ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
IMPIAN TERINDAH


__ADS_3

Tangan Arjuna menyentuh pundak Shin, tubuh yang sedang meringis kesakitan langsung melihat ke arah pemuda tampan dihadapannya.


Shin langsung terdiam menjadi patung, mulutnya langsung kaku kebingungan ingin bicara apa? melihat Juna dengan jarak yang sangat dekat, membuat dadanya hampir meledak.


"Kamu terluka? bagian mana yang sakit?" Juna menatap wajah Shin yang masih terdiam.


Kening Juna berkerut, binggung dengan respon sahabat adiknya. Kepala Juna menggeleng, jika Shin tidak bicara Juna akan menganggap baik-baik saja.


"Tunggu Kak Juna, perut Shin sakit sampai muntah." Senyuman Shin tertahan, menyukai sikap dingin Arjuna.


Tangan Juna mengangkat topi yang menutupi wajah Shin, memperhatikan luka yang cukup parah di wajah, bahkan leher juga lebam.


"Hidung kamu mengeluarkan darah, sempat muntah darah juga. Seharusnya sudah jatuh pingsan, karena pukulan diperut cukup mematikan." Juna meminta maaf, karena lancang menyentuh perut Shin.


Suara Shin meringis terdengar, di dalam hatinya Shin sedang lompat-lompat bahagia. Dirinya bukan hampir mati dipukuli oleh Tika, tapi hampir tidak bisa bernafas saat menatap wajah Juna.


"Kita ke rumah sakit sekarang, aku ingin melihat detailnya." Juna menatap wajah Shin yang kaget.


"Kak Juna ingin melihat seluruh tubuh Shin?"


Kening Juna berkerut, langsung melangkah ke mobilnya, meminta Shin mengikutinya. Kaki Shin mengeras, tidak punya tenaga lagi untuk bergerak. Dirinya rela diperiksa seluruh bagian tubuhnya oleh Arjuna.


"Kamu bisa berjalan?"


"Kaki Shin tidak bisa bergerak." Bibir Shin manyun.


Helaan nafas Juna terdengar, meminta maaf kedua kalinya karena harus menggendong Shin. Tubuh Shin terangkat, tangannya langsung digantungkan ke leher Juna.


"Aku rela kamu pukuli setiap hari Tika, rela aku cacat asalkan dokternya ini." Batin Shin mendekatkan kepalanya ke arah dada Juna, bisa mencium bau wangi pria tampan yang dirinya idamkan.


Shin merasa dirinya sedang terbang ke langit ke tujuh, tidak ingin turun lagi meksipun ada tangga, siapa yang memintanya turun, demi apapun Shin tidak rela.


Pintu mobil Juna terbuka, memasukan Shin ke dalam. Tatapan Juna tajam melihat wanita dihadapannya yang tidak ingin melepaskan tangan dari lehernya.


"Sampai kapan kamu akan bergelantungan seperti monyet di leherku?" Mata Juna menatap tajam.


"Tangan Shin tidak bisa digerakkan." Bibir Shin manyun kembali menahan sakit.


Pelan-pelan Juna melepaskan tangan, meminta Shin menunggunya sebentar karena ingin mengambil ponsel dan memberitahu orangtunya.


Melihat Juna sudah masuk rumah, Shin langsung memukuli dasbor mobil, kakinya terangkat ke atas, langsung memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Di dalam hati Shin berteriak kuat, tubuhnya joget-joget merasa dirinya sangat beruntung bisa digendong oleh pria yang dirinya cintai sejak padangan pertama.


"Kapan kira-kira digendong ke kamar sebagai istri?" Shin menutup wajahnya malu dengan pikiran kotornya.


Shin langsung diam saat melihat Juna sudah berlari mendekati mobil, meminta Shin memasang sabuk pengaman.


"Cepat pasang sabuknya."


"Tangan Shin sakit kak Juna." Wajah Shin memelas.


Juna langsung memasangkan, jika tidak demi Tika Juna tidak mungkin mau melakukan apapun untuk Shin.


Pengorbanan Shin untuk adiknya Juna akui, sehingga kesehatan Shin menjadi tanggung jawabnya.


"Lain kali jangan bertarung lagi, kamu mirip orang cacat yang tidak bisa beraktivitas lagi." Juna menjalankan mobil ke rumah sakit.


"Iya Ayang Jun, jika tidak diizinkan Shin tidak akan mengulanginya lagi. Perintah Ayang tidak akan Shin bantah." Batin Shin di dalam hatinya.


Secara tiba-tiba Shin mual, tangan Juna langsung menahan perutnya. Wajah Shin mendadak pucat, efek pukulan Tika benar-benar ingin merenggut nyawanya.


"Kak Juna, dada Shin sesak." Mata Shin tertutup, memegang tangan Arjuna yang masih memegangnya.


Lukanya ada di dalam tubuh, tangkisan Shin bukan menyelamatkannya, tapi membuat keram perutnya, juga sesak dadanya.


Tika menyerang bagian ulu hati yang bisa menyebabkan gagal napas, sehingga sangat berbahaya jika tidak segera ditangani.


"Shin, jaga kesadaran kamu."


"Kak Juna sepertinya Shin membutuhkan napas buatan." Mata Shin sudah terpejam.


Mobil Juna tiba di rumah sakit, dirinya sudah menghubungi pihak rumah sakit soal kondisi Shin.


Tanpa bertanya lagi, Juna langsung membawa Shin ke dalam rumah sakit untuk segera melakukan perawatan.


***


Pagi-pagi mata Shin terbuka, sekujur tubuhnya sakit semua, rasanya remuk tulang belulangnya. Mata Shin melihat suaminya duduk di sampingnya sambil memejamkan matanya.


Senyuman Shin terlihat, tidak menyangka Juna menemaninya selama di rumah sakit, bahkan tertidur sambil menunggunya bangun.


"Berhentilah menatap wajahku." Juna membuka matanya, menatap Shin tajam.

__ADS_1


Arjuna meminta Shin menghubungi keluarganya, jika dalam tiga puluh menit tidak ada yang datang dirinya akan pergi.


Juna langsung pindah duduk di sofa, membuka laptopnya sibuk bekerja. Shin menatap ponselnya, tidak ada satupun keluarga yang bisa dirinya hubungi.


Sampai tiga puluh menit, Juna menutup laptopnya. Bersiap-siap untuk meninggalkan Shin.


"Jika keluarga kamu sudah datang, aku akan menjelaskan kondisi kamu. Aku permisi."


"Kak Juna, jelaskan saja kepada Shin. Jangan menunggu mereka." Senyuman Shin terlihat.


Arjuna langsung berjalan mendekat, meminta izin untuk membuka baju Shin menunjukkan luka lebam diperutnya. Juna sudah memastikan jika Shin baik-baik saja.


Tulang-belulang juga aman, pertahanan Shin cukup kuat, tapi lebam ditubuhnya tidak bisa diremehkan, dia masih harus dirawat setidaknya satu hari untuk awasi.


Tangan Juna juga menunjukkan luka lebam di bagian atas dada Shin, senyuman Shin terlihat menatap Juna yang tangannya hanya menunjuk, tapi matanya melihat kearah lain.


"Shin sudah boleh pulang, keadaan Shin juga baik." Tubuh Shin langsung berdiri, jari telunjuk Juna menahan keningnya untuk tidur kembali.


"Kamu tahu tidak artinya masih dipantau?" Juna menekan perut Shin membuatnya meringis kesakitan.


"Lebam di wajah kamu akan segera hilang, aku akan memberikan obatnya, makan dulu baru minum obat. Setelahnya istirahat total, jika ada keluhan langsung hubungi aku." Juna menunjukkan obat-obatan Shin.


"Nomornya kak Juna berapa? Shin setiap hari pasti melapor." Senyuman Shin terlihat, bersiap mencatat nomor.


Juna tersenyum sinis, langsung mengambil ponsel memasukkan sebuah nomor, menyerahkan kembali kepada Shin.


Bibir Shin langsung monyong, nomor yang Juna berikan bukan nomornya tetapi nomor ambulans.


Pintu kamar Shin tertutup, Juna langsung tersenyum lebar merasa konyol melihat tingkah Shin yang kekanakan.


Di kamar Shin membuang ponselnya, dirinya gagal mendapatkan nomor Juna. Padahal dirinya sangat berharap bisa lebih dekat.


Panggilan masuk, Shin langsung mengambil kembali ponselnya. Tatapan Shin tajam mendengar suara dibalik handphonenya.


Infus langsung dicabut, Shin melangkah keluar langsung berjalan tertatih sambil memegang perutnya yang sakit.


"Bagaimana kondisinya?" Shin mempercepat langkahnya agar segera bisa pergi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2