
Dari belakang Juna dan Shin saling dorong-dorongan untuk berjalan lebih dulu di depan. Juna sangat yakin pasti ulah Shin ataupun Tika yang membuat masalah di kamar pengantin.
"Kamu duluan Shin,"
"Kak Juna laki-laki, harusnya di depan." Shin menarik Juna untuk mengecek kamar.
Suara ledakan terdengar, diikuti oleh teriakan Rindi mengumpat Atika dan Shin yang menyebabkan kamarnya penuh ledakan tanpa tahu di mana letaknya.
Pintu terbuka, Hendrik keluar kamar melihat Juna dan Shin yang berdiri di depan pintu. Beberapa pintu lain terbuka, Isel berlari masuk ke kamar pengantin bersama Gion.
"Ada pesta balon di sini?" Isel duduk di sofa, suara ledakan kembali terdengar, memancarkan cahaya warna-warni.
Gion naik ke atas tempat tidur, langsung lompat membuat suara ke ledakan kecil juga lampu kerlap- kelip terlihat di dinding. Kamar berubah menjadi tempat bermain dengan banyak suara binatang.
Juna memalingkan wajahnya menahan tawa, Shin sudah duduk di lantai mendengar suara anjing, kucing, bahkan hewan buas di dalam kamar.
Rindi keluar dari kamar, melihat Shin yang cekikikan. Tatapan gelap, ingin mencekik Shin namun tangannya ditahan oleh Juna.
Shin sudah berlari ke kamarnya sambil tertawa, menjulurkan lidah ke arah Rindi yang sudah mempermalukan dengan menyimpan rekaman memalukan.
Atika juga muncul, langsung tertawa. Berlindung di balik tubuh Genta agar Rindi tidak menyakitinya.
"Papa, Mama. Isel pindah kamar ini saja, enak sekali. Rasanya Isel ada di kebun binatang." Isel berlari membawa selimutnya pindah kamar.
Tangan Hendrik memijit pelipisnya, melihat kekacauan kamar padahal dia ingin beristirahat. Gemal juga tersenyum, hanya dirinya yang paling aman saat malam pertama, belum ada para pengacau.
Pengantin pindah kamar yang kosong, sampai hampir pagi kekacauan belum juga selesai. Hanya Tika dan Shin yang bisa tidur berpelukan tanpa beban pikiran.
Tidur keduanya juga sambil tersenyum, Tika bahagia selain berhasil mengacau Rindi, dia juga mendapatkan restu dari Mam Jes meksipun menunda untuk memberitahu Papa Calvin.
Tidur Shin juga terasa indah, menghabiskan waktu berjam-jam bersama Juna, berbicara banyak, berlari bersama, saling dorong sudah lebih dari cukup bagi Shin.
"Mimpi indah apa yang sedang mereka alami? Ria tidak bisa tidur di sini." Pelan-pelan Ria tidur di tengah-tengah Tika dan Shin, membiarkan keduanya memeluknya erat.
"Ria sayang Kakak Tika, sayang Kak Shin juga. Ria juga menginginkan sahabat yang bisa menjadi bagian dari Ria, tapi tidak ada yang tulus kepada Ria." Mata Ria terpejam, terlelap tidur.
__ADS_1
***
Seluruh keluarga memutuskan kembali, kecuali Hendrik dan Rindi, Mam Jes dan Papa Calvin yang akan menyusul.
"Genta, jaga keluarga. Hubungi Papa jika sudah sampai." Papa Calvin menepuk pundak Genta.
"Di mana Gemal?" Mam Jes menarik telinga Gemal yang masih sempat bermain koper.
"Kalian hati-hati, hubungan Mama Gem."
"Iya Mama, tenang saja. Ada Ian yang akan memberikan laporan." Senyuman Gemal terlihat, mengusap kepala Putra yang sangat pendiam.
Diana memeluk Mam Jes untuk pulang lebih dulu, anak-anak harus sekolah. Diana juga harus kembali ke rumah sakit.
"Uncle, Dean pulang dulu. Da semuanya." Dean berlari ingin cepat masuk pesawat memilih tempat duduk.
Juan, Gion, dan Ian juga berjalan lebih dulu ke pesawat. Aliya dan Altha juga pamitan langsung menyusul anak-anak begitupun dengan Dimas dan Anggun yang berjalan masuk pesawat.
