
Mulut Tika terus menguap, menunggu Maminya pulang. Berkali-kali dirinya menghubungi Aliya, tetapi tidak ada jawaban.
Sampai tengah malam wanita yang dia nantikan tidak pulang, perasaan Tika mulai khawatir.
Suara langkah kaki terdengar, Tika langsung berlari membuka pintu kamarnya, melihat Papanya yang baru pulang.
"Papi, di mana Mami? sudah tengah malam. Kenapa Mami belum pulang? apa Mami juga pergi seperti Mama?" Tika memiliki banyak pertanyaan membuat Altha terdiam.
Alt tidak memiliki jawaban dari pertanyaan putrinya, Al juga tidak tahu cara menjelaskannya.
Tika mengikuti Papanya ke kamar, menunggu di atas tempat tidur sampai Papanya selesai membersikan badan.
"Tidurlah Tika."
"Papi belum menjawab pertanyaan Tika?"
Senyuman Alt terlihat, hanya mengatakan jika Maminya sedang pergi bersama teman-temannya.
Tika tidak percaya, dia tahu Maminya tidak memiliki banyak teman. Pengasuh adiknya teman satu-satunya yang Maminya miliki.
Altha tidak bisa berdebat dengan putrinya Tika yang sangat pintar bicara, tatapannya tajam tidak menyukai kebohongan Papinya.
Langkah kaki Tika meninggalkan kamar, membanting pintu berjalan ke arah kamar adiknya Mora.
Ingin meminta penjelasan dari Helen soal keberadaan Maminya, Tika mendapatkan jawaban yang tidak dia harapkan.
Elen akan memberitahu Tika satu kali dua puluh empat jam, jika Al belum pulang, dia akan menjawabnya.
"Aunty janji, 1x24jam harus menghubungi Mami?"
"Iya Aunty janji, sekarang kamu tidur." Elen tersenyum, menatap wajah Tika yang menulis sesuatu sebelum dirinya tidur.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Mami?"
"Sesuatu, ini rahasia. Aunty, apa Mami pergi meninggalkan Tika seperti Mama?"
"Tidak Tika, jika Mami pergi pasti meninggalkan pesan agar kalian tidak menunggu. Bersabarlah, Mami pasti pulang." Mata Elen terpejam, dia juga tidak mengerti dengan pemikiran Aliya, bahkan apa yang Al lakukan Helen tidak pernah tahu.
Semalam Altha tidak bisa tidur, langsung melangkah ke ruangan kerjanya melakukan sesuatu.
Pintu terbuka Arjuna melangkah masuk menatap Papanya yang masih sibuk bekerja, Juna duduk menunjukkan luka ditubuhnya.
"Di mana Mami? katanya ingin menemani Juna ke rumah sakit untuk melihat hasil pemeriksaan." Tatapan Juna dingin melihat wajah Papanya yang terlihat gelisah.
"Papa sudah melihatnya, maafkan Papa yang tidak bisa melindungi kamu." Alt mengusap kepala putranya, tidak tega melihat lebam ditubuh anaknya.
Kepala Juna tertunduk tidak mengatakan apapun membiarkan Papanya berkerja, Mamanya tidak pernah memberikan kabar, Papanya sibuk bekerja tidak begitu perduli melihat dirinya terluka.
Hanya Maminya yang terlihat tidak terima, bahkan rela mengancam orang-orang di kantor agar berita perceraian Mama Papanya tidak terus menjadi bahan pembicaraan.
__ADS_1
Juna melangkah pergi, mengambil ponselnya mencoba menghubungi Maminya, tidak ada jawaban sama sekali.
Mata Juna melotot saat melihat berita tawuran pelajar, melihat beberapa korban babak belur, dan melihat Maminya juga berantakan.
"Mami berkelahi? berarti sekarang Mami ada di kantor polisi." Juna langsung meremas rambutnya, mengaggap Aliya bodoh.
***
Pagi-pagi Juna sudah pergi tanpa memberitahu siapapun, dia langsung menuju kantor polisi untuk melihat Maminya.
Papanya bahkan diam saja tidak melakukan apapun, sampai di kantor polisi juga kehadirannya tidak diterima.
"Arjuna." Langkah Dimas terhenti, dia juga ingin menjenguk Aliya.
"Uncle, Juna ingin bertemu wanita bodoh yang berkelahi dengan siswa. Tolong izinkan Juna bertemu uncle."
Dimas tersenyum menganggukkan kepalanya, mengandeng tangan Juna untuk menemui si pembuat masalah, tapi tidak pernah ingin mengaku salah.
"Mami bodoh, kenapa berkelahi di lingkungan sekolah?" teriakkan Juna terdengar, memukul jeruji besi. Memarahi Aliya yang bertindak tanpa berpikir.
Aliya serasa mimpi buruk mendengar cacian Juna, dia dibentak dan dimarahi oleh anak kecil, Dimas menahan tawa melihat kemarahan Juna.
"Kak tinggalkan aku dan Juna." Al ingin menonjok Juna yang mulutnya sangat pintar mencaci maki.
"Sekarang apa yang akan Mami lakukan? Papa juga tidak peduli dengan Juna yang terluka, lebih memilih bekerja. Sekarang apa ini?" Juna memukulkan tangannya sangat kuat.
Juna terdiam, duduk menatap Al melihat luka ditubuhnya. Bahkan ada bekas bakar di leher yang terlihat menghitam, kulit sampai mengelupas.
"Ini obat, lihat banyak luka."
"Juna, kamu lebai sekali. Ingat pesan Mami, selesaikan masalah kamu apapun yang terjadi, dan jangan cengeng." Al mengusap kepala Juna yang merasa bersalah.
Al tersenyum mendengar cerita Juna soal sikap dingin papanya, terlihat sangat tidak peduli padanya, sekalipun menunjukkan luka.
"Papa lelaki terbaik Juna, lelaki tidak pintar mengekpresikan perasaan. Mungkin sekarang papa sedang marah, tapi tidak ingin kamu tahu." Al meminta Juna pulang, sekolah dan menjaga adik-adiknya.
"Papa tidak bisa membebaskan mami?"
Aliya menggelengkan kepalanya, ada sesuatu yang harus Al lakukan sebelum keluar. Meminta Juna tidak menyalahkan Papanya.
Al sangat yakin, Altha jauh lebih tersakiti dibandingkan dirinya, melihat putranya disakiti oleh orang lain, apalagi sampai dikeroyok.
Perceraiannya membuat masa muda anaknya penuh rasa takut, Alt pasti menyalahkan dirinya yang tidak bisa melindungi anak-anak.
"Juna pergi dulu, cepat keluar jangan berkelahi."
"Tahu saja jika aku berniat berkelahi, sampai jumpa lagi. Cepat pergi." Al tersenyum melihat Juna melangkah mundur.
"Juna, jangan ikuti jejak Mami yang sedikit gila. Kamu harus hidup normal."
__ADS_1
"Bagaimana aku normal, jika Mami juga gila." Juna langsung berlari.
Aliya berteriak, mengumpat Juna yang secara terang-terangan mengatainya gila.
Selesai Juna berkunjung lanjut Anggun, polisi sampai binggung melihat pengunjung Aliya datang pagi sekali.
Al tersenyum melihat Anggun muncul, meminta untuk segera mengirim Al ke penjara sebagai narapidana.
"Apa lagi yang kamu rencana Aliya?"
"Aku ingin menemui seseorang, aku membutuhkan waktu dua hari, setelah itu bebaskan Al dengan bukti videonya, jika anak-anak menyerang saat aku ingin menghentikan." Senyuman Aliya terlihat.
Anggun tidak yakin, kasus Aliya masih panjang karena keluarga korban meminta pertanggungjawaban.
Mereka bahkan meminta biaya pengobatan, menutut Al untuk bersujud di kaki mereka, Anggun sudah berusaha untuk bicara baik, tapi mendapatkan penolakan.
"Meminta aku bersujud, dipastikan kaki patah." Al menatap sinis, meminta Anggun segera pergi, mengabaikan mereka semua.
Kepala Anggun menggeleng, sungguh tidak memahami Aliya sama sekali. Dia terlalu bebas melakukan apapun yang dia inginkan.
"Al, siapa yang ingin kamu temuin? kak Anggun tidak pernah bertanya apapun masa lalu kamu, tapi setidaknya kamu harus mengatakan sesuatu?" Anggun melangkah pergi, berharap Aliya mulai terbuka.
"Setelah aku bebas, Al akan cerita apa yang sedang terjadi, tapi kak Anggun harus siap memberikan pilihan. Kak pilihan ini tidak mudah." Al tersenyum meminta Anggun memahami dirinya.
Senyuman Anggun terlihat, menatap tajam Aliya yang hanya cengengesan tidak memiliki beban.
"Altha mencari tahu soal kasus lima belas tahun yang lalu, pembantaian keluarga kaya." Anggun langsung pergi, membiarkan Al yang mendadak tegang.
***
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
***
Author mempunyai novel baru yang berjudul KAWAN ATAU LAWAN alur cerita diberikan oleh editor langsung, jadi author tidak tahu alur cerita ini.
Editor memberikan kerangka cerita sedangkan author menjadikan cerita.
Sebenarnya aku tidak tertarik dengan anak sekolah, tapi mencoba suasana baru yang berisikan kisah anak remaja.
Kalian boleh mampir ke sini ya untuk melihat kisah anak remaja yang masih di bangku sekolah.
Pemeran perempuan wanita kuat, alih bela diri dan dikelilingi oleh tiga lelaki populer.
JANGAN TANYA ALUR YA, AUTHOR GK TAHU KARENA INI CERITA DARI EDITOR. AKU HANYA MENJADIKAN NOVEL DENGAN VERSI AKU.
SEMOGA KALIAN JUGA MENGIKUTINYA.
__ADS_1