ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
NYASAR


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran di jalanan terlihat, suara Diana berteriak ingin membunuh orang yang beraninya mengambil ponselnya.


Sepanjang jalan Gemal tertawa, karena suara Diana teriak-teriak mencaci maki orang mirip orang gila.


Gemal mempercepat laju motornya, menghentikan pejambret sampai jatuh. Diana langsung turun melepaskan helm langsung memukul kepala menggunakan helm.


"Di, ini namanya kekerasan." Gemal menarik tangan Diana untuk tidak memukul.


"Lepaskan, jika dia belum mati aku tidak akan berhenti!" Diana teriak kaget melihat rambutnya yang berantakan, dan Gemal hanya mentertawakan.


Gemal mendekati pelaku, bibirnya sudah pecah kepalanya juga berdarah karena dipukul menggunakan helm.


"Apapun alasan kamu, ini kejahatan yang mengangguk para pengguna jalan." Gemal langsung memasang borgol, menunggu mobil polisi yang sudah dihubungi untuk membawa ke kantor polisi.


Diana duduk melihat ponselnya sambil melakukan panggilan, Gemal sibuk berbicara dengan polisi yang menangani.


"Belajar menjadi lebih baik, jangan merugikan orang lain." Gemal menepuk pundak, langsung mempersilahkan membawa ke kantor.


Suara Diana mengumpat masih terdengar, Gemal menghela nafasnya meminta Diana menjaga mulutnya yang sangat kotor dan bicara sembarangan.


"Kita ke salon sekarang." Di menatap tajam Gemal menunjukkan rambutnya yang kusut.


"Aku tidak punya waktu ke salon, kamu pergi sendiri saja." Gemal menghidupkan motornya, meminta Diana naik jika tidak akan ditinggal.


"Gemal sialan, setiap ketemu kamu hari buruk selalu menimpa." Di langsung naik motor, membuang helm.


"Pakai helm." Tatapan Gemal tajam melihat ke arah belakang.


"Tidak mau, kepala aku mirip robot." Di melindungi rambutnya yang baru saja perawatan.


Senyuman Gemal terlihat, Diana tidak berhenti mengomel. Mulutnya tidak pernah lelah marah-marah.


"Kamu tidak lelah mengomel? bisa pecah ini gendang telinga." Motor Gemal berhenti di area rumahnya.


Kening Diana berkerut, langsung turun melihat banyak wanita yang berkumpul di area perumahan Gemal.


Mereka bahkan menatap Diana tidak suka, senyuman mereka hanya ditunjukkan untuk Gemal.


"Dasar perempuan genit." Diana langsung melangkah masuk ke rumah mengikuti Gemal.


Di mengintip sedikit melalui jendela, melihat banyak sekali ibu-ibu dan para wanita baik menggunakan baju seksi ataupun tertutup.


Suara orang-orang bergosip terdengar membuat Diana tertawa lucu, memikirkan hal konyol.


"Mampus kalian." Di mengacak-acak rambutnya sampai berantakan, membuka kancing baju sampai ke bagian dada.


Diana membuka pintu sedikit, menjulurkan lidahnya mengejek orang-orang di depan rumah yang melotot kesal.

__ADS_1


Di menunjukkan kulit putihnya yang terlihat, menarik ke atas tali bra sambil tersenyum sinis.


Pintu ditutup kembali, Diana mengancing bajunya dan merapikan rambutnya sambil tertawa pelan.


"Siapa yang mengizinkan kamu masuk Di?" Gemal menatap tajam, langsung membuka pintu kaget melihat orang ramai.


Tatapan Gemal tajam melihat Diana, langsung melangkah pergi tanpa menyapa orang-orang yang berkumpul.


Sepanjang jalan Diana tertawa, merasa lucu melihat ulahnya yang mengejek tetangga sekitar Gemal.


"Kamu bisa diam tidak Diana? tertawa sendiri, mengomel sendiri mirip orang gila."


"Kamu yang gila, membawa aku tanpa mengatakan ingin pergi ke mana." Di menatap sinis.


"Di, kamu ingin menemani aku ke suatu tempat?"


Diana melihat jam di pergelangan tangannya, meminta Gemal merapikan rambutnya terlebih dahulu baru boleh pergi.


Senyuman Gemal terlihat, langsung menghentikan laju motornya di pinggir taman agar Diana bisa merapikan rambutnya yang mirip singa.


"Bantuin, ini kusut."


"Makanya jangan diurai, cantik tidak mirip kuntilanak iya." Bibir Gemal monyong, membantu menyisir rambut Diana yang kusut.


"AW ... gemal sakit." Diana berbalik badan memukuli Gemal.


"Pelan-pelan, nanti kulit kepala aku sobek."


Gemal menyisir kembali pelan, membantu Diana mengepang dua rambut Di. Wajah Gemal merah menahan tawa melihat rambut Diana, sedangkan Diana sibuk memperbaiki make up-nya.


"Selesai." Gemal melihat ke arah depan wajah Diana yang dia pikir akan jelek, tapi semakin cantik.


"Ada apa?"


Kepala Gemal menggeleng, Diana tidak protes melihat rambutnya dikepang dua langsung membuka kemejanya.


"Bagaimana aku masih mirip wanita tujuh belas tahun tidak?"


"Mirip, tapi kenyataan kamu kepala tiga." Gemal langsung berlari sebelum tendangan Diana menghantam perutnya.


"Kita hanya selisih dua tahu, kamu jangan bersikap seakan kamu masih muda." Diana menjadikan tas selempang menjadi tas dukung agar tidak kesulitan naik motor.


Gemal menyerahkan helm kepada Diana, jaket agar tidak kepanasan. Bahkan memberikan kaos tangan.


Suara ponsel Gemal terdengar, panggilan dari Dimas masuk membuat Gemal mengerutkan keningnya, Diana juga langsung cemberut meletakan jari telunjuk dibibir.


Gemal langsung menjawab, terdengar suara Dimas memarahi Gemal yang seharusnya sudah kembali sejak dua jam yang lalu, tapi sampai sekarang belum muncul.

__ADS_1


Rapat tim akan segera dimulai, tapi Gemal seperti atasan yang harus dihubungi terlebih dahulu baru berkabar.


[Sebenarnya kamu yang atasan atau saya?]


[Pastinya pak Dimas, tapi jika bapak tidak ingin menghubungi saya, maka abaikan saja pak. Soalnya Gemal sendang ada tugas negara.]


[Brengsek kamu Gemal, cepat kembali.]


Gemal meminta maaf, dia belum bisa kembali karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Setelah pekerjaan selesai, langsung melapor. Belum selesai Dimas bicara, panggilan sudah mati.


"Daddy kamu pasti mengancam tahan gaji." Gemal sudah bosan dengan ancaman atasannya.


"Memangnya kita ingin pergi ke mana?"


"Kamu ada pekerjaan tidak?"


Diana menggelengkan kepalanya, karena Diana memang berencana untuk pulang ke rumah karena sudah cukup lama tinggal di rumah sakit.


"Ayo kita berangkat melihat matahari terbenam." Gemal pertama kalinya membawa wanita ke tempat yang biasanya dia kunjungi jika sedang kesepian.


Motor melaju meninggalkan kota, melewati jalanan sempit dan melalui desa pedalaman. Tatapan Diana tajam melihat arah jalan mereka yang sangat asing, semakin jauh semakin terjang dan sulit dilalui.


"Gemal kamu yakin ini jalannya?" Di melihat sekitar yang dikelilingi hutan rimba, jalan yang dilalui juga jalanan setapak.


Gemal meminta Diana tidak khawatir, untuk menemukan sesuatu yang indah, mereka harus melalui perjalanan dan rintangan yang sulit.


"Berapa lama lagi Gem? ini sudah sore dan matahari tidak mungkin terbenam di sini?" Diana membuka kaca helm.


Gemal menghentikan motornya, menatap ke depan dengan ekspresi binggung. Maju ataupun mundur mereka bisa terluka.


"Aku akan membunuh kamu Gemal!" Diana berteriak kuat sampai suaranya menggema.


"Apa kita nyasar?" Tatapan Gemal melihat hewan buas lewat di depan mereka, tapi tidak mendekat.


Diana menarik nafas, buang nafas menahan emosinya. Gemal bodohnya tidak ada duanya membuat Diana hampir stress.


"Kita pulang lagi."


"Terserah, sebelum kita menjadi makanan harimau dan binantang buas lainnya."


Gemal memutar motornya, langsung melangkah balik lagi tapi binggung dengan jalan awal mereka karena banyaknya jalan setapak.


"Di, aku rasa kita nyasar." Gemal menatap Diana yang wajahnya sudah merah ingin membunuh Gemal.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2