
Suara mobil Diana tiba terdengar langsung menyerahkan kepada Mommynya agar Aliya bisa melakukan tes kehamilan.
Aliya, Anggun, Diana, Tika dan Juna hanya bisa diam melihat banyaknya tes pack yang Di beli. Bodohnya Diana tidak bertanya bagaimana cara menggunakannya.
Arjuna mengambil ponselnya, meminta Maminya mengikuti apa yang di anjurkan di dalam internet.
Al tersenyum, dia bisa sudah paham cara melakukannya. Al membawa satu tes pack, Tika membantu membawa semuanya mengikuti Maminya masuk ke dalam toilet.
"Apa yang Tika lakukan di dalam kamar mandi?"
"Biarkan saja Di, dia hanya sudah tidak sabar memiliki adik perempuan." Anggun tersenyum, dia juga sudah tidak sabar ingin melihat kabar baik.
Aliya tersenyum saat keluar, meletakkan hasil tes yang dia lakukan. Semuanya fokus melihat ke arah tes pack yang menunjukkan warna merah sangat jelas.
Anggun menatap Aliya yang meneteskan air matanya, Arjuna sudah tersenyum membaca artikel jika garis dua artinya hamil.
"Alhamdulillah ya Allah." Juna bertepuk tangan.
Juna langsung memeluk Maminya, mengusap air mata Al agar berhenti menangis. Saat ini kabar bahagia jangan diiringi air mata.
"Akhirnya penantian aku dan Ayang Altha membuahkan hasil." Aliya berteriak lompat-lompat kesenangan, mencium tes pack yang menunjukkan garis dua.
Anggun dan Juna langsung terlihat panik, Diana memukul kepala Aliya mengunakan bantal sofa.
"Kamu ingin mencelakai bayi yang belum tahu usianya ini, gila! tidak sekalian Tante lompat dari atas tebing, terjun payung agar langsung ke akhirat." Diana berteriak kuat, menatap tajam Aliya yang lompat-lompat melupakan kandungan.
Suara Aliya menangis terdengar, hatinya sangat sakit mendengar kemarahan Diana yang membentaknya dengan nada tinggi.
Juna memarahi Diana balik, tidak harus membentak Maminya. Jika ingin menegur gunakan bahasa yang baik bukan dengan kemarahan.
"Sudah jangan menangis mi, mulai sekarang lompat, harus hati-hati. Kasian dedeknya, dia membutuhkan waktu sembilan bulan untuk lahir." Juna mengusap tangan Maminya, memintanya duduk dan meminum air.
Anggun juga meminta Aliya mulai mengatur perasaannya yang sensitif agar tidak menggangu pikiran, hamil muda masih rawan.
Diana masih menatap tajam, hanya bisa geleng-geleng melihat Aliya yang cengeng. Merasa geli juga melihat Al yang mencium tes pack.
Atika keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah tempat pesta pernikahan diadakan. Membagikan hasil tes pack miliknya kepada seluruh orang yang sedang sibuk mempersiapkan pelaminan.
Suara gelak tawa terdengar, bahkan para pekerja sampai duduk mentertawakan Atika yang meminta doa agar adiknya perempuan juga sehat.
__ADS_1
"Ini untuk Uncle, do'akan Adiknya Tika perempuan, sehat juga cepat besar." Tika tersenyum melihat Dika yang kaget melihat hasil tes pack.
"Kamu dapat ini dari mana Tik?" Dika berjongkok mengusap kepala si kecil yang cerewet dan aktif.
"Punya Mami, ini untuk adiknya Tika. Uncel do'akan adiknya Tika." Atika berjalan lagi lanjut membagikan banyaknya tes pack.
Dika menepuk jidat, tes pack yang Tika berikan tidak menunjukkan tanda kehamilan, tetapi sudah bahagia meminta doa semua orang.
Dia bahkan membatalkan niatnya untuk pesta ulang tahun, Tika ingin merayakan hari lahir adiknya.
Altha dan Dimas juga kembali, langsung melangkah ke rumah Dimas.
"Papi, lihat ini. Adiknya Tika." Tes terakhir Tika berikan kepada Papinya.
Tika juga meminta maaf kepada Dimas, dirinya kehabisan tes pack untuk Uncle dan meminta doa agar adiknya sehat, cantik, dan menyayanginya.
Senyuman Altha terlihat, hasil tes pack tidak menunjukkan hasil apapun. Mendengar doa tidak, Alt mendadak sedih.
Putrinya sangat menginginkan adik, bahkan mengumumkan kepada semua orang jika sembilan bulan lagi dia akan memiliki teman.
Alt berjongkok, menggendong putrinya yang sangat baik. Dia siap menunggu adiknya selama sembilan bulan, dan saat adiknya lahir Tika akan menjadi lebih dewasa.
Kedatangan Altha dan Dimas disambut senyuman oleh Aliya dan Anggun. Dimas menatap Diana yang tatapan dingin, menyerahkan pesanan putrinya yang banyak maunya.
"Di, bawa Tika ke kamar kamu." Dimas berbisik, menyerahkan sepatu baru untuk Diana.
"Kenapa? Diana ingin mendengar kabar baik."
Dimas berdehem, melihat Tika yang memeluk Aliya sambil mengusap perut Maminya mengobrol menggunakan bahasa anak-anak.
Juna meminta Tika menjauhi Maminya, nanti membuat Maminya lelah dan kepanasan.
"Adiknya Tika lelah, Tika pijit. Jika panas akan Tika kipas. Baik sekali kakak Atika." Suara tawa Tika terdengar mengagumi dirinya sendiri.
Senyuman Altha terluka, meletakkan hasil tes pack yang Tika berikan. Alt menatap Aliya yang kaget karena Altha memiliki tes pack miliknya.
"Ayang itu punya Aliya." Al terlihat sangat bahagia, ternyata Altha sudah mengetahui soal kehamilan dirinya.
"Sayang, jangan terburu-buru. Kita bisa bersantai dan memiliki anak biarkan atas izin Allah." Alt menggenggam tangan Aliya, tidak boleh berlebihan apalagi mengajari Tika hal yang tidak seharusnya dia ketahui.
__ADS_1
"Benar Al, kamu sama Tika bisa gila karena terobsesi ingin cepat punya anak." Dika langsung duduk menyerahkan puluhan tes pack.
Air mata Aliya langsung menetes, Altha memeluk erat. Alt juga ingin cepat mempunyai anak, tapi tidak harus membebani Aliya dengan harapan yang berlebihan.
"Apa yang harus Al lakukan? masa iya bayinya harus digugurkan." Al mengusap dadanya, membuang hasil tes pack yang menunjukkan garis dua.
Altha kaget melihat satu tes pack yang menunjukkan garis dua, Alt langsung mengambil dengan tatapan antara senang, tapi juga binggung.
"Ini punya kamu sayang?" Alt melihat Aliya.
"Bukan, itu punya Diana."
Dimas langsung menjatuhkan gelas, tatapan matanya langsung gelap membuat Diana langsung memeluk Anggun. Dia sangat takut jika Daddy-nya marah.
Anggun tersenyum menepuk pundak Diana yang jahil, Anggun meminta Altha ke rumah sakit untuk memastikan.
Awalnya Al ingin memberikan kejutan, tapi tidak menyangka Altha mendapatkan hasil tes pack yang salah.
"Sayang ini punya kamu?" Alt tidak tahu lagi harus menunjukkan kebahagiaan seperti apa.
Aliya menganggukkan kepalanya, dirinya batu saja melakukan tes dan mendapatkan garis dua.
"Lalu ini milik siapa?" Altha menunjuk ke arah banyak tes pack.
"Punya Tika Pi, katanya celup ke air dan hasilnya ada dedek." Tika sudah memastikan semua tes pack dia celupkan ke dalam air.
Semua orang berteriak, Tika kebingungan melihat wajah orang-orang yang mengucapkan istighfar, amit-amit memiliki anak seperti Atika yang konyolnya tidak ada obat.
Alt menutup matanya berjongkok di depan Aliya, memeluk perut Al sangat lembut. Air mata Altha menetes sujud syukur diberikan kepercayaan sangat cepat.
"Maafkan aku, kamu pasti kecewa." Altha mengusap air mata Aliya yang juga menangis.
"Al bahagia Ayang." Aliya meminta kedua anaknya mendekat dan memeluk adik mereka bersama-sama.
***
follow Ig Vhiaazara
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya ya ditunggu