
Dua Al tiba di rumah jam dua dini hari, langkah keduanya juga sangat lambat membuat Altha tertawa.
Pintu terbuka, Aliya langsung teriak melihat seorang wanita menggunakan baju putih berdiri di depan pintu.
Altha juga hampir teriak kaget, karena mendengar suara Al yang mengejutkan.
Citra berdiri di depan pintu dengan tatapan mematikan, Al memeluk lengan suaminya merasakan hawa dingin yang menembus tulang.
"Kenapa kamu masih ada di sini?" Altha bicara sangat pelan, tidak ada sikap dingin sama sekali.
"Kenapa? aku hanya ingin memastikan anak-anak aman."
Citra menatap tajam Altha, dia ingin mengambil hak asuh anak, karena tinggal bersama Altha kebahagiaan anaknya tidak terjamin.
Sudah larut malam, Alt sibuk jalan-jalan bersama istri mudanya, tidak memperdulikan anak-anak yang membutuhkan perhatian.
Altha tertawa merasa lucu dengan ucapan Citra, dirinya kehabisan kata-kata untuk wanita yang pernah dia cintai berpuluh tahun.
Waktu tidak menjamin mengenal baik sosok terdekat, buktinya Alt baru membuka matanya melihat sikap Citra yang sungguh egois.
Selama pacaran sampai menikah Citra sangat sempurna bagi Altha, dia wanita baik, penyayang, perduli, juga sangat pengertian.
Dibalik sisi sempurnanya, Altha melihat kekurangan yang sangat menyakitkan.
"Benar kata pepatah, hidup tidak ada yang sempurna, apalagi wanita sempurna." Alt melangkah masuk, menatap Citra yang masih terlihat marah.
"Aku punya hak sepenuhnya atas anak-anak."
"Jangan buat anak-anak menjadi alasan, aku tidak ingin kita saling membenci, karena kita mengenal secara baik maka berpisah secara baik, meksipun keadaan tidak baik." Genggaman tangan Altha erat, menarik Aliya untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Altha tidak pernah membatasi hubungan Citra dan anak-anak, kapanpun dia ingin bertemu rumah Altha terbuka lebar.
Hanya satu yang Altha tidak sukai, saat Citra mengatakan jika Alt mengabaikan kebahagiaan anak-anak.
"Kamu tidak sadar Altha? apa kesalahannya?" air mata Citra menetes, melihat genggaman tangan Alt.
"Tentu aku sadar, sekarang aku sedang belajar pulih dari rasa salah itu. Apa yang terjadi tidak bisa aku ubah Citra dan kamu juga tidak memberikan kesempatan." Altha melihat punggung Aliya yang melangkah pergi perlahan tanpa mengeluarkan suara.
Dari lantai atas Aliya menonton perdebatan dua orang, satunya terlihat tenang dan satunya menggebu-gebu penuh emosi.
Kemarahan Citra karena rasa cemburu, menyalahkan Altha yang terlihat bahagia sedangkan dirinya masih penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, kamu akan menyesal Citra. Aku bisa membuat lelaki yang kamu cintai dan mencintai kamu melupakan segalanya. Saat itu tiba balas dendam akhirnya terbalaskan." Aliya tersenyum langsung melangkah masuk ke dalam kamar.
Di ruang tamu Citra sudah menangis karena Altha begitu mudahnya melupakan dirinya, bahkan nyaman bersama wanita muda.
"Kamu sadar tidak Altha jika dia hanya memanfaatkan kamu, dia bukan wanita baik-baik."
"Lalu yang baik seperti apa? kamu yang aku pikir baik juga masih meninggalkan aku, apalagi Al yang tidak baik." Senyuman Altha terlihat, meminta Citra sebaiknya pulang.
Altha tidak ingin status mereka yang sudah pisah menjadi bahan pembicaraan, pasti akan merusak reputasinya.
"Kamu mengusir aku ditengah malam?"
"Seharusnya kamu pulang sebelum malam, atau aku akan keluar." Altha melangkah ingin naik ke lantai atas.
"Aku menginginkan hak asuh Mora."
"Baiklah, kita ke pengadilan." Alt melangkah pergi.
