ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERSIKAP ADIL


__ADS_3

Sudah siang tidak ada satupun yang bangun kecuali Arjuna, tatapan Juna fokus melihat mami dan Papinya yang tidur berpelukan, sedangkan Tika memeluk Maminya.


"Papi bangun, Juna keluar duluan ya." Pintu kamar terbuka, Juna langsung melangkah keluar.


Kamar sebelah masih tertutup rapat, Juna melihat keributan di depan pintu langsung membukanya melihat Helen dan Yandi yang bertengkar.


"Ya Allah lamanya Jun membuka pintu, kalian liburan atau lomba tidur." Helen menjatuhkan koper tepat di kaki Yandi yang membuatnya meringis.


Arjuna tersenyum langsung berjalan ke arah pantai, diikuti oleh Yandi dan Helen yang masih terus berdebat tidak berhenti.


"Uncel Aunty jangan sering bertengkar, kata Mami nantinya jodoh." Juna menatap tajam dua orang di belakangnya.


Helen menjambak rambut Yandi langsung berlari kencang, Yandi langsung mengejar Helen yang sudah melewati Juna.


Arjuna menepuk jidatnya, membiarkan dua orang dewasa yang bermain kejar-kejaran.


Juna duduk di pinggir pantai, melihat keindahan pagi yang tenang sambil melihat dua manusia yang mirip tikus sama kucing.


Senyuman manis terukir diwajahnya, angin pagi yang menerpa wajah membuat perasaan sangat tenang.


"Kenapa kamu tersenyum Jun?" Yandi duduk di samping Juna setelah lelah main kejar-kejaran.


"Juna bahagia Uncle, selama ini Papi selalu sibuk bekerja, tanpa tahu apa yang sedang dikejar. Akhirnya Juna sadar sebenarnya Papi tidak nyaman di dalam rumah." Juna menghela nafas panjang, menghirup udara segar.


"Kamu sudah benar-benar ikhlas Jun, laki-laki hebat dia yang berbesar hati." Yandi merangkul Juna, bangga melihat si kecil semakin dewasa.


Yandi juga menceritakan bangganya dia bekerja dengan Altha, selain tegas Alt juga seseorang yang sangat menghargai pendapat tim.


Perdebatan apapun yang terjadi di tim, Alt hanya diam mendengarkan. Selalu memberikan suara terakhir, dan keputusan yang diambil selalu yang terbaik.


Alt selalu ada di depan, menjaga keamanan tim moto utama dalam pengejaran. Alt tidak mengizinkan yang namanya berkorban, karena jika satu tim terluka maka itulah kegagalan.


"Uncel belajar banyak hal dari Papi kamu, dia sangat pekerjaan keras dan menyayangi kalian. Masalah pribadi tidak pernah dibawa ke perkejaan." Yandi sangat bangga dengan pekerjaannya.


"Tuan Altha memang yang terbaik." Elen duduk di samping Juna.


"Jangan memuji suami orang, dosa." Tatapan Yandi tajam mendorong Helen yang memukul punggungnya.


Juna menghentikan kedua, meminta Helen membantunya menyiapkan sarapan meksipun waktu sarapan sudah berlalu.


Elen langsung berjalan merangkul Juna, dia sudah menyiapkan bahan-bahan untuk masak sesuai request Aliya yang porsi makannya bertambah.

__ADS_1


Di dapur Juna tertawa pelan, membantu Helen menyiapkan semua bahan dibantu oleh Yandi yang sesekali mengganggu.


"Kita bertiga seperti keluarga bahagia?" suara tawa Yandi terdengar, geli dengan ucapannya.


"Maaf, tidak tertarik punya suami seperti kamu." Tatapan Elen sinis.


"Siapa juga yang ingin menjadikan kamu istri?" Yandi terus menyahut ucapan Helen.


Juna garuk-garuk kepala, sampai masakan selesai adu mulut belum selesai.


"Selamat pagi pak, lapor saya sedang cuti bekerja." Yandi mengangkat tangannya memberi hormat kepada Dimas yang baru bangun.


Dimas mengabaikan saja, langsung mengambil minum kembali lagi ke kamarnya.


Juna dan Helen langsung tertawa, Yandi dianggap tidak dilihat sampai tidak direspon sama sekali.


Al langsung membuka matanya, melepaskan pelukan Tika dan Altha berlari ke kamar mandi dan langsung muntah-muntah.


Mendengar Al muntah, Altha langsung bangun dan berlari ke kamar mandi. Mengusap punggung Al lembut.


Selesai muntah, tubuh Aliya langsung lemas. Altha menggendong dan meminta Aliya tidur karena sedang mengalami muntah dan pusing.


Senyuman Aliya terlihat, langsung meminum susunya sampai hampir habis. Tika yang melihat langsung meminta susu, dan menghabiskan susu Maminya.


Kesadaran Tika belum sepenuhnya, dia menjilati bibirnya yang merasakan aneh dari susu yang dia minum.


"Mi, susunya tidak enak. Rasanya seperti susu basi." Tika memejamkan matanya kembali lanjut tidur.


"Terima kasih sayang, rasa susunya enak sekali." Al tersenyum melihat Juna yang tersenyum lega melihat Maminya suka susu yang dia buatkan.


"Aunty Helen sudah masak, Juna membantu sedikit. Mami ingin makan di sini atau di ruang makan?" Juna mengambil gelas kosong.


Al merasa terharu langsung meneteskan air matanya, dia ingin sekali makan tetapi perutnya terus mual. Al meminta waktu sedikit baru mereka makan bersama.


"Terima kasih kakak Juna." Altha mengusap kepala putranya yang sangat lembut dan penyayang.


Juna menganggukkan kepalanya, meminta izin Al untuk menyentuh adiknya yang masih ada di dalam perut. Al menggenggam tangan Juna, mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit kecil.


"Sehat terus ya dek, jangan menyusahkan Mami." Juna tersenyum, memeluk Aliya sambil menangis.


"Kenapa menangis? kakak Juna sayang." Aliya mengusap punggung putranya.

__ADS_1


Altha memeluk Aliya dan Arjuna, tidak akan ada yang berubah. Kasih sayang Al dan Altha tidak akan berkurang sedikitpun, jika ada ketegasan hanya untuk membentuk karakter.


Arjuna, Atika dan calon adik mereka anak kandung Altha, tidak ada yang diutamakan. Meskipun Juna sudah besar, Alt akan tetap menyayangi Juna seperti anak kecil.


"Mami, Juna sayang Mami."


"Apalagi Mami nak, kamu putra satu-satunya yang Mami miliki." Al tersenyum mencium Arjuna.


Juna dan Altha langsung terkejut, Juna menginginkan adik laki-laki agar bertambah lagi penjaga Tika dan Maminya.


Al memperbaiki ucapannya, Juna putra utama yang selalu ada di hati Al meskipun nanti memiliki adik laki-laki.


Aliya binggung, dirinya dan Tika menginginkan perempuan, sedangkan Altha dan Arjuna menginginkan laki-laki. Apapun jenis kelaminnya, akan ada yang kecewa dengan hasil akhirnya.


"Juna mandi dulu." Arjuna mengambil bajunya langsung melangkah ke kamar mandi.


"Ayang, bagaimana ini? satu ingin perempuan satunya ingin laki-laki." Al binggung ingin membela yang mana dari kedua anaknya.


Altha mengusap perut Al, membuat kesepakatan jika mereka akan melakukan USG hanya untuk melihat perkembangan bayi, tapi tidak ingin mengetahui jenis kelamin sampai lahir.


Aliya setuju dengan solusi suaminya, apapun jenis kelamin bayi akan menjadi kejutan untuk mereka.


"Sehat terus nak, Papi menanti kehadiran kamu." Alt mencium perut Aliya sambil mengusap-usap bekali-kali.


Tika langsung duduk di pinggir ranjang, berjalan sempoyongan ke luar kamar memanggil Diana yang masih tidur mengorok di kamarnya.


"Ada apa Tika?" Alt menatap putrinya yang memanggil kak Di.


"Kita ingin melihat matahari terbit Pi." Tika menguap sangat besar.


Altha berjalan ke arah jendela, membukanya menunjukkan kepada tika jika mereka bangun kesiangan.


"Matahari sudah tinggi Tik?" Alt tersenyum melihat wajah kecewa putrinya.


"Ini semua salah kak Juna!" Tika menatap Juna penuh amarah.


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2