ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SEDARAH


__ADS_3

Pelan-pelan Genta membuka berkas yang Juna berikan, matanya masih melihat ke arah lain karena masih terlalu takut kecewa. Juna melipat tangannya di dada, mengerti perasaan Genta yang penuh kecemasan.


"Lihat saja Kak, Juna melakukan ini secara rahasia dan hanya kita berdua yang tahu." Juna menepuk lengan Genta yang melihat ke arah Juna.


Genta langsung membaca hasil tes DNA dirinya dan Gemal kemungkinan keluarga mereka ada hubungan, dan hasilnya negatif. Ucapan Kakek Ken benar jika Genta orang luar dari Leondra.


Kakek Ken menyayangi Genta selayaknya cucu karena sejak kecil Genta hanya mengenal dirinya bahkan tidak bisa mengingat wajah orangtuanya.


Setahu Genta, kedua orangtuanya meninggal secara bersamaan dalam kecelakaan tunggal. Genta satu-satunya yang selamat.


Hubungan Kakek Ken dan Ayah Genta sangat baik karena itu setelah kepergian orangtuanya Genta diangkat menjadi Cucu Leondra.


Mata Genta terpejam, tangannya membalik hasil tes antara dirinya dan Shin yang membuat jantung Genta berdegup kencang. Air matanya meneteskan keluar, Genta sendiri tidak tahu kapan keluarnya, akhirnya menetes tanpa bisa dirinya kendalikan.


Juna langsung melangkah pergi, mengunci pintu agar tidak ada yang bisa menganggu Genta yang masih bersedih mungkin juga bahagia dan terharu.


Shin dan Genta dua bersaudara yang memiliki ikatan darah secara biologis. Tes DNA keduanya dinyatakan sama, dan 99% kandung.


Air mata Genta banjir membasahi pipinya, hati Genta hancur memikirkan nasib adiknya yang selama dua puluh tahun hidup bersama penjahat.


"Kenapa aku tidak tahu selama ini jika punya adik? Kenapa kamu melupakan ingatan yang begitu besar Genta? kenapa hal sepenting ini yang terlupakan?" tangan Genta memukul kepalanya, meremas dadanya yang merasakan sesak juga rasa bersalah yang sangat besar.


Mengingat kondisi Shin yang sampai mengalami kebutaan semakin membuat Genta hancur, tidak tahu sebesar apa penderitaan adiknya.


Laporan kondisi Shin yang pernah mengalami depresi, bahkan berada di rumah sakit jiwa juga Juna data secara detail. Sejak kecil Shin sudah ahli bela diri, dia diajarkan membunuh apapun yang mengusiknya.


Terlalu banyak melihat pembunuhan menjadinya gadis kecil yang selalu tersenyum manis, tetapi menyimpan kebencian yang besar.


"Maafkan Kakak ya Dek, kamu banyak tersakiti." Genta mengusap foto Shin saat kecil yang membunuh hewan di rumah sakit.


Genta berusaha menenangkan dirinya, menyimpan baik-baik identitas Shin yang sebenarnya. Genta akan mencari pelaku yang membuat adiknya menderita.

__ADS_1


Setelah cukup lama meninggalkan Genta, barulah Juna melangkah masuk mengusap punggung Genta. Senyuman Genta terlihat, menganggukkan kepalanya memberikan isyarat jika dirinya baik-baik saja.


"Dia wanita kuat Kak, sejak enam tahun yang lalu Shin tidak pernah mengunjungi rumah sakit lagi. Terakhir saat bertengkar dengan Tika secara habis-habisan." Juna memastikan jika Shin sudah berhasil melewati masa sulitnya, mengendalikan dirinya sendiri.


"Kenapa mereka tega Jun membuat adikku seperti ini?" Genta mengusap wajahnya.


"Hanya Allah dan mereka yang tahu kak, jangan pikirkan orang yang menyakitinya. Sejahat apapun mereka mengajari Shin setidaknya hati nurani Shin jauh lebih peka dalam kebaikan. Ambil sisi baiknya." Juna duduk di kursinya, menyerahkan beberapa prestasi Shin selama enam tahun.


Dia wanita pintar dalam medis, olahraga, pelajari apapun dia pintar, masalahnya hanya satu. Dia pemalas dan suka membuat masalah.


Shin hanya fokus dalam kuliner, memasak, dan bersenang-senang. Tiga tahun tinggal di luar negeri Shin beberapa kali mengunjungi rumah sakit jiwa untuk membantu memasak bukan berobat.


"Rahasiakan ini, Juna pertama kalinya nekat mencari identitas seorang wanita." Kening Juna berkerut kesal.


"Adikku cantik Jun, wajar saja memiliki banyak penggemar." Genta tertawa kecil, mengucapkan banyak terima kasih.


Juna menganggukkan kepalanya, meminta Genta menganggap dirinya tidak tahu apapun. Menjadi seseorang yang bodoh tanpa tahu apapun lebih baik daripada terlihat pintar, dan paling tahu.


"Juna, kamu memang selalu merahasiakan segalanya, katakan apapun masalah kamu kepada Kak Genta. Dan aku orang pertama yang ada di sisi kamu." Tangan Genta terulur, Juna langsung menyambutnya berjabatan tangan.


Ekspresi Genta langsung berubah kesal, Juna memang dingin dan pemarah, tetapi sikap jahilnya tetap ada. Sama persis dengan adiknya yang tidak bisa diam.


Juna hanya tertawa kecil, Genta belum merasakan menjadi dirinya saat Tika dan Ria masih selalu bertengkar. Setiap hari jambak-menjambak.


Jika Tika diam, Ria yang jahil. Begitulah sebaliknya yang selalu membuatnya sibuk menghentikan dua Putri mahkota keluarganya.


"Saat Mami hamil, aku sangat khawatir mendapatkan adik perempuan. Bukan tidak bersyukur, melihat satu Tika saja hampir gila." Juna memukul Genta yang tertawa karena doa Juna di kabulkan dan double. Satu adik laki-laki sesuai harapannya, dan satu adik perempuan yang ditakutinya namun tidak bisa dihindari.


"Memiliki banyak saudara enak Jun, aku harus belajar banyak dari kamu yang berpengalaman dalam mengendalikan wanita." Genta melangkah mundur, menghindari pukulan Juna.


Antara bahagia, sedih dan luka Genta masih bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik yang sangat peduli dengan dirinya dan juga adiknya.

__ADS_1


"Terima kasih Juna, aku tidak akan melupakan kebaikan kamu." Genta meminta Juna yang menyimpan berkas soal Shin.


"Sama-sama Kak, tolong juga singkirkan para pengemar Juna." Tangan Juna mempersilahkan Genta untuk keluar ruangannya.


Di depan pintu Genta bertemu dengan Li, senyuman Dokter Li terlihat mengikuti Genta yang berjalan pergi.


"Kak Genta membatalkan jadwal kembali?"


"Iya, kota ini menjadi tujuan terakhir aku untuk menemukan kebenaran." Genta menghentikan langkahnya saat melihat Tika dan Shin yang berjalan berdua.


Dokter Li tersenyum melihat Shin dan Tika, langsung pamit kepada Genta untuk beranjak pergi ke ruangan pasiennya.


Kedua wanita yang dari bertengkar sudah akur kembali dengan saling rangkul dan tertawa, Genta mengusap dada karena tidak ada yang menyadari jika Li baru saja melangkah pergi.


Arjuna juga berdiri di belakang Genta, menatap kesal dua wanita yang sudah cekikikan. Kaki Tika sakit, Shin membantunya berjalan agar bisa berkeliling.


"Kak Juna, ayo kita pulang." Tika tersenyum melihat Kakaknya."


"Kenapa mata Kak Genta merah?" Shin mendekati Genta.


Tanpa mengatakan apapun, Genta langsung memeluk erat tidak peduli jika melakukannya di depan umum. Shin hanya bisa terdiam melihat perubahan emosi Genta.


Dari kejauhan Dokter Li melihat Genta dan Shin berpelukan erat, bahkan Shin tidak melakukan penolak sama sekali. Tangan Shin mengusap punggung mencoba menenangkan.


Atika merasa heran, memukul punggung Genta untuk melepaskan sahabatnya yang mungkin saja tidak bisa bernapas karena dipeluk terlalu erat.


"Lepaskan Shin, kamu bisa dituntut."


"Maafkan Kak Genta," ucap Genta tulus kepada Shin.


"Dasar laki-laki tua tidak punya malu, lepaskan Shin." Tika mengigit lengan Genta agar menjauh.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2