
Dari lantai atas Genta sudah mendengar semuanya, kepergiaan kedua orangtuanya dan kebaikan Lian kepadanya hanyalah motif balas dendam agar masa kecil Genta hingga dirinya dewasa tanpa memiliki satupun teman.
Jangankan teman, Genta tidak pernah berkomunikasi dengan siapapun, hanya Kakek Ken dan istrinya yang selalu mengawasi Genta kecil yang terlihat bingung dengan hidupnya sendiri.
Lian selalu menghalangi tumbuh kembang Genta agar menjadi anak yang kuat pendiam, berpikir pendek, juga memiliki emosi yang tinggi.
Besarnya kasih sayang Nenek yang terus memeluk Genta, menerima setiap penolakan anak berusia enam tahun yang seharusnya sedang aktif dan penuh canda tawa, namun berubah menjadi sosok yang dingin.
Dibalik masalah besar keluarga Leondra yang kehilangan cucu, diberikan satu cucu kecil yang penuh luka. Nenek sangat menyayangi Genta tanpa mengurangi sedikitpun rasa sayangnya terhadap Gemal hingga akhir hayatnya.
Tangan Hendrik mengusap punggung Genta, kebencian akhirnya terlihat dari mata Lian saat menatap wajahnya.
Semakin Genta besar, dia menyerupai wajah Ayahnya, dan Shin berubah menjadi Mamanya yang memiliki wajah cantik.
Suara langkah kaki Genta menuruni tangga bersama Hendrik yang menjaga Genta atas perintah Gemal, sebelum adik lelakinya lepas kendali.
Sikap Genta memang sangat dingin, namun saat marah lupa segalanya bahkan tidak ingat atas apa yang dilakukannya.
"Sekarang kamu tahu betapa aku membenci kamu?"
"Aku tidak ingin tahu sebesar apa kamu membenciku, tapi yang harus kamu tahu semuanya sudah berakhir." Genta tersenyum sinis. Matanya tidak melirik Liana sama sekali yang ingin menyentuh tangannya.
"Maafkan Mama Kak Gen?"
"Kembalikan Mamaku, maka akan aku maafkan. Tidak bisa, kalian tidak bisa melakukannya." Tatapan mata Genta tajam, melihat Lian yang tersenyum tanpa rasa bersalah.
Tawa Genta terdengar, bukan dirinya ataupun Shin yang gila sebenarnya yang sudah mengalami gangguan jiwa Lian sendiri. Mendengar ucapan Genta yang mengatakan dirinya gila, membuat Lian marah.
"Semuanya belum berakhir Genta, Melly belum turun tangan."
"Aku akan menyambut kedatangan dia, tidak selangkah kaki ini pergi menghindarinya. Aku tidak peduli baik Melly, Irish, sekalian iblis yang datang aku akan menunggu. Aku sambut kedatangan mereka." Suara Genta meninggi menatap Lian yang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Lian menutup telinganya, Genta bukan anak yang bisa berdebat, bukan anak yang bisa meninggikan suaranya dalam masalah apapun. Lian tidak mengenali Genta yang sekarang, terlalu banyak keanehan.
"Dulu kamu selalu berkata, ingatlah Genta untuk tidak melupakan jika kamu yatim piatu, kedua orang tua kamu pergi. Suatu hari kamu harus menyusulnya." Kata-kata itu tergiang-giang di kepala, namun Kakek mengatakan kedua orangtuanya ada di surga selalu mengawasinya.
Jika Genta melakukan satu kebaikan, orangtuanya akan tersenyum, tapi jika Genta melakukan kesalahan kedua orangtuanya akan bersedih.
Tidak ingin menantang, Genta memilih untuk diam mendengar nasihat dari dua pihak. Genta yakin seiring usianya dia akan mendapatkan jawaban dan tahu yang tulus, dan berpura-pura tulus.
"Aku bukan anak yang pendiam, tapi cara untuk dewasa membuat aku diam agar tahu yang baik dan buruk. Terlalu banyak suara, dari segala pihak. Aku hanya harus normal, untuk bisa tetap bertahan." Genta berjongkok menatap Lian yang terlihat kaget.
Kehilangan kedua orangtuanya tanpa kesiapan dan dalam keadaan binggung, Genta masih mencari sesuatu yang hilang selain Mama dan Papanya. Seseorang yang Genta cari selama ini baik dalam ingatan, maupun dunia nyata. Adiknya yang hilang menjadi alasan Genta diam selama ini.
Tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaan Adiknya, tidak ada yang membahas soal ingatan yang Genta cari, baik dari Lian maupun keluarga Leondra.
Belum ada yang bisa Genta percaya, dia menutup dirinya sendiri agar bisa mengetahui siapa baik dan buruk di sisinya.
"Ingatan yang hilang sudah, adikku. Dia adikku yang kamu ambil dan serahkan kepada keluarga jahat. Adikku yang belum memiliki nama namun sudah direnggut bahagianya." Senyuman Genta terlihat, menggenggam tangan Lian yang tidak setuju dengan ucapan Genta.
Hidup Shin sudah hancur dan berantakan, Genta tidak akan mampu mengobatinya jika sampai lepas kendali.
"Dia tidak tahu saja Liana, jika Shin akan ada masanya benar-benar hancur dan Genta tidak akan mempu mengatasinya, sekalipun keluarga besar Leondra." Lian berteriak histeris, Genta mencengkram kuat kaki yang bekas tembakan.
Liana memegang tangan Genta, memohon agar Genta tidak melukai Mamanya. Meksipun Li tahu dirinya tidak punya hak untuk memohon kepada Genta.
"Hari itu tidak akan pernah ada, aku pastikan adikku bahagia." Senyuman Genta terlihat, meminta Lian memikirkan dirinya sendiri, hukuman terbaik untuk bukan penjara.
Genta memiliki satu tempat yang tidak suka dirinya kunjungi, sebuah ruangan bawah tanah milik keluarga Leondra yang digunakan hanya untuk penjahat kelas kakap.
Lian akan menjadi salah satu penghuni yang akhirnya mati perlahan di sana, Genta ingin Lian merenungi perbuatannya, hingga ajalnya tiba.
"Membunuh sangat mudah, namun aku bukan seorang pembunuh. Demi Mama dan Papa, aku ingin menjadi anak kebanggaannya." Genta melepaskan cengkraman, melangkah mundur melihat ke lantai atas, Adiknya sudah bangun.
__ADS_1
Senyuman Shin terlihat, dirinya tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Mengetahui pelaku saja sudah lebih dari cukup baginya.
"Mama pasti sangat cantik, sehingga bisa membuat dua bersaudara gila." Shin tertawa lucu.
Lian langsung memaksa untuk berdiri, berteriak histeris ingin membunuh Shin. Langkah kaki Shin menuruni tangga terdengar, melangkah mendekati Lian yang menantangnya.
Genta ingin menahan Shin, namun Hendrik menariknya untuk membiarkan. Atika juga berjalan bersama Shin mendekati Liana dan Lian.
"Kenapa? kamu tidak terima dengan apa yang aku ucapkan? kalian wanita gila, dua bersaudara gila!" Shin berteriak histeria.
"Aku pasti kamu akan mati!"
"Tidak perlu, aku bisa mengurus diri sendiri kapan waktunya mati. Pikirkan diri kamu sendiri Lian, kapan waktu yang tepat untuk menyusul Adik kamu?" Shin tertawa memancing emosi Lian.
Tangan Lian terangkat, Shin menancapkan sebuah suntikan yang membuat Liana berteriak kuat. Tika mencekik Li untuk diam jika tidak dia juga akan bernasib sama dengan Lian.
Hendrik melihat Lian kejang-kejang, tanpa Hendrik ketahui dari mana Shin mendapatkan obat untuk melumpuhkan, hingga cacat permanen.
Tangisan Liana terdengar, menatap Mamanya yang sudah tidak sadarkan diri, kaki yang tertembak darahnya langsung kering membuat Li binggung.
"Apa yang kamu lakukan Shin?"
"Dia harus hidup seakan-akan mati, sama seperti aku yang merasakan luka dalam."
"Apa yang Papa berikan kepadaku? begini balasan kamu?"
Shin berjalan mendekati Liana, tertawa lucu dengan ukuran yang Li sebutkan sungguh luar biasa membuat Shin kehabisan kata-kata.
"Aku tidak membutuhkan belas kasihan Papa kamu, jika seandainya Mama kamu tidak merenggut bahagia keluargaku. Akan aku bayar kebaikannya, asalkan kembalikan kedua orangtuaku. Katakan ini mimpi Li, jika tidak maka ini hanya hal kecil yang tidak bisa mengobati lukaku." Tatapan mata Shin tajam.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
do'akan besok kita up normal