ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HOTEL


__ADS_3

Langkah Diana dan Aliya terhenti, menutup mulut karena bau mual yang menyengat hidung. Diana menendang kuat ke arah pintu, melihat ruangan kosong, bau semakin menyengat sampai Aliya hampir mengeluarkan isi perutnya.


Ada banyak belatung yang keluar dari tumpukan makanan, dan ruangan penuh sampah dan bisa dipastikan sudah bertahun-tahun ditinggalkan.


"Apa ada manusia yang bisa tinggal di sini?" Al membekap mulutnya.


"Tentu ada, wanita hacker itu bersembunyi di sini." Pintu ruangan terbuka, dan kedatangan Diana dan Aliya tidak pernah diduga.


Dari kejauhan Tika bisa mematikan CCTV sehingga tidak ada yang tahu kedatangan Al dan Di meksipun banyak kamera pengawas.


"Siapa kalian? kenapa bisa tahu tempat ini?"


"Kamu pikir sudah merasa hebat? kami juga hacker yang bisa melacak keberadaan kamu, kita hanya dibedakan oleh kehidupan." Di menyentuh komputer yang bau.


Suara Aliya mual-mual terdengar, menendang jendela agar ada udara masuk. Al bisa mati tinggal di ruangan tanpa udara.


"Keluarlah, aku tidak ada urusan dengan kalian!"


Tendangan kuat Diana menghantam meja sampai barang di atasnya berjatuhan, suara tembakan menghantam dinding sehingga beberapa layar pecah semua.


"Kali ini kamu salah sasaran, cukup lh menjadi hacker yang tersembunyi jangan juga menjabat menjadi penjahat. Di mana adik ku? kamu menembaknya dengan bius yang memiliki dosis tinggi." Diana tertawa merusak semua barang yang ada di ruangan.


Seluruh benda teknologi yang berhasil dibuat satu-persatu hancur, Aliya menjatuhkan semuanya membuat teriakan menggema terdengar.


Senjata diarahkan kepada Diana dan Aliya, keduanya hanya tertawa berjalan mendekat meminta tembakan segera dilepaskan.


"Kita sama bekerja demi uang, aku juga melakukannya karena dibayar. Seharusnya kalian tidak datang kepadaku, temui Dina langsung." Hacker meminta Al dan Di berhenti mendekat.


"Kamu saja yang menemuinya, soalnya dia sudah mati!" Al tersenyum sinis terus mendekat.


Wajah terkejut terlihat, dia tidak tahu apapun kejahatan Dina. Dia bekerja sesuai dengan bayaran, mereka meminta membawa seorang wanita tanpa ketahuan.


"Aku tidak tahu keberadaan wanita itu, dia hanya aku berikan kepada seseorang." Wajah ketakutan terlihat, memohon agar dilepaskan.


"Tidak ada kata maaf, wanita yang kamu sakiti calon menantu keluarga kami. Dia juga seorang Putri yang sangat dicintai, Dina sangat pintar memilih target." Al menatap Diana yang juga sedang berpikir.

__ADS_1


Pintu terbuka membuat ketiganya melihat ke arah Tika yang berlari ngos-ngosan, lemparan pisau menghantam dada hacker sampai kedua senjata jatuh.


Tika berlari melayangkan tendangan kuat, sampai dinding jebol. Keduanya terlempar, Tika memukuli hacker secara habis-habisan, tidak peduli dengan tangannya yang berdarah kembali.


"Di mana Shin?"


"Aku tidak tahu!" pukulan menghantam wajah.


Tika mencabut belati, menancapkan ke tangan membuat teriakan histeris terdengar. Tubuh Tika ditarik oleh Genta, memeluk erat meminta Tika berpikir tenang.


"Bagaimana aku bisa tenang? aku akan membunuh kamu dengan tangan aku sendiri." Tika ingin menyerang kembali, tapi Altha dan Dimas sudah menahannya.


"Gila, jebol." Diana dan Aliya keluar melalui dinding yang hancur.


Dimas memaksa hackers untuk mengatakan keberadaan Shin, begitu dengan Genta yang sudah emosi meminta keterangan soal Adiknya.


Panggilan masuk di ponsel Tika, suara Gemal terdengar meminta Tika pergi ke hotel menyusul Juna yang berangkat sendirian untuk menemukan Reza, kemungkinan besar sedang bersama Shin.


Pesan Gemal untuk tidak memberitahu banyak orang terutama Genta, tidak ingin hal buruk terjadi. Semakin sedikit yang tahu, keamanan Shin semakin terjaga.


Rasa khawatir Tika semakin besar, dia memikirkan nasib Shin. Bayangan hal buruk coba Tika tepis, dia percaya semuanya akan baik-baik saja.


Mobil yang Tika kendarai tidak tahu lagi kecepatannya, dipikirkan Tika hanya ingin secepatnya bertemu.


Darah keluar dari tangan Tika, hanya diikat menggunakan kain. Tanpa peduli dengan rasa sakitnya.


Di hotel Juna baru saja tiba, mobilnya tidak sempat dimatikan langsung berlari kencang ke arah hotel. Juna meminta Resepsionis menginformasikan kamar yang digunakan oleh Reza.


Keinginan Juna tidak dikabulkan, demi menjaga privasi para tamu maka tidak bisa membocorkan.


Barang-barang berhamburan dari atas meja, Juna pastikan hotel akan tutup jika tidak ada yang memberitahu dirinya di mana Reza.


Pemilik hotel masih keras kepala mengusir Juna secara paksa, dia tidak percaya jika Juna putra Aliya karena tidak pernah melihatnya di dalam bisnis manapun.


"Sialan! aku tidak pernah berniat menghacurkan siapapun, tapi kali ini kamu orang pertama yang aku hancurkan jika sampai wanita yang akui cintai terluka." Tatapan mata Juna tajam.

__ADS_1


Dikarenakan tidak mendapatkan izin masuk secara baik-baik, Juna langsung mengambil pisau kecil diarahkan ke leher pemilik hotel agar mengatakan kamar yang Reza pesan.


"Reza dulu memang bekerja di sini, tapi sudah berhenti beberapa bulan yang lalu,"


"Dia ada di salah satu kamar!"


Pegawai membenarkan jika Reza ada di salah satu kamar, dia datang bersama seorang wanita yang tidak sadarkan diri. Reza tidak memesan kamar, tapi berada di kamar milik Dina yang sudah lama tinggal di hotel.


"Katakan di mana kamarnya? jika tidak urat lehernya putus." Juna mendapatkan kunci masuk kamar.


Sebuah tendangan mendarat menghantam pemilik hotel, Tika melayangkan pukulan meminta Kakaknya segera pergi lebih dulu.


Beberapa penjaga langsung menyerang Tika, pukulan dengan penuh kemarahan melumpuhkan semua orang. Tika tidak peduli sekalipun ada yang tewas, tidak ada yang boleh menjadi penghalang.


Juna sudah masuk lift, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya berkecamuk tidak sabar melihat lift yang sangat lambat.


Di karenakan ada perkelahian lift diberhentikan, Juna keluar langsung berlari melalui tangga darurat agar sampai ke kamar yang di tuju.


Tidak peduli betapa lelahnya dirinya, Juna tidak pernah lari-larian apalagi mengurusi orang yang berkelahi, bahkan dirinya tidak tertarik dengan bela diri. Kini baru Juna sadari sebesar itu perasaanya kepada Shin, dan menjadi perjuangan untuk wanita yang dicintainya.


Tangan Juna memegang pintu, berlari kembali ke arah kamar yang paling ujung sesuai dengan yang diucapkan resepsionis.


Kunci diarahkan ke pintu, dan secara otomatis pintu terbuka. Juna langsung menghindari saat seseorang mencoba menghentikannya.


Tidak peduli lagi dengan wanita, Juna mendaratkan tamparan. Suntikan terjatuh langsung mengambilnya dan menyuntikkan kepada wanita yang Juna kenali sebagai seorang dokter.


"Komplotan Dina ternyata banyak sekali, hotel ini menjadi tempat menyembunyikan kejahatannya." Juna menendang wanita dihadapannya langsung bergegas masuk.


Langkah Juna terhenti saat melihat Shin tergeletak di atas tempat tidur. Selimut dilempar menutupi tubuhnya.


***


Kalian penasarannya, besok dilanjut.


like coment ditunggu

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2