
Suara tawa Diana terdengar sangat lepas, dia bahkan melupakan jika baru saja mengalami patah hati. Di membatalkan niatnya untuk kembali ke rumah sakit, karena mengobrol bersama ibu penjual kue lebih menyenangkan.
"Nama kamu siapa Nak?"
"Diana Dirgantara, panggilan Di."
"Ana, nama yang cantik."
Diana mengerutkan keningnya, tetapi tetap tersenyum meskipun namanya diubah menjadi Ana.
Sepanjang perjalanan Diana mendengarkan ocehan ibu yang pekerjaannya berjualan kue, berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk menitipkan kue.
Diana menawarkan untuk bekerja sama membuat sebuah ruko, agar tidak lelah berkeliling yang pastinya memakan tenaga.
"Ibu lebih suka berkeliling dan berharap suatu hari nanti bertemu anak ibu."
Diana menghentikan langkahnya menatap punggung wanita tua dihadapannya, terlihat sekali memiliki banyak beban berat, tapi ditutupi dengan senyuman.
"Ke mana anak ibu? jika tidak ingin menjawab, Ana mengerti Bu." Di juga menceritakan jika dia mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang wanita yang lebih pantas menjadi kakaknya, tapi menganggap dirinya Putri.
Kasih Sayang Mommynya melebihi sayang kepada anak kandung, meskipun beberapa tahun Di tidak kembali karena pekerjaan, mommy setiap hari menghubunginya.
"Di sangat menyukai bangun siang, karena akan mendengar suara mommy mengomel. Diana bangun kamu kuliah, Di bangun katanya ke rumah sakit pagi, Di bangun, bangun, bangun dan bangun." Diana tertawa sambil melangkah membawa kue di dalam plastik.
"Kamu sangat dekat dengan ibu kamu? istirahat dulu ya nak, ibu capek." Ibu duduk di bawah pohon yang ada kursi santai.
Diana tersenyum, menganggukkan kepalanya menceritakan kebaikan Mommynya. Di juga menceritakan jika Daddy-nya sangat baik.
"Dulu Ana seorang binatang, hari ini hidup mungkin besok mati, tapi sekarang Ana manusia. Hari ini hidup dan besok ingin terus hidup, Di belum bisa membahagiakan kedua orang tua Di." Mata Diana berkaca-kaca, mengusap matanya yang hampir mengeluarkan air matanya.
"Ibu juga memiliki dua putra, satunya melangkah ke jalan yang salah, dan yang satunya harus bertahan hidup menjaga ibu sampai mengorbankan segalanya. Terkadang ibu kasihan dan ingin dia hidup bebas dan bahagia, tidak memiliki banyak beban."
Di mengusap tangan wanita tua yang sudah keriput, Diana percaya tidak ada seorang anak yang ingin meninggalkan ibunya. Kebahagiaan seseorang ada pada tingkat yang berbeda.
"Di bahagia bisa makan bersama keluarga, mungkin anak ibu juga bahagia bisa melihat ibunya tersenyum." Di menyemangati dan mendoakan agar sehat selalu hingga suatu hari nanti bertemu putranya yang hilang dan melihat satu putranya bahagia
Diana mengantar ibu penjual kue pulang ke rumah, Diana terlihat sangat bahagia bisa masuk ke rumah sederhana.
"Maaf ya rumah ibu kecil."
__ADS_1
"Wow rumahannya nyaman, dulu Diana tinggal di hutan, goa, bawah tanah untuk bersembunyi." Di mengagumi setiap sisi rumah yang kecil, tapi terlihat rapi dan sejuk.
Diana menatap ibu tua beribadah, berdoa cukup lama membuat Diana terharu. Kasih sayang seorang ibu sangat besar.
Meksipun anaknya melakukan kesalahan, tapi masih membuka pintu maaf dan berharap bisa bertemu.
Tatapan Diana melihat ke arah foto keluarga, dua anak laki-laki, satunya seumur Juan dan satunya usia sepuluh tahuan.
"Kamu lapar tidak Ana?"
"Tidak Bu, Diana makan di rumah saja. Biasanya Mommy masak dan melarang Di makan tanpa keluarga." Diana mengucapkan terima kasih sudah ditawari.
Diana bersantai di rumah sederhana sekitar satu jam barulah pamit, dan berjanji akan berkunjung kembali.
"Ana pulang Bu."
"Hati-hati, pintu rumah ini terbuka untuk kamu, jangan lupa mampir."
Diana menganggukkan kepalanya, mencium tangan langsung pamit pulang meninggalkan rumah sederhana yang ada di area perumahan kecil.
Mobil Diana berpapasan dengan Gemal yang pulang, dan tidak menyadari jika mobil yang masuk kawasan perumahan Diana.
"Waalaikum Gem, tumben kamu pulang siang."
"Malamnya Gemal ada pengintaian Bu, mungkin beberapa hari tidak pulang." Gemal melihat sebuah amplop putih di atas meja langsung membukanya dan cukup terkejut melihat isinya.
Gemal langsung menatap ibunya menunjukkan cek di dalam amplop, ibu Gemal juga kebingungan dan langsung mengingat Diana.
"Mungkin ini milik Ana Gem."
"Ana, siapa dia Bu? ini jumlah cek yang bernilai fantastis, cepat kembalikan Bu." Gemal memasukan cek kembali berharap pemilik segera putar arah.
Ibu Gemal langsung mengambil dan akan menyimpannya baik-baik, saat Ana main ke rumah mereka akan segara mengembalikan.
Gemal langsung menatap ibunya yang bergumam berharap Ana berkunjung.
"Siapa Ana Bu? jangan menerima sembarangan tamu." Tatapan Gemal tajam, meminta ibunya berhati-hati.
Meksipun Gemal tidak memiliki musuh, tapi tidak ada yang tahu jika ada seseorang yang menyimpan dendam.
__ADS_1
"Ana wanita baik Gem." Ibu tidak mengizinkan Gemal menuduh Ana.
"Bu, Gemal tidak suka ada orang lain datang ke rumah ini tanpa sepengetahuan Gemal. Ingat Bu apa yang terjadi lima tahun lalu, jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kita." Gem langsung melangkah ke kamarnya.
Gemal menerima panggilan, langsung mengambil jaketnya kembali dan bergegas pergi lagi.
"Astaghfirullah Al azim, belum minum, duduk sudah pergi lagi." Ibu geleng-geleng melihat Gemal sudah pergi.
***
Di rumah sakit Diana sudah memompa jantung menggunakan tangannya, bekali-kali Diana memompa tidak mengembalikan detak jantung.
Di turun dari ranjang, mengumumkan waktu kematian. Tatapan Diana tajam melihat pasien tahanan yang over dosis obat mengerikan.
"Dokter Di, kenapa dia bisa gagal jantung? padahal hasil tes semuanya normal bahkan kita berpikir dia akan membaik dan segera sadar."
"Siapa yang memberikan izin dia pindah ruangan? bahkan tidak ada yang melapor." Di masih berusaha menahan emosinya.
Salah satu dokter berlarian meminta maaf, Diana melayangkan tamparan kuat sampai dokter, suster menundukkan kepalanya.
Di sudah memperingati jika selama pasien belum sadar, tidak diizinkan pindah ke ruang rawat biasa. Diana sedang meneliti penyebabnya.
"Sialan kalian semua, percuma menjadi dokter jika cara kerja seperti ini. Banyak orang menganggap dokter penyelamatan, tanpa ada yang tahu kesalahan seperti ini menjadikan seorang dokter pembunuh." Di berteriak kuat membentak semuanya.
"Maaf dokter Di, saya hanya mendengarkan perintah dokter Hendrik yang memberikan saran, dia dokter yang paling berpengalaman. Dari anak-anak hingga lanjut usia, dokter Hendrik bisa menanganinya."
"Tidak ada dokter terhebat di dunia ini, setiap dokter memiliki kemampuan terbatas. Dia Dokter anak, tugasnya menangani anak-anak." Di langsung melangkah keluar membanting pintu kuat.
Diana melangkah penuh emosi langsung masuk ke ruangan dokter Hendrik yang sedang bertemu dengan pasiennya, Di menatap tajam menunggu sampai selesai.
"Di mana sopan santun kamu?" Hendrik menatap Diana tajam setelah mengunci pintu ruangannya.
Tamparan Diana kuat menghantam Hendrik, tangan Hendrik ditahan karena ingin menyuntikkan sesuatu.
"Jangan coba-coba mengusik aku, jika kamu tidak ingin masuk daftar orang yang aku bunuh. Diana mengambil suntikan yang menancap di pergelangan tangannya.
Diana langsung keluar, berlari kencang ke ruangannya. Di menyadari obat yang ada di suntikan berbahaya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira