
Sesampainya di markas Shin melemparkan pria yang kembali bersamanya, senyuman Shin terlihat menyapa banyak pria berbadan besar yang nampak santai saja melihat kedatangan Shin.
"Kenapa kalian mengambil hak anak yatim?"
"Nona, seharusnya kamu lebih banyak membaca berita." Tawa terdengar mengejek Shin yang mengerutkan keningnya.
Keberadaan panti sudah lama ingin dipindahkan demi kepentingan pemerintah, namun pihak panti menolak dan tidak ingin menjual lahan juga bangunan meksipun tidak akan dipindahkan ke tempat baru.
Menghentikan pemasok untuk panti, jalan satu-satunya yang diambil oleh beberapa orang berkuasa. Sebelum anak-anak panti mati kelaparan, mereka harus segera menerima tawaran untuk segera angkat kaki.
"Wilayah seluas ini, pasti dihargai murah. Penjaga panti pasti memiliki alasan untuk menolak. Salah satunya kemungkinan harga yang ditawarkan tidak sesuai." Shin menatap sinis orang-orang yang memperhatikan dirinya.
"Ya kamu benar, tapi tugas kami hanya menjalankan sesuai perintah. Untung atau rugi kembali kepada pilihan masing-masing." Pemimpin komplotan berdiri mendekati Shin.
Kedatangan Shin disambut baik, dan pastinya tidak akan mungkin bisa keluar dari hutan dengan menggunakan busana. Keberadaan Shin sudah menggagalkan rencana mereka, dan sebagai bayarannya Shin harus melayani mereka semua.
Pukulan kuat Shin menghantam wajah pria dihadapannya sampai jatuh ke tanah, tatapan semua orang terlihat marah. Shin meniup tangannya yang merasa baru saja memukul nyamuk.
"Jaga ucapan, aku ahli memukul nyamuk." Senyuman Shin terlihat.
"Kalian semua, taklukan wanita ini sekalipun dia mati." Pria yang Shin pukul berdiri menyentuh darah di hidungnya.
Senyuman manis Shin masih terlihat, melakukan pemanasan sebelum bertarung kembali. Tiba-tiba Shin melihat ke belakang, mengedipkan matanya melihat Tika sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa lama sekali? aku sudah tidak tahan lagi melihat wajah mereka." Mata sinis terlihat, meminta sahabatnya segera menyerang.
Tika melangkah maju, membisikkan sesuatu kepada Shin. Keberadaan komplotan sudah menjadi incaran beberapa polisi.
Secara tidak langsung, keberadaan Tika dan Shin akan mengacau rencana kepolisian, tapi jika mereka mundur kondisi semakin tidak kondusif. Tika yakin dari sekian puluh orang, beberapa akan lolos karena gaduh dicampuri oleh polisi.
"Kamu tahu kepolisian mana?"
"Tidak tahu, tapi yang pasti laporan Ana sudah ditanggapi, namun tidak ada respon apapun. Sudah jelas, ada orang dalam kepolisian wilayah yang bekerja dengan mereka. Aku juga melihat ada beberapa jebakan yang digunakan kepolisian, mungkin ini tim dari luar." Senyuman Tika terlihat meminta Shin berpikir.
Mereka ada di tengah-tengah dua tim kepolisian yang berlawanan, dan satu kali saja langkah mereka salah maka keduanya akan menjadi komplotan yang membantu penjahat melarikan diri.
"Aish sialan! kepala aku pusing. Aku tidak punya tenaga lagi untuk bertarung." Shin memeluk Tika membisikkan sesuatu sampai keduanya berpura-pura pingsan.
Atika mengumpat Shin di dalam hatinya, rencana Shin sangat memalukan sampai harus pingsan. Tika pikir Shin pintar, tapi ternyata tidak menggunakan otaknya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
"Tidak tahu? kenapa mereka berdua pingsan?"
Panggilan masuk, ada yang memberikan kabar jika harus menangkap beberapa wanita yang lewat dan berhasil melaporkan kejahatan mereka.
[Tenang saja Bos, wanita itu ada dihadapan kita dalam keadaan tidak sadarkan diri.]
Perintah untuk membawa Shin dan Tika masuk ke dalam goa kecil terdengar, mereka harus dilenyapkan.
"Aku akan menghantui kamu Shin, sialan aku belum nikah." Tika memegang akar pohon agar tidak dipindahkan.
Dari kejauhan keberadaan penjahat sudah menjadi incaran, laporan ada dua tawanan juga terdengar. Dua wanita yang menjadi korban perampok saat ingin pergi ke panti.
"Wanita bodoh, kenapa dia melewati jalur yang sepi dan berbahaya?" Genta geleng-geleng kepala meminta pasukannya bersiap.
"Genta, kamu pasti akan serangan jantung jika sampai tahu siapa wanitanya?" bawahan Genta menatap Genta setelah melihat dari jarak jauh wanita yang ditahan.
"Siapa?"
"Putrinya Pak Altha,"
"Bagaimana Pak? kita utama sandera atau menangkap penjahat?"
"Menurut kalian! bergerak sekarang. Aku tidak peduli hidup atau mati mereka semua, dua wanita yang ditahan tidak boleh lecet apalagi terluka, meksipun hanya sedikit." Genta mengambil senjata bergerak bersama tim sesuai rencana
Atika dan Shin sudah berada di dalam goa, keduanya menutup hidung karena bau. Tika meraba sekitar, langsung tertawa lepas begitupun dengan Shin yang tidak bisa menahan tawa.
"Ini apa Shin? sialan. Pertama kalinya ada gua banyak lendir, apa ini lumut? atau cairan." Tika menendang Shin yang masih tertawa.
"Cairan apa bodoh?"
"Cairan laki-laki,"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun Atika, kamu sempat-sempatnya berpikir hal kotor. Wanita gila belaian." Shin ingin memukul Tika, tapi tangannya menempel di benda yang ada di dinding goa.
Suara teriak Shin menggema, tangannya tidak bisa lepas karena lendir sangat kental memakan tangannya.
"Atika tolong, tangan aku tidak bisa lepas. Mama Papa lendirnya menghisap." Shin berteriak kuat sampai keluar goa.
__ADS_1
"Di mana kamu Shin? Tika tidak bisa melihat di sini gelap, licik, basah, banyak lendir, satu lagi ini apa? Shin kenapa ini panjang sekali? ukuranya juga besar? Tika memijit benda panjang, mendengar suara mendesis.
"Anjing kamu Tika!" Shin berteriak bisa merasakan Tika melarikan diri.
"Ular Shin bukan anjing, cepat lari." Tika merangkak menjauh dari benda besar yang dia sentuh.
Tangan Shin terlepas, cepat merangkak menarik kaki Tika. Keduanya teriak-teriak membuat orang-orang di luar kebingungan.
Shin dan Tika berhasil keluar, berdiri di depan goa melihat beberapa penjahat sudah diborgol. Suara yang Tika dengan kembali mendekat.
"Binatang!" Tika berlari lebih dulu, tidak mempedulikan apapun yang dia tabrak. Shin juga berlari mengejar Tika yang larinya sangat kencang.
"Atika, Shin." Genta berteriak melihat keduanya berlari seperti dikejar hantu.
"Pak, mereka pelari handal."
"Bawa mereka semua ke kantor pusat, beberapa orang ikuti aku untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini. Bantu aku juga mengejar dua wanita tadi." Genta ikutan berlari untuk mencari keberadaan Shin dan Tika.
Dari kejauhan Genta melihat keduanya berpegang tangan ingin terjun ke air namun merasa ragu. Genta dan beberapa bawahan duduk kelelahan mengejar dua wanita pengacau.
"Tik, nanti ada buaya." Shin menjauhi air.
"Sialan, ini pertama kalinya aku takut dengan hutan, setelah ini ayo kita berjanji tidak masuk hutan lagi." Tika merekomendasikan beberapa pusat perbelanjaan yang bisa menjadi tempat baru keduanya menenangkan pikiran.
"Kamu hari ini mengkhianati aku! tega kamu berlari sendirian." Shin melepaskan genggaman tangannya.
"Jangan marah Shin, namanya juga panik. Kamu tidak tahu aku memijit apa tadi?"
"Tidak sekali kamu memasukkan tangan ke dalam mulutnya, pijit juga lidahnya." Shin menatap kesal, dia mati-matian meminta bantuan, tapi ditinggalkan.
"Putus bodoh, aku bisa menjadi Tika tangan buntung,"
"Kamu tidak tahu tadi, benda yang menghisap bisa hidup." Shin ingin memukul wajah Tika.
"Kenapa tidak dimatikan bodoh!" Tika sama emosinya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1