
Tatapan mata Genta memperhatikan wajah wanita dihadapannya, mata Tika terpejam. Jantung Genta berdegup kencang, ini bukan pertama kalinya keduanya berciuman, meksipun semuanya tanpa kesengajaan.
Perlahan mata Tika terbuka, melihat Genta yang masih memperhatikannya dengan tatapan tanpa bisa dirinya mengerti.
"Maaf," ucap Genta pelan.
"Ini hanya demi misi, aku ingin menangkap mereka sampai akhir. Kita lupakan yang baru saja terjadi." Senyuman Tika terlihat, melangkah pergi diikuti oleh Genta yang mencoba menenangkan dirinya.
Tika bisa melupakan dengan mudah, tapi bagi Genta dirinya tidak bisa melupakannya begitu saja.
Keduanya melaju pergi meninggalkan restoran, pikiran Genta sedikit kacau karena merasa bersalah.
"Tika, aku tidak bermaksud lancang." Genta bicara terbata-bata.
"Atika mengerti, aku tidak terlalu mengambil hati. Ciuman tadi hanya memberikan keuntungan kepada Kak Gen, selain terhindar dari Rindi juga bisa mendapatkan ciuman pertama Tika." Tawa kecil Tika terdengar meminta Genta santai saja.
"Ini bukan pertama kalinya,"
Mendengar jawaban Genta membuat Tika terkejut, pandangannya tidak berpaling sedikitpun dari Genta yang belum menyadari jika keceplosan dalam bicara.
Tatapan Genta melihat Tika, baru sadar dengan ucapannya yang membuat Tika binggung juga penasaran.
"Om ternyata laki-laki normal, Tika pikir tidak mengerti soal berhubungan lawan jenis." Bibir Tika monyong.
"Bukan seperti itu, aku tidak sengaja." Laju mobil pelan, Genta berusaha menjelaskan kronologi kejadian.
"Apa ciuman tadi tidak sengaja? Om bahkan meminta maaf, seharusnya hitungan detik saja tetapi betah berlama-lama. Apa itu namanya tidak sengaja?" Tika meminta penjelasan dari Genta yang sudah terdiam seribu bahasa.
Ucapan Tika tidak salah, Genta hanya bisa meminta maaf karena dirinya yang tidak tahu diri. Meksipun Genta sengaja bukan berarti Tika bisa menduga dirinya lelaki sembarang yang menyentuh wanita.
Perdebatan keduanya terdengar di sepanjang jalan masih membahas soal ciuman. Tika hanya menahan tawa melihat Genta yang salah tingkah, meminta Tika mengerti jika dirinya hanya menjalankan misi, meskipun berlebihan.
"Ayo kita lanjutkan Om,"
"Apa? apa yang ingin dilanjutkan? aku tidak pintar berdebat."
Senyuman Tika terlihat, Genta memang lelaki yang tidak peka. Tika juga tidak ingin bertengkar, tetapi meminta sesuatu yang bisa menguntungkan keduanya.
__ADS_1
"Kita lanjutkan hubungan pacaran, dan menjalani hari layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta. Bukannya ini misi agar target mendekat." Tika mengambil ponselnya, memotret dirinya dan Genta yang berduaan di mobil.
"Ohh, lanjut pacaran." Kepala Genta mengangguk mengerti.
"Kenapa? Om berpikir Tika meminta lanjut ciuman, lalu tidur bersama. Dasar Om tua otaknya kotor." Suara Tika tertawa terdengar, mengejek Genta yang sudah salah tingkah.
"Aku tidak memikirkannya, kamu yang masih kecil berani bicara seperti itu."
Pukulan Tika mendarat ke lengan Genta, dirinya sudah dua puluh tahun berarti sudah dewasa. Bahkan sudah bisa menikah, Tika bukan anak kecil lagi yang kakinya tidak sampai menendang Genta.
"Tika sudah besar tahu! sudah kepala dua. Om juga bisa tergoda mencium Tika, berarti sekarang sudah besar, bahkan Tika sudah bisa memberikan Om anak." Tangan Tika menutup mulutnya, menahan tawa melihat Genta yang berteriak kaget.
"Astaghfirullah Al azim Tika, berhentilah membahas ciuman apalagi bahas anak." Tatapan Genta sangat tajam, menutup wajah Tika yang tidak berhenti tertawa.
"Iya, kenapa Om belum menikah? bukannya sudah kepala empat." Tika mengulum bibirnya yang sudah lelah tertawa.
