
Pintu ruangan pribadi Shin Tika terbuka, Atika menatap Shin yang masih memperhatikan barang bukti yang ditemukan di kamar hotel. Bukan hanya satu dua kasus yang mulai mencurigakan.
Tatapan mata Tika melihat ke arah pemilik dari hotel yang terlihat sangat tenang dengan segala pertanyaan, caranya menjawab menunjukkan jika dirinya tidak terlibat.
Sekalian pun tidak tahu setidaknya merasa cemas dan khawatir jika terjadi sesuatu terhadap bisnisnya yang bisa saja ditutup secara paksa.
"Dia mencurigakan sekali." Shin memperbesar layar memotret wajah pria yang diketahui sebagai pemilik hotel.
Teriakan Shin terdengar melihat Tika yang berdiri di belakangnya dengan penampilan baru yang tidak Shin kenali. Senyuman Tika terlihat memasang topinya.
"Shin, kamu cukup mengawasi dan aku akan menemukan markasnya."
"Aku ikut Tika,"
Tangan Shin menunjukkan sesuatu jika kendaraan Genta di luar kendali, Shin sangat memahami cara Kakaknya mengemudi dan tidak pernah membahayakan pengguna jalan lain.
"Apa yang terjadi kepada Genta?" Atika melacak keberadaannya yang tidak terdeteksi.
Tika langsung tahu jika terjadi sesuatu kepada Genta diluar harapan mereka, Rindi turun tangan sendiri untuk mengendalikan Genta.
Suara pintu tertutup kuat, kedua tangan Tika mengepal saat mengetahui dari pembicaraan tim Genta yang hanya mendapatkan peringatan dari atasan tanpa tahu keberadaannya.
Shin juga bisa mendengarkan pembicaraan jika Genta tidak bisa dihubungi, mobilnya juga tidak bisa dilacak.
Mobil Shin melaju pergi, Tika duduk sendirian di belakang masih mencari keberadaan Genta. Senyuman Tika terlihat mengetahui ke mana Rindi membawanya.
"Ke mana kita Tik?"
"Ikuti lokasi ini, jika aku mengatakan berhenti, aku akan menerbangkan drone."
Kepala Shin mengangguk, mempercepat laju mobilnya sedangkan Tika mengirimkan peringatan ke kantor polisi untuk segera bertindak.
Segala tempat, waktu, posisi lawan Tika jelaskan detail dan meminta tim lebih besar agar para penjahat di markas tidak bisa melarikan diri.
Mobil memasuki kawasan hutan, Tika melepaskan drone sambil mengontrol posisi. Shin menghentikan mobil secara tiba-tiba saat melihat sebuah mobil melaju masuk jurang.
__ADS_1
"Tik, mobilnya Kak Genta." Wajah Shin langsung pucat.
"Jangan panggil nama, lagian Genta tidak ada di sana. Terus jalan saja, ingat jangan pernah menyebut nama." Pukulan tangan Tika mendarat di punggung Shin.
Perasaan Shin tidak nyaman semakin dalam mereka masuk, bukan hanya lokasi yang gelap karena sudah larut malam, suara hewan mengerikan juga terdengar.
Atika pindah duduk ke depan karena tahu sahabatnya sedang ketakutan, Tika mematikan lampu mobil, menggenggam erat tangan Shin agar bisa mengendalikan dirinya.
Tika paham mereka sedang dalam kondisi tidak normal apalagi di tengah hutan, bisa ada kehidupan.
"Jangan khawatir, di sini ada aku," ucap Tika lembut menenangkan.
Sejak awal Tika sudah menjelaskan, jika kehidupannya dalam menjalankan misi rahasia mengerikan, tetapi ada sensasi tegang. Saat semuanya terbongkar, Tika akan meninggalkan kebiasaan buruknya menghilangkan jejaknya dan mengabulkan yang diinginkan Maminya.
Tika tidak tahu kapan semuanya berakhir, tapi kali ini bukan hanya kesempatan untuk Shin mengetahui identitas aslinya tetapi juga kesempatan bagi Tika untuk menangkap penjahat yang membuat adiknya meninggal.
"Kamu dendam?"
"Ini bukan dendam, aku hanya meminta keadilan. Mama di penjara karena dia salah, tetapi kenapa pelaku utama bisa bebas? ini tidak adil bagi keluarga kami yang kehilangan Mora." Sentuhan tangan Shin terasa menguatkan sahabatnya.
Lampu mobil tetap mati, Tika melihat dua bangunan. Meminta Shin menghentikan mobil di antara dua simpang. Drone Tika yang sudah terbang, memperlihatkan dua bangunan mewah.
"Kenapa?" Shin menatap layar yang Tika tatap.
Dua bangunan yang memiliki ukuran sama, hanya membedakan keamanannya saja. Satu bangunan penuh dengan orang-orang berbadan besar dan satu bangunan terlihat sepi.
"Ini Mansion seperti sebuah kastil di hutan, sedangkan ini rumah penjara." Tangan Shin menunjukkan perbedaan dua bangunan.
Shin mengenal penjara yang dibuat seperti rumah karena dia juga tinggal bertahun-tahun di dalam penjara berbentuk rumah. Di dalamnya penuh dengan penjahat.
"Di mana Om tua?"
"Apa mungkin dia dibawa ke tahanan? kita harus pergi ke sini Tik."
Kepala Tika menggeleng, tujuan utama mereka menemukan keberadaan Genta. Masalah tertangkap tidaknya penjahat menjadi urusan kepolisian.
__ADS_1
Di setiap misi pasti ada namanya kegagalan, tetapi tidak boleh ada korban dan Tika tidak memiliki keyakinan karena Genta bersama Rindi.
Pintu mobil terbuka, Tika meminta Shin menghidupkan lampu mobil. Shin juga melangkah keluar melihat Tika memperhatikan jalanan yang mungkin baru saja dilewati oleh beberapa mobil.
"Kenapa kita tidak langsung ke markas mereka saja?"
"Tidak bisa, bagaimana jika salah? keselamatan Genta di pertaruhkan." Atika menatap tajam Shin masih binggung dengan dua jalan.
"Kamu menyukai dia agen Lin? kamu lebih mengkhawatirkannya daripada aku. Dia seorang polisi berpengalaman yang bertugas menyelamatkan dirinya sendiri juga orang lain." Kedua tangan Shin terlipat di dada.
Atika terdiam, ucapan Shin menggema di kepalanya. Kepala Tika menggeleng, tidak membernarkan sama sekali dan tidak mungkin dirinya memiliki perasaan melebihi rasa sesama manusia.
Padangan Tika melihat sesuatu, langsung mengambilnya dan melihat ke depan jalan yang menuju mansion. Genta meninggalkan jejak yang ada lambang namanya.
"Dia ada di Mansion, sekarang kamu yang memutuskan untuk menemui pria ini atau menangkap penjahat." Tangan Tika terangkat menunjukkan sesuatu di tangannya.
Tawa Shin langsung terdengar kecil, meminta Tika memaafkan dirinya yang sudah bicara dengan sembarang. Shin memilih menemukan Genta daripada menangkap penjahat.
Tika memiliki pikiran untuk ke markas karena Genta seorang polisi dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bantuan.
"Agen Li, jangan lakukan itu. Kak Gen juga manusia, bagaimana jika Rindi memanfaatkannya seperti di film." Tangan Shin memukul kepalanya sendiri yang punya pikiran buruk.
Mata Tika menatap marah, ucapan Shin yang mengatakan jika bisa saja Genta dijebak seperti di dalam film. Rindi berpura-pura hamil anak Genta dan meminta pertanggungjawaban.
"Sebagai orang yang baik, kita harus menghentikan Rindi." Tika berlari ke dalam mobil, meminta Shin duduk diam karena mereka harus cepat sampai.
Shin mengaruk kepalanya, Tika terlihat sekali menyukai Genta tetapi tidak mengakuinya dan tidak mempercayai perasaannya sendiri.
"Apa aku terlihat seperti orang yang jatuh cinta?"
"Banget, kamu marah kepada Dokter Li bukan karena Ay Jun, tetapi melihat Om tua bersamanya." Shin tersenyum hanya menebak saja.
"Aku tidak menyukai dia, percayalah. Tidak ada yang istimewanya darinya, sumpah. Ini tidak benar." Kepala Tika menggeleng, jika dirinya hanya menganggap Genta sebatas keluarga tidak lebih
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira