
Di dalam mobil Tika masih berdebat dengan Genta soal harta, Shin hanya menjadi pendengar sambil merapikan penampilan Tika.
"Lipstik warna apa Tik?"
"Ini bagus, tahan lama." Tika menunjuk ke arah lipstik.
"Wow bagus warnanya, kamu beli di mana?" Shin memasangkan lipstik.
"Tidak tahu, Om tua yang membelinya." Tika langsung menutup mulutnya, menatap Shin yang sudah terdiam.
Bibir Shin langsung monyong, melempar alat make-up Tika yang ada di mobil Genta. Atika mendapatkan satu set make up sedangkan Shin tidak mendapatkan apapun.
"Maaf Dek, waktu itu dadakan." Genta menatap sedih gara-gara make up.
"Jangan marah Shin, punya Tika juga punya Shin. Apapun yang menjadi milik Tika, juga hak kamu." Senyuman Tika terlihat, mengusap kepala Shin yang masih cemberut.
Tatapan mata Shin masih sinis, Genta meminta Shin duduk di sampingnya, tetapi didahului oleh Tika yang hampir ditendang oleh Shin.
"Shin berubah menjadi singa, jangan cemburu kepada Kakak sendiri. Nanti Kak Genta jomblo akut." Tawa Tika terdengar, memberikan Shin minuman agar tenang.
"Maafkan Kak Gen, nanti kita beli yang baru." Genta tidak fokus menyetir mobil melihat adiknya marah, sedangkan Tika bukan menenangkan tetapi semakin memanasi.
"Tika juga mau Om, beli baju juga." Tika mengedipkan matanya tidak tahu diri.
Kepala Shin geleng-geleng, menendang kursi Tika sampai terjungkal menghantam dasbor mobil karena tidak menggunakan sabuk pengaman.
"Sialan, cari mati kamu Shin." Tika langsung ingin lompat ke kursi belakang.
Genta langsung menghentikan mobil, menarik pinggang Tika untuk tidak bertengkar karena bisa menganggu pengguna jalan lain. Suara teriakan dua wanita terdengar, Genta sudah marah meminta keduanya diam.
"Kalian berdua tidak tahu tempat, membuat kesal saja." Genta menaikkan nada bicaranya, menghubungi supir di mansion untuk menjemput Tika.
Keduanya langsung diam, Tika memasang sabuk pengaman menolak untuk pulang. Mata Tika terpejam, membiarkan Genta memarahinya dan Shin yang sebentar tertawa, beberapa menit kemudian bertengkar.
"Kalian berdua masih ingin bertengkar tidak?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban sama sekali, Tika sudah memejamkan matanya sedangkan Shin memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela.
Kepala Genta berdenyut sakit, menjalankan kembali mobilnya. Suasana hening, suara Tika tidur mengorok juga terdengar.
"Shin, maafkan Kak Gen. Aku tidak bermaksud membedakan kamu dan Tika."
Senyuman Shin terlihat, tertawa kecil melihat ekspresi Kakaknya yang merasa bersalah hanya karena make up.
"Kak, Shin tidak marah." Tangan Shin memeluk leher Genta dari belakang, meminta maaf karena dia dan Tika membuat pusing.
Meksipun Tika dan Shin menjalin persahabatan, namun keduanya tidak memiliki banyak kesamaan salah satunya soal fashion. Tika wanita yang tidak menyukai model pakaian, dia lebih memilih pakaian yang gelap dan tidak mengikuti model trend terbaru.
Berbeda dengan Shin yang sangat menyukai perubahan model fashion, baik dari tas, sepatu, baju hingga gaya rambut. Penampilan Shin selalu berbeda mengikuti musim karena memang Shin berlebihan soal fashion.
"Apa Tika menyukai makeup?"
"Tidak juga, Tika sangat menyukai soal teknologi. Make up hanyalah bagian kecil yang harus dimiliki oleh wanita apalagi di depan seseorang yang harus melihat penampilannya sempurna." Shin menunjukkan beberapa kosmetik yang cocok untuk Tika.
Shin melarang Kakaknya membeli kosmetik yang tidak sesuai dengan kulit Tika karena wajah Tika sensitif, hanya ada beberapa merek kosmetik yang bisa Tika gunakan.
"Kenapa kamu memberitahu Kak Gen?"
"Emh ... apa Tika juga sensitif dengan makanan? kenapa harus restoran kamu?"
Tawa Shin terdengar, soal makan. Atika pemakan segalanya, hanya saja soal rasa cukup memilih. Melihat tubuh Tika yang kecil dan kurus karena melakukan program diet, Shin harus menjaga keseimbangan Tika agar tetap hidup sehat.
"Kamu terlihat sangat menyayangi Tika, lalu apa untungnya di kamu?" Genta tidak pernah melihat pengorbanan Tika sama sekali.
Tatapan Shin melihat ke arah Tika, senyuman tulus terlihat menatap sahabat kecilnya yang selalu menjaga Shin secara diam-diam.
Saat bertengkar, Tika memiliki emosi yang menggebu-gebu, egois dan sangat keras. Namun secara diam-diam, Tika akan mengawasi, selalu mengantar Shin sampai masuk rumah.
Apapun yang Tika beli, tidak pernah sekalipun melupakan Shin. Dia selalu mengatakan pemberian dari orang lain, padahal Tika sendiri yang memilih dan membelinya.
Kebiasaan Tika juga diketahui keluarganya, apapun yang diberikan kepada Tika, Shin juga mendapatkannya. Bahkan saat bisnis Shin mengalami kegagalan, Tika menjual saham miliknya, mengatasnamakan orang lain untuk membantu Shin.
__ADS_1
"Dia menjadi Ibu yang selalu mengutamakan kebahagiaan Shin, begitulah Tika yang memiliki kebaikan hati, tapi tidak pernah ditunjukkan." Air mata Shin menetes, menggenggam tangan Tika yang masih tidur.
"Aku pikir dia wanita yang mengutamakan harta." Genta tersenyum, mengusap kepala Shin yang sangat menyayangi Tika.
"Kak Genta salah besar, keluarga Tika memang memiliki segalanya namun harta bukan jaminan. Kak Gen belum tahu saja pengeluaran Tika perbulan berapa? gaji Kak Genta tidak mampu mencukupinya." Shin menahan tawa melihat Kakaknya yang terkejut.
"Shin, kamu baru saja menilai Kak Genta dari harta. Astaghfirullah Al azim,"
"Shin tidak bercanda Kak, pengeluaran para wanita satu tahun gaji Kak Genta. Makanya Papa Altha, Daddy Dimas, Kak Gemal keuangannya di bawah para istri."
"Kak Gemal juga? berarti Kak Gen masuk daftar paling miskin." Bibir Genta cemberut melihat Shin yang menganggukkan kepalanya.
Aliya seorang pebisnis yang memiliki banyak perusahaan, tidak sebanding dengan Altha yang memiliki gaji bulanan. Begitupun dengan Diana yang berstatus Dokter dengan gaji jauh di atas Gemal, begitupun dengan Anggun yang keuangannya di atas Dimas yang hanya gaji bulanan.
" Ya Allah seorang Gemal saja sebagai Putra orang terkaya masih dibawah istrinya, betapa kayanya para wanita." Mobil Genta berhenti di depan sebuah rumah.
Shin tertawa memeluk Kakaknya yang sudah menunjukkan ekspresi lemas, dibalik hebatnya para lelaki ada istri yang memiliki kemewahan di atas suaminya.
"Rumah siapa ini Kak? mewah sekali." Shin menatap dari luar rumah yang sangat luas.
"Mungkin ini rumah keluarga kita, apa Kak Genta harus menjualnya agar memiliki banyak uang?" tawa Genta terdengar setelah mendapatkan pukulan dari adiknya.
"Kak Genta tenang saja, Shin juga wanita sukses yang memiliki banyak saham. Atau Kak Genta bisa menikahi wanita kaya, seperti Rindi contohnya."
"Astaghfirullah Al azim Dek, Kak Genta pilih hidup sederhana, makan seadanya daripada menikahi wanita karena harta." Genta keluar mobil, membunyikan bel rumah.
Shin hanya tersenyum, Kakaknya memang lelaki yang berbeda, Shin sudah lelah berharap Genta peka soal perasaan Tika, tapi masih saja belum menyadari tujuan dari pembicaraan Shin.
Pintu gerbang terbuka, seorang pria tua menatap Genta yang tersenyum. Pria tua langsung berlari berlutut dihadapan Genta.
"Tuan muda kembali,"
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
***
done 3 bab