ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
JANGAN PERGI


__ADS_3

Panggilan dari Anggun terus masuk meminta Aliya segera ke rumah sakit, dia tidak bisa menceritakan dari panggilan.


Al meminta Juna menjaga Tika, memeluk kedua anaknya berharap ketakutan Aliya tidak benar.


"Juna, Mami minta maaf jika ada salah sama Juna, Mami sangat menyayangi Juna." Al mengusap air matanya, mencium kening putranya.


Tika langsung memeluk erat, menolak maminya untuk pergi meksipun hanya sebentar, Tika tidak ingin berpisah.


Al mengusap punggung putrinya, menasihati Tika dan meminta selalu menurut kepada Elen.


"Sayang, kamu masih ingat cerita Mami. Jika suatu hari Mami pergi, Tika tidak boleh bertanya apapun soal Mami." Al meminta Tika mengerti.


Kepala Tika terus menggeleng dan mengusap air matanya, dia tidak ingin Maminya pergi dan meninggalkannya.


Tangisan Tika semakin besar, mengeratkan pelukannya tidak memperbolehkan Aliya pergi. Juna menahan adiknya untuk tidak boleh memaksa kehendak.


Elen yang melihat juga meneteskan air matanya, Al menggenggam tangan Elen menatap penuh kesedihan.


"Len, jaga putriku. Buat dia selalu tertawa seperti kamu yang selalu membuat aku tertawa." Al mengusap punggung Elen yang langsung menggendong Tika membawanya pergi.


"Mami, tidak boleh pergi. Ayo bobok bersama Tika, tidak boleh pergi." Tangan Tika mengulur membuat hati Aliya sangat-sangat hancur.


Tangisan Aliya pecah, tidak tahu berapa banyak lagi air matanya tumpah. Menatap Tika yang terus menangis menggedor pintu kamar.


Juna juga meneteskan air matanya, memeluk Maminya agar berhenti menangis.


"Mi, Juna akan menunggu Mami kembali. Jangan khawatirkan Tika dan Juna, Mami sudah tersimpan di hati kami." Air mata Juna membasahi pipinya, mungkin dirinya bisa kuat lalu bagaimana dengan Papinya.


Al mengusap air matanya, menggenggam tangan Juna dan menasihati banyak hal agar Juna bisa kuat dan tidak memiliki trauma.


Kepala Juna terus mengangguk, mengiyakan apapun yang Maminya katakan. Juna tidak akan melupakan sedikitpun amanah Maminya untuk bertahan dan selalu kuat.


Melihat langkah kaki Maminya mendekati pintu, Arjuna langsung berlari ingin mengejar Al yang sudah membuka pintu.


"Mi, pakai terus kalung dari Juna agar Mami selalu ingat jika ada kami di sini menunggu Mami pulang." Senyuman Juna terlihat, menatap Aliya menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.


Air mata menetes, hanya bisa melihat mobil Maminya menghilang dari penglihatan. Juna menutup gorden jendela memejamkan matanya sesaat, menarik nafas dalam-dalam menghembuskan.


Di jalan Al hanya diam saja, Dika juga tidak tahu ingin membicarakan apa kepada Al yang saat ini sedang terpukul.


Berita kecelakaan sudah masuk media massa, ada satu korban jiwa. Al belum tahu yang meninggal Roby atau Citra, bahkan keadaan Mora juga tidak tahu.

__ADS_1


Perasaan Aliya terus tidak enak, apa yang harus Aliya katakan kepada Altha jika putri kecilnya dalam keadaan tidak baik.


Altha sangat menyayangi Mora, meskipun bukan putri kandungnya. Tidak mungkin Al berani menunjukkan wajah kepada ayah korban.


Pikiran Al benar-benar kacau, memikirkan ucapan Alin yang sudah pasti bukan ancaman belaka.


Alin tidak takut apapun, dia bisa melakukan apapun tanpa peduli hukum. Al berpikir dirinya sudah menjadi wanita jahat, tapi ternyata ada yang lebih jahat melebihi dirinya.


Mobil tiba di rumah sakit, Al langsung berlari masuk untuk segera melihat keadaan Mora yang masih menjalani operasi.


Anggun duduk lemas menunggu Aliya datang, air matanya juga sudah menetes membuat Aliya sangat khawatir.


"Siapa yang meninggal kak?" Al berdiri di depan Anggun yang langsung berdiri menatap Al yang terlihat tidak baik.


Kenan memijit pelipisnya, mengatakan jika Roby meninggal di tempat. Tangisan Anggun tidak bisa terbendung lagi langsung pecah.


Al juga hampir terjatuh, lututnya sangat lemas. Melihat kondisi Anggun yang juga sangat terpukul kehilangan Roby.


Kenan menjelaskan apa yang dia dapatkan dari kepolisian, satu korban meninggal di tempat. Dia mengalami gegar otak, dan kehabisan darah.


Satu korban lagi seorang wanita, sedang dalam penanganan. Namun kondisinya juga tidak bisa dikatakan baik, dokter bahkan belum juga keluar sejak pasien masuk.


Al hanya bisa terdiam, Kenan melangkah pergi saat mengetahui jika Citra sudah selesai operasi. Al juga langsung melangkah mengikuti Kenan dan mendengar penjelasan dokter soal kondisi Citra.


"Bagaimana keadaan Citra?" Anggun menatap Kenan yang masih menunduk lemas.


"Dia koma, dan kemungkinan lumpuh seumur hidup." Kenan langsung duduk bersama Aliya yang sudah meneteskan air matanya, sambil duduk di kursi tunggu.


Al hanya bisa meneteskan air matanya, Alina benar-benar menghacurkan hidup Aliya. Dia membuat masalah yang sangat besar.


Sungguh Aliya takut menghadapi Altha dan anak-anak jika mengetahui kondisi Mamanya lumpuh seumur hidup, bahkan keadaan masih kritis.


"Alina!" Al berteriak kuat sambil menangis.


Dokter keluar dari ruangan operasi Mora, jantung Aliya berdegup kencang. Dokter satu-persatu melangkah keluar dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.


Kedua tangan Al menutup telinganya, meneteskan air matanya langsung jatuh pingsan.


Anggun langsung berteriak histeris, Dokter melangkah pergi meninggalkan ruang operasi. Kenan dan Dika juga meneteskan air matanya melihat kondisi Aliya.


"Al bangun, kamu harus kuat Al." Anggun mengusap wajah Al yang sudah pucat dan matanya sudah sembab.

__ADS_1


"Kak, di mana Mora kak?" apa yang harus aku katakan kepada Altha kak." Al berteriak kuat, meremas rambutnya.


Anggun menangis memeluk Al agar tenang terlebih dahulu setelah mendengar kabar Mora meninggal.


Dunia Aliya rasanya hancur kembali, Al langsung berlari ke kamar jenazah memaksa untuk masuk.


"Mora, sayang bangun. Jangan tinggalkan Mami sayang, kamu tidak boleh pergi meninggalkan Mami dan Papi. Maafkan Mami Mora." Al mengusap wajah putrinya yang sudah pucat.


Tangisan Al pecah, teriakan Al histeris meremas rambutnya membayangkan kebahagiaan Atika, Arjuna saat bersama Amora.


Tangan Aliya langsung bergetar, Altha pasti akan membencinya dan tidak akan pernah memaafkannya.


"Alina, aku akan membunuh kamu." Al langsung berdiri ingin melangkah pergi.


Anggun memeluk Aliya yang sangat lemah dan hancur, dia tidak bisa melawan Alin dalam keadaan seperti ini.


"Kamu bisa apa Al? Alina bisa membunuh kamu." Anggun teriak kuat.


"Lalu aku harus bagaimana kak? bagaimana aku menghadapi Altha? bagaimana aku menghadapi anak-anak kak?" Al menendang kuat kursi, melihat pintu ruangan jenazah.


Al melangkah pergi dalam keadaan hancur, Mora lebih memilih mengikuti Ayahnya dibandingkan tumbuh besar bersama mereka.


Seseorang juga menangis mendengar percakapan Aliya dan Anggun, menatapnya tajam dan penuh kebencian.


"Kamu yang membunuh keluarga, tapi kenapa membunuh cucuku juga." Suara tangisan terdengar.


Dunia Al hancur ulah kakaknya, tidak ada alasan lagi bagi Al untuk berjuang dan menetap.


"Ayang, maafkan Aliya."


***


...Selamat tinggal Desember ......


...Selamat tinggal 2021 .......


...Terima kasih untuk semua nikmat, baik kebahagiaan ataupun rasa sakit....


...Selamat datang Januari .......


...Selamat datang 2022 .......

__ADS_1


...Semoga menjadi tahun yang lebih baik lagi, juga selalu diberikan rezeki dan kesehatan....


...Happy new year semuanya....


__ADS_2