
Sentuhan lembut terasa, jantung Diana berdegup kencang. Setiap bagian tubuhnya yang disentuh ingin Diana hentikan, tapi tidak tega melihat suaminya menahan diri.
Baju Diana sudah terangkat sampai perutnya, tangan Gemal menyentuh dari paha sampai masuk ke dalam bajunya.
Suara tangisan Diana terdengar, memanggil Daddy-nya. Gamal hanya bisa mengedipkan matanya melihat istrinya menangis padahal baru disentuh bagian perut.
"Dasar tidak sopan, ini namanya pelecehan tahu." Di mengusap air matanya memanggil Daddy-nya meminta tolong.
"Aku suami kamu, bukan pacar." Gemal mengaruk kepalanya.
"Daddy, mommy." Di menghapus air matanya.
Tanpa merespon rengekan Diana, Gemal langsung menarik pinggangnya sampai duduk dipangkuan. Tangisan tidak terdengar lagi, karena mulutnya sudah dibungkam.
Permainan Gemal kasar, Diana berusaha memberontak. Bibirnya terasa perih, bahkan digigit pelan.
"Gemal, kamu laki-laki nakal yang berpura-pura cupu?" Diana memukul mulut Gemal.
"Kenapa lagi?" tawa Gemal terdengar, kepalanya semakin sakit menahan gairah.
Diana menyentuh bibirnya, memarahi Gemal yang mengigit bahkan memasukan lidah. Mendengar ocehan istrinya membuat gemes.
"Sayang, namanya juga laki-laki. Melakukan ini tidak butuh pengalaman, ikuti naluri inginnya main seperti apa?" Gemal mengedipkan sebelah matanya.
Diana memonyongkan bibirnya, Gemal memintanya hanya diam dan tidak melakukan perlawanan.
"Sayang, aku hanya ingin melakukan satu kali saja. Setidaknya bantu aku melepaskan sakit kepala." Wajah Gemal memelas.
"Diana bantu pijit saja." Senyuman Diana terlihat.
"Tidak bisa sayang, dia minta lebih. Aku janji pelan." Gemal membalikan tubuh Diana sampai ada dibawahnya.
Mata Diana hanya terpejam, bajunya sudah melayang meskipun Gemal menutupi tubuh keduanya dengan selimut.
Tangan Diana menutup mulutnya, rasa perih bukan hanya dibibir, tapi dileher bahkan bagian perutnya tidak lepas dari sentuhan.
Remasan pelan yang Diana rasakan sakit, tapi tidak ingin mengeluh. Hanya mengigit bibir bawahnya, sesekali meremas seprai, bahkan lengan Gemal tidak luput dari cakaran.
"Sayang, tahan ya." Gemal membacakan doa ditelinga istrinya.
Mata Diana terbuka, sikap liarnya belum terlalu jauh sampai tidak memahami betapa luar biasanya berhubungan.
Saat berada di dunia kejahatan, melihat tubuh wanita terbuka, sesuatu hal yang biasa. Mendengar suara bahkan melihat sekilas orang berhubungan juga pernah Di alami.
Saat dirinya sendiri yang mengalami terasa aneh, ada rasa kehormatan yang sebenarnya tidak sepenuhnya Diana jaga, tapi masih tetap terjaga sampai Gemal yang mengambilnya.
Teriak Diana terdengar, mendorong tubuh Gemal memintanya berhenti. Rasa sakit tertembak tidak sebanding dengan kehilangan kehormatan.
__ADS_1
"Gemal, sakit!" Di memeluk punggung sambil menangis meminta berhenti.
Kedua tangan Diana ditahan, Gemal hanya memeluk erat membiarkan Diana menangis meminta berhenti, sampai akhirnya diam sendiri dan mulai lemas tidak memberontak.
"Maafkan aku Di." Ciuman lembut mendarat di kening.
Tubuh Diana terkulai lemas, melihat Diana kelelahan membuat Gemal kasihan. Air mata juga masih ada di pelipis matanya.
"Kasihan istriku, sakit ya?" Gemal menarik selimut menutupi tubuh Diana.
Sesuai janjinya hanya melakukan satu kali, Gemal memijit kepalanya, mengambil baju, langsung membuka pintu dan mengambil obat yang diserahkan oleh seseorang.
Mata Gemal terpejam setelah minum obat, masih duduk di sofa agar minuman yang membuatnya menderita segera menghilang.
"Gemal, kenapa kamu tidur di situ?" Di membuka matanya.
Senyuman Gemal terlihat, langsung melangkah ke ranjang, masuk ke dalam selimut memeluk tubuh istrinya yang belum menggunakan sehelai benang.
"Maafkan aku Di, rasanya sakit dan aku masih tetap tidak berhenti." Usapan tangan Gemal lembut di wajah istrinya.
"Masih pusing tidak?" Pijitan pelan di kening membuat Gemal memejamkan matanya.
"Saat ini sudah membaik, berkat kamu." Pelukan Gemal lembut, mencium kening Diana bekali-kali.
Mata Diana terpejam, kepalanya berada di dada Gemal. Mata Gemal juga terpejam memutuskan untuk beristirahat dari rasa lelah acara juga lelah ulah perkara obat.
Hal unik lainnya yang baru Gemal ketahui, Diana luarnya saja yang terlihat kuat, mandiri dan profesional. Tetapi aslinya, dia wanita normal yang cengeng, lebai juga penakut.
Saat kakinya disentuh, seluruh tubuhnya merinding. Gemal sangat yakin, ciuman pertama menjadi milik Gemal, karena tidak ada balasan sama sekali, bahkan Diana terlihat binggung.
"Apa yang membuat kamu tertawa Gem?" Diana menatap wajah suaminya yang memejamkan mata, senyum-senyum sendiri.
"Jangan panggil Gem, memangnya aku gembel. Panggil Kakak." Tawa Gemal pecah.
"Kakak, tapi Diana lebih tua dari kamu?" Di menatap sinis.
Di mengambil minuman yang ada di meja samping tempat tidurnya, langsung meminumnya tanpa memperhatikan terlebih dahulu.
"Diana, botol apa yang kamu minum?"
Diana langsung melepaskan botol yang sudah kosong, berusaha mengeluarkan air yang sisa sedikit, tetapi sudah masuk ke mulutnya.
Gemal langsung mengambil air minum di atas meja, bekas dirinya minum obat. Langsung menyerahkan kepada istrinya yang ingin muntah.
"Minum dulu, tidak masalah. Hanya sedikit." Gemal menenangkan.
Diana langsung meminum air sampai habis, menyalahkan Gemal yang tidak membuang botol berisi campuran obat perangsang.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit Diana masih tenang, Gemal yang mulai khawatir karena tahu rasanya menahan diri sulit.
Wajah Diana mulai merah, menurunkan selimutnya sampai dada, mengipas wajahnya menggunakan tangan.
"Ayang panas, ini kenapa?" Di mengusap tubuhnya.
"Sini, aku peluk." Gemal mengumpat orang yang mengirim minuman, malam pertama mereka diiringi oleh hal lain.
***
Matahari sudah bersinar cerah, Tika berlari kencang ke arah kamar pengantin. Menurunkan tas ranselnya, mengambil kartu miliknya untuk membuka pintu.
Sebelum Tika meletakan kunci digital, seseorang langsung mengambil kartunya.
Tatapan Tika langsung tajam, melihat pria tinggi dihadapannya yang lebih mirip preman.
"Kembalikan!" Tika menadahkan sebelah tangannya.
"Kamu masih kecil, apa yang kamu lakukan akan membuat malu pasangan pengantin?"
"Tika sudah besar tahu, umur tidak sudah belasan tahun, artinya besar." Suara Tika melengking.
"Baru belasan, belajar menjaga privasi orang lain. Sementara kunci ini aku sita, karena apa yang kamu lakukan tidak pantas." Kartu Tika dimasukkan ke dalam kantong jaket.
"Hei, pria tua ... sudah bosan hidup kamu?" Tika melepaskan tas ranselnya.
"Pria tua, aku masih muda tahu. Baru dua puluh tahun. Melihat keberanian kamu, tiga wanita yang tergeletak di kamar rias, pasti ulah anak kecil yang suka masuk kamar sembarang." Senyuman sinis terlihat.
Tendangan Tika langsung melayang menghantam perut, pria dihadapannya sampai melangkah mundur.
Pertarungan terjadi, pria tinggi hanya bisa menghindar dan meladeni Tika yang memang kemapuan bela dirinya cukup mahir diusianya yang terbilang masih muda.
"Kenapa menghindar? ini namanya penghinaan." Suara teriakan Tika menggema.
"Jika pukulan aku melayang, kamu bisa jatuh pingsan." Pria tinggi langsung pergi.
"Kembalikan!"
"Belajar cara bersikap sopan santun terlebih dahulu, setidaknya ketuk pintu sebelum masuk." Tangan terasa perih, karena cakaran Tika yang mengalahkan harimau.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
up satu dulu ya, soalnya lagi drop. Tapi masih harus diwajibkan update.
__ADS_1
Nanti ada waktunya aku bom update.