
Suara tangisan Diana terdengar, merasa binggung penyebab dirinya hamil padahal baru saja menikah.
Di menangis sesenggukan, menyalahkan obat yang membuatnya hamil.
Gemal yang baru saja pulang, langsung memeluk erat. Meminta istrinya berhenti menangis.
"Kita baru saja menikah, tapi Diana sudah hamil." Di mengusap air matanya.
"Ya, bagus sayang. Prosesnya cepat, dan kita diberikan kepercayaan untuk segera menjadi orang tua." Senyuman Gemal terlihat, menenangkan istrinya.
Di berpikir sejenak, dia harus memastikan ulang kemungkinan salah. Gemal mengikuti apapun yang Diana inginkan.
Dimas yang awalnya bahagia hanya bisa terdiam melihat ulah Putri dan menantunya yang sama saja gilanya.
Jika ingin memastikan seharusnya tes ke dokter, bukan melakukan tes pack bekali-kali sampai tes pack habis.
"Assalamualaikum." Dika datang bersama Salsa, mendengar kabar soal kehamilan Diana.
"Salsa, kira-kira kapan Diana melahirkan?"
"Aku pikir hanya Diana yang setengah gila, ternyata Gemal juga sama." Kepala Salsa geleng-geleng langsung mengambil hasil tes pack.
Senyuman Diana terlihat, menceritakan kepada Salsa jika dirinya belum halangan sejak menikah hingga positif hamil.
Tangan Salsa mengusap perut Di, meminta Diana cek ke rumah sakit untuk melihat lebih detail. Salsa hanya memprediksi usia kandungan baru empat Minggu.
"Biasanya trimester pertama mual, lemas, tapi Diana berbeda Salsa." Anggun menjelaskan kondisi Diana yang lebih sering makan.
Salsa menjelaskan jika tidak semua ibu hamil akan merasakan mual, sekitar 30% tidak muntah sampai lahiran.
Meksipun ada bagusnya, tapi Salsa tetap meminta Diana lebih berhati-hati, karena melihat Di yang aktif dan banyak makan.
Saat lapar Diana harus mengontrol dirinya agar tidak berlebihan, dan tetap memakan makanan sehat.
"Bumil nasihati bumil, lebih baik kita buat rencana untuk makan besar." Di nyengir meminta Salsa berhenti mengomel.
"Aku bicara sebagai dokter Diana." Tatapan Salsa langsung kesal.
"Kamu pikir aku tukang parkir, kita sama-sama dokter." Tatapan Diana lebih sinis.
Mendengar Diana yang terus membantah, Salsa langsung ngambek meminta pulang. Air matanya juga sudah menetes, memaksa Dika untuk pulang, dan tidak ingin bicara dengan Diana.
Senyuman Dika terlihat, langsung pamit pulang meminta keluarga memaklumi Salsa yang memang suka ngambek.
"Dasar Diana cerewet." Dika menarik telinga Di.
__ADS_1
Lemparan ponsel melayang, tepat di kepala Dean yang baru pulang dari bermain. Wajah Dean langsung tertunduk, putar arah langsung berlari keluar sambil menangis menahan sakit.
Diana langsung ikutan menangis, merasa bersalah sudah menyakiti adiknya meksipun dirinya tidak sengaja.
"Perasaan aku tidak enak." Dimas merangkul pinggang istrinya.
Senyuman Anggun juga terlihat, menepuk pelan tangan suaminya. Berharap anak Diana bersikap tenang, tidak pecicilan seperti bapaknya, dan tidak menakutkan seperti Ibunya.
Melihat adu mulut Diana dan Salsa, dilanjutkan kepala Dean yang benjol membuat Gemal tertawa terpingkal-pingkal.
Tidak bisa Gemal bayangkan jika anaknya lahir, mungkin dirinya akan memiliki uban di usia tiga puluh tahun.
"Apa yang kamu tertawakan Gem? hubungi orang tua kamu, berikan kabar bahagia." Dimas melempar Gemal menggunakan bantal sofa.
Kepala Gemal menggeleng, dia ingin memastikan terlebih dahulu ke dokter kandungan. Jika langsung menghubungi kedua orangtuanya, pasti langsung heboh melakukan penerbangan secara dadakan.
"Mama bisa heboh, menangis histeris langsung ingin terbang."
Dimas membenarkan ucapan Gemal, sikap heboh Mamanya Gemal turun kepada calon cucunya melihat tingkah laku besannya.
"Kak Gem, ayo ke kamar." Di memeluk Gemal dari belakang.
"Mau apa? sudah jadikan." Gemal menggoda Diana yang cemberut.
Suara teriakan Anggun terdengar, Dimas langsung menggendong Putranya yang menangis sangat kuat.
Lidah Diana terjulur, mengejek Dean yang sudah mengamuk. Memukul Daddy-nya yang memintanya untuk diam.
"Awas kamu Diana, nanti Dean balas." Teriakan Dean terdengar menggema.
Di langsung menarik tangan suaminya untuk pulang ke rumah Gemal, Diana sangat mengenal adiknya yang pasti pagi-pagi akan membalaskan dendam.
Senyuman Gemal masih terus terlihat, memotret foto tes pack untuk dijadikan kenangan.
Diana hanya duduk diam sambil mengemil, perut Diana tidak bisa merasakan kenyang, bawaannya selalu lapar.
"Ayang, kira-kira anak kita kembar tidak? kenapa Di rakus sekali." Tangan Diana mengusap perutnya yang masih rata.
Gemal langsung naik ke atas ranjang, mencium perut istrinya yang sudah ada kehadiran anaknya.
"Kembar ataupun tidak bukan masalah, mendapatkan kabar mereka hadir juga sudah lebih dari cukup." Ciuman Gemal mendarat di perut bekali-kali.
Mata Gemal terpejam, memeluk perut Di lembut. Sesekali tangannya mengusap pelan perut, tidak menyangka akan segera menjadi Ayah.
Gemal sudah mengirimkan foto kepada Mamanya, sengaja mengirim mengunakan waktu agar saat Mamanya melihat tidak langsung histeris.
__ADS_1
Keluarga Leondra pasti bahagia sekali, menyambut generasi ke enam yang belum diketahui jenis kelaminnya.
"Sayang." Gemal melepaskan makanan dari tangan Di yang sudah terlelap tidur.
Membenarkan posisi tidur Diana, menyelimutinya dan meredupkan lampu agar bisa beristirahat.
"Selamat tidur istriku, juga calon anak Papa." Ciuman mendarat di kening Diana.
Mata Gemal juga terpejam, dirinya membutuhkan istirahat untuk menyambut kekacauan yang mungkin akan Diana lakukan, dan menyetok kesabaran agar lebih sabar lagi menghadap istrinya.
***
Masih subuh Gemal sudah terbangun, berlari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya. Tubuh Gemal terkulai lemas kesulitan untuk berdiri.
Kepalanya sakit, perutnya mual. Jangankan berjalan, membuka mata saja Gemal kesulitan. Setengah berjuang, Gemal berhasil kembali ke atas tempat tidur.
"Sayang, kepala aku sakit sekali." Tangan Gemal meremas rambutnya.
Di langsung bangun, mengambil obat untuk meringankan sakit kepala, rasa sakit mulai reda barulah Gemal bisa tertidur.
Melihat kondisi Gemal yang sakit dadakan, Di langsung khawatir. Menghubungi Daddy-nya mengatakan kondisi suaminya.
Dimas hanya menanggapi santai, Gemal akan baik-baik saja saat siang hari. Apa yang Gemal rasakan juga pernah Dimas rasakan, menderitanya saat Anggun mengandung Dean.
"Ayang istirahat, Diana tetap menjaga." Di tidak tega melihat Gemal terbangun langsung muntah, dan terjadi berulang kali.
Kondisi tubuh Gemal normal, Diana sampai kebingungan harus merawat secara apa. Di juga ingin memasang infus, tapi Daddy-nya melarang.
Tangan Diana masih memijit pelipis, mengusap rambut suaminya. Sesekali Diana terdiam menatap wajah suaminya, dan teringat saat pertama mereka bertemu.
"Ayang, dulu Diana membuat Ayang mabuk motor. Sekarang mabuk hamil, terima kasih sudah bersedia menanggungnya." Tawa kecil Diana terdengar, Gemal yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.
Matahari sudah terbit, Gemal masih terlelap tidur. Diana membuka pintu kamar, melihat Mommynya membawakan minuman hangat untuk menantunya.
"Bagaimana kondisi Gemal?"
"Baru bisa tidur tenang, terima kasih minumannya Mommy." Di meletakkan minuman di atas meja.
"Di, kata orang jika suami mengalami sindrom kehamilan simpatik, dia sedang mengalami khawatir." Anggun tersenyum melihat Diana yang tidak tega menatap suaminya.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya ya