ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SIAP KEMBALI


__ADS_3

Sudah lebih dari dua minggu, Gemal dan Diana menghabiskan waktu bulan madu dengan bersenang-senang. Bahkan Gemal dan Diana pergi ke beberapa hotel terbaik, juga tempat liburan terbaik di kotanya.


"Pa, dalam beberapa hari Gemal sudah harus kembali, karena ada tugas yang harus aku jalankan." Gemal duduk menghadap Papanya yang hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu kembali lebih dulu, Papa dan Mama mungkin akan menyusul." Calvin masih fokus ke arah komputernya.


Tatapan Gemal terarah kepada Genta, karena keberadaan Genta tidak bisa berdekatan dengan dirinya.


Kehidupan Gemal sangat normal, dan tidak menyukai jika ada yang mengawalnya secara langsung.


Calvin mengeluarkan sesuatu, Genta dan Gemal saling pandang dan cukup terkejut melihat daftar anggota baru.


"Tuan, saya bekerja sebagai rekan tuan muda Gemal?"


"Panggil saja kak Gem."


Melihat ekspresi wajah Gemal yang terkejut, Calvin langsung menjelaskan jika Genta masuk menjadi anggota baru sudah melewati tahap seleksi.


Secara langsung Altha yang memanggil Genta untuk bergabung, dan menjadikannya partner kerja Gemal di lapangan.


"Apa Daddy dan pak Altha tahu?"


"Kenapa mereka harus tahu? tidak ada yang boleh tahu identitas Genta kecuali kamu dan Diana." Ponsel Genta langsung diganti, dan melarangnya memasukkan kontak sembarangan orang.


Kepala Genta mengangguk mengerti, dan dirinya tidak bekerja hanya sebagai pengawal Gemal, tapi secara langsung menjadi petugas yang memiliki tugas juga kewajiban.


"Kamu kembali lebih dulu Genta, dan jalankan tugas kamu." Calvin langsung berdiri dari kursinya, memeluk lembut Genta.


Calvin tidak memaksa Genta untuk mengawal Gemal, apalagi menerima tugas yang kemungkinan sangat berbahaya.


"Kamu punya hak untuk menolak Genta, dan Papa tidak mempermasalahkan penolakan kamu." Nada bicara Calvin pelan, dan menginginkan Genta terbuka terhadap isi hatinya.


"Saya menerima tugas." Genta menjawab dengan penuh keyakinan.


"Pikirkan lagi Genta, pekerjaan ini berbahaya. Kamu memiliki pilihan untuk hidup bebas, tidak harus melihat darah dan pertarungan." Gemal meminta Genta mundur, lebih baik mengawal Arjuna.


Mendengar ucapan Gemal, Calvin langsung memikirkan Arjuna. Langsung memanggilnya untuk meminta persetujuan, jika Genta bisa mengawalnya dan belajar bersama.

__ADS_1


Pintu diketuk, Arjuna langsung melangkah masuk bersama Diana. Calvin mengerutkan keningnya, menantunya selalu ikut-ikutan.


"Arjuna, bagaimana menurut kamu seandainya Genta mengawal dan menjadi teman."


Tatapan Juna langsung melihat Genta, menundukkan kepalanya menghormati orang yang lebih tua, langsung melihat Diana dan juga Gemal.


Gemal langsung mengiyakan, berharap Juna menerima Genta.


"Kak Genta, apa cita-cita kak Genta?" Juna langsung duduk, bicara santai dengan Genta.


"Menjaga generasi keluarga Leondra." Genta melihat mata Juna yang sudah memiliki jawaban.


Juna langsung menolak keberadaan Genta, jika ingin menjadi teman mungkin Juna bisa menerimanya, tapi jika untuk menjaga, Juna tidak bisa menerima.


Sejak kecil Juna sudah diajarkan oleh Maminya, sebelum menerima orang baru dia harus paham tujuan hubungan terjalin.


"Kak Genta sangat hebat dalam beladiri, dia pantas ada di kehidupan kak Gemal, sedangkan Juna lebih banyak bertarung dengan logika, kerja otak dan prediksi melalui materi. Kami tidak bisa digabung." Juna meyakinkan Calvin jika dirinya tidak membutuhkan pengawal.


"Genta lebih cocok mengawal Atika, satunya manusia setengah normal, dan satunya setengah dingin. Cocok." Di tersenyum menatap Genta yang mengerutkan keningnya.


"Bagaimana Genta? terserah kamu ingin melakukan apa?" Calvin sudah memberikan pilihan terbaik.


"Genta memilih untuk bekerja, sebagai petugas yang melayani masyarakat, dan mengikuti jejak kak Gemal." Senyuman Genta terlihat menatap Calvin yang menganggukkan kepalanya.


"Gantengnya senyuman Genta." Diana tersenyum manis.


Gemal langsung berdiri dari kursinya, menatap Diana tajam yang masih tersenyum melihat Genta tidak ingin berhenti.


"Diana, sadar diri sudah punya suami. Apa kurangnya aku?" Kening Gemal berkerut, meminta Diana keluar dan berhenti menatap Genta.


Melihat Gemal marah, Diana langsung melangkah keluar bersama Juna, tidak ingin berdebat dengan suaminya yang sangat cemburuan.


Mata Diana seakan-akan hanya boleh menatap dirinya, tidak diizinkan melihat pria lain yang sebenarnya membuat hati Diana senang, bisa menatap banyak pria tampan.


"Juna, kemungkinan kak Di akan segera kembali. Kamu baik-baik di sini." Di duduk bersama Juna yang menganggukkan kepalanya.


Ada ataupun tidak adanya Diana tidak ada pengaruhnya, karena Aliya memantau Juna dari kejauhan. Tidak ada pergerakan Juna, tanpa seizin Maminya.

__ADS_1


"Jun, kamu sudah mendengar kabar soal Tika?"


Kepala Juna mengangguk, Tika baru saja bertengkar saat seorang wanita sekolah tingkat atas mengejek dirinya, karena Mamanya seorang narapidana.


Tika tidak terima, karena baginya Mamanya hanya Aliya, wanita yang selalu dia panggil Mami.


Tika tidak mengakui jika memiliki Mama lain, apalagi seorang narapidana, sehingga membuat pertengkaran hebat.


"Kak Di, Juna meminta bantuan menjaga Tika, kasihan Mami yang pastinya kewalahan mengendalikan Tika." Juna sedikit mengkhawatirkan adik perempuannya.


"Aku tahu Aliya dan Altha mampu mengendalikan Tika, masalahnya ada kebenaran yang tidak bisa Tika terima, dan kak Di takutnya ini yang bisa melukai perasaan Tika." Di juga sudah mendapatkan kabar, jika Mommynya sudah melakukan banding kembali untuk kasus Citra.


Sesaat Juna hanya diam, Diana mengusap punggung Juna untuk tidak terlalu khawatir, dan fokus untuk pendidikannya.


Di akan pastikan jika Atika akan belajar menerima kenyataan, dan seiring berjalanya waktu dan bertambahnya kedewasaan akan mengajari Tika, jika dirinya tidak boleh egois.


"Kak Di, apa kak Diana berpikir Juna sudah memaafkan Mama? jawabannya belum Kak, apa yang Juna lakukan hanyalah tugas seorang anak, tapi rasa kecewa, sakit dan marah masih belum terobati." Juna menyentuh dadanya, dan belajar meniti hatinya yang hancur agar pulih.


Tujuan Aliya mengizinkan Juna bertemu Citra, hanya untuk mengobati hati Juna yang sudah hancur agar bisa terobati.


"Aku tahu Juna, apa kamu pikir Aliya sudah memaafkan aku? mungkin jawabannya belum, kami berdua hanya mengikuti kedewasaan diri, dan mengobati hati yang hancur. Masa lalu masih meninggalkan luka besar, harapan kak Di hanya satu, kamu terus mendewasakan diri, dan mencoba merelakan apa yang terjadi, meksipun lebih menyakitkan." Di mengusap air matanya, memeluk pundak Juna yang menarik nafas panjang.


Kening Juna langsung berkerut, melihat Diana menangis mengingat kembali Mamanya yang sangat jahat menyakiti dirinya, menjadikan monster kecil.


Mam Jes yang melihat Diana menangis, langsung memberikan minum. Tatapan Mam Jes sangat lembut, menenangkan menantunya yang sedang emosi jika mengingat masa lalunya.


"Kak Di, maafkan Juna yang mengingatkan kembali."


"Kak Di yang meminta maaf Juna, meksipun kak Di tidak tahu meminta untuk apa? sekarang Diana lapar." Di langsung menuju dapur untuk makan.


"Kak Di baru saja sudah makan." Juna langsung melangkah ke kamarnya, membiarkan Diana yang mencari makan.


Mam Jes masih binggung melihat dua orang yang awalnya sedih, tapi secara hitungan detik langsung baik-baik saja.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2