
Sudah larut malam Tika tidak bisa tidur, pikirannya masih soal kecelakaan Adiknya. Tika ingin tahu siapa dalang di balik kejahatan yang mencoba menguasai satu lokasi.
Diam-diam Ria melompat dari balkon kamarnya, melarikan diri ke parkiran untuk mengeluarkan mobilnya.
Suara mobil lainnya terdengar, Ria membuka gerbang melihat mobil Shin yang sudah menjauh.
"Anak satu ini membuat masalah saja." Tika cepat mengeluarkan mobilnya melaju mengejar mobil Shin.
Dari kejauhan Ria binggung dengan arah mobil, Shin tidak menuju rumah pelangi, tetapi kamar hotel.
Mobil Shin berhenti di hotel mewah, menggunakan topinya langsung melangkah melewati arah lain untuk menghindari CCTV.
"Kenapa kamu di sini Shin?"
"Atika, kamu juga kenapa bisa ada di sini?"
"Pertanyaan aku kamu balik?" Tika sengaja mengikuti Shin karena masih memikirkan soal kecelakaan Ria.
Seseorang lewat, Shin menarik tangan Tika untuk bersembunyi. Shin menghela napasnya melihat Dina keluar dari hotel dengan pakaian seksi.
"Bukannya dia Dina anak panti, sahabatnya Kak Ana." Shin menunjuk ke arah seorang wanita yang masuk mobil mewah.
"Iya mirip, tapi tidak mungkin Kak Dina ... kita ikuti saja." Tika menarik tangan Shin, tapi langsung terhenti.
Kepala Shin dan Tika menunduk, melihat beberapa anggota kepolisian sudah mengelilingi hotel.
"Mati kita, bagaimana jika Kak Genta tahu?" Tika berjalan jongkok diikuti oleh Shin.
Keduanya langsung berlari kencang meninggalkan mobil, tidak ingin Genta mengetahui jika keduanya sedang menyelidiki wanita yang wajahnya mirip Dina.
Beberapa polisi langsung masuk, Genta yang berniat masuk menghentikan langkahnya saat melihat dua mobil yang dikenali.
"Pak, pelaku ada di dalam,"
Genta berlari ke dalam hotel, menemukan Am yang sudah duduk santai di depan laptopnya. Penggeledahan secara dadakan tidak mengejutkannya sama sekali.
"Selamat malam, bisa tunjukkan identitas diri." Genta duduk di depan Am yang tersenyum.
"Katakan kepada Shin untuk menyerahkan surat menyurat lahan,"
Kening Genta berkerut, meminta timnya menunggu di luar. Genta menutup laptop agar Am menatapnya.
__ADS_1
"Baru saja aku mendapatkan informasi, Putri kecilku sudah menemukan keluarganya. Kamu juga bukan orang miskin, sudah waktunya Shin mengembalikan harta yang aku tinggalkan." Am menatap Genta yang masih dengan ekspresi datarnya.
"Kenapa kamu mengosongkan wilayah tersebut?"
"Tidak ada asalan pasti, tapi tempat itu bagus untuk bisnis." Am tersenyum kepada Genta yang juga tersenyum sinis.
"Berapa yang kamu inginkan?"
Am memukul meja kuat, melemparkan laptopnya menatap tajam Genta yang meremehkannya.
Dengan santai Genta menyebutkan semua kejahatan yang terjadi di lokasi, dan yang terakhir kasus kecelakaan yang menimpa anak remaja. Kecelakaan sudah direncanakan, dan Am dalangnya.
Bisnis ilegal memang tidak terlihat di lokasi, tapi bukan berarti Am bersih dari hukum. Genta menyerahkan surat penangkapan.
"Kamu tidak bisa menahan aku,"
"Pelaku yang kamu perintahkan sudah tertangkap,"
Am menepis tangan Genta yang memegang surat penangkapan, pukulan kuat menghantam wajah. Emosi Genta tidak tertahankan saat melihat Ria terbaring di rumah sakit.
Beberapa orang masuk, menahan Genta yang tidak biasanya main tangan. Am mengumpat Genta, jika bukan karena dirinya Shin sudah lama mati. Dia memberikan kesempatan kepada Shin untuk hidup dari kejahatan orang-orang yang menahannya.
"Meksipun aku ditahan, ini tidak akan lama. Cepat minta Shin menyerahkan surat-menyurat yang bukan miliknya." Am berteriak meminta waktu bicara dengan Genta.
"Berapa yang kamu inginkan? aku yang akan membeli lahan itu. Sepanjang yang ingin kamu kuasai, jika tidak aku sendiri yang memastikan tempat itu menjadi lokasi pemakaman kamu." Tendangan kuat menghantam pintu, Genta melangkah pergi.
Tangan Am gemetaran, berita soal Genta pemuda yang baik dan tidak banyak bicara salah besar. Am takut melihat mata Genta, ucapannya tidak main-main.
Jika Am terus memaksa Shin untuk menyerahkan apa yang sebenarnya milik Shin sama saja mencari masalah dengan orang-orang yang memiliki status dan gelar. Am tidak ingin mengambil resiko yang akan hancur sama seperti Irish.
Jika Am tahu Shin sudah diangkat anak oleh keluarga Leondra, Kakak kandungnya seorang polisi, dan Shin juga memiliki bisnis yang sukses dan dijaga oleh orang-orang hebat.
"Wanita tadi membawa informasi yang baik, lebih baik aku pergi dari negara ini daripada hancur seperti Melly dan Irish." Am mengikuti kepolisian untuk diperiksa.
Beberapa mobil kepolisian meninggalkan lokasi, Genta masih berbicara dengan manager hotel yang sudah membantunya.
"Apa kamu mengenal pemilik dua mobil mewah ini?"
"Kurang tahu Gen, mungkin milik salah satu yang menginap. Ingin mengecek CCTV?"
Kepala Genta menggeleng, mengeluarkan kartu kunci membuka pintu mobil yang otomatis terbuka, Genta melihat isi di dalamnya yang benar milik Adiknya.
__ADS_1
"Apa yang Shin lakukan disini?" Genta melangkah ke mobil satunya dan langsung tahu milik Tika karena ada foto Genta.
Kepala Genta berdenyut sakit, dua wanita yang tidak bisa diatur. Sudah dilarang untuk ikut campur masih saja menyelidiki.
"Ke mana mereka berdua?" Genta berjalan di sekitar hotel.
Dari kejauhan melihat dua wanita yang sudah mirip hantu berlarian di tengah malam mengunakan baju tidur. Bukan berpikir untuk pulang, tapi lari-larian tertawa lepas.
"Tika, aku serius. Kita ke panti sekarang?"
"Jangan mencari masalah, ingat pesan Kak Gen dilarang ikut menyelidiki." Tika naik ayunan meminta Shin mengabaikan wanita yang mirip Dina.
"Aku akan bicara soal ini dengan Kak Ana?"
"Bicara saja, bagaimana kamu menjelaskannya? apa Kak Ana akan percaya? pelaku yang tertangkap langsung saja bisa mengelak apalagi tanpa bukti." Kepala Tika geleng-geleng, meminta Shin menjelaskan cara terbaik mengatakannya.
"Bagaimana jika dia berbahaya?"
"Bukan urusan kita, bisa saja dia hanya wanita malam yang menemani tidur lelaki mata keranjang." Tika tidak ingin mengambil pusing.
Sudah banyak penjahat yang ditemukan, mengkhawatirkan seseorang seperti Dina hal yang membuang-buang waktu.
"Bagaimana jika dia membahayakan calon Kakak ipar kamu?"
"Aku saja belum menikah, bagaimana aku punya waktu memikirkan Kakak ipar? Kak Ana bukan anak kecil, dia bisa memilah pertemanannya. Seburuk apapun pertemanan dia bukan urusan aku. Selama itu bukan kamu, aku tidak peduli." Tika mempercepat laju ayunannya yang menerbangkan tinggi.
"Kamu banyak berubah Tik?"
"Berubah apanya? memang ucapan aku salah. Kak Ana bukan keluarga kita, hanya memiliki hubungan baik. Soal perjodohan dengan Kak Juna, itu juga belum pasti. Mami tidak ingin membahasnya lagi, dan aku tidak ingin mengambil pusing,"
"Perjodohannya dibatalkan?"
"Tidak tahu Shin, lebih baik memikirkan kapan kak Genta melamar aku?" Sendal tinggi Tika menghantam kepala Shin.
Senyuman Shin terlihat, berharap perjodohan memang dibatalkan sehingga Juna memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang bersama.
"Tapi, aku mendengar kabar jika Mama Citra memiliki amanah untuk Kak Juna. Tika tidak tahu apa? mungkin juga Kak Ana dan Kak Juna akan segera lamaran. Kak Juna membicarakannya dengan Papi." Sendal Tika terbang kembali menghantam kepalanya. Tika mengejar Shin yang sudah berlari lebih dulu.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1