
Ruangan Isel hening, meksipun seluruh orang berkumpul. Suara Isel satu-satunya yang terdengar dikarenakan mengoceh. Satu minggu tidak bicara membuatnya sulit berhenti mengoceh.
Segala hal dia bicarakan, mulutnya tidak memiliki rem menjelaskan kepada semua orang berkali sampai bosan.
"Sel, kamu berisik sekali." Tika mendekati wajah gadis kecil yang masih duduk di atas tempat tidur.
Pukulan tangan Isel menghantam wajah Tika, menendangnya agar menjauh dan tidak menganggu ceritanya.
"Seperti sudah waktunya kita pulang,"
"Ye, akhirnya pulang. Isel juga ingin pulang. Yes, bisa berenang lagi, main perang lagi, maka enak, tidur enak, semuanya enak." Kedua tangan Isel bertepuk tangan melupakan infus yang masih terpasang.
"Tidak ada sedikitpun pikirannya untuk sekolah?" Aliya menahan tawa melihat ekspresi Diana yang mulai stres lagi.
Pintu terbuka, Juna melangkah keluar bersama Shin, Tika dan Genta. Kondisi Isel sudah pulih total, dia kembali aktif cukup membuat hati bahagia.
"Dek, mau ikut Kak Gemal pergi bersama Tika?"
"Kalian pergi saja, Shin ada pekerjaan bersama Reza."
"Reza karyawan restoran, aku perhatikan kalian semakin dekat, jangan-jangan ada rasa. " Senyuman Tika terlihat mengejek Shin yang matanya sinis.
"Siapa Reza?" Genta menatap Tika dan Shin bergantian.
Shin menjelaskan jika Reza hanya karyawan biasa di restorannya, dia salah satu koki yang Shin pekerjaan untuk mengantikannya. Di setiap restoran harus ada setidaknya satu koki yang harus Shin ajarkan.
Tangan Shin melambai, membiarkan Tika dan Genta melangkah pergi untuk mengurus proses pernikahan.
"Ay, Shin pergi dulu ya,"
"Ikut, aku juga belum makan." Juna meminta Shin menunggunya di mobil, Juna ingin mengganti bajunya terlebih dahulu.
Kening Shin berkerut, dia tidak berencana untuk makan sama sekali. Sedangkan Juna sedang lapar.
Pintu mobil terbuka, Juna melangkah masuk melihat Shin yang sudah duduk tenang menunggu Juna tiba.
"Ke restoran mana?"
Jalan saja, nanti Shin tunjukkan." Mata Shin tertutup merasa mengantuk.
Mobil berputar-putar, Juna memijit pelipisnya merasa pusing melihat Shin yang tidur tidak ingin bangun. Juna lelah berkeliling tidak menemukan tujuan.
"Shin bangun, ke mana ini?" tidak ada jawaban dari Shin yang masih terlelap tidur.
__ADS_1
Mobil berhenti, Juna menyentuh kepala Shin lembut. Mengusap wajah cantik di sampingnya.
"Ma, kenapa Mama memilih dia untuk Juna? kenapa Mama menyukai wanita ini? apa mungkin kami bisa bersama? kenapa rasanya mustahil sekali Ma." Usapan lembut terlihat, senyuman Juna juga tulus.
Helaan napas terdengar, Juna menahan dirinya untuk tidak terbawa suasana. Juna takut jika nantinya tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Sebaiknya kita pulang, jika Shin tidur bisa tiga hari tidak bangun." Juna memutar mobilnya untuk menuju rumah daripada berkeliling tidak jelas.
Sesampainya di rumah gerbang dikunci, Diana dan Gemal masih ada di rumah sakit, semua orang penghuni rumah ada di rumah sakit.
"Bagaimana kami masuk?"
Juna menuju rumahnya yang sudah kosong sejak Mamanya meninggal. Genta juga jarang berkunjung, begitupun dengan Juna yang memilih tinggal di apartemen.
Tubuh Shin digendong ke dalam rumah, meletakkannya di ruang tamu. Juna mengecek setiap kamar, membersihkannya agar Shin bisa tidur.
"Shin, pindah ke kamar. Sudah aku bersihkan, kamu berjalan sendiri." Juna berteriak menatap Shin yang sudah menghilang dari sofa.
Tawa Juna langsung terdengar, melihat Shin yang tidur di lantai memeluk kaki meja sebagai guling.
"Shin, bangun. Kamu lebih parah dari Ria,"
"Ay, kepala Shin sakit." Mata Shin terbuka, duduk dipinggir sofa mengumpulkan nyawanya.
Suara Shin menangis terdengar, mencengkram baju Juna kuat. Sejujurnya hati Shin sangat kesepian saat Tika ingin menikah, dia tidak memiliki teman lagi.
"Ay, Shin takut."
"Jangan takut, kamu punya Ay. Jangan merasa kehilangan, Tika dan Genta tetap ada di sini." Juna menghapus air mata Shin yang mengalir di pipinya.
Senyuman Shin terlihat memanggil nama Reza membuat Juna kesal, tidak menjawab apapun yang Shin katakan.
"Kebiasaan tidur kamu sangat buruk, saat tidur saja masih bisa mengigau atau curhat. Siapa yang ada dalam mimpi kamu? aku atau pria lain." Juna mendorong kepala Shin menolak menjadi sandaran.
"Aku mencintai kamu, sejak dulu." Shin tersenyum, Juna menoleh dan sangat terkejut.
Tubuh Shin di dorong, sampai terbaring. Juna menyentuh bibirnya langsung mengusap merasa marah. Siapa pria yang Shin cintai sampai begitu indah di dalam mimpinya.
Juna meninggalkan Shin ke dapur, menghubungi Tika memintanya segera datang dikarenakan Shin tidur tidak ingin bangun.
"Assalamualaikum Kak, kebetulan Tika sudah pulang." Teriakan Tika terdengar, menatap Shin yang tidur menggorok.
Senyuman Genta terlihat, menggendong adiknya menunjuk ke dalam kamar agar bisa tidur nyaman.
__ADS_1
"Kak Juna sedang melakukan apa?"
"Gunakan mata kamu, aku sedang masak!" Juna melempar bekas memaksakannya sembarang tempat.
Melihat kakaknya emosian membuat Tika binggung, tidak biasanya Juna terbawa emosi. Rasa penasaran Tika sangat tinggi, melihat ke arah beberapa tempat mencari CCTV.
Tika ingin tahu apa yang terjadi sehingga membuat kakaknya marah, Tika tersenyum menatap CCTV yang memperlihatkan jelas posisi tempat Shin tidur.
Dengan mudahnya, Tika mengambil ponselnya ponselnya. Meretas rekaman CCTV untuk melihat apa yang terjadi.
Kedua tangan Tika menutup mulutnya, ponselnya hampir terlempar saat Shin dan Juna berciuman.
"Ada apa Tika?" Genta ingin mengambil ponsel.
Tika langsung mengambil ponselnya, berlari kencang ke arah kamar Shin. Tika tidak ingin Genta mengetahui apa yang sedang dia lihat.
"Apa yang Shin katakan? kenapa Kak Juna marah?" Tika sangat penasaran apa yang diucapkan Shin.
Senyuman Tika terlihat, berguling-guling di atas ranjang memeluk Shin yang tidur lelap. Perasaan Tika sangat bahagia melihat kakaknya bersama Shin, tapi jika memikirkan hubungan membuat Tika cemas.
"Apa mungkin ini bisa? bagaimana nasib Kak Ana?"
Pukulan tangan Tika kuat, memaksa Shin untuk bangun. Bagaimanapun usaha Tika, tidak berhasil membangun Shin.
"Sialan, susah sekali bangunnya." Tika berteriak mengatakan Shin mencium Juna.
Mata Shin langsung terbelalak, mendorong tidak menjauh. Shin memejamkan kembali matanya, mengabaikan Tika yang tersenyum lebar.
"Kenapa kamu mencium Kak Juna?"
"Kamu gila tidak, tidak mungkin aku melakukannya?"
"Aku punya buktinya,"
Shin menatap sinis Tika, melihat wajah Shin yang terlihat panik. Berkali-kali Shin menggelengkan kepalanya, menyentuh bibirnya yang merasa apa yang Tika katakan benar.
"Kapan Tik?"
"Barusan, kak Juna terlihat marah. Kamu menodai bibirnya dan menyebut pria lain." Tika menahan tawa, sebenarnya dia tidak tahu pasti apa yang diucapkan.
"Matilah aku, bagaimana ini Tika?" Shin mengacak rambutnya merasa tidak nyaman atas perbuatannya yang mengigau.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira