ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
REPOT SENDIRI


__ADS_3

Berhari-hari Juna dengan sabar membantu istrinya memberikan makan kucing, memandikan, bahkan membuat tempat khusus untuk kucing.


Susu kucing bersusun, Snack juga makanan kaleng. Tika yang melihat stok kucing lebih banyak daripada makanan manusia hanya bisa geleng-geleng.


Tangisan Shin terdengar, langsung duduk di lantai melihat Tika memasukkan makanan kucingnya ke tempat sampah.


Senyuman Tika terlihat mengambil kembali, Shin mengetahui kejahatannya yang merasa risih karena lebih mengutamakan makanan kucing.


"Shin, kamu tidak berniat untuk masak?"


"Tika lapar?"


Kepala Tika mengangguk, tiba-tiba saja dia ingin mencicipi makanan buatan Shin. Sudah lama mereka tidak makan-makanan rumah.


"Tika yang lapar kenapa Shin yang harus masak? buat sendiri." Shin mengambil makanan kaleng, meninggalkan Tika yang sudah menatap sinis.


Suara Rindi datang terdengar, meletakkan buah-buahan yang diinginkan oleh Tika. Rindi bahkan membawa lebih untuk mereka membuat es buah.


"Banyak sekali?"


"Kamu lupa jika Shin rakus." Rindi mengeluarkan buah-buahan.


Teriakan Tika terdengar memanggil Shin untuk membantu mereka membuah es buah, siapa yang tidak membantu maka tidak diizinkan ikut menikmati.


Ria juga datang membawa barang lainnya yang diinginkan, Isel juga datang dengan penuh semangat ingin ikut membantu.


"Kak, mangga di belakang sudah masak?"


"Hampir, kita ambil sekalian. Enak juga makan mangga muda." Tika membuka pintu dapur, berjalan diikuti yang lainnya.


Ria langsung naik, melarang Isel ikut-ikutan tidak ingin kejadian lama terulang kembali. Atika juga ikutan naik, tidak ketinggalan Shin yang langsung bergelantungan.


"Aduh, banyak semut. Tika tolong." Tangisan Shin terdengar mengaruk tangannya.


"Jangan goyang-goyang nanti jatuh." Tangan Tika membuang semut, menahan tubuh Shin agar tetap aman.


Kening Ria sudah banyak kerutan, melihat Shin yang sangat cengeng. Di mana wanita yang biasanya jungkir balik, lompat seperti monyet.


Di bawah pohon Rindi meringis kesakitan, memegang perutnya yang merasa sakit. Isel yang melihatnya langsung tarik napas, buang napas membantu melahirkan.


"Menyingkir kalian berdua, kita harus membawa Kak Rindi ke rumah sakit. Baby Boy ingin lahir." Ria langsung lompat dari atas pohon meninggalkan Shin dan Tika yang masih terdiam.


Saat kesadaran kembali, barulah Tika turun. Membantu Shin yang hampir menangis lagi. Isel sudah lelah tarik napas buang napas, dia hampir kehabisan napas.


"Kita ke rumah sakit sekarang, langsung hubungi keluarga yang di rumah." Tika bergegas mengambil kunci mobil.


"Tunggu Shin, ambil tas dulu. High heels Shin di mana Tika? baju warna pink mana, tas yang baru beli juga mana? Shin belum make up, tunggu dulu." Suara Shin teriak-teriak terdengar membuat Rindi yang sakit perut langsung sembuh.

__ADS_1


"Aunty gagal lahiran?" Isel langsung duduk, merasa sia-sia membantu lahiran.


Suara high heels turun terdengar, Shin menunjuk banyak baju yang harus dia kenakan ke rumah sakit. Tika yang melihatnya langsung memukul punggung Shin kuat, masuk lagi ke kamarnya melempar koper meminta Shin sekalian angkat kaki dari rumah.


"Tika jahat, tidak sayang Shin lagi." Suara tangisannya kembali terdengar.


"Terserah! pusing kepala aku melihat kamu. Mau ikut atau tinggal?"


"Shin belum makeup, jelek." Air mata bercucuran membuat Rindi semakin pusing.


"Pakai lipstik saja, cepat masuk mobil." Tika mengandeng tangan Shin untuk keluar.


"Tunggu dulu,"


"Shin aku bisa melahirkan di sini? banyak sekali yang harus kita tunggu." Rindi mengusap perutnya yang semakin sakit bahkan sudah ada air kental yang keluar.


Tidak ada yang memperdulikan ucapan Shin yang ingin memberi makan kucing, merapikan rambutnya, belum lagi mencari tas yang tidak tahu keberadaannya.


Akhirnya Tika meninggalkan Shin yang sudah menangis histeris, memintanya pergi bersama Mami dan yang lainnya.


Rindi bisa melahirkan ulah Shin yang kebanyakan menunggu, dia repot sendiri sedangkan Rindi sudah hampir pecah ketuban.


Di rumah sakit Diana sudah menunggu bersama Salsa yang baru kembali dari luar negeri. Bahkan anak dan suaminya belum juga kembali.


"Aku tidak tahu banyak soal Rindi, kenapa dia bisa menjadi bagian Leondra?"


Kepala Salsa mengangguk, kembalinya Salsa langsung disambut oleh bayi keluarga Leondra. Sejak kelahiran Ria dan Juan, lanjut Dean, Salsa menjadi Dokter kepercayaan.


Kelahiran tiga bayi kembar masih menegangkan bagi Salsa, jika tidak ada Juna, mungkin Salsa tidak mampu berbuat banyak.


"Itu Juna,"


"Dia tampan sekali, tidak menyangka sudah menjadi suami." Senyuman Salsa lebar, mengusap kepala Juna yang menyalami tangannya.


Mobil tiba, Rindi masih berjalan santai. Menatap suaminya yang berlari langsung memeluknya lembut, mengusap perut yang memang sudah dibawah.


"Hendrik, itu dia yang ...."


"Iya itu aku, bantu istriku Salsa." Hendrik merangkul istrinya yang tersenyum melihat Dokter Salsa.


"Dia Dokter kandungannya? cantik sekali." Senyuman Rindi terlihat berjalan ke dalam ruangan pemeriksaan.


Juna mendekati Tika, menanyakan keberadaan istrinya yang tidak terbiasa jauh dari Tika.


Kedua pundak Tika terangkat, dia pusing melihat Shin yang heboh sendiri. Kemungkinan dia sudah membawa satu lemari ke rumah sakit.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu,"

__ADS_1


"Shin memang aneh Kak, untung saja dia tidak mengangkat rumah untuk dipindahkan ke rumah sakit." Kepala Tika geleng-geleng karena merasa pusing memikirkan tingkah laku iparnya.


Beberapa orang sudah menunggu di ruangan persalinan, Tika menolak ke sumber suara yang teriak-teriak mengomeli Tika seperti anak-anak.


"Siapa dia?" Salsa yang ingin masuk menundanya melihat seorang wanita cantik dengan penampilan feminim.


Kepala Shin menunduk, mengingatkan Salsa kepada sosok Shin yang memang sangat cantik, dan mengemaskan.


"Penampilan kamu sedikit beda Shin, sepertinya akan ada tangisan lagi setelah ini." Tawa Salsa terdengar langsung masuk ke dalam ruangan persalinan.


Juna merangkul istrinya agar tidak marah-marah kepada Tika, mereka harus berdoa agar ibu dan bayi lahir dengan selamat.


"Shin, ingin menjadi Ama." Kepala Shin tertunduk lesu.


Tangan Juna mengusap punggung istrinya untuk sabar, dan tetap berusaha. Mereka memiliki banyak waktu untuk memiliki anak seperti Rindi.


"Shin, di mana Kak Rindi?"


"Di dalam perutnya Shin. Dasar bego." Tatapan sinis Shin terlihat menunjuk ke arah kamar rawat.


Tangan Tika menutup mulutnya, menahan tawa melihat respon Shin yang terkejut karena kedatangan Reza.


Juna juga sama kagetnya, langsung menatap Reza yang masih menggunakan baju koki menatap ruangan kakaknya.


"Santai saja Za, Dokter Salsa kepercayaan keluarga kami. Dia Dokter terbaik juga berpengalaman." Juna tersenyum tulus.


Suara Shin mual terdengar, dia ingin muntah melihat wajah Reza yang mengejutkannya.


"Ay Jun, Shin tidak suka melihat dia." Tangan Shin menunjuk ke arah Reza yang membuatnya kesal.


***



Ada yang tanya itu. Aku bukan anak kembar, tidak punya juga anak kembar(belum menikah). Tetapi aku menyukai anak kecil, apalagi kembar perempuan.


Aku menyukai banyak anak kecil, tapi sebagian orang merasa repot. Kemungkinan sukanya karena belum merasakan menjadi ibu.


Keponakan aku juga manggil aku Mama, dan mereka tahu kalau aku sibuk kerja. Setiap aku pulang langsung disambut, dia pikir aku kerja untuk beliin dia susu, padahal orangtuanya yang beli🤣 dan aku menyukai bayi kembar apalagi perempuan. Bajunya juga lucu-lucu.


Eh jadinya curhat, gpp sekali-kali sebelum kita pisah dengan novel ini.


***



novel ini sudah tayang, jangan lupa mampir.

__ADS_1


bantu Alihkan vote ke sana💛


__ADS_2