ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TIDAK ROMANTIS


__ADS_3

Perhatian Gemal melihat ke arah Genta yang baru pulang bekerja langsung cepat-cepat lari ke kamarnya tanpa melihat dirinya yang sudah duduk.


"Gen, ingin pergi ke mana? baru pulang ingin pergi lagi. Sudah wangi juga. Ke mana?"


"Kenapa? tidak boleh,"


"Ada kasus ...."


"Selesaikan sendiri Kak Gemal, aku juga butuh libur." Teriakkan Genta terdengar bergegas pergi lagi setelah meneriaki Kakaknya yang belum selesai berbicara.


Tawa Gemal terdengar merasa lucu melihat tingkah laku Adiknya yang kesal karena selalu ditugaskan, Genta kehabisan waktu untuk berpacaran karena pekerjaannya yang sibuk.


"Dasar jahil." Diana mencubit telinga suaminya yang sangat suka menjahili siapapun.


"Daripada aku menjahili kamu,"


Senyuman Diana terlihat, mencium kening suaminya, suara tangisan terdengar membuat Gemal tertawa karena dirinya juga tidak punya waktu bermesraan dengan istrinya ulah wanita kecilnya yang selalu mengacau.


"Kenapa lagi Isel?"


"Uncle ... nakal. Isel dilarang ikut, Papa bantuin."


"Kamu juga gila, orang ingin pacaran diganggu. Lebih baik kamu belajar Isel daripada ...." Mata Diana menatap tajam, kepalanya dipukul menggunakan pedang.


Ghiselin sudah melarikan diri berteriak memanggil Genta, Diana berlari mengejar Putrinya yang sudah mencari bantuan.


"Ya Allah, perang lagi." Gemal juga ikut berlari untuk menghentikan dua wanitanya yang sudah mulai berperang.


Dari kejauhan Genta dan Tika saling pandang melihat Isel yang berlari kencang, membuang pedangnya mencari keberadaan Aliya untuk melindunginya.


"Anak kurang ajar," Diana mencari Isel yang sudah memeluk Al erat.


"Kak Di, kenapa lagi?"


"Lihat kepala aku dipukul menggunakan pedang, ini gara-gara Genta. Lebih baik kalian berdua cepat pergi,"


Atika dan Genta meminta maaf secara bersamaan, langsung melangkah pergi berdua sebelum Isel memaksa ikut lagi.


"Kita ingin ke mana Kak? tumben." Tika tersenyum memasang sabuk pengaman.


"Kak Gen ingin membelikan kamu sesuatu,"


Kepala Tika mengangguk, padahal Tika sudah tahu karena Genta membicarakan dengan Shin sedangkan mulut Shin tidak bisa menyimpan rahasia.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah tahu?"


"Maaf, Tika akan berpura-pura tidak tahu." Tawa terdengar dan senyuman manis terlihat dari wajah Tika yang sedang bahagia.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, panggilan di ponsel Genta berkali-kali terdengar, namun tidak dijawab.


Lama kelamaan Tika merasa risih, meminta Genta menjawab panggilan nomor yang tidak dikenali. Tidak ingin mendengar Tika kesal, panggilan akhirnya dijawab.


Dikarenakan Genta sedang menyetir, panggilan di speakers. Tika bisa mendengar suara wanita menangis meminta Genta segera menemuinya.


Panggilan mesra membuat Tika tertawa, merasa lucu dan konyol dengan panggilan tidak dikenali.


"Demi Allah aku tidak mengenal dia,"


"Kenapa panik? kita temui saja." Tawa Tika terdengar melihat wajah Genta yang kesal.


Mobil putar arah ke lokasi wanita yang menghubungi Genta, meminta dijemput di sebuah hotel.


Sepanjang jalan Genta hanya geleng-geleng, rencananya ingin menghabiskan waktu bersama Tika sekaligus melamarnya gagal total.


Panggilan dari orang yang tidak dikenali merusak segalanya, Tika juga langsung diam tidak bicara apapun. Asik dengan ponselnya sendiri.


"Sayang, kamu marah?"


"Hubungan akan bertahan dengan kepercayaan, Tika percaya bukan seseorang yang seperti itu. Kak Gen bisa menjaga kepercayaan Tika." Senyuman manis Tika terlihat, menggenggam tangan dengan manja.


Di dalam hati Tika ingin sekali mencekik Genta, membumihanguskan wanita yang beraninya memanggil sayang. Mengatakan menunggu di hotel, ingin Tika kirimkan kematian untuk menyingkirkannya.


Demi menjaga hubungan tetap baik, Atika menahan dirinya, menunjukkan kepada Genta jika dirinya wanita dewasa meksipun aslinya ingin mengamuk.


Sesampainya di hotel, Genta berjalan beriringan bersama Tika menuju kamar hotel yang sudah disebutkan.


Beberapa kali langkah Genta terhenti, ada rasa takut namun Tika meyakinkan jika semuanya baik-baik saja.


Tangan Tika mengandeng, berjalan sambil tersenyum bahagia. Apa yang ditunjukkan wajahnya, tidak sesuai dengan apa yang hatinya rasakan.


"Tik, kamu yakin tidak marah?"


"Tidak Kak Gen, Tika baik-baik saja,"


"Kenapa aku khawatir? jika membuat kita bertengkar lebih baik pulang." Genta ingin balik lagi, tapi tangannya ditahan.


"Yang ... ayolah. Kita sudah disini jadi lanjutkan saja." Tika menarik tangan, mengetuk kamar yang ingin mereka kunjungi.

__ADS_1


Pintu terbuka, Tika tidak melangkah masuk, masih mengetuk pintu. Tidak ingin gegabah dalam tindakan, jika memang ada seorang wanita dia pasti langsung keluar.


Hanya ada dua jawaban di kepala Tika, ada penjahat yang menanti Genta atau ada wanita yang sedang menunggu Genta dengan cara menggodanya. Masuk lebih dulu bukan hal yang baik.


Lebih dari lima menit menunggu, akhirnya seseorang keluar. Menatap Tika dan Genta dengan ekspresi binggung.


"Kenapa tidak masuk?"


"Pemilik harus menyambut jika ada tamu datang," Tika menjawab santai.


"Aku hanya ingin bicara dengan Genta, kamu siapa?"


"Ingin bicara soal apa? aku calon istrinya." Tika mengulurkan tangannya.


Jika seorang wanita menghubungi pria yang sudah memiliki kekasih dengan alasan perkejaan, berada di hotel bukan sesuatu yang pantas. Pekerjaan bisa dibahas di kantor polisi, dan orang biasa tidak bisa memanggil secara pribadi.


"Ini masalah pribadi bukan pekerjaan,"


"Berarti aku harus terlibat, aku hadir di dalam kehidupan pribadinya. Jika hanya kalian berdua, aku tidak salah jika berpendapat buruk." Tika menatap Genta yang hanya diam saja.


"Kamu siapa? aku tidak berkomunikasi secara pribadi dengan siapapun." Genta dengan polosnya mempertanyakan wanita di hadapannya.


Tawa wanita dihadapannya terdengar, menepuk keningnya kembali ke dalam kamar hotel menghidupkan semua lampu meminta Tika segera masuk ke dalam kamar.


Tika berjalan masuk melihat di kamar ada tulisan I Will marry you, kaya-kata yang berbeda dari kebanyakan orang. Biasanya Will you marry me.


Wanita yang ada di kamar langsung melangkah keluar, menatap Genta yang masih berdiri di depan pintu.


"Ada apa sayang?"


"Masuklah,"


Genta menepuk keningnya dia lupa jika rencana awal lamaran dibatalkan karena Shin keceplosan, Shin dan Ria yang mengambil alih untuk mengubah semuanya.


"Aku tidak berencana ada wanitanya, membuat panik dan binggung." Genta tersenyum meminta maaf kepada Tika yang memijit pelipisnya.


"Kenapa aku harus mencintai laki-laki ini?"


"Kamu kecewa Ya? aku laki-laki yang payah dan tidak romantis seperti harapan kamu." Helaan napas terdengar.


"Bukan seperti itu Ayang, Tika setiap hari semakin jatuh cinta. Terima kasih karena sudah berusaha, meksipun Ayang terlihat bodoh." Tawa terdengar meminta Genta menjelaskan kenapa tulisannya berbeda.


"I Will marry you, aku sudah memastikan akan menikahi kamu, tidak ingin bertanya lagi apa kamu mau. Aku mencintai kamu, dan hanya kata itu yang aku tahu dan jawabannya kamu menerima lamaran aku." Genta mengulurkan tangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2