengeluh sakit? menangis lah, aku membuktikan jika kamu milikku. Shin, I love you." Bibir Juna mencium bibir istrinya sangat lama.


"Lemas Ay, Shin kehabisan tenaga. Ternyata Shin dan Reza memang tidak melakukan apapun?"


"Jangan sebut nama lelaki lain, aku tidak suka mendengarnya." Juna menggelengkan kepalanya melarang keras Shin dekat dengan lelaki manapun, tanpa terkecuali.


Kening Shin berkerut, tingkat posesif suaminya sangat berlebihan. Juna manusia dingin sudah hilang, digantikan Juna bucin.


"Ayang Shin capek!" teriakkan Shin menggema membuat Juna tertawa.


***


Di kamar yang berlainan, baju Tika sudah terlepas semuanya. Tidak ada rasa canggung sama sekali, keduanya saling menikmati sentuhan.


"Yang tunggu, sepertinya ada beberapa step yang terlewatkan." Tika mengambil ponselnya menonton sebuah rekaman, menunjukkan kepada Genta yang terlihat geli.


"Tika tidak mau ini, geli. Kita langsung ...."


"Cukup Tika, aku akan melakukan sesuai naluri. Baru mendekat sudah menonton lagi, lalu kapan nikmatnya?" Genta membuang ponsel Tika ke arah sofa.


Tubuh Tika berada di bawah, tawa keduanya langsung terdengar. Genta tidak paham wanita apa yang dia nikahi? Genta belum melakukan apapun, tapi sudah teriak-teriak saja.

__ADS_1


"Tadi hanya testing vocal Ayang, nanti saat ada yang masuk Tika langsung teriak kesakitan." Senyuman Tika terlihat menatap dadanya


"Yang, kenapa dada Tika bisa hilang?"


Genta mengacak-acak rambutnya, menutup mulut Istrinya yang cerewet dengan bibirnya. Merasakan menemukan mainan barulah Tika diam, tidak ingin berhenti.


Suara Tika terdengar, beberapa tanda merah tertinggal di atas dadanya, juga bagian tekuk lehernya.


Rasa panas dirasakan oleh keduanya, mendengar suara Tika yang disengaja terdengar seksi membuat Genta ingin cepat.


Tangan Tika meremas pundak suaminya, suara merasa sakit terdengar. Tika meminta suaminya melakukan pelan.


"Yang udah, sakit. Eh ... lanjut saja demi Baby boy,"


"Tik, lupa baca doa. Ulang lagi demi baby yang memiliki akhlak baik." Senyuman Genta terlihat, membisikkan doa ditelinga istrinya.


Kening Tika berkerut, dia merasa akhlaknya yang tidak baik. Tika mengumpat Rindi yang mengajarkan kesesatan.


Suara Tika kembali terdengar, kedua tangan menutup mulutnya kuat merasakan sensasi lain sesuai dengan film yang ditontonnya.


Meksipun diawali rasa sakit, tapi berakhir dengan rasa yang sangat nikmat. Keringat membasahi tubuh, Tika sudah hampir kehabisan tenaga, tapi Genta belum ingin berhenti.


"Ayang, capek." Suara Tika pelan memeluk suaminya merasakan kehangatan di dalam tubuhnya.


"Maaf jika ini menyakitkan sayang, aku bahagia memiliki kamu Tika. Mari kita menua bersama." Pelukan lembut terasa, ciuman juga mendarat di kening.


"Sebesar apa Ayang mencintai Tika?"


"Kecil, hanya seperti bola. Bulat, tidak memiliki jalan keluar. Seperti aku yang terkurung di dalam ikatan cinta, sengaja memilih bola agar aku tidak memiliki jalan keluar dari hidup kamu." Kening Genta bekerut merasa geli dengan ucapannya.


Tawa Tika terdengar, masuk ke dalam pelukan suaminya yang awalnya dingin dan selalu mengabaikannya, tapi sekarang terjebak di dalam pernikahan yang harus bersama hingga tua.


***

__ADS_1


dipercepat aja, biar cepat tamat.


Done malam pertama


__ADS_2