
Pelan-pelan pintu ruangan Genta terbuka, Shin dan Tika melangkah masuk tetapi tidak melihat keberadaan Genta di ranjang.
Keduanya saling pandang, melihat sekeliling yang sepi dan tidak ada satu orangpun di dalam ruangan.
"Kita tidak salah masuk ruangan Tik?"
"Tidak, ini ruangan Kak Gem." Tika menunjukkan nama pasien.
Senyuman Shin terlihat, menyukai nama Genta yang terlihat unik. Di belakang nama Genta juga ada nama Leondra.
Tika juga baru menyadari jika Genta sejak kecil sudah memiliki nama keluarga Leondra, hanya saja sikapnya yang suka menyendiri membuatnya jarang terlihat dalam keluarga.
"Nama Kak Gem bagus." Senyuman Shin terlihat.
"Iya, aku baru tahu jika dia salah satu Leondra."
Suara pintu kamar mandi terdengar terbuka, tatapan Shin dan Tika langsung melihat ke arah kamar mandi. Genta keluar setelah mandi dan berganti baju.
Langkah Tika langsung mundur, melihat wajah Genta yang masih mengalir air dari rambutnya. Melihat Genta yang segar memperlihatkan wajah tampannya karena selalu menggunakan topi menutupi wajahnya.
"Kak Genta baru sudah mandi?" Shin tersenyum mendekati Genta.
"Bagaimana keadaan kamu? maaf aku tidak pernah menjenguk." Tubuh Genta membungkuk, dalam hatinya sangat bahagia melihat Shin sudah bisa melihat dan tersenyum lagi.
Senyuman Tika terlihat, Genta mengabaikannya langsung berkemas untuk segera pulang. Shin dan Tika binggung menatap Genta yang ingin keluar dari rumah sakit sebelum waktunya.
Tangan Tika menahan Genta, setidaknya menunggu keluarga tiba terlebih dahulu baru bisa kembali. Atau menunggu Dokter mengizinkan.
Shin sependapat dengan Tika, Genta seharusnya masih harus dirawat beberapa hari lagi agar pulih sepenuhnya.
"Kak, sudah izin Kak Gem belum?"
"Sudah Shin, Kak Gem sudah mengizinkan. Kamu juga sebaiknya pulang dan beristirahat." Senyuman Genta terlihat, mengusap kepala Shin lembut.
Kening Tika berkerut, merasa ada yang aneh dari Genta. Tatapan matanya selalu menghindari Tika, ucapannya juga tidak ditanggapi sama sekali. Perasaan Tika kesal, Genta hanya bicara dengan Shin dan tidak menganggapnya ada.
"Kak Genta pergi dulu."
"Kak, ada masalah serius soal penyerangan aku?" Shin menahan lengan Genta.
__ADS_1
"Sementara waktu dia tidak akan datang Shin karena sedang memantau dan mengawasi." Atika mengambil ponsel Genta, menyerahkan kepada pemiliknya.
Genta mengambil ponselnya, langsung melangkah pergi diikuti oleh Shin dan Tika yang juga melangkah pergi. Ketiganya berhenti saat melihat Dokter Li yang berjalan bersama Dokter Juna.
Langkah kedua Dokter juga berhenti, Juna menatap Genta yang sudah memakai topinya kembali menutupi matanya.
"Bagaimana kondisi Tante Citra?" Genta mendekati Juna yang masih memperhatikan.
"Kak Gen ingin melihatnya?" Juna melangkah lebih dulu diikuti oleh Genta.
Shin menatap tajam Dokter Li, Atika dan Dokter Li juga berjalan beriringan untuk menjenguk kondisi Citra.
"Shin, kenapa kamu berdiam disitu?" Atika meminta Shin segera mengikutinya.
Dokter Li tersenyum manis, memberikan selamat kepada Shin yang akhirnya bisa melihat kembali setelah melewati kegelapan yang cukup lama.
"Mata kamu cantik sekali Shin." Li tersenyum sangat lebar.
Senyuman Shin sinis, Dokter Li tidak secantik yang dirinya bayangkan. Li tidak bisa dibandingkan dengan dirinya, masih kalah jauh. Tidak ada yang Shin khawatirkan karena dirinya jauh lebih cantik di atas Li.
Pintu ruangan Citra terbuka, Juna tersenyum melihat Mamanya yang sudah bisa duduk kembali. Kondisinya sudah jauh lebih baik.
"Bagaimana kondisi Tante?" suara Genta bicara sangat pelan.
Genta memperkenalkan dirinya sebagai seorang polisi yang menangani kasus penyerang Citra sampai drop kembali.
Sebelum bicara lebih jauh, Genta meminta maaf karena lambat dalam penanganan. Kondisi Citra baru saja pulih sangat tidak pantas dirinya membicarakan hal yang menakutkan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? pasti bukan soal pelaku?" Citra menatap Genta yang menatap matanya.
"Siapa Melly? dia ibu tiri Roby dan sudah berganti nama beberapa kali."
"Namanya bukan Melly, tapi Margaretha. Beberapa puluh tahun yang lalu dia menikah dengan bandar obat terbesar. Apa dia yang menyerang aku?" senyuman Citra terlihat tidak terkejut sama sekali.
Citra sudah tahu suatu hati Melly akan kembali dan membunuhnya. Tidak ada yang harus Citra tutupi karena dirinya tidak ingin lari lagi dari kematian.
"Aku rasa kasus ini cukup panjang dan aku akan mengejar Melly atau Margaretha tidak peduli siapa nama dia." Kepala Genta tertunduk, langsung pamitan tidak ingin membuat Citra banyak pikiran.
"Kamu tidak akan bisa menangkapnya, sebelum melewati beberapa orang." Kepala Citra menggeleng, tidak ada yang bisa menyentuh Melly jika beberapa orang di samping masih utuh.
__ADS_1
Atika langsung melangkah maju, menatap Citra tajam, keyakinan Citra soal Melly yang tidak bisa ditangkap polisi sepemikiran dengan Tika.
"Apa Irish dan Rindi terlibat? dua wanita sialan ini terikat."
"Siapa Rindi? mama belum pernah mendengarnya." Kening Citra berkerut, tidak pernah berurusan dengan wanita yang bernama Rindi.
Shin melangkah maju, menatap Citra yang juga menatapnya. Keduanya saling menatap dengan banyak pertanyaan.
"Arshinta, namanya puluhan tahun yang lalu Arshinta. Dia dinyatakan meninggal saat berusia tujuh tahun, dan di hari kematian bayi kecil mengantikan dirinya." Shin mendekati wajah Citra memintanya mengingat gadis muda yang selalu bersama Melly.
Suara Citra tertawa terdengar, menggelengkan kepalanya jika Shin salah besar. Tidak ada gadis bernama Arshinta berusia tujuh tahun.
"Kamu salah anak cantik, dia bukan tujuh tahun tetapi tujuh belas tahun. Apa kamu bayi kecil yang kehilangan keluarga? lalu di kurung di penjara sejak bayi." Citra meminta maaf dia tidak tahu banyak hal soal Rindi apalagi Shin.
Tangan Tika menepuk pundak Shin, memintanya untuk keluar. Tika meminta semua orang keluar, dirinya ingin bicara berdua dengan Citra.
Dokter Li keluar lebih dulu, Juna juga keluar diikuti oleh Genta. Shin menolak untuk keluar, dirinya semakin dibuat binggung.
"Jawab aku Citra, kamu tahu siapa yang membunuh Mora? adikku. Adik aku dan Kak Juna, siapa pelakunya?" Tatapan Tika tajam, memaksa Citra mengatakannya.
Tika tidak ingin mendengar jika Citra menyebut nama Alina, Tika bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi. Tika wanita dewasa yang akan menemukan pembunuh Adiknya.
"Aku tidak peduli sekuat apa Melly, siapa Rindi dan Irish. Aku akan menangkap mereka semua dan membuat bertekuk lutut penuh penyesalan." Air mata Tika mengalir di pipinya.
"Maafkan Mama sayang, kamu pasti sangat membenci Mama. Tika harus hidup normal, dan tidak terlibat dalam kejahatan." Air mata Citra juga menetes mengusap wajah Putrinya.
"Ya, aku memang tidak bisa memaafkan kamu, sebelum mereka tertangkap. Kamu harus hidup sampai aku bisa menangkapnya, dan membayar kematian adikku juga sakitnya aku." Langkah Tika mundur, meminta Citra mengingat detail soal Melly dan menghubunginya.
Shin mengepal erat tangannya, Shin akan menemukan identitas aslinya, dan Tika akan menemukan pelaku yang menyakiti adiknya.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya juga.
***
__ADS_1