"Altha, apa kamu membenci aku? apa tidak ada cinta lagi?" tetesan air mata tidak bisa tertahankan, ada rasa sesak mengucapkan pertanyaan, apalagi jika jawabannya mengecewakan.
Senyuman Altha terlihat, berjalan mendekati Citra menghapus air mata yang menetes.
Secara tulus Altha meminta maaf, karena dia gagal membahagiakan Citra seperti janjinya saat menikah.
"Maafkan aku."
"Apa kamu membenci aku?"
Kepala Altha menggeleng tidak sedikitpun dirinya benci, hanya saja rasa kecewanya terlalu besar apalagi melihat kebenaran soal Mora, sungguh kecewa.
Rasa kecewa Altha sulit untuk terobati, meksipun dirinya menyadari kegagalan pernikahan mereka karena dirinya yang lalai, tapi bukan berarti Citra juga benar.
"Apa kamu masih mencintai aku?"
Kepala Altha mengangguk dan menggeleng, tapi rasa cinta yang Altha miliki bukan untuk kembali dan memulai dari awal. Cinta hanya sebatas ibu anak-anaknya.
Altha tidak bisa menerima kenyataan dengan alasan apapun, setidaknya Citra membohonginya selama dua tahun. Kebohongan Citra tidak bisa Altha maafkan.
"Altha pertanyaan terakhir sebagai penentu hubungan kita. Kamu pilih aku atau Aliya?"
"Maaf, aku memilih istriku. Silahkan pulang Citra." Alt langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
__ADS_1
Pintu kamar ditutup pelan, Altha bersandar di pintu sambil memejamkan matanya merasakan sakit hatinya.
Suara air shower terdengar, Aliya terdengar marah-marah di dalam kamar mandi.
"Aliya ada apa?"
Pintu kamar mandi terbuka, Aliya mendorong Altha yang kebingungan. Dia kehilangan kesempatan untuk masuk penjara dan menemui seseorang.
Rencana Aliya gagal total karena Altha, dia mengancam para penuntut agar Al dibebaskan, padahal Aliya memang berencana menemui seseorang.
"Kamu marah karena aku membebaskan kamu?" kepala Altha langsung berdenyut, ada perempuan model Aliya yang memaksa ingin di penjara.
"Tau ah kesal." Al langsung menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih basah.
"Keringkan rambut kamu Aliya, tempat tidur bisa basah atau kamu pindah ke kamar sendiri." Tangan Altha menarik kuat, Aliya menolak.
Bantal guling berhamburan karena pertengkaran keduanya, Altha berteriak kelas, memeluk Aliya dari belakang menurunkan dari atas ranjang.
"Tidak mau, sakit ayang."
"Makanya turun."
Pintu terbuka lebar secara tiba-tiba, Aliya dan Altha sama kagetnya. Citra menatap tajam melihat Aliya dan Altha berpelukan.
Ranjang terlihat berhamburan, baju seksi Aliya sudah kacau balau bahkan pahanya terlihat.
Senyuman Aliya terlihat, merapikan bajunya yang sudah berantakan langsung berdiri melihat Citra yang melangkah mendekatinya.
"Aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan? jangan coba-coba untuk memukul aku, jika tidak aku akan bersikap kasar." Aliya mengancam sebelum rambutnya dijambak.
Citra tertawa lucu, dia tidak bermaksud untuk menyakiti Aliya. Membiarkan Al menikahi mantan suaminya, karena tidak menangapi serius hubungan keduanya.
"Altha kamu ingin tahu siapa istri muda kamu? dia penyebab kamu menjadi yatim piatu." Senyuman Citra terlihat, mendekati wajah Aliya yang terlihat binggung.
"Apa yang kamu ucapkan Citra?"
"Kamu ingin tahu kenapa kalian tinggal jauh dari pemukiman penduduk? alasan karena ibu kamu seorang pembunuh." Cengkraman Citra kuat, sangat membenci Aliya yang terlihat seperti malaikat padahal dia iblis.
"Lalu? apa ibuku juga yang membunuh orangtua kamu, jika bukan lalu siapa ya?" Aliya tertawa lucu menepuk pundak Citra yang ingin bermain-main.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA