ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TIDAK ADA KESEMPATAN


__ADS_3

Langkah Diana mendekati wanita yang tangannya patah, menariknya rambutnya agar berpapasan wajah dengannya.


"Katakan sejujurnya, setidaknya aku tidak akan membunuh kamu." Senyuman Di terlihat, mengusap darah di wajah.


Tujuan Dina bukan menyakiti Isel, dia bertujuan melumpuhkan Hana. Jika terjadi sesuatu kepada Ana seluruh keluarga akan merasa bersalah. Pernikahan kemungkinan akan diundur karena Hana akan mati perlahan, begitupun dengan Juna konsentrasi pasti akan terganggu.


Cengkraman Diana sangat kuat, hidup atau matinya Hana tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka. Pernikahan Tika akan tetap terlaksana meksipun Hana terluka, dan Juna tidak akan patah hati hanya karena seorang wanita.


"Kalian pikir bisa membohongi aku? Alina bukan wanita bodoh, aku pembunuh yang bisa menebas leher busuk ini." Di melepaskan cengkraman.


"Tujuannya memang untuk Hana, bukan putrimu. Itu salah Isel sendiri yang mengambil minuman Hana." Teriakan terdengar meyakinkan Di.


"Mungkin itu benar, tapi tujuan awalnya tidak sesuai yang kamu katakan. Ada tidaknya Hana tidak ada pengaruhnya terhadap keluarga kamu." Al menatap tajam sepemikiran dengan Diana.


Tawa pelan Shin terdengar, keberadaan Ana hanya pancingan saja dengan tujuan lain. Rencana sudah gagal sejak awal Isel yang meminum racun, karena mereka sudah membangunkan manusia psikopat.


"Siapa yang berani menyentuh keluarga ini, jika berani sama saja menggali kuburan." Shin menatap Dina yang masih pingsan.


"Apa rencana mereka?" Tika menatap Shin yang melihat ke bawah.


"Terlukanya Ana hanya untuk mengalihkan perhatian, ada seseorang yang ingin masuk dalam keluarga kita. Benarkan? kamu ingin diberikan kepercayaan agar menjadi teman yang baik bagi Ana lalu meneruskan rencana kedua. Kamu tidak bisa melewati salah satu dari kami, maka pilihan terakhir menjadi orang kepercayaan Hana." Senyuman Shin terlihat menatap Dina yang sebenarnya tidak pingsan.


"Semuanya karena dendam lama? kira-kira ini musuh siapa? Alina atau Aliya, bisa jadi keduanya." Tawa Rindi terdengar menunjuk ke arah Di dan Al.


Di kaca Ana mendengar semuanya, meneteskan air matanya melihat sahabatnya babak belur. Ana bahkan memohon kepada Yandi untuk menyelematkan Dina karena Hana percaya jika Dina tidak mungkin berbuat jahat.


"Lepaskan mereka, aku tidak peduli siapa atau apa tujuannya. Intinya mereka terlibat dengan sakitnya Isel." Di menatap empat pria yang terikat.


Tika melepaskan ikatan, Diana meminta siapapun menyerangnya. Jika ada yang bisa menjatuhkan salah satu dari mereka, boleh pergi.


"Bagaimana jika kalian yang menang?"


"Mati!" Diana dan Aliya bicara bersamaan.

__ADS_1


Jantung Ria berdegup kencang, dia menjadi penonton melihat Maminya bertarung kembali dengan lelaki yang berbadan besar.


Senyuman Ria juga terlihat menatap wajah cemas di luar kaca, Ria pertama kalinya melihat pertarungan dengan penuh amarah apalagi para suami tidak bisa menghentikan.


"Tika juga ikut bergabung, bagaimana dengan kamu Shin?"


"Tidak, lihat kondisi tubuh kamu. Jangan bertarung, jika kamu tidak mendengar lebih baik kita tidak saling kenal." Juna tidak punya pilihan, dia mengkhawatirkan kondisi Shin yang masih lemas, tapi melarikan diri dari rumah sakit.


Kedua tangan Shin terangkat, dia tidak ikut bertarung karena tenaganya juga sudah habis terkuras. Bahkan tangannya masih membiru. Akhirnya Shin duduk di samping Ria untuk menjadi penonton.


"Rindi juga ikut,"


"Kamu hanya akan terkena masalah Rin, ingat jika suami kamu sudah marah." Mam Jes menatap menantu yang sedang berpikir, dan akhirnya memilih menjadi penonton.


Senyuman Tika terlihat, akhirnya dia bisa bertarung satu tim dengan psikopat Alina dan wanita bar-bar Aliya. Dua orang yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, dan menjadi guru terbaik Tika.


"Shin memberikan lima menit,"


Langkah Diana maju langsung dua orang terlempar karena kemarahannya. Tubuhnya yang kecil, namun tidak tersentuh sama sekali. Tenaga Diana masih full sama seperti saat dirinya belum menikah.


Tika hanya terdiam melangkah mundur, tidak berani maju melihat dua orang melumpuhkan dengan cepat.


"Sialan, kenapa kalian menyakiti Putriku?!" Diana memukuli wajah sampai hancur, tangan Diana juga habis penuh luka.


"Haruskan aku membunuh mereka agar Kak Alin merasa puas!" Al menjatuhkan dua orang yang tidak bisa bergerak lagi.


"Jangan Al, biarkan aku. Tangan aku yang pernah kotor menjadi seorang pembunuh, dan sumpah dan janji akan aku langgar jika keluargaku terluka." Di mencekik kuat.


"Isel juga putriku, hati Al juga sakit. Menyingkirkan sampah tidak akan mengotori tangan kita." Al mengeluarkan sebuah belati.


Tika dan Shin sama-sama lompat menarik si kembar yang ingin membunuh. Pelukan Tika kuat ke arah Maminya, mengambil belati untuk menghentikannya.


"Jangan Kak Di, biar Shin yang melakukannya. Mati tidak akan membuat mereka merasakan sakit, dan ini pembalasan setimpal sebelum kematian." Shin mengeratkan pelukannya agar Diana tenang.

__ADS_1


Ria dan Rindi berpelukan, memejamkan mata karena ketakutan. Mereka seperti melihat orang gila, Rindi sampai menangis gemetaran.


Shin melepaskan Diana, mendekati seorang pria yang sudah tidak berdaya, menyuntik racun yang sama dengan dosis yang berbeda.


"Kalian akan hidup dengan kelumpuhan permanen, membusuk di penjara sampai akhirnya mati perlahan." Shin melempar dua suntikan ke arah Tika.


" Ini tidak menyakitkan, tapi efeknya yang mematikan." Tika menancapkan suntikan, tersenyum sinis melihat wajah yang masih memohon.


Empat orang kejang-kejang sampai berbusa, Shin menatap Dina dan wanita satunya. Mereka akan bernasib sama seperti keempat pria lainnya.


"Shin, aku tidak mungkin menyakiti Isel, demi Allah aku tidak tahu apapun." Air mata Dina menetes, dirinya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi tidak akan ada yang percaya dengan dirinya.


Bukan kematian yang Dina takutkan, tapi masalah tidak akan usai karena dia tahu jika dirinya tidak salah. Pelaku sebenarnya bukan dirinya, tapi kembaran Dina yang bernama Dini.


"Aku juga baru tahu jika memiliki kembaran, dia menjadi pelaku dan menyelamatkan dirinya." Dina memejamkan matanya membiarkan Shin menyuntiknya.


Teriakan Ana terdengar, dia menjamin ucapan Dina jika dia memang memiliki kembaran. Ana baru menghubungi Ibu panti, dan Shin boleh memastikannya.


Tendangan menghantam tubuh Shin, tatapan mata Shin gelap melihat wanita yang memberikan minuman menyerangnya demi menyelamatkan diri.


"Tolong, selamatkan saya dari lima wanita gila. Tolong!" pukulan di kaca terdengar.


Benturan kuat menghantam kaca, Diana membenturkan berkali-kali di depan mata suaminya.


"Sayang, lepaskan mereka. Izinkan aku yang mengambil alih. Diana, aku tahu kamu marah, sama aku juga. Aku Papanya Isel, hancur hati kamu, sama sayang Kak Gem juga hancur." Gemal mengusap-usap kaca menyentuh wajah Diana yang sudah berderai air mata.


Suntikan menembus tubuh wanita yang kepala menempel di kaca, Aliya tersenyum melihat Diana yang juga tersenyum.


"Tidak ada kesempatan kedua Gemal, mereka harus merasakan apa yang Isel rasakan." Al mendorong tubuh wanita sampai terkapar.


Hanya sisa satu orang yang menjadi dalang.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2