
Sepanjang jalan Shin dan Tika cemberut, dua bocah sudah tidur di dalam mobil. Rambut Shin yang sudah kusut, sedangkan Tika terluka.
"Sabar, mereka hanya sedang aktif saja." Genta menatap istrinya yang memangku Putrinya.
"Bagaimana lagi sabarnya? Tika belum pernah melihat anak senakal ini,"
"Bukannya kamu juga seperti itu?" Juna ikut menimpali.
Sesampainya di rumah Juna langsung menggendong putrinya, begitupun dengan Genta. Saat masuk ke dalam rumah, ternyata sudah ramai. Keluarga mengadakan makan malam di rumah Juna dan Genta.
"Ada acara apa ini?"
"Uncle dari mana? kenapa Isel tidak ikut pergi?" tatapan mata Isel tajam melihat ke arah Genta yang garuk-garuk kepala.
Semua orang kaget melihat kondisi Shin dan Tika yang berantakan. Tatapan mata keduanya tajam, langsung masuk ke kamar masing-masing.
"Ada apa lagi?" Papi Altha menatap Putra dan menantunya.
Juna menceritakan apa yang terjadi di kebun binatang. Mereka bahkan harus ganti rugi karena beberapa satwa melarikan diri.
Gelas yang Aliya pegang hampir jatuh, lemas melihat tingkat laku kedua cucunya yang sangat nakal.
Diana hanya tertawa saja, akhirnya Tika dan Shin merasakan jadi oran tua dari anak yang terlampau nakal.
"Mami lihat saja perutnya Mora, penuh luka cakaran kuku burung sama monyet." Juna memperlihatkan perut putrinya yang merah semua.
Mata Mora terbuka, langsung melihat sekitarnya mencari keberadaan mamanya. Setelah tidak bertemu, langsung duduk mengumpulkan mainannya.
"Kembalikan dulu nyawa kamu Mora jangan langsung main." ucap Diana mengusap wajah si kecil yang masih mengantuk.
"Mola Mola uman susun, ukan main." Senyuman manis terlihat, tubuh Mora terjungkal ke belakang karena masih sangat mengantuk
Tawa banyak orang terdengar, mira langsung bangun dan duduk. Mencari keberadaan maminya.
"Mami, cucu Mia ana?" Langkah kaki berlari terdengar.
"Di dapur cari susunya bukan di kamar." Tika menggendong Mira yang memeluknya erat.
"Mau nen cucunya Mia,"
"Semalem kamu bilang buat Papa saja?"
Kepala Mia menggeleng, tidak mengizinkan papanya mengambil miliknya. Mira masih menginginkan susunya.
Shin juga menuruni tangga setelah mandi, meminta suaminya mandi karena dari luar rumah.
"Mira dan Mora, mandi bersama Nenda. Kalian berdua bau sekali." Aliya menggandeng tangan kedua cucunya untuk segera mandi.
__ADS_1
Shin sudah sibuk di dapur mempersiapkan makan malam bersama, seluruh keluarga kumpul mekipun tidak semuanya karena tiga anak sedang sekolah di luar negeri, sedangkan Gion dan Ian ikut dengan Kakek Neneknya ke luar negeri.
Tinggallah satu Monster yang tidak bisa pisah dari Mamanya, meskipun Diana bersemangat membiarkan Isel pergi, tapi baru setengah jalan sudah histeris minta pulang.
"Shin, Tika kapan kalian ingin memiliki momongan lagi?"
"Belum Kak Di, tidak sanggup Shin. Mora nakal sekali, monyet saja takut, bahkan jerapah juga dia naikin. Ditendang oleh anak kuda." Shin memijit pelipisnya.
Tawa Diana terdengar, mengusap punggung Shin dan Tika yang kewalahan mengurus anaknya. Lebih sanggup mengandung dan melahirkan daripada membesarkan dengan tingkat kenakalan yang tidak ada lawannya.
Suara debat terdengar Isel menatap sisi dua anak kecil yang melawannya. Satu kali Isel memukul, dua kali pukulan mendarat.
Teriakan isel besar tiga kali lipat teriakan Mora dan Mira yang memecahkan gendang telinga.
"Iyat pelutnya Mola, ditendang sama buyung besar." Baju Mora dibuka membuat Mira marah karena wanita tidak boleh membuka baju.
"Papa, iyat Mola buka bajunya, beigini." Mira juga membuka bajunya menunjukkan kepada papanya.
"Astaghfirullah, kenapa Mira juga melakukannya?"
"ontoh aja papa, ini pakai agi." Mira memasang bajunya, tapi kesulitan berakhirlah baju sobek.
Genta yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil mengambilkan baju yang baru agar putrinya segera memaki baju lagi.
Suara Mora mengadu terdengar, mengadu kepada Tika mengatakan jika Mira menyobek bajunya. Tika berjalan dengan malas memikirkan baju yang setiap hari sobek.
Senyuman Mira terlihat menyilang tangannya karena menahan malu, bersembunyi di balik kursi.
Apapun yang dilakukan ketiga anak hanya di biarkan saja, Mora berkali-kali menangis ulah Isel dan Mira yang menjahilinya.
Makanan di susun di atas meja, satu-persatu mulai duduk mengelilingi meja. Si kecil Mira dan Mora juga duduk setelah membuat menangis Isel karena kepalanya benjol dipukuli.
Setelah dimarah barulah hening dan diam semua, tidak ada yang mengeluarkan suara. Bau makanan tercium, hidung Mora kembang kempis menikmati bau wangi.
"Hidung Mora mirip babi." Isel menatap geli.
"Indung Mola bagus, tantik cekali." Tangan Mora mengusap hidungnya.
"Di depan makanan tidak boleh ribut." Aliya mengusap kepala keduanya dengan sangat lembut.
"Makan ya sayang, tidak boleh nakal. Anak yang baik dia yang akan menjadi penghuni surga." Altha menuangkan makanan.
"Aunty Ria yang cuka masuk nelaka, kalau telepon Papi selalu nyanyi-nyanyi nelaka." Mora meminta pembenaran dari Mira yang hanya mengangguk.
"Seperti apa Aunty nyanyi?" Di menatap si kecil yang saling tatap.
"Delapan nama-nama neraka, yang harus kita ketahui. Satu neraka jahanam, dua neraka jahim, tiga neraka hawiya. Udah capek." Mora dan Mira langsung minum.
__ADS_1
Tawa semua orang terdengar, meksipun keduanya nakal namun menjadi penghibur di saat yang lain beranjak dewasa.
Makan malam terasa sangat harmonis, hal yang selalu membuat Altha bahagia bisa melihat istri, anak dan cucunya tertawa bahagia.
Rasanya sudah cukup bahagianya, tidak ada nikmat yang lebih indah selain melihat keluarga bahagia.
Tangan Genta mengenggam jari-jemari istrinya, menyatukan tangan menatap wanita yang sangat dicintainya.
Tika memberikan senyuman manis, bersyukur diberikan suami yang sangat penyayang dan sabar. Tika menemukan sosok Papinya di dalam suaminya.
Genggaman tangan keduanya erat, sangat bahagia dengan kisah mereka yang berakhir bahagia.
Tatapan mata Juna memperhatikan istrinya, wanita yang dirinya temukan tanpa sengaja, menjadi wanita yang sangat dicintainya.
Dulu Juna berpikir tidak ada yang bisa dirinya cintai, lalu datanglah seorang Mami yang luar biasa mengobati hati Juna yang patah. Diberikan istri yang luar biasa baik dan membuatnya tahu jalan pulang, ingin selalu ada sisinya.
"Shin, duduk." Juna meminta istrinya diam,"
"Kenapa Ay Jun?"
"I love you." Bisikkan Juna terdengar pelan.
"Love you too,"
"Sayang, love you." Gemal memeluk istrinya yang memukul kepalanya menggunakan botol susu Mora.
Tawa semua orang terdengar, bahagia dengan pasangan masing-masing. Dan tahu cara membahagiakan pasangan masing-masing.
Isel memeluk Papanya, mengatakan I love you. Gemal langsung membalasnya dengan penuh rasa bahagia.
Mora Juna langsung memeluk Juna, meminta Papinya mengatakan I love you. Mora memastikan Papinya cinta pertamanya.
"Ya, Papi memang cintanya Mora. Cukup Mami yang tidak memiliki cinta seorang Papi, setidaknya Mora memilikinya." Shin memeluk suaminya dan Putrinya.
"I love you Mama, I love you Papa." Mira mencium pipi Atika dan Genta sebagai rasa sayangnya.
Tangan Aliya dan Diana saling genggam, mereka juga tidak punya cinta pertama, setidaknya suami sangat mencintai mereka.
Senyuman bahagia semua orang terlibat, melepaskan semua masalah yang akhirnya terlewati.
TAMAT.
***
Terima kasih semuanya yang mengikuti cerita ini hingga hampir 500episode. Kalian tidak perlu kehilangan, kita bertemu lagi di cerita baru yang berjudul SELEBRITI BUKAN ARTIS.
***
__ADS_1