ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HAL TIDAK MUNGKIN


__ADS_3

Suara Tika dan Shin menuruni tangga terdengar sambil marah-marah, Diana menatap tajam keduanya yang sudah berjanji tidak membuat masalah.


"Kak Di harus percaya jika Rindi semakin gila, dia tidak melayani suaminya selama berbulan-bulan." Kepala Tika geleng-geleng tidak habis pikir.


Diana langsung tertawa, bukan Rindi yang gila tetapi Hendrik yang terlalu kuat imannya sanggup menahan diri dari wanita cantik dan seksi seperti Rindi.


"Kenapa sayang?"


"Rindi dan suaminya tidak berhubungan selama berbulan-bulan." Di tertawa melihat Gemal yang terkejut.


Hendrik keluar bersama Papa Calvin, tangan Gemal bertepuk kagum karena Kakaknya terlalu baik dan kuat menahan diri.


"Genta belum pulang Gem?"


"Tidak tahu, Kak Hendrik normal tidak?"


Ucapan Gemal membuat Hendrik mengerutkan keningnya, terheran-heran melihat Adiknya yang bicara sembarangan.


Papa Calvin menghentikan Gemal dari pertanyaan bodohnya. Papa Calvin menatap Shin yang lanjut tidur di sofa, Tika duduk disampingnya sambil bermain game.


Diana dan Gemal masih saling pandang, rasa penasaran Gemal masih tinggi merengek meminta jawaban dari Hendrik alasan tidak menyentuh Rindi, apa kemungkinan Rindi laki-laki.


"Kak Hen,"


"Apa kamu ini Gemal? seperti anak kecil." Mam Jes membawakan minuman.


"Gemal hanya penasaran saja,"


"Rindi pernah hamil beberapa bulan yang lalu, tapi tidak bertahan lama. Hanya dua minggu, lalu keguguran." Mam Jes menatap Gemal yang terkejut.


Diana dan Tika lebih terkejut lagi karena mereka tidak mengetahuinya, Rindi keguguran setelah hamil dua minggu.


"Kenapa Di tidak tahu?"


"Aku juga tidak tahu, saat tahu sudah keguguran." Hendrik menatap Tika yang menatap Rindi yang berdiri di lantai atas.


"Kenapa bisa keguguran Kak?"


Senyuman Hendrik terlihat, menggelengkan kepalanya menatap istrinya yang menuruni tangga perlahan sambil melihat kemewahan rumah Gemal.


Mam Jes meminta Rindi duduk, mengusap kepala menantunya yang sudah mengerjai Tika.


"Kenapa kamu bisa keguguran?"

__ADS_1


Rindi mengingat kembali saat dia memiliki seekor burung, ternyata maid lalai dan burungnya terbang keluar. Rindi yang mengetahuinya langsung ke taman belakang, naik ke atas pohon tempat burung terbang.


Tanpa sengaja burung terbang ke pohon lainnya, sedangkan Rindi lompat berpikir jika dia juga bisa terbang dan ternyata jatuh ke bawah.


"Bodoh, bagaimana kamu tidak berpikir terlebih dahulu. Burung punya sayang, kamu punya apa?" Tika menahan emosi jika berurusan dengan Rindi yang jahilnya sama saja seperti dirinya.


"Rindi tidak memikirkannya,"


"Jatuh ke bawah, satu rumah heboh. Rindi dilarikan ke rumah sakit, sedangkan aku masih ada operasi jadi tidak tahu apapun." Hendrik menceritakan kejadian saat Rindi sudah di ruangan rawat, dia mengalami pendarahan.


Hendrik juga tahu dari Dokter yang menangani Rindi, jika istrinya keguguran dan diprediksi baru berusia dua minggu.


"Respon Kak Hendrik bagaimana?" Di menatap serius.


"Kaget iya, tapi lebih khawatir ke Rindi,"


"Tidak marah?"


Senyuman Hendrik terlihat, menggelengkan kepalanya. Tidak terbesit sedikitpun niat untuk marah, perasaan hanya khawatir. Hendrik takut, Rindi menyalahkan dirinya karena tidak mengetahui sedang hamil.


Sejak awal sudah berencana untuk tidak terburu-buru, Hendrik ingin Rindi benar-benar pulih dan yakin siap menjadi ibu.


"Semua yang baik, apa suami Tika juga sabar seperti Kak Hendrik?" senyuman Tika terlihat ingin cepat menikah.


"Shin, temani Rindi ke kamar. Sebentar saja,"


"Tidak mau! kenapa kamu selalu menganggu aku?"


Rindi mendekati telinga Shin, membisikkan sesuatu agar Shin tidak menolak. Dengan terpaksa Shin akhirnya mengikuti Rindi ke kamar yang sudah disiapkan untuk dirinya.


Langkah Rindi terhenti saat seorang wanita berhijab mengucapkan salam dan melangkah masuk, menemui Tika dan Mam Jes.


"Apa dia wanitanya?"


"Dia Kak Ana?"


"Emh ... itu wanita yang Juna cintai. Perasaan kamu benar-benar tidak terbalaskan Shin." Tawa mengejek Rindi terdengar merasa kasihan dengan Shin yang merelakan lelaki yang dicintainya bersama wanita yang jauh lebih baik.


"Diamlah, aku tidak ingin membahasnya. Meskipun kita saling mencintai juga tidak mungkin bersama, seperti ini jauh lebih baik." Shin tersenyum menatap punggung Rindi yang masih memperhatikan Ana.


Kabar burung sudah beredar, setelah lamaran resmi Tika, acara pernikahan akan ditetapkan dan di hari pernikahan Juna akan melamar resmi Ana untuk menjadi istrinya.


"Aku tahu dia wanita baik, itulah alasan kamu bahagia untuk Juna, namun tersakiti karena patah hati." Rindi melihat Shin masuk ke dalam kamar yang, mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Bagi Shin di dalam cinta, memang harus ada yang namanya terluka. Cinta tidak selamanya bisa bersama.


"Diikat oleh pernikahan saja bisa berpisah apalagi hanya sekedar menyimpan rasa,"


"Kamu menyedihkan Shin, tidak ada yang bisa dilakukan. Juna bukan jodoh yang tepat untuk kamu. Cobalah mencari seseorang yang bisa membuat kamu nyaman." Senyuman Rindi terlihat, karena tidak semua pernikahan menyakitkan.


Rindi membuktikan sendiri, dia bukan wanita baik dan memiliki banyak kekurangan. Namun Tuhan maha baik, dia dipertemukan dengan seorang lelaki yang tidak memintanya berubah sedikitpun.


Perlahan suaminya yang berubah, tugas seorang istri mengikuti suami, pada akhirnya mereka saling memperbaiki diri juga membuka hati untuk saling menerima.


"Aku tidak terobsesi seburuk dulu, aku ingin menjadi Ibu Shin, tapi apa aku bisa?"


"Kenapa tidak? hati kamu sudah yakin maka doa dan harapan juga akan dikabulkan." Shin menepuk pundak Rindi menyemangatinya.


"Lalu kamu? apa yang akan kamu lakukan tanpa Juna?"


"Jangan sebut lagi nama itu, kita akhiri membahas dia. Aku tidak ingin ada yang tahu soal perasaan ini." Kepala Shin mengangguk, menyakinkan Rindi jika perlahan perasaannya akan menyerah.


Ketukan pintu terdengar, Rindi membukakan pintu melihat Tika yang berdiri di balik pintu sambil masih melanjutkan permainannya.


"Apa kamu masih menjadi sahabat yang tidak peka?" Rindi menatap Tika yang kebingungan.


"Ini lebih baik Rindi, dia akan terluka jika tahu."


Langkah Shin keluar melangkah bersama Tika dan Rindi untuk mengikuti Ana.


"Apa Rindi mengetahui siapa lelaki yang kamu cintai?" Tika mematikan ponselnya.


Senyuman Shin terlihat, meminta Tika berhenti mencari tahu. Lelaki yang Shin impikan tidak akan pernah ada, dan ria hanyalah kartun yang Shin sembunyikan.


"Dia bukan Kak Juna? tidak mungkin iya kan Shin?"


Tawa Shin terdengar memukul pundak Tika, tanpa menunjukkan keterkejutan Shin hanya tertawa. Tika terlalu konyol, Shin bertemu dengan suaminya sebelum mengenal Juna, dan tidak mungkin lelaki tersebut Juna.


"Lelaki yang tidak mungkin aku cinta hanya Ay Jun,"


"Syukurlah, aku sempat panik karena mendengar Rindi menyebut nama Kak Juna. Kamu boleh mencintai siapapun, tapi bukan Kak Juna. Apa itu bisa terjadi?"


"Tenanglah Tika, Juna itu Kakak iparnya Kak Gen, sedangkan aku adik ipar kamu. Itu Mustahil." Shin meyakinkan Tika jika pendengarnya salah.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini," Rindi menatap Tika dan Shin yang berjalan lebih dulu.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2