ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HANYA ADIK


__ADS_3

Kedua tangan Hendrik terlipat di dada menatap Tika dan Shin yang sudah duduk tenang setelah diobati, sedangkan Rindi sudah terlelap tidur karena obat.


"Kalian berdua lupa siapa Rindi? dia bisa membunuh tanpa sengaja. Kenapa yang normal, bertindak gegabah." Suara Hendrik terdengar pelan menatap dua wanita yang masih menundukkan kepalanya.


"Shin yang mulai, katanya ingin balapan jet ski." Bibir Tika sudah maju, melirik Shin yang menatapnya sinis.


"Lanjutkan, sudah siap bertengkar?"


"Shin tidak tahu jika ini akan terjadi, lagian kamu yang paling semangat Tika." Shin menatap kesal sahabatnya yang memalingkan wajah.


Genta berdehem meminta keduanya diam, memperingati untuk berhati-hati dengan Rindi. Dia memang terlihat normal, tapi emosinya sulit dikendalikan. Rindi tidak akan menyadari sedang melukai siapa karena tujuannya bertahan dan harus menang.


Atika menganggukkan kepalanya, langsung meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi. Kepala Tika juga masih pusing dan langsung pergi ke kamarnya.


"Kak Genta temani Tika, nanti dia salah jalan. Niat ke kamar perginya ke restoran." Shin menatap punggung Tika yang sudah keluar, Genta juga melangkah pergi mengikuti Tika.


Shin masih menunggu infus habis, tubuhnya baik-baik saja, tapi tiga pria cerewet memaksanya untuk diinfus.


"Kak, kondisi Rindi terbilang langkah,"


"Iya, kamu pasti memahami sedikit emosi, dan kekuatan tubuhnya. Aku yakin, dia sudah banyak mengkonsumsi jenis obat dalam jumlah besar." Helaan napas Hendrik terdengar.


Kepala Shin mengangguk, memberikan sebuah catatan kecil untuk Hendrik agar meneliti beberapa resep yang Shin buat. Melihat Rindi, Shin teringat dengan beberapa buku yang dirinya baca dan berharap Hendrik bisa menemukan obat untuk menganalisis dan menemukan obat jenis apa yang pernah Rindi konsumsi.


Shin sangat yakin, bagian tubuh Rindi sudah banyak mengalami kerusakan, dan terus diperbaiki. Efek sampingnya, kerja otak Rindi berbeda dan selalu lepas kontrol. Dia memiliki ingatan yang kuat, dan sangat cerdas juga memiliki tenaga yang kuat.


Namun Shin menemukan jika kecerdasan Rindi hanya sebentar, dan sisanya dia bertingkah seperti orang biasa, dan begitupun dengan emosinya.


"Dugaan kamu mungkin benar Shin, kerja otak Rindi mengalami banyak keanehan tapi itu bukan masalahnya. Dia sudah jenius sejak kecil, tapi mengalami cacat fisik, dan disinilah awal banyaknya bagian tubuh Rindi yang di perbaiki." Juna menunjukkan sesuatu kepada Hendrik, apapun yang terjadi kepada tubuh, otak bekerja pertama kali untuk meresponnya.


Senyuman Hendrik terlihat, dugaan Shin dan Juna membuat Hendrik paham kondisi Rindi. Beberapa organ tubuhnya memang milik orang lain sehingga membuatnya tetap bertahan hidup, dan apa yang terjadi menyimpan banyak memori di kepalanya.


Hidup bersama orang jahat, membuatnya menjadi jahat karena otaknya merekam segala memori kejahatan. Apa yang dilihat, didengar, bahkan dirasakan orang lain Rindi menyimpan rekaman di kepalanya.

__ADS_1


"Shin, kamu sengaja memancing emosi Rindi di pantai?"


"Tidak,"


"Jangan bohong, aku sibuk memikirkan cara mengobati Rindi, tapi kamu sudah memulainya lebih dulu untuk menghilangkan memori jahat, dan menggantinya dengan hal lain."


"Kak Hendrik bicara apa? Shin tidak mengerti."


Mata Hendrik memicing, bisa membaca ekspresi Shin yang berbohong. Shin sangat memahami kondisi Rindi, sehingga bisa membuatnya mengendalikan diri.


Shin mengusap wajahnya, menjelaskan penyakit Rindi yang mengalami Alergi Imunologi. Penyakit dalam yang berkaitan dengan alergi dan gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh, Rindi juga pernah menjalani perawatan Gastroenterohepatologi. Penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sistem pencernaan dan organ hati.


Masih banyak lagi proses pengobatan yang Rindi jalanin, seperti Ginjal Hipertensi, Hematologi Onkologi Medik. Penyakit dalam ini berkaitan dengan adanya gangguan atau kelainan pada darah, dan hampir merenggut nyawa Rindi sampai pendarahan Otak.


"Apa ingin tahu lebih lagi?" Shin mengaruk kepalanya melihat Hendrik dan Juna kaget.


"Jelaskan sedetail-detailnya,"


"Kardiologi gangguan pada jantung, Metabolik Endokrin, munculnya Psikosomatik disebabkan oleh gangguan penyakit lain dan gangguan mental pada pengidap, Pulmonologi gangguan pada paru-paru, Reumatologi, gangguan pada sendi dan gangguan autoimun. Itu semua catatan yang terdaftar." Shin meminta maaf karena terlambat memberitahu.


"Emh ... dia dinyatakan sembuh, dan Papanya meninggal karena mendonorkan orang tubuhnya, tapi Rindi tidak tahu soal ini, dia hanya tahu Papanya pergi dalam misi dan belum kembali." Shin binggung cara menjelaskan kepada Rindi, jika orangtunya sudah tiada.


Hendrik menatap resep obat dari Shin, Hendrik kagum dengan kebaikan hati Shin, dia membawa Rindi, mengobatinya, memperkenalkan kepada Tika, menunjukkan orang-orang baik, memperkenalkan rasa cinta, keluarga dan hal-hal yang berbahaya bagi orang lain.


"Shin, kamu menunjukkan kepada Rindi jika mencelakai orang akan membuatnya kehilangan. Kalah dalam pertandingan, dan cara berkorban."


"Iya kak, dia harus mengalaminya agar tahu cara membandingkan, jika Rindi tahu mencelakai orang membuatnya kehilangan maka dia tidak akan membahayakan orang lain."


"Kamu membahayakan diri kamu!" Juna menaikkan nada bicaranya.


Senyuman Shin terlihat, dia juga tidak menyangka jika sangat beresiko. Shin meminta kepada Hendrik menjaga Rindi dan memberikan contoh kebaikan, juga mendekatkan dengan orang baik. Sedikit demi sedikit dia akan kembali menjadi wanita sesuai harapan Hendrik dan keluarga.


"Dek, jangan lakukan ini lagi. Aku akan menjaga Rindi, dan berjanji akan membuatnya meninggalkan ingatan kejahatan, dan membawanya ke dalam kebaikan. Sama seperti aku yang meninggalkan kejahatan." Hendrik memeluk Shin yang mengusap punggung Hendrik.

__ADS_1


Shin tahu jika Kakaknya yang terbaik, Shin akan selalu ada di sisi Kakak-kakaknya untuk membantu dalam hal apapun.


Pintu terbuka, Rindi membuang infusnya. Air matanya sudah banjir membasahi pipinya. Shin langsung berdiri, tangan Rindi meminta Shin tidak mendekatinya.


"Aku hidup dan merenggut kehidupan orang lain, segala yang ada ditubuh ini bukan milikku. Seharusnya sejak awal aku mati." Rindi mengusap air matanya.


"Rindi, kita bicara berdua." Hendrik melangkah maju, dan Rindi mundur.


"Aku sudah membunuh banyak orang, dari anak kecil sampai orang dewasa, tapi aku tidak mengingatnya."


"Itu bukan kamu, saat kamu emosi, dalam beberapa menit darah naik dan akhirnya kamu melemah. Bagaimana orang yang hanya bisa bertahan sebentar membunuh? selama ini kamu dikendalikan oleh obat, dan ini semua skenario Melly." Shin melangkah pergi.


"Dari mana kamu tahu?"


"Tanyakan detailnya pada Tika, dia tahu semuanya karena tugasnya mengumpulkan kebenaran. Apa kamu pikir Tika akan membiarkan seorang pembunuh dekat dengan keluarganya? pikir sendiri." Shin melambaikan tangannya melangkah keluar.


Juna juga melangkah keluar, membantu Shin memegang tiang infus. Membiarkan Hendrik yang mengurus Rindi.


"Apa kamu selalu seperti ini? hidup kamu terlalu banyak rahasia? apa yang kamu lakukan juga berbahaya,"


"Maafkan Shin,"


"Aku pikir Atika wanita yang sulit dijaga, dan selalu lepas dari pengawasan, tapi aku salah. Kamu jauh lebih parah dari Tika, tidak takut mati seakan-akan kamu memiliki banyak nyawa."


"Ini pertama kalinya Kak Juna bicara panjang." Senyuman Shin terlihat, meminta Juna segera melepaskan infusnya.


Tangan Juna menahan Shin, menatap wajah wanita dihadapannya dengan tatapan tajam.


"Aku ingin menjaga kamu, karena aku menganggap kamu sama seperti Tika, jadi tolong berpikir sebelum bertindak." Juna menyerahkan tiang infus.


"Adik, aku hanya sebatas adik. Baiklah, Shin tidak akan melakukannya lagi." Tawa Shin terdengar, meminta Juna tidak mengkhawatirkannya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2