
Sesampainya di rumah Aliya mengikuti ke manapun Altha melangkah. Bahkan Alt melakukan sesuatu juga diawasi.
Alt menyelidiki ulang soal keluarga Aliya, tatapan Aliya tajam melihat wajah Altha.
"Kamu kenapa? sana pergi." Alt menendang kursi Aliya agar menjauhinya.
"Kenapa kamu tidak ingin berhenti padahal aku melarang?" Al cemberut, dia takut jika masalah ini melibatkan anak-anak.
"Kamu harus percaya jika aku bisa menangkap mereka?"
"Jika kamu keras kepala, maka Al akan bertindak dengan cara Aliya sendiri." Al menarik Altha untuk menghadap ke arahnya.
Kedua tangan Aliya menakup wajah Altha, masalah Mora belum selesai, masalah Citra dan Roby juga belum selesai, tapi Altha sudah membuka kasus baru lagi.
"Manusia memiliki batas kemampuan, kamu harus menyelesaikan satu persatu." Al menaikkan nada bicaranya.
"Apa yang belum selesai? soal Mora sudah aku anggap selesai, mungkin berbagi cinta dengan Roby sebagai ayah kandungnya bisa membuat Mora bahagia, aku cukup diam dan tetap menganggap Mora putri kandung, bukannya kamu yang mengatakan lebih baik diam demi Mora." Alt tersenyum, meksipun hatinya masih sulit, demi kebahagiaan Mora, harus dilakukan.
"Bagaimana soal Citra? kemungkinan mereka akan segera menikah." Al mengerutkan keningnya.
Altha tidak bisa berbuat apapun, dia sudah menghapus video dan cukup tahu saja. Marah juga tidak akan mengembalikan keadaan, sudah menjadi jalan Altha berjodoh dengan Citra ada batasannya.
Demi kebahagiaan Mora, Alt mengikhlaskan Citra dan Roby untuk hidup bersama. Saat ini Altha hanya ingin fokus kepada Juna dan Tika.
Mungkin Arjuna sudah mengerti jika Mama dan Papinya sudah berpisah, dan punya kehidupan masing-masing. Berbeda dengan Atika yang belum paham apa yang terjadi.
"Aku ingin lebih dewasa menyingkapi masalah ini Al, kebahagiaan anak-anak jauh lebih penting, dan ingin meluangkan lebih banyak waktu bersama mereka." Altha tersenyum mengucapkan terima kasih karena Aliya sudah membuat Atika selalu tertawa.
"Dari dulu kamu selalu terlambat Altha."
Kepala Altha mengangguk, dirinya memang banyak terlambat. Mungkin sudah saatnya dia mendewasakan diri untuk bisa membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya.
Tangan Aliya ditarik keluar, Altha ingin sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya, tidak bisa fokus jika ada Aliya.
"Al, aku tahu kamu bisa mencari kebenarannya, tapi kamu takut jika pelakunya diri sendiri. Izinkan aku yang melakukannya agar bisa memilih cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini." Alt tersenyum langsung menutup pintu ruangan kerjanya.
Aliya tersenyum, Altha benar. Aliya takut mengungkap pembantaian keluarganya, karena tidak mempercayai dirinya sendiri.
Tangan Al mengetuk pintu, menunggu Altha membuka. Senyuman Al terlihat menatap Altha mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Aku dan pak Roby tidak ada apapun, kami kenal secara tidak sengaja. Pertemuan di jembatan juga tidak direncanakan." Aliya memang tidak menyukai Citra, tapi sudah cukup Citra tersakiti sendirian.
Altha tidak bisa ada di sisi Citra lagi, rasa kecewa Altha sudah terlalu besar dan rasa bersalah Citra juga sangat besar sehingga sulit untuk keduanya saling menerima.
Roby harus ikut menanggung sakitnya Citra, mungkin tidak bisa menyembuhkan setidaknya bisa menemani. Keduanya bukan anak kecil, bukan juga orang bodoh. Keduanya orang pintar pasti bisa berpikir dewasa untuk bahagia.
Sejujurnya Aliya sangat menyayangi Mora, sebelum dirinya mengerti dan sebelum dia bisa bertanya siapa ayahku, Altha harus mengalah dari awal agar tidak terlalu tersakiti.
Jangan memperebutkan hak asuh yang akan menjadi pertanyaan di saat Mora dewasa, Altha cukup diam melihat Mora bahagia. Mungkin semuanya tidak mudah, tapi Alt harus belajar untuk menerimanya.
"Maafkan aku kak Altha, tidak masalah kamu menganggap aku jahat. Aliya tidak ingin ada diantara kalian, tapi keadaan yang memaksa Al hadir, harap mengerti." Aliya menundukkan kepalanya.
Senyuman Altha terlihat, menepuk pundak Al dan menutup pintu tanpa memberikan balasan.
Langkah Altha sangat pelan, kembali duduk di kursinya. Memejamkan matanya sesaat, menyentuh dadanya yang kembali terasa aneh.
Email kembali masuk, Altha langsung membukanya sambil mengerutkan kepalanya. Ayah Aliya seorang pengusaha besar, tapi Alt melewatinya karena hanya ingin menyelediki saudara Ayahnya.
"Dia memiliki selingkuhan, berarti memiliki kehidupan yang normal. Masalahnya ada di ibunya Aliya, dia seorang dosen dan mengurung kedua anaknya tanpa alasan." Al menyelidiki kampus tempat ibunya Al mengajar.
Sekarang Altha tahu di mana saudaranya disembunyikan, orang yang tidak tercatat ternyata tantenya Aliya.
Dia tidak diketahui keberadaannya, karena Kakaknya menyembunyikan di bangunan bawah tanah.
"Dia mengetahui sesuatu apa yang terjadi? bagaimana cara aku mendekati dia? apa dia pelakunya?" Altha mengusap wajahnya.
Tidak terasa Altha sudah duduk lebih dari lima jam, malam sudah larut tanpa disadari.
"Sudahlah, aku harus menemui dia dan meminta keterangan. Meskipun ini tidak mudah." Altha melihat senjata yang Aliya berikan sebagai barang bukti terakhir.
Alt menguap, langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Besok dia harus bangun pagi untuk bekerja.
Tatapan Altha berkeliling mencari Aliya, langsung meninggalkan kamarnya menuju kamar Aliya yang tidak terkunci.
"Al, kamu sudah tidur." Alt tersenyum melihat wajah Aliya yang tidur dengan tenang.
Altha langsung naik, menarik selimut dan memejamkan matanya. Sesekali melihat wajah Aliya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu mengatakan dari awal soal Roby, dia menyebalkan sekali." Altha tersenyum melihat Aliya yang tertawa.
"Ayang cemburu?" Al langsung memunggungi Altha.
"Tidak, kenapa aku harus cemburu?" Altha juga memunggungi.
"Bagaimana hasilnya?"
"Tidurlah, aku capek dan ingin beristirahat. Bangunkan aku pagi-pagi karena aku harus kerja." Altha memejamkan matanya.
Aliya tersenyum, menepuk pundak Altha tapi tidak direspon sama sekali. Altha sudah tidur meninggalkan Aliya yang terbangun.
"Mama punya kembaran, dia menghilang dan tidak tidak pernah ditemukan. Apa mungkin dia yang tinggal di bangunan bawah tanah? aku harus menemui dia." Aliya memejamkan matanya, memeluk Altha dari belakang.
Aliya menutup mulutnya mengingat Altha menciumnya. Al langsung menghitung dengan jarinya beberapa kali.
"Altha?" Aliya berteriak histeris.
Altha langsung duduk kaget melihat Aliya yang berteriak tengah malam.
"Gila kamu Aliya?"
"Kamu sudah sepuluh kali mencium Al apa maksudnya?" Aliya menunjukkan sepuluh jarinya.
"Astaghfirullah Al azim, kamu ini harus di rukiyah Aliya." Alt langsung tidur lagi.
Bibir Aliya langsung monyong, memukul Altha yang tidur tanpa rasa bersalah.
"Hari ini kamu mencium aku dua kali, tidak boleh genap harus ganjil." Al menahan tawanya.
"Alasan kamu saja, nanti sudah dapat ketiga pasti bicaranya eh lupa ternyata tidak boleh ganjil, modus kamu sudah basi Aliya. Jurus kamu sudah dibocorkan oleh Atika." Altha memejamkan matanya.
"Atika." Aliya mendaratkan ciuman dibibir, Altha hanya tersenyum, meminta Aliya tidur. Dia lelah sekali.
"Kenapa mencium Al di sana?" Al menjadikan dada Altha bantal tidurnya, Altha tidak menjawab lagi hanya memeluk kepala Aliya.
***
Done tiga bab
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara