
Rambut Shin masih acak-acakan, Juna hanya menahan tawa melihat. Shin tidak malu menjadi pusat perhatian dengan penampilannya yang berantakan.
"Shin, kamu kenapa?" Aliya memegang rambut Shin yang yang berdiri di pinggir jalan.
"Rumah siapa itu?" tangan Shin menunjuk ke arah rumah yang terbuka gerbangnya.
Belum selesai Aliya bicara, Shin sudah berjalan lebih dulu melihat rumah yang sudah lama kosong akhirnya ada penghuninya.
"Apa ini rumah kamu Tik?"
"Bukan,"
Kepala Shin mengangguk, melihat Juna melangkah masuk ke dalam rumah yang sedang direnovasi. Shin langsung tahu jika Juna pindah rumah.
"Kak Juna pindah ke sini? boleh tidak Shin tinggal di sini?"
"Ria juga mau tinggal di sini saja." Ria langsung naik ke atas pohon yang sedang berbuah.
"Tidak ada yang boleh menginap di sini, hanya ada aku dan Kak Genta juga Mama." Juna melihat rumah bersama Genta yang sepakat tinggal bersama.
Senyuman Tika terlihat, dia juga ingin menginap. Mata Juna dan Genta sama tajamnya, tidak ada yang boleh menginap baik anak-anak maupun orang dewasa.
"Kalau begitu Shin sama Tika buat rumah saja berdua, kita tinggal berdua ...."
"Di rumah kosong bekas pembunuhan? silahkan saja, kita tidak akan berkunjung. Seluruh perumahan di sini penuh." Dean mentertawakan Shin dan Tika yang matanya setajam Elang.
Semua orang sibuk di dalam rumah, sedangkan Tika, Ria, Shin dan Isel berada di atas pohon. Sudah tengah hari masih belum ada yang turun panen buah sambil rebutan.
Suara jatuh terdengar, Tika langsung lompat melihat Isel sudah tersungkur jatuh. Tangisan terdengar, Diana berlari keluar melihat Isel sudah dalam gendongan Tika.
"Ya Allah, kalian tidak lihat panasnya matahari masih sempat-sempatnya di atas pohon!" Diana berteriak melihat tangan Isel yang sudah membengkak.
Tangisan semakin kuat, Diana menahan tangan Isel yang sudah bengkok sikunya. Dalam keadaan panik Di tidak bisa konsentrasi, takut jika Gemal sampai tahu.
"Ada apa Kak Di?"
"Genta tolong, Isel jatuh dari pohon. Tangannya patah." Diana kebingungan meminta Isel menghentikan tangisannya.
Genta meluruskan tangan Isel membuat semakin menangis histeris, tulang tangannya juga terlihat.
"Kenapa?" Juna langsung menahan tangan Isel, memintanya Genta membawa mobil untuk diobati.
__ADS_1
Sebelum tangannya parah, Isel dibawa ke tempat patah tulang. Tika, Ria dan Shin hanya bisa terdiam tidak berani bergerak.
Diana lebih panik, jika suami tahu anak sampai patah tulang pasti dirinya yang disalahkan. Padahal tahu sendiri nakalnya Isel yang tidak ada lawannya.
"Bagaimana ini? Isel patah tangan." Ria duduk di samping Tika dan Shin.
"Gara-gara kamu, sudah diperingatkan jaga Isel." Tika memukul punggung Adiknya.
"Kita mematahkan tulang cucu utama Leondra, matilah kita." Shin menghela napasnya.
Sampai matahari terbenam belum ada yang datang ke rumah, Tika sudah garuk-garuk badan karena gatal semua.
"Berapa lama lagi kita menunggu di sini?" Tika sudah tidak tahan lagi.
"Ayo kita pulang saja Kak, jika di marah urusan belakang." Ria menggunakan bajunya memasukkan buah-buahan untuk dibawa pulang.
Jalanan sepi, Shin berlari sambil memegang dua buah, begitupun dengan Tika dan Ria yang mengikuti dari belakang.
Sinar lampu mobil terlihat, Shin lompat ke dalam semak-semak diikuti oleh Tika dan Ria yang juga bersembunyi. Rasa takut semakin menyelimuti, apalagi Gemal pulang dengan terburu-buru.
"Astaga, Isel sudah pulang dari tadi. Tidak ada satupun orang yang mencari kita?" Ria mengumpat kasar langsung keluar berjalan ke arah rumahnya.
"Ria!" teriakan Aliya terdengar.
"Kenapa? jangan salahkan Ria jika Isel jatuh! sudah Ria peringatan jika dia masih kecil, tapi tetap saja ikut-ikutan naik." Ria menghentakkan kakinya, tidak memberikan kesempatan Aliya bicara.
Suara tangisan Ria terdengar, memarahi Maminya yang tega membiarkan dirinya selama berjam-jam. Tidak ada yang mencari keberadaannya, semua orang hanya fokus kepada Isel.
"Mami jahat,"
"Kenapa kamu yang ngamuk!" Aliya menatap tajam Putri gilanya yang menangis di jalan, membuang buah-buahan yang dibawanya.
"Ad apa? satu sudah patah tangan, ini apa lagi mengamuk di jalan?" Altha menghentikan Ria yang memukuli kaki Maminya.
"Tidak ada lagi sayang Ria, semuanya hanya menyayangi Isel."
"Kenapa bicara seperti itu?" Alt bicara lembut memeluk Putrinya yang bertingkah seperti anak kecil.
"Dia hanya ingin dikasihani agar tidak di marah, Ria selalu menggunakan air matanya agar dibela oleh Papi dan Kakaknya." Aliya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat suaminya yang sangat memanjakan Ria.
Shin berpikir siapa yang akan membujuknya jika mengamuk seperti Ria, dia hanya akan malu dan tidak mungkin dikasihani.
__ADS_1
"Tik, kamu akan mengamuk juga?"
"Gila kamu, putus urat malu. Bisa rusak harga diri Tika jika Om tua sampai tahu." Tika merapikan rambutnya.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Sebaiknya kita melarikan diri ke restoran, Tika membutuhkan makanan." Tika keluar dari persembunyiannya, tidak segala kepala menabrak dada.
"Mau ke mana?" Genta melihat Shin yang sudah mirip monyet di dalam semak-semak.
"Bagaimana keadaan Isel Ayang?"
"Lihat sendiri." Genta menarik tangan Shin dan Ria untuk masuk ke dalam rumah.
Suara Isel lari-larian terdengar, belum kering air mata Diana mengkhawatirkan, tapi Isel sudah lupa dengan sakitnya.
"Tangannya kenapa sayang?"
"Patah Pa, tapi sekarang sudah sembuh. Isel sudah bisa lari-lari." Tawa Isel terdengar, duduk dipangkuan Papanya.
"Tangan kamu yang patah bukan kaki," Gemal terheran-heran melihat Isel yang sudah ceria kembali.
"Aunty Di kenapa mirip orang hutan? lihat tangan Isel dibungkus,"
"Sialan kamu Isel, aku dari kemarin tidak mandi dan mengkhawatirkan kamu yang sudah mirip kera." Shin berteriak kesal berjalan ke arah Diana meminta maaf.
Shin mengakui salah, meksipun sepenuhnya salah Isel yang tidak bisa diperingati. Isel terlalu sulit di atur, dan tidak mendengarkan peringatan.
"Shin, kamu dan Isel beda. Kamu patah tangan sudah besar, sedangkan Isel dia belum mengerti apapun." Di mengusap air matanya yang masih cemas.
Senyuman Shin terlihat, menganggukkan kepalanya menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga Isel. Dia masih kecil dan membutuhkan pengawasan ketat.
"Shin mengerti kami berada di kehidupan yang berbeda, dulu aku patah tangan bukan diobati, tapi di tenggelam di dalam bathtub, sedangkan Isel dikhawatirkan banyak orang. Shin meminta maaf, dan akan lebih berhati-hati lagi." Shin menendang meja melangkah ke kamarnya.
"Kak Diana tidak menyalahkan kamu? kenapa tersinggung?" Diana ingin mengejar Shin yang sudah marah, tapi tangannya ditahan Gemal untuk membiarkan daripada memancing keributan.
"Sudahlah Di," Mam Jes yang akan bicara jika Shin sudah tenang.
"Diana tidak bermaksud menyalahkan siapapun Ma." Air mata Diana menetes kembali.
Atika berlari ke lantai atas untuk menemui Shin, tidak biasanya dia sensitif. Shin bukan seseorang yang mudah tersinggung, apalagi marah secara langsung.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira