ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
REBUTAN KUNCI


__ADS_3

Rumah Altha ramai karena Tika menolak membuka pintu, Aliya sudah teriak-teriak tidak mendapatkan jawaban.


Pintu kamarnya terkunci otomatis, dan menggunakan kode. Al menatap Diana untuk membujuk, juga sama saja tidak ada solusi.


"Tika, buka. Izinkan Shin saja yang masuk." Tangan Shin menggedor pintu kuat.


Minggir Dek." Genta mengambil kartu Tika yang ada padanya, langsung membuka pintu.


Genta berhasil membuka pintu, kaget melihat isi kamar sudah hancur semua. Tidak ada satupun kaca karena habis dihancurkan.


Altha dan Aliya langsung masuk melihat Tika digulung oleh selimut tebal, matanya terpejam, masih penuh air mata.


"Tika, sayang." Al mengangkat Tika, memeluknya erat.


"Tidur." Aliya mengusap wajah Putrinya yang menangis.


"Tika, bangun sayang. Kenapa kamu marah sebesar ini hanya karena laki-laki?" Alt mengusap kepala Putrinya, melepaskan selimut yang melilitnya.


Tika membuka matanya, melihat Mami dan Papinya yang berhasil masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa Mami Papi bisa masuk? hal mustahil ada yang bisa ...." Tika menatap Genta yang berdiri di samping pintu.


Suara Tika mengumpat terdengar, berdiri di atas tempat tidur menunjuk ke arah Genta yang pastinya menggunakan kunci buatan Diana yang diberikan kepada Tika, tapi dicuri oleh Genta.


"Kembalikan kuncinya." Tika menangkap tangan Genta.


"Tika, apa yang kamu lakukan?"


"Sampai kapan Ayang terus berbohong sudah mencuri kuncinya Tika?" tubuh Genta habis diraba-raba, memaksa menyerahkan kunci miliknya.


Alt memijit pelipisnya melihat tingkah Putrinya yang tidak tahu tempat, tidak paham apa yang keduanya rebut sampai melupakan orang sekitar.


"Om,"


"Oke, aku tidak mengambil, hanya menyita. Arti menyita, tidak dikembalikan lagi. Kamu akan menyalahgunakannya." Genta menunjukkan kunci kepada Tika, mengangkat tangannya tinggi menolak memberikan kepada Tika.


"Kenapa disita? Tika tidak melakukan kesalahan. Om yang masuk kamar Tika menggunakan kunci ini, kembalikan." Tika lompat-lompat, tapi tidak sampai.


"Tidak, aku tidak akan pernah mengembalikan,"


"Sialan ... jika aku tidak mencintai kamu sudah aku pukul dari tadi. Kenapa kita harus bertengkar gara-gara kunci?"


Genta melangkah keluar kamar, Tika memukul dinding mengejar Genta yang ingin pulang. Keduanya masih bertengkar soal kunci, membuat tontonan bagi banyak orang.

__ADS_1


Suara Tika teriak-teriak, berputar-putar bersama Genta demi rebutan kunci. Menggunakan kekerasan masih gagal, Tika kehabisan kesabaran.


"Ayang, please. Tika boleh ya minta kuncinya?" jurus terakhir Tika merayu dengan lembut dan wajah memelas.


Dari lantai atas penonton tegang, jika kaum wanita sudah merayu hancur sudah benteng pertahanan. Genta pasti akan menyerahkan kunci.


"Kam Gem, taruhan. Genta akan menyerahkan, jika Di menang Kak Gem harus mengikuti permintaan Di." Senyuman Diana terlihat, berjabatan tangan dengan suaminya.


"Genta tidak akan menyerahkannya," Anggun bisa melihat mata Genta.


"Pasti diserahkan," Dimas mendukung Diana.


Aliya sampai deg-degan, menunggu siapa yang menang dan kalah jika soal rayu merayu pastinya kaum wanita unggul.


"Ayang, please." Tika menggenggam tangan Genta yang masih diam.


"Untuk apa?"


"Tika harus menelitinya lagi, selama ini belum berhasil membuat yang sama persis."


"Untuk apa dibuat, jika sampai ada orang yang tahu bisa disalahgunakan." Genta bicara lembut, menggelengkan kepalanya.


Pilihan terakhir Tika menggunakan air matanya, menangis meminta Genta membiarkannya menyimpan kunci kesayangannya yang sudah lama hilang.


Genta tidak ingin Tika kembali mengejar penjahat, sudah cukup Melly yang terakhir membuat kekacauan.


"Tik, kamu tahu aku sangat mencintai kamu, tapi banyak hal yang tidak aku ketahui tentang kamu. Kita tidak bisa mengenali dalam waktu singkat. Dengarkan aku baik-baik." Kedua tangan Genta menakup wajah wanita dihadapannya, menatap matanya dalam.


Sekilas dari pertama mereka mengenal, Genta mengetahui cara kerja Tika di bidang IT. Selama ini digunakan untuk melakukan hal yang berlawanan dengan hukum. Atika bisa menciptakan banyak hal melalui pengetahuan, sesuatu yang sangat luar biasa bagi Genta.


Setiap kemampuan ada sisi baik juga sisi buruk, dan kesalahan Tika menggunakan kemampuannya untuk merugikan, dan yang membuat Genta khawatir terlalu terobsesi sampai banyak orang yang terus mencari keberadaan Tika sehingga sangat berbahaya.


"Aku akan mengembalikan setelah kamu membuktikan untuk tidak menciptakan alat-alat aneh untuk kenakalan kamu, saat sudah waktunya kamu bisa menyimpan kunci kenang-kenangan dari Kak Di." Senyuman Genta terlihat, mengusap kepala Tika lembut.


"Benar ya, janji?" senyuman Tika terlihat, menatap jari kelingking bertemu.


"Aku janji, pasti aku kembalikan."


"Ayang ...." Tika ingin memeluk, tapi Isel sudah ada ditengah-tengah menahannya.


"Uncle, gendong. Ayo kita beli mainan, pedang Isel patah satunya hilang." Tangisan Isel terdengar merayu Genta yang langsung luluh.


Genta mengangkat tubuh Isel, mengusap air matanya. Genta pamit untuk keluar membelikan Isel pedang baru.

__ADS_1


"Ayang, Tika bagaimana?"


Isel menjulurkan lidahnya kepada Tika, mengejeknya yang gagal memeluk Genta. Sudah Isel peringatkan jika Tika tidak boleh mengambil miliknya.


Suara teriak Gemal terdengar, dia menang taruhan jika Atika gagal dengan rayuannya. Genta menjadi pria pertama yang berhasil mengalahkan para wanita.


"Malam ini kamu pijit aku selama dua jam,'


"Tidak mau, terserah kamu tidur sendiri." Di melangkah menuruni tangga memarahi Tika yang gagal merayu.


Senyuman Altha terlihat, menatap Putrinya yang lupa kesedihannya setelah bicara dengan Genta. Pilihan Altha tidak salah berniat menjodohkan Putrinya.


"Tika takluk juga dihadapkan Genta, kita tahu bagaimana egoisnya dia. Dan baru kali ini dia menahan keinginannya, dan menuruti ucapan orang lain. Alt kamu mendapatkan saingan." Dimas tersenyum menepuk pundak Alta yang hanya menganggukkan kepalanya.


"Dulu kita juga selalu bertengkar, rasanya Al ingin jatuh cinta lagi."


"Kita bertengkar karena kamu selalu membuat masalah, dan aku yang harus mengalah." Alt mengusap kepala istrinya.


"Berarti Tika dulu atau Juna dulu?" Al menatap Juna yang berdiri bersama Shin dari kejauhan.


Aliya tidak menunggu jawaban suaminya, berjalan mendekati Putranya menanyakan kembali kesiapan Juna untuk menemui keluarga Ana.


"Juna, Mami boleh mengatur pertemuan keluarga kita dan Ana?"


Shin langsung melihat ke arah Juna, tersenyum lembut pamit pulang untuk beristirahat. Shin sangat mengantuk setelah melihat drama cinta kakaknya.


"Selamat malam Shin sayang,"


"Malam Mi,"


Arjuna meminta Maminya saja yang mengurusnya, Juna belum ada waktu. Dan dia belum terpikirkan untuk serius, masih banyak masalah yang dia pikirkan.


"Juna, kamu jawab jujur. Bagaimana perasaan kamu kepada Ana?"


"Mami lebih mengetahui perasaan Juna tanpa harus dikatakan, berikan Juna waktu untuk berbicara dengan Ana, setelahnya Mami yang atur." Juna tersenyum pamit untuk keluar sebentar mencari angin segar.


***


follow Ig Vhiaazaira


Mohon sabar yang menunggu kisah Juna. Kalau ada yang pusing kenapa kisahnya tidak diselesaikan satu-persatu alasannya hubungan mereka terjadi diwaktu yang sama.


Siapapun yang tahu kisah Vira dan Winda, mungkin paham maksudnya author. kisah cinta mereka juga diwaktu yang sama, author kehabisan ide karena dibuat di novel yang berbeda. Jadinya seperti alur maju mundur

__ADS_1


__ADS_2