ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KE PANTI


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak pulang, semuanya kembali ke aktivitas masing-masing. Hanya Tika yang setiap hari galau, kekasihnya sibuk bekerja sampai tidak punya waktu.


Setiap melihat ponselnya, hanya terdengar umpatan melihat pesan Genta yang hanya izin untuk pergi misi sampai luar kota hingga pengejaran luar negeri.


"Sudahlah Tika, aku pusing setiap hari melihat kamu yang galau gulana kehilangan arah hidup. Fokus saja bekerja, alihkan perhatian dengan sibuk beraktivitas." Minuman diletakkan di hadapan Tika yang terduduk lemas.


"Bagaimana aku bisa bekerja? bayangan Genta ada di mana-mana. Baru saja membuka file, wajah Ayang terbayang-bayang." Tangan Tika mengacak-acak rambutnya, merasa naik darah ingin menyusul Genta.


"Sudah gila kamu. Aku malu Tika melihat tingkah kamu,"


"Bagaimana jika di sana ada perempuan cantik? atau ada yang menggodanya memberikan obat kuat hingga terjadilah malam panas." Pukulan di atas meja sangat kuat, minuman tumpah.


Pengunjung restoran melihat ke arah meja Tika, Shin mereda kesal karena bisa menganggu pengunjung lainnya. Restoran Shin bisa bangkrut, jika y


Tika setiap hari datang.


"Sebaiknya kamu pergi Tik, aku pusing melihat kamu." Kedua tangan Tika ditarik paksa untuk keluar.


"Assalamualaikum, Shin ... Atika." Senyuman anggun terlihat dari wanita berhijab di hadapan Tika dan Shin.


"Kak Ana, silahkan masuk Kak." Shin mempersilahkan masuk ke untuk memilih menu.


Ana menatap Tika yang bergelantungan di pintu, menolak untuk keluar. Wajahnya juga cemberut sambil memeluk ponselnya.


"Kalian berdua bisa membantu Kak Ana memilih menu?"


"Tentu Kak, tapi tanpa Tika. Kita usir saja dia." Kaki Shin menendang Tika sampai keluar restoran.


Senyuman Ana terlihat, mengikuti Shin untuk memilih menu. Ana baru tahu jika pemilik restoran ternyata Shin. Kedatangan Ana karena sudah rekomendasi dari mahasiswa jika restoran Shin yang terbaik.


"Kak Ana ingin memesan beberapa?"


"Bisa dua ratus kotak, Kak Ana ingin pergi ke panti,"


Shin tersenyum menganggukkan kepalanya, membantu chef untuk mempercepat membuat menu sesuai yang Ana inginkan.


Tidak membutuhkan waktu lama, Shin bisa menyediakan dengan cepat karena memiliki banyak koki terbaik. Ana sangat mengangumi cara kerja Shin yang cepat, dan sangat pintar memasak.

__ADS_1


"Kamu hebat Shin, selain cantik kamu pintar masak." Ana mengeluarkan uang untuk membayar.


Tawa Shin terdengar, dia sudah sejak kecil suka memasak. Koki hanya berawal dari hobi dan akhirnya menjadi pekerjaan tetap.


"Shin terima ya kak, tapi ini Shin ambil separuh. Sisanya bisa disumbangkan, dan makanannya Shin tambah seratus lagi untuk disedekahkan." Tangan Shin menggenggam uang, mengembalikan kepada Ana.


"Terima kasih gadis cantik dan baik hati, Allah akan membalas kebaikan kamu." Kedua tangan Ana banyak membawa makanan.


Tanpa diminta, Shin membantu Ana untuk membawa kotak makanan memasukkan ke dalam mobil.


Sampai semuanya berhasil dimasukkan, Ana sangat berterima kasih atas kebaikan Shin yang sudah membantunya juga memberikan makanan.


"Shin, lihat ... keberadaan tidak terlacak lagi." Tika masih menunggu di depan restoran Shin mencoba melacak keberadaan kekasihnya.


"Tika, sebentar lagi aku pecahkan kepala kamu!" Tangan Shin sudah ingin meremas wajah Tika.


"Kak Ana ingin pergi ke mana?"


"Ada acara di panti, kamu ingin ikut untuk menenangkan pikiran." Ana mengizinkan Tika dan Shin untuk bergabung bersamanya.


Setelah berpikir lama akhirnya setuju, ketiganya pergi bersama untuk berkunjung ke panti yang jauh dari perhatian masyarakat luas.


"Masih jauh tidak Kak? Tika sudah capek." Pinggang, punggung Tika sudah sakit semua melewati jalanan yang terbilang berlubang juga banyak bebatuan.


"Sabar Tika, kita melewati satu jalan ini." Mobil yang Ana kendarai pelan.


"Jalanan cukup rawan ya Kak, jangan pergi sendirian. Terlalu berbahaya, apa tidak ada jalur lain?"


"Ada Shin, tapi sedang perbaikan." Ana menjelaskan lokasi jalan yang berputar.


Jendela mobil dibuka, Shin mengambil belati dari tasnya. Melempar kuat ke arah pohon sampai menancap. Mata Tika melotot melihat Shin yang meniggalkan jejak, juga peringatan bahaya jika lokasi tidak baik dilewati.


"Astaghfirullah Al azim ada apa ini?" Ana melihat Shin dan Tika yang tidak terkejut sama sekali, Shin sudah tahu jika ada bahaya karena melihat beberapa titik bayangan orang mengawasi.


Jendela ditutup, Tika menepuk pundak Ana memperingatinya untuk tidak keluar mobil sama sekali meksipun hal buruk terjadi diluar.


Tugas Ana menghubungi pihak kepolisian, meminta mereka melacak keberadaan mereka. Shin sudah meninggalkan jejak, agar cepat terlacak.

__ADS_1


"Ingat Kak Ana, jangan pernah keluar. Tutup mata saja jika takut, dan doakan kami agar baik-baik saja." Senyuman manis Shin terlihat.


Pintu terbuka, Tika dan Shin melangkah keluar mobil. Menutupnya kembali, Shin membuka jaketnya melemparkan ke arah mobil untuk menutupi penglihatan Ana.


"Akhirnya, mendapatkan lawan yang imbang." Tika melepaskan tangannya, sudah saatnya melepaskan amarahnya.


"Kenapa di tempat seperti ini ada dua bidadari?" suara tawa menggema terdengar.


"Kalian tertipu oleh dua malaikat maut," Shin menyindir sambil tersenyum.


"Hari ini kita akan pesta besar, dilayani dua wanita cantik juga mendapatkan satu mobil." Pria berbadan tinggi berhasil menghindari lemparan belati Tika yang menancap di pohon.


Suasana langsung hening, beberapa orang jahat bisa menebak jika dua wanita yang ada di hadapan mereka bukan orang sembarang. Terlihat dari wajah, keduanya wanita petarung.


Lima pria maju ke depan, Shin dan Tika mengambil posisi. Pukulan pria yang mengarah ke wajah Shin langsung diputar, tendangan kuat menghantam. Kaki Shin sudah ada di atas dada pria yang tersungkur jatuh. Jari tengah Shin ditunjukkan ke arah lawan, mengedipkan matanya melangkah maju.


Benda tajam hampir menggores wajah mulus Tika, tapi pukulan tangannya membuat mata membiru. Kekuatan tenaganya tidak terduga bisa membanting.


"Genta sialan, kamu paham tidak aku sedang rindu." Tika berteriak kuat, memukul orang dengan cara membabi buta.


Tangannya berdarah, melihat Shin yang sudah maju lebih dulu. Seharusnya tidak membutuhkan dua orang, satu saja lebih dari cukup untuk mengalahkan.


"Awas Shin." Tika menahan benda tajam ditangannya, memutar tangan sampai patah.


Senyuman Tika terlihat, menghirup wangi darah. Beberapa orang yang melihat memilih melarikan diri.


"Wanita psikopat!"


Shin tertawa melihat Tika menahan sakit tangannya dengan cara berpura-pura menikmati darah, padahal ingin meringis.


"Katakan di mana markas kalian, jika tidak mungkin malam ini kamu menjadi santapan kamu." Shin menatap pria dihadapannya yang sudah babak belur.


"Kami tidak memiliki markas, tugas kami mengambil harta siapapun yang ingin mengantarkan makanan ke panti." Penjahat bersujud di kaki Shin jika dia hanya menjalankan perintah.


"Kalian binatang! Tika, kamu lanjutkan perjalanan bersama untuk pergi ke panti, lalu temui aku di markas mereka." Shin melempar sesuatu, Tika bisa dengan mudah mengetahui kondisi Shin.


Kepala Tika mengangguk, meminta Shin untuk menunggu sebentar. Tidak menyerang sendirian, itu menjadi perjanjian yang tidak boleh Tika maupun Shin hindari sebagai tim.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2