
Pintu terbuka, lima orang langsung berlarian untuk duduk ke tempat masing-masing menatap Arjuna dan Al yang duduk santai.
Suara nafas ngos-ngosan terdengar, keringat menetes di pagi hari. Panggilan secara dadakan membuat spot jantung, apalagi yang memanggil orang penting.
"Selamat pagi pak."
"Siapa yang memberikan izin duduk?" Al tersenyum menatap tajam dengan tatapan menakutkan.
Tidak ada yang mendengarkan Aliya, karena tidak ada yang mengenalinya sebagai istri pemilik perusahaan.
Berita perceraian Citra sudah tersebar, sudah pasti menjadi pembicaraan hangat di kantor. Seluruh direktur, orang-orang penting perusahaan termasuk pemegang saham sudah tahu jika Citra tidak punya hak lagi di perusahaan.
Seluruh saham Citra sudah pindah tangan atas nama Arjuna, putra pertamanya. Pemegang saham kedua Al, semua orang berpikir Al kemungkinan Altha, sebenarnya dia Aliya.
Altha memang pemilik perusahaan, dia memiliki hak besar, tetapi Aliya bisa menyingkirkan Altha. Jika Alt juga bisa dia singkirkan apalagi para manusia-manusia serakah yang gagal mendidik anak-anaknya.
"Kalian karyawan di sini? orang penting dan memiliki pengaruh besar."
"Anda benar sekali, tanpa kami perusahaan belum tentu sebesar sekarang. Maafkan jika kami lancang, karena belum mengenali anda." Senyuman terlihat menyapa Aliya.
Juna hanya diam saja memperhatikan Aliya, dia tidak mengerti kenapa dirinya diminta datang ke perusahaan.
"Em, ini pertemuan pertama juga terakhir kalinya."
Semua orang kaget, tidak mengerti ucapan Aliya yang secara dadakan.
"Maaf Nona Al, kita bisa bicarakan ini secara baik-baik. Mereka orang-orang penting perusahaan, bisa menggangu pekerjaan Tim." Dino menatap Aliya, dirinya yang mendapatkan kepercayaan dari Altha untuk menjaga perusahaan.
"Kita di pecat."
"Ya, kalian dipecat."
"Kita tunggu tuan Altha datang ke sini, Nona tidak bisa mengambil keputusan."
"Benarkah aku tidak bisa." Wajah Aliya terlihat mengejek, Juna langsung berdiri, menarik Maminya untuk keluar.
Tatapan Aliya tajam, Dino menghubungi Altha soal tindakan Aliya yang ingin memecat lima direktur sekaligus, tanpa alasan yang jelas.
"Mami sudah gila ya?"
"Sedikit, ini hanya ancaman saja agar mereka berhenti menyebarkan gosip. Jika atasan saja bisa terancam, apalagi bawahan."
"Papa bisa tahu." Juna menekan tombol lift meminta Aliya segera mengantarnya ke sekolah.
Aliya tersenyum, merangkul Juna melangkah bersama. Senyuman Juna juga terlihat bisa melihat pertemuan di kantor yang nampak tegang.
__ADS_1
Maminya memang perempuan gila, dia selalu melakukan apapun yang dia inginkan. Tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Terima kasih untuk bantuannya, terima kasih tidak pernah menjelekkan Mama. Mulai hari ini Juna tidak akan diam saja, apapun yang terjadi akan membela diri." Kepala Juna tertunduk tersenyum melihat Aliya, langsung melangkah keluar.
"Juna." Al memberikan tangannya, Juna langsung menyambut dan menciumnya.
Senyuman Aliya terlihat, melambaikan tangannya.
"Saat kamu besar nanti pasti akan menjadi lelaki yang sangat luar biasa, bisakah kita bertemu saat kamu dewasa nanti?" Al melangkah keluar dari mobilnya yang sudah terparkir.
Tatapan mata Aliya tajam, melangkah pergi ke dalam sekolah yang bersebalahan dengan anak-anak tingkat atas.
Suara tawa terdengar, bau asap rokok juga tercium. Al langsung duduk, mengambil rokok dan menghisapnya.
"Siapa kamu lancang sekali?"
"Aku, panggil Nuna." Al tersenyum sinis.
Banyak anak perempuan yang salah pergaulan, sangat mirip dengan dirinya sebelumnya.
"Kenapa kalian menyentuh Juna? anak kecil yang masih duduk di bangku dasar. Ukuran tubuh kalian juga terlihat jauh?" Asap mengepul dari rokok yang Al hisap.
Suara tawa terdengar, seorang wanita menjambak rambut Aliya ke belakang. Menghisap rokok dan membakarnya di leher Aliya.
Senyuman Aliya terlihat, tidak merasakan sakit sedikitpun di lehernya langsung melayangkan tamparan kuat.
Tawuran sudah biasa bagi Al, berdekatan dengan kematian sudah makanan sehari-hari. Tamparan Al menghantam anak-anak.
Satu orang jatuh ke selokan, Al juga terjun ke bawah langsung memukul anak laki-laki yang membuat Juna terguling di selokan.
"Ini balasan setimpal."
Lemparan batu menghantam kepala Aliya, Al langsung naik dan melemparkan batu membuat kepala berdarah.
Tangan Al mengambil ikat pinggang, langsung mencambuk anak-anak yang menyerang Juna agar bisa merasakan apa yang putranya rasakan.
"Aku akan melaporkan kamu kepada Ayahku, dia direktur di AT grup. Kamu akan di penjara."
"Silahkan laporkan, karena sebentar lagi AT grup akan memecat ayah kamu, karena Anak yang kalian bully pewaris AT grup." Al tertawa melihat penampilannya berantakan.
Beberapa guru datang melihat Aliya kembali ke sekolah dan melakukan perkelahian, seluruh anak-anak di bawah ke kantor polisi termasuk Aliya.
"Hai bu, apa kabar?"
"Kamu Monster Aliya." Tamparan kuat menghantam wajah Al.
__ADS_1
Senyuman Al terlihat membisikkan sesuatu membuat gurunya melotot, langsung berteriak mencaci maki Aliya.
***
Al dimasukkan ke dalam jeruji besi untuk kesekian kalinya, saat ini Al tidak bisa melarikan diri. Hukum akan segera membawanya ke tempat penjara yang sesungguhnya.
Altha sudah mendapatkan kabar soal perusahan, bahkan soal Juna yang dibully oleh sekelompok kakak kelasnya yang mengakibatkan putranya mengalami luka memar.
Dimas langsung berlari ke arah penjara, melihat Aliya yang berantakan. Mirip saat pertama kali dia temukan.
"Aku pikir dengan menikahi Altha kamu bisa berubah Aliya, tapi ternyata kamu masih sama." Tatapan Dimas sedih, duduk melihat wanita muda yang menatap dinding dengan penampilan berantakan.
Baju Aliya penuh lumpur, rambutnya acak-acakan, bahkan ada darah yang mengering.
"Ganti baju kamu, bersihkan kotoran." Dimas menjamin Aliya hanya untuk membersihkan dirinya.
Al tidak menjawab sama sekali, langsung mengambil baju yang Dimas berikan. Masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
"Aku akan meminta Anggun untuk melakukan perdamaian dengan para anak-anak, kamu hanya perlu menunggu."
"Tidak perlu, jika Al ingin mudah untuk membebaskan diri. Kali ini jangan ikut campur." Senyuman Al terlihat.
Altha melihat senyuman Al dari kejauhan, tidak ada yang bisa Altha lakukan untuk membantu Aliya.
Perbuatan Al sudah diluar batas, bahkan anak-anak masuk rumah sakit ulah kekasarannya.
Alt juga sama marahnya, tapi tidak harus melakukan hal yang sama. Al memberikan contoh yang buruk.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membantu Aliya?" Dimas mengacak-acak rambutnya.
"Biarkan saja kasus ini dibawa ke meja hijau, Aliya sudah keterlaluan." Alt langsung melangkah pergi.
Dimas menghubungi Anggun soal Aliya, memintanya untuk melakukan sesuatu. Mencoba menasihati Al untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Mata Al terbuka mendengar suara cacian dari orang tua yang anaknya menjadi korban, Al hanya menjulurkan lidahnya.
"Semuanya belum berakhir, aku masih memiliki permainan. Jaga ucapan jika tidak ingin lidah kalian keluar."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
VOTE HADIAHNYA DITUNGGU
__ADS_1
***