
Tatapan dingin Calvin terlihat, Mam Jes juga menatap sama dinginnya tidak menunjukkan sedikitpun kemarahan, namun tidak juga menunjukkan rasa suka.
"Ada apa Calvin? tidak biasanya kamu kembali dadakan. Anak-anak kamu juga tidak ada di sini. Hendrik ada penelitian, Gemal dan Genta memang tidak di sini." Senyuman Lian terlihat karena dia mendapatkan surat pertemuan dari Papa Calvin.
"Bagaimana perasaan kamu Tante?" nada bicara Calvin dingin.
Kening Dokter Lian berkerut karena biasanya Calvin pasti memanggilnya Dokter, tidak pernah memanggil dengan sebutan lain karena keluarga Lian Dokter pribadi keluarga turun-temurun Calvin.
"Ada apa? Kamu sehat?"
"Memiliki hubungan baik dari zaman ke zaman tidak menjamin hubungan itu selalu baik, pasti salah satu akan mengkhianati dan dikhianati apalagi dia yang berstatus orang lain." Senyuman Calvin terlihat meminta ucapannya dibenarkan.
Lian tersenyum, dirinya sudah menganggap Calvin seperti anaknya setelah Nenek meninggal. Lian tidak mengerti maksud ucapan Calvin yang tidak sepantasnya mengatakannya demi hubungan baik mereka.
"Hubungan baik kita seperti apa? Anda seorang Dokter, kenapa bisa mengetahui keberadaan Putra-putriku. Mengobati tidak cukup sampai harus mengawasi?" Mam Jes angkat bicara, hatinya sakit melihat wajah Lian.
"Kalian berdua ini kenapa?" suara Lian meninggi.
Pukulan kuat di atas meja terdengar sampai kaca retak, Mam Jes menatap suaminya yang akhirnya melepaskan amarahnya. Lian langsung berdiri dengan tatapan marah.
Calvin juga berdiri dengan tatapan marah, meja di dorong ke samping sampai pecah berhamburan.
"Tidak punya otak kamu Calvin, keterlaluan!" Lian berjalan ingin pergi.
Jessi menahan tangan Lian sangat kuat, tatapan mata Lian tajam. Tamparan kuat Mam Jes menghantam wajah Lian sampai terduduk di lantai.
"Sampai kapan kamu berpura-pura bodoh Lian? belum sadar kamu apa kesalahan selama dua puluh tahun kepada Putra-putri Cahya, sahabat kamu." Mam Jes geleng-geleng kepala.
Wajah Lian terlihat kaget, menundukkan kepalanya melihat bawahan Calvin sudah berjaga di segala penjuru rumah.
"Kamu tidak bisa lari Lian, tidak akan pernah bisa menghindar lagi."
"Aku mengerti apa yang kalian berdua katakan?"
Calvin melemparkan foto pria yang diperintahkan untuk merusak mobil, meskipun lelaki yang Lian pekerjaan sudah meninggal bersamaan dengan keluarga Genta, namun jejak kejahatan tidak pernah hilang.
__ADS_1
Keluarga pelaku masih ada dan hidup penuh penderita, sekalipun ke dalam kuburan Calvin akan menemukan buktinya agar Shin dan Genta bisa bahagia.
Calvin tahu rasa sakitnya perpisahan, dan sulitnya bertahan sendirian. Hidupnya tidak punya arah dan tujuan, hanya bisa menunggu.
Itulah yang Shin rasanya, tanpa tahu apapun namun terus menunggu berharap akan datang seseorang yang menyebut dirinya sebagai ibu, ayah, kakak, sanak saudara. Shin terus menunggu keluarganya selama puluhan tahun.
"Kenapa kamu hanya kasihan kepada gadis itu Calvin? dia hanya wanita gila." Lian meneteskan air matanya.
"Bayi kecil yang kamu serahkan kepada keluarga jahat agar dia menjadi gila. Dendam kamu kenapa harus kepada bayi kecil yang baru tahu menangis dan baru lahir ke dunia?" Mam Jes mengusap air matanya, serasa melihat iblis berwajah manusia.
Tawa Lian terdengar, Lian merasa lucu dengan kebenaran yang akhirnya terkuak. Di mata semua orang Cahya wanita yang sangat sempurna, memiliki paras yang cantik, tutur kata yang sopan, berpendidikan, lahir dari keluarga bernama. Dia layaknya Putri tanpa cacat meskipun seorang yatim piatu.
Kebaikan Cahya tidak diragukan, dia selalu berbagi, sangat menyanyi anak-anak. Seorang gadis yatim piatu yang sangat disegani, sehingga membuat pujaan hati adiknya Lian jatuh cinta dan siap menikah langsung.
Keluarga Leondra sangat mendukung hubungan keduanya, sehingga pernikahan akhirnya terlaksana. Tanpa Cahya dan Gifta sadari ada satu wanita yang hampir mati bunuh diri.
"Mereka bahagia, adikku gila. Lea berkali-kali melakukan aksi bunuh diri. Saat Cahya melahirkan Putra pertamanya, Lea meninggal lompat dari atas jembatan." Lian berdiri mendekati Mam Jes meminta pendapat perasaannya saat itu.
"Kenapa kamu membiarkan dia lompat?" Calvin menatap Lian yang cukup kaget karena Calvin tahu jika dirinya ada di sana saat saudara kembarnya bunuh diri.
"Aku lelah Calvin, bagaimana lagi aku mengobati adikku." Lian tersenyum, dia sengaja membiarkan Genta hidup agar merasakan kesepian seperti adiknya, dan membuat Shin menderita seperti Adiknya yang mati mengenaskan.
Lian mendorong tubuh Mam Jes, dan berlari kencang. Suara tembakan terdengar membuat Man Jes teriak melihat suaminya melepaskan tembakan.
"Sudah aku katakan, aku tidak main-main jika bersangkutan dengan keluarga." Tembakan kembali terdengar, teriakan Lian terdengar memegang kakinya yang mendapatkan dua tembakan.
Suara langkah kaki berlari terdengar, kedua tangan Liana terentang memohon kepada Calvin agar tidak membunuh Mamanya.
"Saya mohon jangan bunuh Mama, hanya Mama yang Li punya." Kedua tangan Li memohon.
"Jangan ikut campur Li, jika kamu tidak ingin terlibat,"
Liana langsung bersujud, menundukkan kepalanya. Berjalan menggunakan lututnya mencium kaki Calvin, meminta belas kasihan.
"Aku sangat mencintai Genta, tapi aku juga sangat mencintai Mama. Memiliki Genta sudah tidak mungkin bagi Li, hanya Mama harta Li."
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pernah menghentikan Mama kamu Liana?" Mam Jes memalingkan wajahnya.
"Bukan Li tidak ingin Mam Jes, Melly yang mengontrol Liana."
Sejak kepergian Papanya, Li mendapatkan amanah dari Papanya, perpisahan kedua orangtuanya bukan karena tidak saling mencintai, namun Papa Li seorang Dokter yang baik dan tidak ingin membantu kejahatan.
Permintaan Papa Li hanya satu, Liana harus menjadi Dokter yang baik, menjaga Genta dan suatu hari juga harus mengobati Shin jika dia lepas kendali karena saat itu Papanya tidak bisa menjaga Shin lagi.
Awalnya Li kecewa, Papanya memilih menjaga Shin dan meninggalkan keluarganya. Setelah Liana dewasa dan tahu kejahatan Mamanya, barulah Li paham kehidupan Shin.
Saat pertama bertemu, Liana takut dengan Shin, dia petarung hebat dan pertemanannya terlalu mengerikan. Shin selalu bertarung, dan membawa benda tajam, sehingga Li memilih menjauhi wanita seperti Shin.
"Maaf Li, Kami akan tetap memproses Lian. Dia bahkan mengambil organ tubuh Shin."
"Tidak, semua itu tidak benar. Tubuh Shin sangat baik dan kuat, aku dan Juna melihat langsung bagian dalam tubuh Shin. Organ yang diambil bukan milik Shin, tapi Papa." Tangisan Liana langsung pecah, berjalan ke arah mamanya.
Li membungkus luka kaki Mamanya, air matanya terus menetes melihat Mamanya yang telah tertawa.
"Putriku, kamu harus membunuh Shin. Di dalam tubuhnya ...."
"Ma, sudah cukup. Biarlah Shin menemukan kebahagiaan, kita akhiri saja Ma. Li mohon."
"Semuanya belum berakhir." Senyuman Lian terlihat mengancam Calvin.
***
lama gak up ... kangen juga cek novel ini.
maaf ya, ini juga masih di rumah sakit.
aku sempat info digrup alasan GK up.
Doakan cepat pulang ke rumah dan sembuh.
__ADS_1
bisa up seperti sebelumnya.
***