ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SATU LAWAN LAGI


__ADS_3

Beberapa orang mulai berdatangan, Melly melihat Tika yang bicara sangat serius soal Adiknya yang meninggal puluhan tahun yang lalu, bahkan Ayah kandung Adiknya juga meninggal.


"Aku hanya menghilang aib Atika!"


"Adikku bukan aib, dia kebahagiaan aku dan Kak Juna, dia adikku." Tika berteriak kuat.


Arjuna berlari kencang, melihat Atika yang sudah melayangkan pukulan kepada Melly. Genta sudah memeluk Tika dari belakang yang tidak terima Adiknya Amora disebut aib Citra dan Roby.


"Kematian mereka diluar rencana, Citra yang bodoh. Salahkan Mama kalian sendiri," suara Melly meninggi meminta Tika menuntut orangtuanya terutama Citra.


"Mama tidak berencana menyakiti Mora, kalian yang melakukan kesalahan, tapi memanfaatkan Mama yang sudah terjerumus dalam kesalahan." Juna melangkah mendekati Melly yang seharusnya tahu diri.


Kecelakaan yang menimpa Adiknya mungkin sudah lama terjadi, selama ini Juna juga diam saja seakan-akan tidak peduli dan tahu apa yang sebenarnya menimpa Adiknya.


Saat itu Mora sendang dalam keadaan mulai tertawa, belajar bicara dan berjalan. Adiknya sedang dalam keadaan aktif, tapi hanya dalam sekejap tergeletak di rumah sakit lalu meninggal.


Orang dewasa mengatakan Adiknya meninggal kecelakaan, tapi sebenarnya yang terjadi Adiknya korban pembunuhan.


Untuk menghilangkan jejak, Melly yang mencari aman menutupi kasus dengan menyeret kasus lain.


"Kamu tidak punya bukti menuduh jika kecelakaan adik kamu sebuah pembunuh?" Melly menatap Juna yang bicara keluar jalur.


"Jika tidak menyangkut Mama, mungkin aku sudah membuka kasus ini kembali. Sama seperti Papa dulu yang memilih diam demi kami dan Mama, dan aku akan membuka kasus kecelakaan Mora dan kamu dalang utamanya." Tangan Juna menunjuk ke arah Melly.


Kedua tangan Melly mengepal erat, kesalahan terbesarnya yang menganggap kasus lama dengan Citra selesai, tapi kenyataannya kedua anak Citra masih mengingat jelas.


"Mora bukan adik kandung kalian, dia anak hubungan gelap Citra dan pria lain."


Belum sempat Juna mengeluarkan kata, Tika sudah melayangkan tamparan kuat sampai darah keluar dari mulut Melly yang memilih untuk diam.


"Kami tidak peduli, saat dia lahir. Tika memanggil adik kesayangan Tika, meksipun aku tahu Mora merebut Mama, dan Ria merebut Mami tetap saja Mora dan Ria adik kesayangan Tika, saat mereka menangis hati Tika juga sakit." Air mata Tika menetes, mengusap air matanya.


Di luar hubungan kandung ataupun tidak sepengetahuan Tika Mami dan Papinya tidak pernah menyebut ini kandung dan ini tiri. Atika hanya tahu dia memiliki seorang Kakak, satu adik lelaki dan dua adik wanita.


Tika berjalan mendekati Melly, dirinya anggap kasus adiknya kecelakaan. Namun satu kasus yang harus Melly pertanggungjawaban saat dirinya, Mami dan Kakaknya hampir terpanggang hidup-hidup di dalam sebuah rumah.


Melly tidak bisa menghindar jika itu hanyalah sebuah kecelakaan, dan kasus kecil. Citra bertanggung jawab sendirian dan ditahan selama puluhan tahun untuk kasus penyeludupan dan perdagangan manusia.


"Kamu terlalu banyak bicara Atika, selama lima tahu ini kamu menganggu bisnis ku." Melly mengarahkan sebuah benda tajam ke perut Tika.


Senyuman Genta terlihat, pisau yang diarahkan kepada Tika menebus perut Genta yang memang mengetahui jika Melly memegang benda tajam. Tidak ingin Tika merasa ragu mengeluarkan unek-unek di kepalanya selama puluhan tahun akhirnya Genta menerima pisau.

__ADS_1


Pukulan Genta kuat menghantam Melly hingga jatuh pingsan, seseorang memasang borgol. Kasus Melly dan Lian berbeda.


Genta mendapatkan perintah dari atasannya untuk membawa Melly kembali dalam keadaan hidup-hidup, dan memproses hukumannya sesuai kejahatannya selama ini.


Kasus yang menyerat Citra juga akan ditarik kembali untuk menghukum Melly, Altha meminta Genta secara langsung membawa Melly ke tempat seharusnya dia dihukum.


Dulu Altha tidak bisa berbuat banyak demi menjaga keamanan anak dan istrinya, setelah mendapatkan izin dari Juna untuk membuka kembali kasus lama barulah Alt membiarkan Genta yang mengurusnya.


Mata Tika melihat ke arah Genta yang tega memukul wanita, wajah Melly yang banyak operasinya bisa rusak.


Satu tangan Genta menahan perutnya yang ada bekas luka, tapi masih ditutupin tidak ingin membuat Tika merasa bersalah.


"Kak Gen, baik-baik saja." Juna menarik lengan Genta.


Senyuman Genta terlihat, meminta bawahannya untuk membawa Melly dan menjaga ketat karena masih ada satu lagi yang harus ditangkap.


Atika sudah berlari kencang, dia juga baru ingat jika Shin dan Irish memiliki hubungan yang cukup rumit, mereka sibuk bicara dengan Melly melupakan Shin.


"Mau ke mana Tika?" Papa Calvin menghirup bau teh.


"Di mana Shin Om?" Tika melihat ke arah pandang Calvin dan Mam Jes.


"Apa yang mereka lakukan?"


"Ketiga orang ini ada hubungannya, dan kita lihat saja apa yang terjadi jika tiga orang yang memiliki karakter sama digabungkan." Papa Calvin melihat Hendrik yang duduk tidak tenang.


Genta dan Juna juga tiba, melihat di lapangan yang luas Shin memukul bola ke langit, sedangkan Rindi berlarian mencari bola.


"Kita seperti sedang menonton acara orang gila," Juna mengerutkan keningnya.


Papa Calvin tertawa mendengar suara Juna yang terdengar kesal melihat tingkah laku Rindi menunggu bola turun dari langit.


"Di mana bolanya Shin?"


"Kalian berdua memang perempuan sinting." Irish berteriak kuat.


Rindi mengambil bola, meminta Shin memukul kuat ke arah yang Rindi inginkan. Bola menghantam kepala Irish sampai hampir jatuh pingsan.


"Astaghfirullah Al azim, kepalaku." Mam Jes memegang kepalanya padahal Irish yang dipukul.


Atika sudah terpingkal-pingkal tertawa, bukan bola yang melayang melainkan pemukul membuat Mam Jes takut memilih untuk masuk tidak sanggup lagi melihat kekacauan.

__ADS_1


Genta melihat ke arah Hendrik yang terlihat cemas, tatapan terarah kepada Shin yang masih bisa tertawa, tapi tatapan matanya seakan-akan ingin membunuh seseorang.


"Ada apa Kak?"


Hendrik menatap ke arah Genta, tidak memberikan jawaban kepada adik lelakinya yang sedang penasaran.


Secara tiba-tiba, Hendrik melompati pagar. Berlari kencang menarik tangan Shin sampai keduanya berguling.


"Kamu bukan seorang pembunuh, ingat. Di atas langit ada yang mengawasi kamu, Mama dan Papa kamu akan sedih jika kamu membunuh." Hendrik menahan kedua tangan Shin yang memegang jarum suntik.


"Tujuan aku hanya membunuh Irish, dia yang membuat aku seperti ini."


"Bukan dia Arshinta, ini takdir yang harus kamu jalani. Dia hidup tidak akan membuat kamu mati, dan dia mati tidak akan membuat kamu hidup. Kamu memiliki seseorang yang kamu cintai, maka hiduplah untuknya." Hendrik merampas suntikan Shin, mengeluarkan isinya.


Rindi terdiam melihat Shin yang masih tergeletak melihat ke arah langit. Ucapan terakhir Shin jika dirinya hidup untuk mati.


"Kamu ingin mati, memangnya masuk surga? Rindi mau masuk surga, Shin masuk neraka saja." Senyuman Rindi terlihat, lalu jatuh pingsan mendapatkan tendangan dari Shin.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


lanjut besok ya.


***


Alhamdulillah aku sudah mendingan, terima kasih untuk semua doanya. April bertemu Mei Alhamdulillah diuji sama Allah, dari Mama sakit, sampai lebaran di rumah sakit, lanjut acara nikahan adik yang harus menggantikan Mama untuk mengurus semuanya.


Aku masih paksa kerja dunia nyata, padahal Sabtu malam sudah demam, lanjut acara nikahan adik Minggu dan aku sudah drop total.


Masih bertahan sampai di puncaknya Selasa, aku masih kerja tapi akhirnya tumbang malamnya masuk rumah sakit dan dirawat.


Dua hari dirawat aku paksa pulang, karena Mama sakit lagi di rumah. kepikiran terus akhirnya memutuskan memaksa untuk kuat karena memang GK ada yang urus.


Alhamdulillah hari ini sudah mulai kerja lagi, sudah mendingan meksipun di bantu obat. Semuanya jaga kesehatan.


TERIMA KASIH UNTUK DOANYA.💛💛💛


Punya kalian rasanya ada yang nyariin, ada yang doain, ada yang khawatir.

__ADS_1


__ADS_2