"Ma, Pa, Kak Hendrik, Kakak ipar kita pamit dulu. Ayo Isel kita pulang." Gemal mengambil Isel yang ada dalam pelukan Kakeknya.
"Doa Alina seperti malapetaka, mengerikan." Rindi bicara pelan, menatap Diana yang berjalan pergi.
Suara dua tiga wanita lari-larian terdengar, Ria mencium tangan Calvin dan Mam Jes, menyalami Hendrik dan Rindi.
"Semuanya Ria pulang, selamat tinggal Kak Rindi wanita psikopat." Ria berlari kencang mengejar kedua orangtuanya.
"Ria Ria, semakin dewasa nakalnya bertambah." Mam Jes tersenyum melihat Ria yang larinya kencang.
Mam Jes memeluk Tika dan Shin, meminta keduanya berhati-hati dan memberikan kabar jika sudah sampai. Juna juga kembali lagi, setelah mengantar Mamanya ke pesawat.
"Kak Hendrik Juna kembali lebih dulu, Aunty Uncle, Juna dan keluarga pulang lebih dulu." Juna menyalami setiap tangan.
"Panggil Papa Juna, kamu masih saja belum terbiasa. Hati-hati di jalan, selamat juga untuk kesembuhan Citra." Papa Calvin memeluk Juna, mengusap punggungnya lembut.
"Kak Rindi kita pulang dulu, semoga kita bertemu di lain waktu dengan hubungan yang lebih baik lagi." Tika dan Shin memeluk Rindi erat.
__ADS_1
"Terima kasih karena kalian berdua memberikan aku keluarga, salam untuk Irish dan Melly. Katakan padanya aku bahagia dengan keluarga baru." Rindi memeluk keduanya dengan perasaan yang tulus.
"Hubungi Shin jika membutuhkan saran, kita bisa berbagi banyak hal meksipun dipisahkan oleh jarak." Shin menggenggam tangan Rindi erat.
"Terima kasih Shin, aku berharap cinta kamu tidak bertepuk sebelah tangan. Lelaki yang kamu cintai, suatu hari akan menjadi milik kamu. Jika hari itu tiba, aku akan menjadi saksi perjuangan dan ketulusan cinta kamu." Rindi tersenyum melihat mata Shin yang menenangkan.
"Rindi, tolong jangan hubungi aku karena kamu tahu sendiri aku tidak pernah bisa memberikan saran. Jadi jangan pernah menganggu." Tawa Tika terdengar, menepuk pundak Rindi.
"Semoga kamu segera mendapatkan restu Tika, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi."
Semuanya melambaikan tangan, beranjak pergi untuk kembali ke negara yang seharusnya menjadi tempat mereka tumbuh.
"Tika akan mencintai negara ini karena ada cinta di sini." Senyuman Tika terlihat menatap Genta yang berjalan di sampingnya.
"Shin juga akan mencintai negara ini, karena ada Mama dan Papa. Shin berjanji akan kembali lagi untuk menemui Mama Papa." Senyuman Shin terlihat, menggenggam tangan Kakaknya.
Tatapan Juna melihat ke arah Shin yang tersenyum manis, hatinya begitu kuat sehingga mampu berdiri kokoh dengan kedua kakinya.
"Kak Juna, boleh tidak duduk berdua?" Shin menatap tempat duduk Juna masih kosong.
Kepala Juna mengangguk, membiarkan Shin duduk di dekat jendela. Mata Juna terpejam, menggunakan earphone mengabaikan Shin yang sudah mengoceh.
"Aunty Shin, bisa diam tidak? telinga Dean sakit tahu." Dean menatap Shin yang langsung diam.
Senyuman Juna terlihat, Dean memang tidak ada tempat takutnya. Ucapannya selalu spontan, jika tidak suka langsung diutarakan.
"Dean, bicara yang sopan." Juna membuka matanya melihat Shin yang sudah memejamkan matanya.
Earphone juga dilepaskan, dipasangkan ke telinga Shin agar bisa tidur tenang. Keduanya memilih tidur, daripada Dean kompline lagi.
Tangan Shin memeluk lengan Juna, menyandarkan kepalanya di pundak. Isel yang duduk bersama Genta dan Tika menatap Shin dan Juna yang terlihat mesra.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1