"Perempuan satu ini tidak bisa diam, kamu pikir aku Kakek-kakek. Aku juga masih kepala dua." Genta meminta Tika diam.
Melihat Genta kesal akhirnya Tika diam, menyentuh hidung Genta yang memerah karena mendapatkan ejekan.
"Sekarang apa rencana kamu?"
Genta langsung merinding, merasa geli melihat Tika yang seperti gadis usia sepuluh tahun yang sedang manja kepada Ayahnya.
"Kamu mirip Lovely." Genta menghentikan mobilnya, Tika mengamuk menendang Genta yang sudah tertawa lepas.
Wajah Genta disembunyikan di setir mobil, dirinya tidak tahu kapan terakhir bisa tertawa lepas penuh kebahagiaan. Tika satu-satunya orang yang bisa membuat Genta merasakan arti tawa bahagia.
"Om kurang ajar, Tika disamakan dengan anjing yang mengigit Ria. Tidak ada yang lebih bagus dan romantis dari anjing." Tangan Tika menjambak rambut Genta yang sudah meminta ampun.
"Tidak ada, kamu lebih mirip lovely. Dari pada mirip monyet Pak ...." Genta menahan tangan Tika yang mencubit perutnya.
"Tika bukan hewan, wanita secantik aku masa iya mirip hewan," kesal Tika.
"Iya maaf, siapa juga yang mengatakan hewan. Aku hanya menyindir karakter." Kedua tangan Genta terlipat, menutup mulutnya yang keceplosan.
Sebuah mobil berhenti di samping mobil Genta, Tika mengerutkan keningnya. Menarik Genta ke arah dirinya. Suara tembakan terdengar, menebus dua kaca secara langsung.
__ADS_1
Genta menatap kaget, melihat Tika yang terbaring di bawahnya. Tubuh Genta di dorong, Tika mengeluarkan senjata, tapi ditahan oleh Genta.
Mereka berada di jalanan, terlalu bahaya bagi pengguna jalan. Keselamatan orang lain jauh lebih penting.
"Siapa yang menembak kita?" Genta mendengar suara teriakan di depan mereka.
Mobil Genta melaju pergi, Tika kaget melihat ada aktraksi menebak secara acak. Tika menghubungi rumah sakit, membiarkan Genta kejar-kejaran.
"Buka atap mobil, mereka akan menembak lagi." Tika berdiri, mengarahkan senjatanya ke arah ban.
Saat seseorang keluar kepalanya, Tika mengarahkan senjata hingga mengenai pergelangan tangan. Mobil langsung oleng, Genta sudah berada di depan mobil, putar arah dengan kecepatan tinggi.
"Pilih berhenti atau celaka?" Tika berteriak kuat.
Mobil berhenti, Genta juga menghentikan laju mobil. Tika ingin keluar, tapi ditahan oleh Genta.
"Kamu tetap di dalam mobil, terlalu bahaya." Genta mengambil senjata Tika, berjalan keluar meminta supir keluar.
Suara ledakan terdengar, Genta terpental jauh melihat aksi bunuh diri. Tika berlari membantu Genta untuk berdiri, dan menjauhi api yang berkobar besar.
Tatapan Genta tajam melihat ke arah mobil, bayangan dirinya bersama keluarganya melintas, senyumannya terlihat saat menyentuh adik kecilnya.
Secara tiba-tiba ada yang mendekati mobil Papanya, tembakan terdengar membuat mobil oleng hingga terjadi kecelakaan.
Genta bisa melihat Mamanya yang memeluk erat adik kecilnya, Genta terlempar keluar mobil saat kecelakaan terjadi. Tangisan adik kecilnya terdengar, Genta berjalan meminta Mamanya bangun mengambil adiknya yang berdarah.
Mobil keluarga sudah terbalik, Genta kecil membawa adiknya untuk menyingkir baru menolong Mamanya, tapi belum sempat Genta kembali ledakan terjadi membakar Mama dan Papanya.
Penglihatan Genta langsung gelap, hanya bisa mendengar suara tangisan adiknya. Saat sadar dirinya hanya sendirian.
"Papa, Mama, kenapa kalian di sana? ayo keluar." Tangisan Genta terdengar, Tika langsung memeluk erat mengusap punggung Genta agar tenang.
Tika langsung menghubungi Papanya, meminta bantuan karena kondisi Genta mendadak aneh.
"Masa lalu apa yang menyakiti kamu? kepingan ingatan yang pastinya sangat menyakitkan." Tika mengusap air mata yang mengalir.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira