ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERASA MIMPI


__ADS_3

Senyuman Shin terlihat menatap Juna yang makan dengan tenang, tidak begitu mempedulikan Shin yang mengoceh panjang lebar.


"Kamu tidak capek bicara terus? makan dulu baru bicara." Juna menyelesaikan makannya.


Tatapan Shin sinis, melihat pundak Juna yang melangkah pergi mencuci piringnya sendiri. Shin melihat kertas diagnosis, mengambil dan membacanya.


Kepala Shin mengangguk, mengerti alasan Mama Citra juga ikut ke luar negeri karena Juna melakukan tes kesehatan lebih detail. Kecurigaan Juna benar, ada penyakit serius yang memerlukan operasi.


Juna sedang mempersiapkan operasi Mamanya, beberapa Dokter yang akan terlibat termasuk Juna pribadi.


Kening Shin berkerut, menatap kertas yang dirampas oleh Juna. Tatapan mata Juna tajam menegur Shin yang tidak sopan membaca milik orang lain.


"Itu penyebaran tumor, kira-kira sudah separah apa?" Shin menunjuk ke arah kertas.


"Kemungkinan besar tumor, dan kita akan melakukan pengangkatan untuk operasi kali ini karena itu melibatkan beberapa Dokter." Juna duduk membaca ulang laporan hasil tes.


Senyuman Shin terlihat menyemangati Juna, beberapa hal yang Shin bahas dan mendengarkan Juna membicarakan penyakit Mamanya.


"Aku harap ini hanya tumor jinak,"


"Bukannya lebih baik kemungkinan buruknya, agar tahu pengobatan terbaik." Shin menyebutkan beberapa obat yang sedang diteliti cukup detail.


Shin pernah bergabung dengan penelitian obat-obatan, belum selesai menjelaskan Shin sudah berlari meninggalkan Juna yang menatapnya hingga hilang.


"Bicara belum selesai sudah lari, bekas makanan tidak dibereskan." Juna melipat tangannya di dada.


Tarik napas buang napas, akhirnya Juna yang mencuci bekas makan Shin. Merasa kesal melihat tingkah laku Shin yang melebihi Tika.


"Ay Jun, di mana?" Shin nyegir saat melihat Juna mengerikan piring.


"Apa? sudah makan ...." Juna mendekati Shin yang membawa sesuatu.


Shin menjelaskan soal kemungkinan buruk operasi yang akan gagal, jika tumor ganas mungkin resikonya sangat besar. Shin tidak memahami praktek, tapi sangat tahu soal materi banyak penyakit.


Sejak kecil Shin mempelajari materi medis, tapi tidak pernah praktek langsung menggunakan tangannya. Juna mungkin lebih memahami dari Shin.


"Kita El lab rumah sakit sekarang,"


"Tidak mau, Shin mengantuk." Mulut Shin menganga, tangannya ditarik oleh Juna untuk ke rumah sakit tempat Citra dirawat untuk menjalankan operasi.

__ADS_1


Perjalanan ke rumah sakit tidak jauh, Juna memilih menggunakan sepeda agar tidak ada yang terganggu mendengar suaranya keluar rumah larut malam apalagi bersama wanita.


Tawa Shin terdengar, merentangkan tangannya bersepeda malam-malam. Suasana juga sepi karena sudah terlalu larut apalagi lokasi diawasi karena masih masuk kawasan wilayah Leondra sehingga tidak banyak yang melewatinya.


"Ini seru sekali, Kak Juna sering bermain sepeda?"


"Sejak kecil mainan di wilayah rumah sepeda, tidak lupa berapa banyak anak-anak yang terbang masuk semak-semak." Juna mengingat adik-adiknya yang selalu balapan sepeda.


Shin menganggukkan kepalanya, rasa mengantuk langsung hilang. Rasanya dirinya sedang bermimpi indah bisa bersama Juna.


"Shin, turun." Juna berjalan masuk lebih dulu.


Ekspresi Shin cemberut, Juna terlalu terburu-buru. Shin melihat ke arah seseorang yang berdiri di seberang jalan yang masih berdagang meksipun tidak ada pembelinya.


Shin ingin pergi ke seberang jalan, tapi pergelangan tangannya sudah ditarik. Shin berteriak meminta Juna melepaskan.


"Sakit Ay Jun,"


"Ayo cepat,"


Juna dan Shin tiba di laboratorium yang sangat besar, berkali-kali lipat dari yang di rumah. Seluruh alat lengkap, siapapun pasti pusing karena melihat keajaiban para manusia jenius bertemu.


"Shin tidak mengerti karena tidak pernah melakukan pengobatan secara modern, apa yang Shin pelajari hanyalah kemampuan medis masa dulu dan terbilang tradisional. Jika gagal Ay Jun jangan kecewa." Shin menatap Juna yang hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat wajah Shin.


Melihat Juna yang sudah sibuk sendiri, Shin hanya tiduran di atas meja menatap langit-langit lab yang tinggi, tapi indah dilihat.


"Ay Jun, Shin mengantuk." Mata Shin tertutup, tidak mendapatkan jawaban dari Juna yang sibuk dengan pekerjaannya.


Beberapa Dokter berdatangan, mendapatkan kabar dari Juna yang menemukan obat untuk penyakit langka Citra. Rumah sakit Leondra akan mengeluarkan obat medis terbaru.


"Ini luar biasa Dokter Juna, kita yakin operasi pasti sukses." Dokter lain bertepuk tangan.


"Bukan aku yang menemukan solusi, juga obatnya." Juna tersenyum mengangumi kepintaran Shin, seharusnya dia menjadi Dokter.


Suara barang berjatuhan terdengar, asap langsung mengepul karena beberapa cairan di lab jatuh dan pecah.


Juna berlari menggendong Shin keluar dari lab yang masih tidur. Alarm pertanda bahaya dibunyikan, Shin menendang habis apa yang ada di atas meja.


"Kamu tidur atau mati Shin, membuat kacau saja." Juna meletakkan Shin di atas tempat tidurnya di ruangan pribadi Dokter.

__ADS_1


Senyuman Shin terlihat, tidur nyenyak tanpa rasa bersalah sudah mengacau di dalam lab membuatnya hampir kebakaran.


***


Matahari terbit, Shin membuka matanya terbangun baru menyadari tidur di dalam ruangan dan melihat Juna yang juga tertidur di meja menggunakan tangannya sebagai bantal.


Tangan Shin mengusap wajah Juna, tidak mengerti mengapa takdir mempermainkannya untuk bertemu dengan Juna, bersahabat dengan Tika, Kakaknya dan sahabatnya saling mencintai, Juna hanya sebatas adik.


Shin binggung harus bersikap seperti apa? dia tidak ingin menunjukkan bertapa dirinya mencintai, dan hanya mengikuti jalannya takdir ingin membawanya ke mana.


Tidak ingin menganggu tidur Juna, jalan Shin sangat pelan. Membuka pintu untuk pulang ke Mansion sebelum orang-orang bertanya dirinya pergi ke mana.


Suara langkah Shin berlari kencang terdengar, tanpa sengaja menabrak seorang wanita sampai terjatuh. Shin berusaha membantunya, tapi leher Shin dicekik kuat sampai tubuhnya terangkat oleh pria yang bersama wanita yang ditabrak.


"Jika jalan gunakan mata!"


"Saya jalan menggunakan kaki." Shin menendang perut sampai terlepas.


Tidak ingin membuat keributan di dalam rumah sakit, Shin ditarik keluar dan dilempar sampai tersungkur. Kepalanya berdarah, kedua lututnya terluka.


"Aish Sialan! kamu pikir aku takut dengan badan besar kamu!" Shin berteriak kuat tidak menyukai orang sombong yang merendahkan wanita.


"Wanita ******! pergi sekarang." Pria bertubuh besar merangkul kekasihnya untuk kembali ke dalam.


"Ayo berkelahi, kita buktikan siapa yang lemah." Shin mengepal kedua tangannya sangat kuat.


Suara pertarungan terdengar, Shin sudah sangat emosi. Meluapnya amarahnya melayangkan pukulan bekali-kali, meskipun dirinya juga terluka.


Tubuh pria besar terjatuh, Shin menginjak dadanya kuat, mencekik leher agar merasakan hal yang sama seperti dirinya yang diangkat ke atas.


Beberapa orang berlarian, menarik tangan Shin menjauh. Penjaga rumah sakit sampai panik saat melihat wajah Shin, dia mengenal Shin sebagai adik kandung Genta. Wajah cantik Shin terluka, bahkan darah mengalir diwajahnya.


"Lepaskan!" Shin melangkah pergi tanpa meminta maaf, apa lagi menyesal.


"Kamu tidak tahu siapa dia? dan bersiaplah terkena masalah dengan keluarga Leondra." Penjaga rumah sakit menghubungi Genta untuk memberikan kabar.


Di jalan Shin sudah mengumpat habis-habisan, mencaci apapun yang ada di depan matanya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2