ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEBERSAMAAN TERAKHIR


__ADS_3

Seluruh keluarga sarapan pagi bersama begitupun dengan Diana dan Gemal, tatapan Calvin melihat Arjuna yang memiliki kepribadian sangat mirip Papinya.


"Arjuna, apa kamu berniat kuliah luar negeri?"


"Mungkin Uncle, di mana tempatnya belum bisa Juna pikirkan. Kemungkinan Juna juga akan mengambil jalur prestasi."


Calvin menganggukkan kepalanya, menunjukkan sesuatu kepada Arjuna. Jika dia berkenan kuliah di luar negeri, Calvin memberikan tempat terbaik untuknya.


"Juna belum menentukan jurusan?"


"Kamu bisa sekolah kedokteran, Uncle melihat kamu jenius seperti Diana. Bidang medis bukan hanya membutuhkan orang pintar, tetapi pintar bicara, pikiran luas, bahasa juga banyak dikuasai." Calvin menatap Juna yang tersenyum kecil.


Aliya menatap Calvin, jika putranya pintar bukan mengikuti Diana, tapi dirinya. Diana tidak pernah mengajari Juna, tetapi memberikan jalan sesat.


Tatapan Di tajam melihat Al yang masih dendam soal pembuatan obat tanpa sepengetahuannya.


"Apa Uncle seorang dokter?" Juna menatap Calvin.


Senyuman Jessi terlihat, Juna satu-satunya yang bisa menebak jika Calvin seorang dokter. Dia bukan hanya dokter biasa, tapi bergelar doktor.


Diana cukup kaget, Calvin juga seorang dokter yang hebat, tetapi mempercayai Diana soal kesembuhan istrinya.


Kakek Ken mengucapkan terima kasih kepada keluarga Dimas dan Altha, mereka bahagia bisa bertemu dan tinggal sementara meskipun pada akhirnya mereka harus tetap kembali.


"Kakek Nenek pulang?" Ria menatap kaget.


"Iya sayang, kita semua pulang." Nenek tersenyum mengusap kepala Ria yang langsung lemas.


"Kak Gemal juga pulang, meninggalkan kita, kak Di dan karirnya?" Atika meletakkan sendok, langsung melihat Gemal dengan wajah sedih.


Jessi juga menundukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Tika jika Gemal juga akan kembali bersama mereka.


Gemal masih diam, belum ada kata-kata yan yang baik ingin dia ucapkan untuk mengucapkan terima kasih.


Diana langsung berdiri, tersenyum melihat semua orang jika dia harus pamit dan pergi ke rumah sakit.


"Diana pamit duluan, assalamualaikum." Di mencium Mommynya.


Calvin melihat ke arah Gemal yang bahkan tidak melirik ke arah Diana, entah pilihan apa yang Gemal ambil sehingga tetap diam.


Dimas meminta keluarga Leondra berhati-hati saat pulang, dan mereka akan mengantar kepulangan keluarga.


"Terima Dimas, kamu banyak membantu saya."


"Sama-sama, terima kasih juga untuk jamuan kemarin dan hari ini. Aku berharap kita bisa berkumpul kembali, kami sekeluarga harus pulang."

__ADS_1


Anggun tersenyum memeluk Jessi, memintanya terus menghubungi dan sesekali liburan untuk waktu yang lama.


"Kalian juga harus meluangkan waktu berkunjung ke sana, kami akan menyambut." Jessi memeluk Aliya dan Anggun yang pamitan pulang.


Tangan Jessi melambai, air matanya menetes melepaskan anak-anak pulang dan tidak bisa bertemu dalam kurun waktu yang lama.


"Ma, Gemal ke kantor dulu, ada banyak hal yang harus Gemal selesaikan sebelum kita kembali." Senyuman Gemal terlihat langsung naik motornya.


Jessi tahu putranya berat untuk pergi bersama mereka, tapi Jessi juga tidak bisa berjauhan. Gemal harus meninggalkan kehidupan lamanya.


"Pa, bagaimana soal hubungan Gemal dan Diana?"


"Kenapa bertanya kepada Papa? Gemal yang menjalankan."


***


Diana tiba di rumah sakit langsung melangkah ke ruangannya untuk mengganti baju, langsung melangkah memeriksa pasiennya.


Sepanjang pemeriksaan, Diana banyak diam dan wajahnya tidak bersahabat. Diana yang terkenal dingin, semakin menyeramkan saat dia diam.


"Dok, ini jadwal operasi hari ini."


Diana menganggukkan kepalanya, membaca ulang laporan untuk meneliti ulang agar saat operasi tidak terjadi kesalahan.


"Di, kamu sudah makan siang belum?" Salsa melihat Di yang baru selesai operasi.


Salsa menghela nafasnya, menarik tangan Diana untuk makan bersamanya. Terlihat dari wajah, Di sedang kesal.


"Ada masalah di meja operasi?"


Diana menggelengkan kepalanya, masalah bukan di rumah sakit, tapi dalam hatinya.


"Aku sedang kesal, kecewa dan campur aduk." Di memegang dadanya.


"Kenapa? Gemal memilih pergi dari negara ini." Salsa mengusap punggung Di agar bisa menerima keputusan Gemal.


"Kenapa harus pergi?" Kepala Diana tertunduk.


Salsa tertawa, Diana egois terhadap Gemal. Selama puluhan tahun tanpa orangtuanya pastinya Gemal ingin menghabiskan sedikit waktu bersama keluarganya.


Jika Diana melarangnya, sama saja Di memisahkan Gemal dari kebahagiaannya. Bukan hanya Gemal yang akan tersakiti tetapi kedua orangtuanya yang sudah lama menahan rindu.


"Berikan Gemal waktu bersama keluarganya, jika dia memang serius pasti akan kembali." Tangan Salsa menggenggam erat tangan sahabatnya juga adiknya.


Kepala Diana mengangguk, ucapan Salsa benar jika Gemal harus memiliki sedikit waktu bersama keluarganya.

__ADS_1


"Semoga dia bahagia."


"Dia akan bahagia, jika kamu bersedia menunggu." Suara Salsa tertawa terdengar.


"Aku bisa menunggu, tapi usia aku tidak. Sebentar lagi 28 tahun, anaknya Aliya sudah besar dan aku masih menunggu sesuatu yang tidak pasti." Di langsung berubah kesal dan menghentikan makannya.


Kepala Salsa menggeleng, menikah bukan soal usia, karena jodoh, rezeki dan maut sudah ditetapkan. Ada orang yang bahagia menikah muda, ada juga yang kandas. Ada yang menikah setelah dewasa, tapi bahagia.


"Menikah tergantung kesiapan Di, bukan karena usia. Kamu harus menyiapkan diri menjadi istri juga ibu, bukan hanya sekedar kami saling mencintai, lalu menikah dan bahagia. Konsep hidup tidak sesimpel itu." Salsa menyemangati Diana yang tersenyum melihat Salsa mulai dewasa.


Diana dan Salsa langsung berpisah untuk menjalankan tugas masing-masing, Di berusaha untuk baik-baik saja seperti yang Salsa katakan.


Senyuman Diana mulai kembali, menyapa pasiennya dan menyemangati untuk sembuh.


"Hari ini waktu cepat sekali berlalu, sebaiknya aku pulang." Di mengambil tasnya langsung berlari kecil.


Tatapan Diana kaget melihat Gemal sudah menunggunya di parkiran, Di tersenyum langsung mendekat.


"Kenapa kamu di sini?" Diana berusaha untuk tersenyum agar Gemal berpikir dia baik-baik saja.


Gemal juga tersenyum, dia baru selesai mengurus sesuatu di kantornya dan menyempatkan diri untuk menjemput Diana.


"Sudah lama menunggu?"


"Tidak, aku baru saja ingin menghubungi kamu."


Diana menganggukkan kepalanya, meminta Gemal ke restoran depan rumah sakit jika ada hal penting yang ingin dibicarakan.


"Di, ikut aku. Kamu masih ingat jika aku berjanji akan membawa kamu melihat matahari terbenam, dan hari ini aku ingin menepatinya."


"Lain kali saja Gem."


"Aku takut tidak ada waktu lagi." Gemal menghela nafasnya.


Diana tersenyum langsung menganggukkan kepalanya, langsung naik ke atas motor, memegang pundak Gemal.


"Jangan menyasar lagi." Di menatap tajam.


Gemal tertawa kecil, menjamin jika kali ini mereka tidak akan nyasar dan menentukan jalan yang benar untuk menemui ujung dari perjalanan.


Motor Gemal melaju pelan, memegang tangan Diana untuk memeluk pinggangnya dan duduk santai.


"Kita hanya punya waktu dua jam Gem, matahari akan terbenam."


"Iya, dua jam lebih dari cukup untuk kita." Gemal mempercepat laju motornya.

__ADS_1


****


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2