
Suara langkah kaki terdengar menggema di bandara, dua wanita cantik berjalan bersama sambil membawa koper masing-masing.
Siapapun yang melihat pasti langsung terpesona, menatap wanita tinggi, memiliki tubuh yang ideal, berambut panjang, kulit putih, sepatu boot, rok mini, berkacamata hitam, dan menggunakan tas bermerek.
Satu dari keduanya tidak kalah cantik, rambut panjang hitam, kulitnya putih, menggunakan baju panjang dan celana panjang, high heels tinggi, kacamata hitam, jam tangan bermerek.
Langkah keduanya terhenti saat melihat beberapa polisi berlarian, berita soal penahanan di kapal sudah tayang.
Ada dua wanita yang dicari untuk dimintai keterangan, semua saksi mengatakan dua wanita bertarung.
Nama agen Alin tersebar, seseorang yang tidak diketahui identitasnya, bahkan jenis kelaminnya. Alin yang memberikan bocoran kepada kepolisian, tapi tidak bisa ditemukan.
Menurut orang-orang yang pernah berurusan dengannya, Alin hanya bekerja sendirian. Pertama kalinya ada wanita lain yang bergabung dengan Alin.
"Kalian tidak mungkin bisa menemukan." Tika tertawa kecil langsung duduk di pesawat.
Shin sudah memejamkan matanya, mengabaikan siapapun yang menatapnya, karena sudah biasa menjadi pusat perhatian.
"Apa yang kalian lihat?" suara Tika meninggi melihat beberapa pria yang terus menatap Shin.
Pukulan kuat menghantam paha Shin, teriakan Shin terdengar mengusap pahanya yang terasa perih dan panas.
"Sakit Tik, kenapa dipukul?" Shin meringis menahan sakit.
"Tidak ada celana yang lebih terbuka lagi, sekalian kamu tidak menggunakan celana. Aku risih melihat semua perhatian penuh kebejatan." Tika menutupi paha Shin menggunakan jaketnya.
Senyuman Shin terlihat, langsung memeluk lengan Tika sambil memejamkan matanya untuk beristirahat.
Beberapa jam di pesawat, Tika tidak tidur sama sekali. Banyak yang Tika pikiran soal wanita yang ada di kapal, tapi untuk kesekian kalinya dirinya gagal bertemu.
"Jangan terlalu dipikirkan, waktu yang akan menjawab pertemuan terbaik untuk kamu. Jangan takut Tika, ada aku di sisi kamu." Shin menguap, menarik nafas langsung tersenyum melihat sahabatnya.
Kepala Tika mengangguk, lawannya bukan orang lemah, tapi seseorang yang memiliki pengaruh besar.
"Sebentar lagi kita sampai, ayo tersenyum. Harus happy bertemu keluarga setelah tiga tahun." Shin menunjukkan senyuman manisnya.
Tika langsung tersenyum, tertawa melihat Shin yang bisa membuatnya tidak kesepian, dan bahagia.
Pesawat akhirnya landing, Tika dan Shin langsung keluar untuk segera pulang. Sudah cukup lama tidak melihat negara masa kecilnya.
Tika menarik kopernya, secara tiba-tiba tertawa saat melihat sebuah motor yang terparkir. Shin langsung menatap Tika, dan ikut-ikutan tertawa.
Keduanya tidak perlu mengatakan apa yang membuat lucu, karena setiap tempat ada kenangannya.
__ADS_1
"Ini konyol sekali." Tika masuk ke dalam mobil bersama Shin.
"Kita berpisah di rumah aku ya Tik."
"Ikut ke rumah saja, menyapa Mami dan Papi." Jempol Tika terangkat, tidak menerima penolakan.
Jalanan macet, dan terlihat keributan. Shin langsung keluar mobil melihat kecelakaan kecil yang terjadi, tapi tidak ada yang ingin tanggung jawab, sehingga merugikan pengguna jalan lain.
Perdebatan dua wanita terdengar, langsung saling dorong. Shin terlempar karena menahan, bukannya ditolong Shin ditampar oleh ibu-ibu.
"Kamu yang merebut suami saya."
Tatapan Shin tajam, dirinya baru saja kembali sudah dituduh merebut suami orang. Wanita yang menampar Shin teriak-teriak, menunjuk wajah Shin yang merusak rumah tangganya.
"Jaga mulut anda." Shin langsung menendang kuat, meremas mulut.
Pertengkaran terjadi, banyak orang yang melarikan diri menghindari kerumunan. Tika langsung keluar, melihat sahabatnya sudah bergulung menjadi satu.
"Shin, lepaskan dia. Kamu melawan wanita gila, bodoh." Tika langsung berlari menarik Shin.
Teriakan Tika terdengar, rambutnya juga ditarik membuat Tika teriak histeris langsung menjambak balik.
Suara mobil polisi terdengar, tubuh Shin dan Tika terpental. Wanita gila langsung ditahan oleh polisi.
Atika dan Shin dibawa ke kantor polisi, karena sudah menyebabkan kekacauan di jalanan, dan meminta keterangan detail penyebab keduanya mengamuk di jalan.
Shin cemberut menatap bajunya sobek, rambutnya hancur, wajah cantiknya tergores kuku.
"Tidak ada lawan yang lebih baik lagi Shin?" Tika menatap tajam.
"Mana aku tahu jika dia gila." Shin merapikan rambutnya.
Sampai di kantor polisi, Tika dan Shin menjelaskan detail kejadian, juga meminta pengecekan CCTV.
"Kalian berdua sahabat?"
"Iyalah, tidak mungkin kita pacaran." Shin menatap tajam, meminta segera diizinkan keluar.
"Kalian tahu salah apa?"
"Pak, ini salah kalian. Kenapa orang gila berkeliaran? menabrak pengendara lain, dan kita yang tekena imbasnya. Kalian sudah membuang-buang waktu setidaknya satu jam." Tika memukul meja, menunjukkan rambutnya yang mirip singa, tidak ada yang bisa bertanggung jawab, bahkan polisi sekalipun.
Kemarahan Tika dan Shin terdengar sampai ke segala ruangan, polisi langsung mengizinkan keduanya pergi, karena kalah debat.
__ADS_1
Shin langsung menendang kursi, tatapan Tika sangat tajam, seandainya jika tahu siapa dirinya, tidak mungkin Putri seorang Altha ditahan oleh kesalahpahaman.
Seseorang melewati Tika dan Shin, tubuh Tika langsung berbalik begitupun dengan Shin yang menatap punggung seorang pria.
"Om tua." Tika dan Shin saling pandang.
Keduanya langsung keluar, mobil yang mereka tumpangi meninggalkan barang-barang keduanya, karena tidak bisa mengantarkan ke tempat tujuan.
"Bagaimana caranya kita kembali?" Shin menarik kopernya.
"Ada tumpangan gratis." Tika menunjuk ke arah Genta yang berlari langsung masuk mobil.
Kedua tangan Tika terentang, berdiri di tengah jalan meminta mobil Genta berhenti. Shin tersenyum langsung membuka bagasi mobil, memasukkan koper keduanya.
"Siapa kalian?" Genta langsung keluar mobil.
"Ayo kita pulang." Tika langsung masuk bersama Shin.
Panggilan di ponsel Genta masuk, langsung menjalankan mobilnya. Tika dan Shin tersenyum melihat Genta yang ahli kebut-kebutan.
"Kita pergi ke mana?" Tika melihat mobil melaju ke arah lain.
"Kalian berdua siapa? aku tidak punya waktu untuk berdebat, karena ada perkejaan penting." Genta mempercepat laju mobilnya.
Kedua tangan Tika bergelantung untuk berpegangan, begitupun dengan Shin yang sudah mual-mual.
Hal bodoh bagi Tika dan Shin memutuskan untuk masuk mobil Genta, ternyata cara bermobil Genta menakutkan.
Sampai di lokasi sudah terjadi pertarungan antara pelajar dan kepolisian, Genta keluar mobil langsung menembakkan senjatanya ke atas
Pertarungan berhenti, Genta langsung melangkah masuk ke area pertengkaran. Pukulan Genta sangat kuat menghantam anak sekolah tingkat atas.
"Apa kalian pikir ini hebat?"
"Aku tidak takut sama kamu."
Pukulan yang hampir menghantam wajah Genta tertahan, tangan Genta menahan sambil tatapannya tajam.
Beberapa orang langsung melarikan diri, polisi lainnya juga langsung mengejar, karena anak-anak membawa lari barang haram.
Senyuman Tika terlihat, dengan mudah Genta menjatuhkan lawan, memasang borgol ditangannya.
"Kenapa dia semakin tampan? dan terlihat sangat dewasa." Senyuman Tika terlihat menatap Shin yang tidur mengorok.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira