ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KETAHUAN


__ADS_3

Sudah larut malam Gion dan Iyan sudah lama pulang, tapi Genta belum juga kembali. Dihubungi juga tidak mendapatkan jawaban, emosi Tika sudah ada di ubun-ubun.


"Cari mati kamu Genta, jika tidak banyak orang dan merahasiakan hubungan ini sudah aku patahkan tulang kalian dari pagi tadi." Tendangan Tika kuat menghantam dinding.


Suara mobil memasukkan parkiran terdengar, Tika melihat dari lantai atas penuh kemarahan. Genta keluar dari mobil sambil mengecek ponselnya.


Pesan masuk ke ponsel Tika, permintaan maaf dari Genta karena dirinya tidak memegang ponsel, seharian ada perkejaan.


"Awas kamu Genta, tidak tahu kalian berurusan dengan siapa." Tika melangkah keluar kamar.


Suara Genta menyapa keluarga yang masih berkumpul sambil mengobrol terdengar, senyuman Genta terlihat membuat Aliya tertawa.


"Dari pacaran ya Gen? kamu tadi bertemu dengan pacar kamu di perpustakaan." Di menggoda Genta yang sebentar lagi menikah juga.


"Apa?" Genta kaget, dia tidak bertemu siapapun.


"Gion memotret kamu bersama wanita, dia lumayan cantik." Al menunjukkan foto.


Kepala Genta geleng-geleng, melihat Tika yang berjalan ke arah mereka. Di depan Genta sikap Tika sangat dingin seakan tidak menganggapnya ada.


"Mau ke mana kamu Tika?" Al melihat penampilan Tika yang terlihat cantik.


"Keluar sebentar bersama Andre,"


Aliya menganggukkan kepalanya, Aliya mengenal Andre yang dulunya teman kuliah Tika yang selalu membantu Putrinya.


"Jangan lama Tika, sudah malam."


"Iya Papi, Tika hanya di restoran depan." Tika mencium tangan semua orang melangkah pergi.


Genta yang mendengar mengerutkan keningnya, meminta izin untuk menemani Tika namun Aliya melarangnya. Genta terlihat lelah dan lebih baik berisitirahat, Al akan mengawasi Tika.


Di dalam kamarnya Genta menghubungi Tika, namun diabaikan. Berkali-kali juga di matikan, bantal guling sudah terlempar semua ke lantai. Genta berguling-guling di ranjang, tidak tahan lagi diabaikan.

__ADS_1


Pintu terbuka kuat, Isel menangis masuk ke kamar Genta, memunguti bantal dan guling membawanya naik ke atas ranjang.


"Uncle, Isel menumpang bobok boleh? usap punggung Isel." Tangisan Isel masih terdengar langsung berbaring.


"Mama dan Papa di mana?"


"Sudah tidak sayang Isel lagi, daripada Isel belum minum susu." Mata Isel terpejam, menarik tangan Genta untuk mengusap punggungnya.


Senyuman Genta terlihat, menuruti keinginan si kecil yang masih menangis pelan karena apa yang diinginkannya tidak dituruti oleh kedua orangtuanya.


"Sel, kamu sekarang sudah besar tidak boleh manja lagi. Mengabaikan kamu bukan berarti tidak sayang, Mama dan Papa hanya ingin mendewasakan Isel seperti Kak Gion dan Ian." Genta mengusap kepala si kecil.


"Isel baru enam tahun, belum besar Uncle. Tunggu besar seperti Kak Tika, atau Kak Shin." Isel memeluk Genta, meminta mengusap kembali punggungnya.


"Aunty Shin, bukan Kak Shin." Tangan Genta mengusap punggung Isel satu tangan lainnya mengirim pesan kepada Diana jika Putrinya bersembunyi di kamarnya.


Isel mengoceh panjang lebar, Genta senang mendengarnya membuatnya ingin segera menikah dan memiliki seorang Putri yang cerewet seperti Isel.


Banyak orang mengatakan cinta pertama seorang Putri Ayahnya, Genta juga ingin menjadi cinta pertama Putrinya.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, Atika pulang sambil tersenyum lebar memainkan ponselnya. Genta menarik tangan Tika masuk ke kamarnya.


"Sakit Om, lepaskan lengan Tika."


"Dari mana? apa gunanya ponsel ini jika dihubungi tidak merespon? Genta merampas ponsel Tika melemparkan ke atas tempat tidur.


"Apa hak kamu mengatur aku?"


"Tika, pertanyaan kamu seakan-akan kita tidak punya hubungan!" nada Genta naik karena menahan emosi.


Atika tersenyum sinis, mempertanyakan wanita yang bersama Genta di perpustakaan. Seharian Tika menghubungi tidak ada jawaban, sampai malam baru memberikan kabar jika sibuk bekerja, tidak sempat hanya sekedar memberi kabar.


"Kamu menganggap hubungan kita apa? kamu bisa bersama wanita lain, aku jauh lebih bisa. Mau berapa lelaki aku bawa kehadapan kamu?" Tika menatap sinis menunggu jawaban dari pria dihadapannya.

__ADS_1


"Aku tidak mengenalnya? dia mengikuti aku, Ian dan Gion, di foto itu aku hanya menegurnya bukan berarti kami mengobrol. Kamu yang terang-terangan bertemu Andre." Genta mengusap wajahnya, tarik napas dan buang napas.


Kepalanya terasa panas, Tika tidak meminta penjelasan darinya langsung melakukan pembalasan dengan pergi bersama pria lain, bahkan menyindir di depan Genta langsung.


"Kamu tidak bisa menjaga perasaan aku,"


"Apa kamu bisa? aku tidak akan melakukan ini jika kamu tidak memulainya. Akan aku lakukan hal apapun sesuai perilaku kamu. Jika kamu mampu menjaga perasaan ku, maka akan aku jaga perasaan kamu." Tika menepis tangan Genta jika satu hal yang harus Genta pahami, Tika tidak suka berbagi.


Jika hatinya sakit, maka hati orang tersebut juga harus sakit bahkan berkali-kali lipat. Menunggu penjelasan, terlalu lama.


"Oke aku yang salah, aku minta maaf jika belum terbiasa untuk selalu memberikan kabar, tapi wanita itu ...."


"Jangan sebut! aku tidak suka mendengarnya. Lain kali berhati-hatilah, mungkin wanita itu bisa celaka, dan satu hal lagi aku tidak bisa memaafkan. Hati aku masih sakit." Tika melihat Isel di atas tempat tidur sudah duduk diam menatanya sambil memegang ponsel Tika.


"Ini Kak Tika, jangan marah sama Isel karena tidur di kamar ini. Mama tolong Isel." Tangisan Isel terdengar besar mengulurkan tangannya kepada wanita yang berdiri di depan pintu.


Genta dan Tika sama terkejutnya, Genta juga lupa jika ada Isel yang sedang tidur. Pintu kamar juga tidak tertutup sedangkan suara keduanya cukup besar.


Diana berjalan masuk ke kamar, menggendong Putrinya sambil menatap Tika yang tertunduk begitupun dengan Genta.


"Jika kalian ingin bertengkar kecilkan suara, banyak orang yang akan mendengarnya." Di melangkah keluar, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Hubungan yang tidak pernah Diana pikir dan bayangkan.


Pintu ditutup pelan, Tika langsung terduduk lemas di atas ranjang. Orang pertama yang mengetahui hubungannya dan Genta, cepat atau lambat semuanya pasti akan tahu.


Pintu terbuka kembali, Diana melihat Tika yang langsung berdiri, sedangkan Genta masih ditempat yang sama.


"Hubungan pacaran itu rumit, jika kalian tidak punya kepercayaan, dan komitmen maka tidak mungkin bertahan lama. Baru berpacaran saja sudah bertengkar hebat, bagaimana menikah? kalian akan mengacaukan dua keluarga." Di geleng-geleng kepala membiarkan pintu terbuka.


Atika langsung melangkah keluar tidak menatap Genta lagi, hatinya masih sakit dan hubungannya juga ketahuan. Belum sempat mengatur rencana cara mengumumkan mereka berdua sudah bertengkar.


Pintu kamar Tika ditutup kuat, Tika berteriak kuat di dalam selimutnya. Mengutuk orang ketiga dalam hubungan mereka.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2