ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SERANGAN DADAKAN


__ADS_3

Pesta pernikahan Citra dan Roby diadakan di hotel mewah, keduanya tidak mengudang banyak orang hanya orang terdekat.


Aliya datang bersama Tika dan Juna tanpa Altha yang secara dadakan ada pekerjaan, dia tidak bisa hadir menemani istri dan kedua anaknya.


Melihat Altha yang mendadak ada kerjaan penting Aliya bersyukur, karena setidaknya Alt tidak menggores kembali lukanya.


Senyuman Tika terlihat menatap adiknya Mora, Helen juga datang bersama mereka. Al akan membawa Mora bersamanya untuk sementara waktu.


Citra dan Altha sudah membicarakannya, Al berjalan ke tempat pengantin bersama Anggun. Tatapan mata Aliya tajam, Roby hanya tersenyum melihat Aliya dan Anggun datang berdua.


"Anggun, Aliya terima kasih sudah datang."


"Al datang bukan memberikan selamat, tapi memperingati pak Roby untuk menjaga istri dengan baik." Al tersenyum sinis.


"Itu juga doa baik Aliya, terima kasih sarannya."


"Pak Roby memang bodoh, tidak heran bisa hancur." Al langsung mendekati Citra.


Tatapan Citra tajam, membalas pelukan Al mendengarkan ucapan Aliya soal hadiah yang Altha kirimkan.


"Kenapa Altha tidak datang? dia pasti belum merelakan aku." Senyuman Citra terlihat.


"Jangan terlalu percaya diri, dari dulu sampai sekarang pekerjaan dia jauh lebih penting dari kamu. Ingat dia itu Altha bukan Roby." Aliya tertawa lucu melihat ekspresi Citra yang terlihat marah.


Al menjulurkan lidahnya, melangkah pergi untuk mengambilkan anak-anaknya makanan.


Tatapan Aliya tajam melihat seorang pelayan yang mendekati Atika, Elen masih sibuk menggendong Mora yang tidur.


"Juna, adik kamu." Al berteriak kuat, cepat Juna menarik adiknya.


Al langsung berlari mengejar pelayan yang mendekati Atika, mengejarnya sampai tiba di parkiran.


"Siapa kamu? kenapa kamu ingin mencelakai Tika?" Al menatap tajam.


"Menjauh ini bukan urusan kamu, mereka harus membayar hutang lama."


"Tidak akan aku biarkan mereka terluka." Al melihat penampilan yang ditutupi.


Suara tawa terdengar, Aliya tidak akan bisa menyelamatkan apa yang sudah ditargetkan, jika Al terus maju dan ikut campur dengan terpaksa Al yang pertama akan disingkirkan.


Al tidak perduli, dia tidak takut. Pertarungan dalam hidupnya sudah menjadi makanan sehari-hari.

__ADS_1


Karena Al tidak juga melangkah mundur, sebuah belati dikeluarkan. Serangan secara dadakan langsung mendekati Al.


Gerakan lawan sangat cepat, keduanya bertarung dalam keadaan imbang, beberapa orang yang lewat hanya menonton pertarungan dua orang.


Pukulan Al menghantam wajah, penutup yang digunakan terlepas. Al langsung melayangkan tendangan, tapi seseorang langsung memukul Aliya dari belakang.


Kedua orang berhasil melarikan diri tanpa Aliya bisa lihat wajahnya, teriak Al mengumpat terdengar.


"Sialan, aku pastikan kalian akan tertangkap." Al memukul dinding kuat, langsung kembali ke tempat pesta.


Tika sudah cemberut menunggu Al, dia tidak ingin makan jika Maminya belum muncul.


"Mami dari mana?" bibir monyong Tika sudah terlihat dari kejauhan.


"Kamu baik-baik saja Tika, ada luka tidak sayang?"


Kening Tika berkerut, maminya aneh sekali. Dirinya datang ke pesta untuk makan bukan terluka.


Al berusaha mengembalikan ekspresinya agar tidak membuat anak-anak khawatir, Elen juga binggung melihat Al tiba-tiba berlari kencang.


Selesai acara pesta, Citra menarik tangan Aliya yang pamitan ingin pulang. Menunjukkan isi ponselnya soal pembagian harta yang Altha berikan.


Aliya tidak tahu menahu, dan juga tidak ingin tahu. Al tidak ingin memikirkan soal harta, keselamatan putrinya jauh lebih penting.


"Jangan mencari masalah, aku lebih kaya dari Altha. Kamu tidak lupa Citra jika aku putri satu-satunya yang tersisa dari pembantaian belasan tahun yang lalu. Kamu bisa bayangkan berapa banyak kekayaan aku." Al menepis tangan Citra langsung ingin melangkah pergi.


Tubuh Aliya berbalik, menatap Citra yang juga menatapnya tidak suka.


"Kamu memiliki musuh yang menyimpan dendam?" Al menghela nafasnya, orang seperti Citra tidak mungkin menyadari kesalahannya.


"Musuh, kamu yang memiliki banyak musuh, lebih buruknya lagi kamu musuh terbesar aku." Citra langsung melewati Aliya.


Al hanya tersenyum sinis, siapapun yang berbicara dengan Citra yang sombong pasti akan tersinggung.


Aliya membawa Tika, Mora dan Juna ke parkiran untuk pulang. Tatapan Aliya tidak tenang melihat sekitar.


Suara Citra berteriak terdengar, dosen yang tidak tahu malu. Langsung mengambil Mora dari Helen, dan tidak mengizinkan Mora pergi.


Roby sudah berusaha menasehati Citra, tapi kebiasaan selalu unggul membuat ego Citra semakin besar.


"Perempuan sinting." Al menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Elen membawa Juna dan Tika masuk ke dalam mobil, Al tidak mempermasalahkan Citra melarang Mora ikut masalahnya tidak harus teriak-teriak.


Citra seorang dosen yang memiliki status, berteriak di depan umum hanya merusak nama baiknya. Al juga tidak suka bertengkar di depan anak-anak.


"Bukan aku yang buruk di mata mereka, tapi kamu. Pak Roby hubungin Altha soal Mora yang tidak ikut dengan kami. Istri anda memalukan." Al melangkah mundur.


"Perempuan sialan, kamu bangga menjadi perebut suami orang." Citra menatap tajam membuat Mora menangis.


"Citra jaga ucapan kamu." Roby menahan istrinya.


"Bukan aku yang merebut, tapi kamu yang tidak bisa menjaga. Status istri, tapi berhubungan dengan lelaki lain. Siapa yang sampah di sini?" Al tersenyum sinis menatap Roby.


"Aliya jaga ucapan kamu juga." Roby meminta maaf atas nama Citra.


Aliya hanya tertawa, jika dirinya sejak awal sudah menunjukkan betapa buruknya diri sendiri, tidak munafik yang berpura-pura seperti wanita baik.


Al hanya minta Citra jaga saja suami dan anaknya, jangan sampai Aliya gelap mata dan menghacurkan mereka.


Hidup tanpa keluarga, juga tanpa kasih sayang tidak ada yang harus Al lindungi juga jaga, jadi lebih baik Citra koreksi diri sebelum menilai orang.


Kening Aliya berkerut langsung masuk ke dalam mobil, menghela nafasnya melihat Tika dan Juna yang masih menatap Citra.


"Maafkan Mama ya mami, Juna tahu ini tidak pantas." Kepala Juna tertunduk merasa bersalah.


Senyuman Aliya terlihat, apa yang Al ucapkan tidak sepenuhnya akan dia lakukan. Hanya ancaman saja untuk bertahan.


"Maafkan Mami ya Juna?" Al mengusap kepala putranya.


Tika tersenyum memeluk Elen, Mama dan Maminya memang berbeda.


Citra terlalu iri kepada Aliya yang mendapatkan Altha, sedangkan dia hanya mendapatkan sebagian harta.


Melihat Altha yang membagi harta, sebagai tanda jika tidak ada peluang untuk mereka kembali seperti dulu.


Melihat Alt tidak datang membuat Citra sakit hati, Alt benar-benar menganggap pekerjaannya jauh lebih penting.


"Aku tahu kamu masih mencintai Altha, tapi jaga ucapan kepada pengasuh anak-anak." Roby menghela nafasnya.


"Pengasuh, kamu tidak tahu jika Aliya istri muda Altha. Dia istri bukan pengasuh." Citra menghentakkan kakinya kesal.


***

__ADS_1


DONE tiga bab


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2