
Beberapa tahanan sudah di pindahkan ke tempat penjara keluarga Leondra, Genta masih memikirkan ucapan Irish yang mengatakan suatu hari akan ada puncaknya Shin tidak bisa dikendalikan.
Ucapan yang sama Hendrik juga peringatan, apapun yang Shin pikirkan atau sedang dirinya lakukan tidak bisa dipahami ih siapapun. Bahkan Shin sendiri tidak tahu kapan dirinya lepas kendali.
Wajah Genta meringis kesakitan, menatap perutnya yang ada bekas tusukan benda tajam dari Melly saat ingin menyerang Tika.
"Apa yang kamu pikirkan Om tua?" Tika berdiri di belakang Genta.
"Tidak ada," jawab Genta singkat.
Atika melangkah berdiri di samping Genta, memintanya untuk tidak memikirkan apa yang sebenarnya belum terjadi. Atika yakin Shin pasti baik-baik saja, buktinya selama ini dia bisa dan mampu bertahan.
"Apa yang Dokter Hendrik cemaskan hanyalah firasat sebagai Dokter? apa yang Irish katakan hanyalah dugaan saja. Shin memiliki kita semua, apa yang ditakutkan?" Tika melipat tangannya di dada, melihat ke arah langit yang mulai senja.
"Sejak kapan kamu dewasa Tik?"
Kepala Tika menoleh ke arah Genta, menunjukkan postur tubuhnya yang sudah tinggi meskipun masih belum bisa melewati tingginya Genta.
Gadis kecil yang dulunya Genta ambil kunci kamarnya sudah tumbuh menjadi wanita cantik, pintar, kuat dan mandiri.
"Aku tidak pernah mengambil apapun dari kamu?"
"Sampai kapan Om terus bohong? awas saja jika sampai ketahuan." Mata Tika memicing memberikan ancaman.
"Kenapa kamu dendam sekali kepada pria itu? memangnya mau kamu apakan?" Genta menghela napasnya melihat Tika yang sedang berpikir.
Tidak ada jawaban, Genta merasa penasaran dengan apa yang Tika pikirkan soal dirinya di masa lalu. Selama ini Tika memang masih mencari pria yang mengambil kunci kesayangannya.
"Tik, apa yang akan kamu lakukan jika menemukan pria itu?"
Tatapan mata Tika sinis, melangkah mendekati Genta yang melangkah mundur. Senyuman Tika terlihat, menyentuh dada Genta.
"Menurut Om? apa yang bisa Tika lakukan?" tubuh Genta terpojok, membuat jarak keduanya sangat dekat.
Tangan Tika mengukur tinggi badan pria yang dulunya selalu menggunakan topi, wajah tampannya ditutupi.
__ADS_1
"Tik, jarak kita terlalu dekat." Genta kesulitan mengatur napasnya.
"Bau badan kalian juga sama, di mana kunci Tika Om?" kedua tangan Tika memukul Genta memaksa untuk mengakui.
Suara Genta meringis kesakitan terdengar sampai terduduk, Tika tidak percaya jika Genta terluka jika tidak melihat tangan Genta memegang darah dari perutnya.
"Astaghfirullah Al azim, ini kenapa bisa terluka?" Tika memegang tangan Genta, melihat luka tusuk diperut.
Genta berjalan ke kamarnya dibantu oleh Tika, mata Genta terpejam masih meringis kesakitan karena lukanya kembali berdarah.
Atika membuka baju, membersihkan luka yang masih ada bekas darah. Atika baru mengingat saat Melly dan Genta bertemu, sedangkan Tika ditarik ke belakang.
"Om, kenapa selalu terluka? dan tidak pernah mengatakan apapun?" Tika menatap sedih karena Genta terluka ulah dirinya.
"Panggil Juna saja, atau Kak Hendrik, atau sekalian panggil Papa Calvin. Di rumah ini banyak Dokter, jangan terlalu dipikirkan." Wajah Genta meringis berusaha untuk duduk.
Mata Genta melihat ke arah wajah Tika yang meniup pelan lukanya, hawa dingin terasa dari hembusan napasnya. Sikap Tika sangat lembut dalam mengobati.
Tangan kecil yang sudah berubah menjadi gadis dewasa, Tika terus bicara saat dulu dirinya terluka. Luka bukan hal yang menakutkan, tapi sangat menyakitkan.
Tika pernah terjatuh saat kecil, dirinya masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik. Papanya sangat sibuk karena masih menjalankan tugasnya, sedangkan Mamanya juga sibuk mengajar di kampus, dan mengurus adik kecilnya.
"Kak Genta tahu orang pertama yang mengobati Tika, Mami Al. Dia tidak membiarkan meksipun hanya seekor semut mengigit Tika. Setiap hari Mami mengecek tubuh Tika, dia sahabat, teman, Mami, dan nyawa Tika." Senyuman Tika terlihat, menutupi luka Genta dengan rapi.
"Setiap Ibu pasti akan melakukan hal yang sama, itu normal."
"Tidak, Mami berbeda. Dulu Kak Juna tidak suka Mami, dan selalu meminta Mami pergi. Tika juga memiliki perasaan yang sama dengan Kak Juna, kami ingin Mama yang kembali."
"Lalu, apa Mami Al benar-benar pergi?"
"Iya, Mami pergi meninggalkan Tika, Kak Juna, dan juga Papi. Kami tidak bahagia, tapi hancur. Tika lakukan semua kesalahan, tangan dan kaki Tika buat luka, bahkan kepala juga pernah Tika benturkan agar Mami kembali, tapi Mami tidak kembali. Mami pergi, dan hati Tika sakit sekali." Air mata Tika menetes, karena pertama kalinya dia menceritakan rasa kehilangannya.
Tangan Genta mengusap air mata yang menetes membasahi pipi mulus Tika, hati Genta bisa merasakan kehilangan yang Tika rasakan.
"Apa yang Tika rasakan? tidak sebanding dengan apa yang Shin rasakan. Kak Genta harus mengerti betapa pentingnya sosok Ibu dalam hidup seorang wanita." Kepala Tika tertunduk, mengusap air matanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberikan sosok Ibu untuk Shin, bahkan tidak tahu cara mengutarakan betapa aku menyayanginya." Satu tangan Genta menutup wajahnya.
"Butuh bantuan?"
Genta mengusap wajahnya, langsung melihat wajah Tika yang tersenyum licik. Genta yakin, tidak pasti meminta keuntungan. Namun dirinya tidak punya pilihan.
"Apa yang kamu inginkan?"
Tawa kecil Tika terdengar, mengingatkan Genta jika keduanya masih memiliki misi yang belum terselesaikan.
"Misi? maaf aku sepertinya melupakannya?" Genta mengingat misi yang dirinya dan Tika lakukan.
Senyuman Genta terlihat, misi berpacaran yang belum ada kata putusnya. Genta meminta Tika menjelaskan cara dirinya menyudahi misi.
"Tika ingin kita melakukan satu hari hanya berdua, makan, jalan, bergandengan tangan di pinggir pantai, naik mobil melihat matahari terbenam, dan keesokan harinya misi berakhir." Tika meletakkan kedua tangannya di bawah dagu.
Sesaat Genta terdiam, secara tidak langsung Tika sedang meminta satu hari berkencan. Genta tidak bisa membayangkan jika sampai Juna ataupun keluarga yang lain sampai tahu.
"Bukannya terlalu berlebihan, aku tidak ingin ada salah paham antara keluarga kamu dan aku." Genta memikirkan cara lain untuk mengakhiri misi mereka hanya dengan makan berdua.
"Baiklah, tidak masalah, kita makan bertiga bersama Shin. Atau Om bisa menghabiskan waktu bersama Shin berdua, Tika akan menyiapkan tempatnya." Senyuman Tika terlihat, melangkah pergi meninggalkan Genta yang merasa tidak nyaman dengan penolakannya.
Di depan pintu Papa Calvin cukup kaget melihat Tika keluar dari kamar Genta dengan tatapan dingin. Terlihat sekali wajah sedang kesal.
"Kenapa Tika di kamar Genta?" Calvin melangkah masuk, melihat Genta yang menatap luka diperutnya.
"Papa pikir kamu dan Tika memiliki hubungan sampai berduaan di kamar, ternyata ada yang terluka." Papa Calvin menatap luka Genta.
"Kapan kita kembali Pa? Genta boleh meminta waktu satu hari untuk menenangkan pikiran?" Genta memalingkan wajahnya.
"Kamu sudah tua Gen, lakukan apa yang kamu inginkan tanpa pamitan. Istirahat sebentar, lalu temui Papa bersama Shin."
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
***
sebentar lagi fokus ke Tika dan Genta.