
Pertarungan dua wanita kembar terlihat, Elen menutup telinga Tika menggunakan earphone. Memintanya menutup mata agar tidak melihat pertarungan Maminya.
Juna juga membalikkan badannya, menenangkan hatinya. Maminya selalu mengatakan hidup itu penuh ujian yang bahkan tidak pernah diduga kedatangannya.
Al sudah mengajari Juna untuk menguatkan mentalnya, bukan untuk balas dendam tetapi melindungi keluarga jangan sampai seperti Aliya yang kehilangan seluruh keluarganya tepat di depan mata.
Dika langsung ingin maju, tapi Elen menahannya. Meminta untuk mencari bantuan dan menghentikan Alina.
Cepat Dika menghubungi kakaknya, panggilan masuk dan mendapatkan jawaban. Dika meminta kakaknya segera mengabari Altha untuk secepatnya datang.
Jujur Dika tidak mengerti apa yang terjadi, apalagi melihat kenyataan jika Aliya ada dua dan sulit membedakan keduanya jika hanya melihat wajah.
Tubuh Aliya terpental, kaki Alina sudah ada di dada Aliya yang mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.
"Kamu tidak akan mampu mengalahkan aku Al, tidak akan pernah bisa." Mata Alin menatap tajam melebihi elang yang mengincar mangsanya.
Senyuman Al terlihat, dia tidak memiliki niat mengalahkan siapapun. Al hanya akan menghentikan Alina dan menjauhi keluarganya.
Al sekarang mengerti, alasan Mamanya mengurung mereka berdua di dalam mansion mewah dan melarang untuk keluar.
Kemampuan yang dimiliki kakaknya di luar batas orang normal, agar Alin merasa dirinya normal akhirnya Aliya juga dikurung.
Kamar Aliya penuh kebahagiaan, meskipun dia terkurung imajinasi Aliya hanyalah sebuah kebahagiaan. Penuh warna dan keceriaan.
Sangat berbeda jauh dengan Alina, dia membuat kamarnya menjadi sangat menyeramkan. Hitam, gelap juga terasa pengap.
Alina bisa melakukan sesuatu di luar jangkauan Mamanya, bahkan Alin bisa membuat jalan untuk ke bawah tanah menemui tantenya yang memang sudah lama terkurung.
Dua anak kembar yang berbeda, Al sangat menyukai hal yang terlihat unik sedangkan Alina bisa dengan mudah menciptakan senjata hanya dengan satu kali baca.
"Mama sangat menyayangi kakak sampai tega menyamakan Aliya agar tidak iri hati, tapi siapa yang menyangka kakak membunuh Mama, tepat di depan mata Al." Tangan Al menyentuh dadanya yang merasakan sesak.
Alina berjalan menjauh, dia tidak pernah mengerti kenapa dia diasingkan. Alin ingin hidup normal seperti anak lainnya, tapi Papanya tidak pernah perduli dengan keluhannya.
Setiap hari Alin selalu mengatakan jika dia menambah satu ilmu, tapi mamanya selalu marah dan mengatakan apa yang dia temukan dan pelajari sebuah kejahatan.
__ADS_1
Saat Alin ingin makan-makanan sehat, Mamanya melarang dan hanya mengizinkan Alin makan apa yang sudah disiapkan.
"Kamu tidak tahu Al, jika Mama mengambil kehidupan Tante. Dia yang gila, tapi mengurung orang lain agar menjadi gila." Alin tertawa lucu, sungguh ingatan yang sangat buruk.
Al langsung berdiri mendekati Alina, tidak perduli apa yang terjadi di masa lalu. Alin tidak bisa meluapkan rasa marah dan benci kepada kehidupan lama, lalu membalas kepada orang lain.
Jika Alin terus memikirkan cara membunuh orang, dia sama seperti Mamanya yang gila.
Nada Aliya bicara sangat pelan, berjongkok di depan kakaknya yang sedang duduk memejamkan matanya.
"Kak, mungkin sudah terlambat untuk saling menggenggam, tapi Al tidak ingin kita saling membunuh. Kak Alin satu-satunya keluarga yang Aliya miliki." Air mata Aliya menetes, menggenggam tangan Kakaknya.
Mata Alina terbuka, menatap Aliya yang sedang menangis. Tendangan kuat menghantam Aliya sampai terpental jauh, menghantam dinding.
Alin tidak ingin melangkah mundur, dia sudah terlanjur menikmati apa yang sudah dia lakukan.
Melihat Aliya yang masih berusaha berdiri, rasanya ingin sekali Alin menembak kepala Al yang sangat keras kepala.
Melihat kondisi Al, Alin memberikan Al waktu sampai tengah malam. Dia harus segera meninggalkan Altha dan keluarga jika Al masih menginginkan anak-anaknya baik-baik saja.
Mereka akan mati secara perlahan, begitupun dengan Altha yang akan Alin buat hancur hidupnya.
Kebahagiaan keluarga Altha ada di tangan Aliya, jika memang Al mencintai anak dan suaminya seharusnya memprioritaskan kebahagiaan mereka.
"Adikku tersayang, pergilah bersama Vito dan lenyap dari sini, jika tidak kamu harus membunuh aku, atau aku membunuh kalian semua." Alina memastikan, Al akan melihat kematian anak dan suaminya sama seperti saat melihat kematian kedua orang tua mereka.
Pintu terbuka, Alina melambaikan tangannya langsung melangkah pergi meninggalkan Aliya yang masih berdiri diam.
Banyak hal yang Aliya pikirkan soal Alina, ada sesuatu yang membuat hati Al bisa merasakan jika Alina juga mengalami hal yang lebih menyakitkan daripada Aliya.
Tangan Al menyentuh darah di hidungnya, langsung melangkah ke kamarnya bersama suaminya.
Langsung mandi dan mengganti baju, Al harus memikirkan dengan matang agar semuanya baik-baik saja.
Suara panggilan masuk terdengar, Aliya mencari sumber suara. Senyuman Al terlihat menatap ponselnya yang ada di bawah tempat tidur.
__ADS_1
Memiliki banyak ponsel tidak ada ruginya bagi Al, langsung menjawab panggilan yang sangat dia tunggu-tunggu.
[Ayang,]
Suara Altha terdengar, langsung mempertanyakan keadaan Aliya dan akan segera pulang.
Senyuman Al terlihat, menganggukkan kepalanya akan menunggu suaminya kembali. Alt meminta Aliya bertahan sebentar saja sampai dia tiba di rumah.
[Aliya, berjanjilah kamu tidak akan menyerah dan meninggalkan aku.]
Kepala Aliya mengangguk, langsung menangis dan membekap mulutnya agar Altha tidak mendengar tangisannya.
[Al kamu menangis? maafkan aku tidak ada di sisi kamu saat tersulit bagi kamu.]
Aliya hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat ini Al ingin sekali berada dalam pelukan Altha. Sungguh hatinya hancur dan sulit untuk bertahan.
"Mami, kenapa Mami menangis?" Tika langsung menangis memeluk Aliya yang juga memeluknya.
"Bicara sama Papi sayang, katakan kepada Papi jika kita baik-baik saja." Al mengusap air matanya.
Juna dan Tika langsung memanggil Papinya, mengatakan jika mereka baik-baik saja dan meminta Papinya segera pulang.
Suara Tika mengoceh terdengar, Aliya langsung tertawa melihat Tika bersemangat sekali bercerita jika dia tidak takut apapun.
"Mami baik-baik saja." Tangan Juna menggenggam jari-jemari Maminya yang terasa dingin.
Al langsung memeluk Juna, sebelum Papinya pulang Juna siap memberikan dadanya untuk tempat Maminya dan Tika bersandar.
"Mi, Juna akan mencari Mami sampai ketemu selama mami masih ada di bumi ini, tapi setidaknya Mami juga harus berjanji menemui Juna." Tatapan Juna tajam memeluk Maminya.
Aliya hanya bisa menganggukkan kepalanya, meminta Juna melupakan apapun yang dia dengar. Al tidak ingin Juna menjadi dirinya juga Alina.
Jangan sampai ada anak lain yang mengalami hidup keras seperti mereka, cukup twins Al yang menderita.
***
__ADS_1